#30 tag 24jam
Di Balik Hikmah Istri-Istri Nabi yang tak Pernah Menggunakan Nama Belakang Muhammad
Urusan penamaan seseorang tidak main-main dalam Islam. [898] url asal
#istri-istri-rasulullah #nabi-muhammad #istri-nabi-tak-menggunakan-nama-muhammad #nama-istri-istri-nabi #menggunakan-nama-belakang-suami #nama-belakang-suami-bagi-istri #penggunaan-nama-dalam-islam #na
(Republika - Khazanah) 26/07/24 09:25
v/12159219/
REPUBLIKA.CO.ID, Tradisi Arab selalu memberi nama anak-anaknya dengan satu suku kata saja. Misalkan, Muhammad, Ibrahim, Fatimah, Aisyah, dan sebagainya. Jika ada nama yang murakkab (dua kata) atau lebih, kata kedua adalah nama orang tuanya. Sedangkan, kata yang ketiga adalah nama kakeknya. Misalkan, Muhammad Husein Ya'qub. Berarti namanya adalah Muhammad, sedangkan Hasan adalah nama bapaknya dan Ya'qub adalah kakeknya.
Tradisi seperti ini menjadi rancu jika dibawakan pada pola penamaan di Indonesia. Biasanya, nama-nama orang Indonesia terdiri dari dua, tiga, bahkan empat suku kata. Misalkan, Syahrul Gunawan, Oki Setiana Dewi, dan sebagainya. Syahrul Gunawan adalah satu orang. Gunawan bukanlah nama bapak dari si pemilik nama.
Tradisi penamaan bangsa Arab tak hanya sebatas nama, tapi juga erat sekali kaitannya dengan nasab. Dalam nama orang Arab, nama ayah dan kakek langsung melekat pada nama anak. Tradisi ini berdasar dari syariat Islam yang sangat serius memperhatikan persoalan nasab. Termasuk dalam dosa besar jika mengklaim seseorang yang bukan dari garis keturunannya diakui sebagai nasabnya. Alasan ini juga yang menjadikan Islam membenci perzinaan karena akan mengaburkan nasab.
Sebagaimana hadis Nabi SAW menyebutkan, "Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbahkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Allah SWT, malaikat, dan segenap manusia. Pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib ataupun yang sunah." (HR Muslim dan Tirmidzi).
Jadi, tidak boleh tidak, kata kedua dalam nama orang Arab harus nama ayahnya. Mencantumkan nama selain nama ayah pada kata kedua dari nama tersebut dianggap tabu. Mereka menyimpulkan, berarti si pemilik nama tidak jelas nasabnya atau tak tahu siapa ayahnya. Kesimpulan ini juga bermuara pada ketegasan syariat dalam urusan nasab.
Masuknya budaya Barat soal penamaan yang banyak diadopsi masyarakat Tanah Air menampik tradisi Arab yang bersumber dari syariat ini. Di Barat, nama belakang istri diambil dari nama suami, seperti Michelle Obama, Hillary Clinton, dan sebagainya. Inilah yang ditiru masyarakat Indoensia. Jelas model penamaan gaya Barat menjadi sangat tabu bagi tradisi Arab. Apalagi jika dikaitkan dengan urusan nasab. Bagaimanakah syariat menyelesaikan hal ini?
Nama belakang Muhammad...
Ulama-ulama Timur Tengah dan mayoritas ulama kontemporer lainnya jelas mengharamkan model penamaan ala Barat tersebut. Seorang istri tetap harus memakai nama belakang ayahnya, bukan nama suaminya. Mereka berdalil dengan ayat Alquran, "Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka..." (QS al-Ahzab [33]: 5).
Dalam asbabun nuzul dari ayat tersebut karena Nabi SAW memungut seorang anak angkat. Karena sayangnya Beliau SAW kepada Zaid, sang anak angkat, sampai-sampai Zaid dipanggil Zaid Muhammad atau Zaid bin Muhammad. Maka turunlah ayat ini yang melarang penyebutan nama demikian. Akhirnya Zaid dipanggil dengan Zaid bin Haritsah karena bapak kandungnya bernama Haritsah.
Ayat ini menegaskan urusan penamaan seseorang tidaklah main-main dalam Islam. Jika anak angkat saja dilarang memakaikan nama ayah angkatnya sebagai nama belakangnya, apalagi seorang istri yang memakai nama belakang dari nama suaminya. Jelas hal ini diharamkan secara mutlak.
Markaz al-Fatwa Arab Saudi dalam keluaran fatwanya Nomor 17398 menyebutkan, mencantumkan nama belakang istri dengan nama suaminya tidak diperbolehkan. Demikian juga nama-nama orang lain selain dari ayah kandungnya sendiri. Jika anak tersebut lahir di luar nikah (hasil perzinaan), cukup dipakaikan nama belakang dari nama ibunya.
Tradisi penamaan orang Arab sebenarnya bersumber dari Alquran sendiri. Firman Allah SWT, "Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil pada sisi Allah. Dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu." (QS al-Ahzab [33]: 5).
Tradisi ini telah ada, tumbuh, dan berkembang bersama bangsa Arab bahkan sebelum adanya ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhamamd SAW. Bangsa Arab sangat bangga jika mereka hafal ranji atau silsilah nasab mereka. Artinya, mereka adalah keturunan yang terpelihara.
