#30 tag 24jam
Nasib Tokoh yang Perkenalkan Berhala ke Bangsa Arab
Amr bin Luhaiy adalah tokoh yang pertama memperkenalkan berhala kepada bangsa Arab. [471] url asal
#arab-jahiliyah #zaman-jahiliyah #kisah-nabi-saw #kisah-rasulullah-saw #menyembah-berhala #paganisme
(Republika - Khazanah) 14/07/24 12:36
v/10742055/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang pertama yang mengenalkan paganisme kepada bangsa Arab adalah Amr bin Luhaiy bin Qam'ah. Leluhur Suku Khuza'ah itu juga mengajak masyarakat setempat untuk menyembah benda-benda mati.
Lantas apa balasan bagi Amr bin Luhaiy tersebut kelak di akhirat? Said Ramadhan al-Buthy dalam Fiqh as-Sirah an-Nabawiyyah Ma'a Mujaz Litarikh al-Khilafah ar-Rasyidah (2009; terjemahan Noura Books 2015), menukilkan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Muhammad bin Ibrahim bin al-Haris at- Taimi dari Abu Shalih as-Saman.
عن أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول لأكثم بن الجون الخزاعي : يا أكثم ، رأيت عمرو بن لحي بن قمعة بن خندف يجر قصبه في النار ، فما رأيت رجلا أشبه برجل منك به ، ولا بك منه : فقال أكثم : عسى أن يضرني شبهه يا رسول الله ؟ قال : لا ، إنك مؤمن وهو كافر ، إنه كان أول من غير دين إسماعيل ، فنصب الأوثان ، وبحر البحيرة ، وسيب السائبة ، ووصل الوصيلة ، وحمى الحامي .
Aku (Abu Hurairah) mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Aksam bin Jun al-Khuza'i, 'Wahai Aksam, aku melihat Amr bin Luhaiy bin Qam'ah bin Khandaf menyeret-nyeret ususnya di neraka. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mirip dengannya daripada engkau, dan tidak pernah melihat orang yang lebih mirip denganmu daripada dia.'
Aksam bertanya, 'Apakah kemiripanku dengannya berbahaya bagiku, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Tidak. Engkau adalah Mukmin, sedangkan dia orang kafir. Dahulu dia adalah orang pertama yang mengubah agama Ismail, lalu memasang berhala, memotong telinga binatang untuk dipersembahkan kepada berhala, menyembelih binatang untuk berhala, mempersembahkan unta kepada berhala, dan meyakini unta tertentu tidak boleh dinaiki.'
Al-Buthy juga mengutip keterangan dari sejarawan Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam (wafat 833). Ibnu Hisyam meriwayatkan bagaimana Amr bin Luhaiy mengenalkan syirik kepada bangsa Arab. Suatu ketika, Amr pergi dari Makkah menuju Syam (Suriah) untuk memenuhi beberapa urusannya. Dia sampai di daerah al-Balqa', tepatnya Ma'ab, yang waktu itu dihuni penduduk Amalek. Bila ditelusuri silsilahnya, mereka adalah keturunan Amlaq bin Lawidz bin Sam bin Nuh. Ternyata, Amr mendapati beberapa orang di sana sedang menyembang patung.
“Apa patung-patung yang kalian sembah itu?” tanya Amr kepada mereka.
“Patung-patung itu kami sembah untuk meminta hujan, sehingga kami diberi hujan. Kami meminta kemenangan, sehingga kami diberi kemenangan,” jawab beberapa dari mereka.
Tidak disangka-sangka, Amr justru tertarik terhadap penjelasan yang irasional itu. “Maukah kalian memberikan kepadaku satu di antara patung-patung itu, yang bisa ku bawa ke negeri Arab untuk disembah?” tanyanya.
Orang-orang itu pun memberinya sebuah patung yang bernama Hubal. Ringkas cerita, sesampainya di Makkah, Hubal diletakkannya di dekat Ka'bah. Masyarakat luas berduyun-duyun datang. Amr lantas mengimbau mereka agar benda mati itu disembah dan diagung-agungkan sebagai cara memperoleh segala harapan. Ajakan ini ternyata disambut sejumlah petinggi kota itu, sehingga lambat laun tersebarlah paganisme di tengah bangsa Arab.
Menurut al-Buthy, faktor utama yang membuat penduduk Makkah generasi demikian meninggalkan akidah tauhid adalah kebodohan, ketunaaksaraan, dan keengganan mereka untuk berpikir logis. Mereka mengganti agama Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dengan kemusyrikan, yang bersumber dari kepercayaan suku-suku yang hidup di sekitar Jazirah Arab.
Tampak adanya kontradiksi yang diidap kaum musyrikin Makkah. Di satu sisi, mereka menepuk dada sebagai keturunan Nabi Ibrahim AS. Di sisi lain, mereka mencampakkan tauhid sebagai esensi millah Ibrahim.
Trauma Bangsa Arab terhadap Patung, Rasul Larang Pembuat Patung, dan Kisah Aisyah
Rasulullah melarang para pembuat patung. [664] url asal
#pembuat-patung #jahiliyah #nabi-muhammad #rasulullah #aisyah
(Republika - Khazanah) 12/07/24 10:40
v/10521982/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap peradaban memiliki kekhasan, sekaligus hal yang dijauhkan, karena di situ pasti ada pengalaman tersendiri. Contohnya Bangsa Arab hari ini. Mereka sebisa mungkin menghindari pembuat patung, karena khawatir menjadi seperti pendahulunya yang menyembah patung.
Mengapa demikian?
Bangsa Arab punya pengalaman panjang terkait dengan gambar dan patung, khususnya patung. Ribuan tahun lalu, Nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung berhala saat berdakwah di sekitaran Ur atau sekitar negara Irak saat ini.
Mengapa demikian?
Bangsa Arab punya pengalaman panjang terkait dengan gambar dan patung, khususnya patung. Ribuan tahun lalu, Nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung berhala saat berdakwah di sekitaran Ur atau sekitar negara Irak saat ini.
Meski dibakar, Allah menyayangi Nabi Ibrahim, sehingga selamat. Maka dakwah tauhidnya terus berlanjut. Bahkan setelah wafat, dakwah Nabi Ibrahim dilanjutkan Ismail di Hijaz dan Ishaq di sekitaran Palestina dan sekitarnya.
Dakwah Ismail membebaskan bangsa Arab dari patung berhala, seperti yang dilakukan bapaknya.
Kemudian setelah itu, tradisi orang Arab menghormati orang baik terus hidup. Suatu ketika ada orang bernama Latta di Thaif. Dia adalah pembuat roti yang sangat dermawan. Pada musim haji, dia biasanya memasak roti berlebih.
Rombongan jamaah haji biasanya datang ke Pasar Okkaz terlebih dahulu untuk berpidato dan menunjukkan kehebatan seni dan sastra. Setelah itu, mereka memakai ihram di dekat sana. Lalu Latta akan membekali mereka dengan roti. Kebaikan Latta terus berlanjut hingga dia wafat.
Setelah itu, orang-orang Arab ziarah ke kuburannya untuk mendoakan dan mengenang kebaikannya. Saking cintanya kepada Latta, mereka membuatkan patung Latta untuk menghormati si dermawan.
Namun lambat laun, bukan sekadar memberikan penghormatan. Mereka menyembah patung tersebut. Akhirnya orang-orang kembali menyembah patung berhala. Bahkan patung berhala berjejer di sekitar Ka’bah hingga Nabi Muhammad SAW lahir dan ketika dewasa mengembalikan orang Arab kepada tauhid.
Rasulullah mengkhawatirkan tradisi patung. Beliau mewanti-wanti jangan sampai ada Muslim yang menjadi pembuat patung, karena merkea dikhawatirkan menghidupkan tradisi menyembah berhala.
إِنَّ مِنْ أَشَدِّأَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابًا الْمُصَوِّرُونَ
Sesungguhnya, di antara penghuni neraka yang paling berat siksaannya di hari kiamat adalah para pelukis (gambar yang bernyawa). (HR Bukhari dan Muslim).