Dalam Alquran, Allah SWT juga menyebut nama-nama dengan mengikutsertakan nama belakang dari bapaknya. Misalnya dalam ayat, "Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya," (QS al-Ahzab [33]: 12). Demikian juga Nabi Isa AS yang lahir tanpa ayah. Ia juga disebut kaumnya dengan nama belakang ibunya, sebagaimana dalam ayat Alquran, "Dan karena ucapan mereka, sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih Isa bin Maryam, Rasulullah." (QS an-Nisa [4]: 156).
Para istri yang suaminya adalah orang terpandang juga ingin ikut terkenal. Caranya dengan mencantumkan nama suami di belakang namanya. Namun, hal seperti ini ternyata tak diakomodasi dalam syariat Islam. Berbeda dengan anak, yang memang seyogianya memakai nama sang ayah di belakang namanya.
Para istri Nabi SAW tak pernah memakai nama Muhammad di belakang nama mereka, walau agung dan tingginya kedudukan sang suami. Mereka tetap dipanggil Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar, Zainab binti Jahsy, dan seterusnya.
Jika terpaksa menyebut nama suami, sebutlah si Fulanah istrinya si Fulan. Sebagaimana dicontohkan dalam ayat Alquran, "Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir." (QS at-Tahrim [66]: 10).
Sekalipun khalayak mengetahui secara pasti, nama belakang si istri adalah suaminya, hal ini tetap tidaklah diperbolehkan. Misalkan, penyebutan nama istri presiden yang diikuti dengan nama suaminya sebagai seorang presiden. Tetap saja hal ini keliru dalam pandangan syariat. Pandangan inilah yang sudah mentradisi di kalangan Arab dari dahulu hingga saat ini.
Dikhawatirkan pula, ada semacam penyelewengan nasab hanya gara-gara abai soal penyebutan nama. Hal ini punya konsekuensi serius dalam syariat. Sebagaimana hadis Nabi SAW menegaskan, "Siapa yang bernasab kepada selain ayahnya dan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya, maka surga haram baginya." (HR Bukhari). Wallahu a'lam.
Peran Aisyah Mendidik Umat Islam
Lebih dari 2.200 hadis Nabi Muhammad SAW diriwayatkan melalui Aisyah. [345] url asal
#aisyah-binti-abu-bakar #ummul-mukminin #peran-muslimah #istri-nabi #sejarah-islam
(Republika - Khazanah) 18/07/24 09:27
v/11164920/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejarah Islam mencatat, ada banyak sekali perempuan yang menjadi penerang jalan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, misalnya, istri-istri beliau merupakan madrasah ilmu yang luar biasa. Para ummahatulmu`minin berperan amat besar dalam transmisi keilmuan, utamanya ilmu hadis dan fikih.
Di antara mereka adalah ‘Aisyah binti Abu Bakar RA. Setelah Rasulullah SAW wafat, salah satu ummul mu`minin itu dikenal sebagai seorang alim dan guru besar terkemuka.
Peranan ‘Aisyah dalam sejarah transmisi keilmuan Islam sangat signifikan. Itu tampak dari perkataan Imam al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, “Seperempat hukum-hukum syariat Islam diriwayatkan dari Aisyah RA.”
Sementara, menurut Imam adz-Dzahabi, ada lebih dari 100 orang meriwayatkan hadis dari ‘Aisyah. Total hadis yang diriwayatkan ‘Aisyah ialah 2.210 hadis.
Alhasil, peranan ‘Aisyah bagaikan suatu “madrasah besar”, khususnya sepanjang dekade-dekade awal pascawafatnya Nabi SAW. Beragam ulama mengakui ihwal tersebut.
Dalam kitab At-Thabaqat al-Kubra karya Ibnu Saad, Masruq ibn al-Ajda' memberikan kesaksian, “Aku melihat para ulama senior dari kalangan sahabat Nabi SAW bertanya ihwal hukum faraidh kepada ‘Aisyah.”
Kehebatan istri Rasulullah SAW itu bahkan disandingkan dengan empat sahabat utama. Al-Ahnaf bin Qais, seperti dikutip dalam Tarikh Dimasyq karya Ibnu Asakir, berkata, “Saya pernah mendengar orasi Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta banyak tokoh lain. Akan tetapi, tak ada kalimat yang lebih kaya dan lebih baik melebihi ungkapan-ungkapan dari ‘Aisyah.”
Imam az-Zuhri dalam Siyar A'lam an-Nubala' menyatakan, “Seandainya dikumpulkan ilmu dari seluruh perempuan Muslim, lalu itu dibandingkan dengan ilmu ‘Aisyah. Maka, ilmu ‘Aisyah akan tetap lebih utama.”
Kepandaian ‘Aisyah tidak hanya dalam bidang hadis, melainkan juga fikih, ilmu pengobatan, dan sastra. Ia tak sekadar mengajarkan sunah Rasulullah SAW, tetapi juga mengoreksi beberapa pernyataan para sahabat.
Sebab, ada keterangan dari mereka yang kurang sesuai dengan sabda atau tindakan Nabi SAW. Misalnya, kritik ‘Aisyah terhadap Abu Hurairah tentang apakah shalat seseorang batal bila ada orang melintas di depannya.
Beberapa fatwa sahabat Nabi SAW diluruskan ‘Aisyah. Disusun Imam az-Zarkasyi dalam kitab Al-Ijabah li Iradi ma Istadrakathu ‘Aisyah 'an as-Shahabah.