Lihat halaman berikutnya >>>
Hadits itu menjadi penguat dan dasar bahwa al mushawwir alias pembuat patung akan diazab pedih oleh Allah. Seperti apa azabnya? Ini dijelaskan oleh hadits dari Ibnu Abbas
مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فَإِنَّ اللّٰه مُعَذِّبُهُ حَتَّى يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيهَأ أَبَدًا
Siapa saja yang membuat gambar (manusia dan hewan), niscaya ia akan disiksa hingga ia mampu meniupkan nyawa pada lukisan yang dibuatnya, padahal selamanya ia tidak mampu memberi lukisan tersebut nyawa.
Namun. Sikap Rasulullah berbeda ketika menyaksikan Aisyah, istrinya tercinta bermain patung. Rasulullah tidak marah.
Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Aisyah, Ummul Mukminin;
قَدِمَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكٍ أَوْ خَيْبَرَ، وَفِي سَهْوَتِهَا سِتْررٌ، فَهَبَّتْ رِيحٌ، فَكَشَفَتْ نَاحِيَةَ السِّتْرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِششَةَ لُعَبٍ، فَقَال: مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ؟ قَالَتْ: بَنَاتِي. وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرَسًا لَهَا جَنَاحَانِ مِنْ رِقَاعٍ، فَقَال: مَا هَذَا الَّذِي أَرَى وَسَطَهُنَّ؟ ققَالَتْ: فَرَسٌ. قَال: وَمَا هَذَا الَّذِي عَلَيْهِ؟ قَالَتْ: جَنَاحَانِ. فَقَال: فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ؟ قَالَتْ: أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلاً لَهَا أَجْنِحَةٌ؟ قَالَتْ: فَضَحِكَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى رَأَيْتُ نَوَاجِذَهُ.
Rasulullah SAW datang dari perang Tabuk atau Khaibar. Kamar Aisyah terdapat kain penutupnya. Lalu, bertiup angin yang membuka ujung kain, menampakkan boneka milik Aisyah. Nabi Muhammad SAW berkata, “Apa ini wahai Aisyah?” Aisyah berkata, “Ini adalah anak-anakku.” Nabi SAW melihat di antara boneka-boneka itu seorang kuda yang punya dua sayap yang terbuat dari lembaran kain. Nabi SAW bertanya, “Ini apa yang ada di tengah-tengah boneka?” Aisyah menjawab, “Kuda.” Nabi SAW bertanya, “Lalu yang di atas kuda ini apa?” Aisyah menjawab, “Dua sayap.” Nabi SAW bertanya, “Kuda punya dua sayap?” Aisyah menjawab, “Apakah anda belum pernah mendengar bahwa Sulaiman punya kuda yang punya beberapa sayap?” Aisyah berkata, “Rasulullah SAW tertawa sampai saya melihat gigi-giri gerahamnya.” (HR. Abu Dawud)
Guru Besar Sosiologi Agama dari Institut Agama Islam Ibrahimi Situbondo Prof Muhammad Baharun menjelaskan, hadits tentang Aisyah itu menjadi penanda bahwa hadits itu berlaku sesuai konteksnya. Konteks yang pertama, ketika al-mushawwir itu dilarang, karena Rasulullah mengkhawatirkan orang-orang Arab yang baru masuk Islam kala itu kembali menyembah berhala. “Karena itulah Rasulullah tegas melarang dan menekankan adzab bagi para al – mushawwir atau pembuat patung,” kata Baharun .
Namun setelah menyaksikan Aisyah bermain dengan patung kuda, Rasulullah tidak melarang itu. Sebab Rasulullah sudah meyakini keimanan umat Islam kala itu sudah kuat. Al-mushawwir baik itu yang menghasilkan lukisan, gambar, maupun patung, tidak lagi mengajak orang untuk menyembah karyanya.
Karena itu gambar berupa foto dan lukisan, juga patung, saat ini tidak menjadi masalah. Dengan catatan, jangan sampai karya seni itu diagung-agungkan secara berlebihan.