#30 tag 24jam
Tak Hanya Mark Up, KPK Duga Ada Monopoli di Kasus APD Covid-19
KPK mengungkap adanya dugaan monopoli oleh sejumlah perusaahaans swasta pada pengadaan APD Covid-19, disebut merugikan keuangan negara Rp319 miliar. [1,102] url asal
#monopoli-kasus-apd-covid-19 #kasus-covid-19 #kpk #monopoli-di-kasus-apd-covid-19
(Bisnis.Com) 01/11/24 20:34
v/17324611/
Bisnis.com, JAKARTA -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap adanya dugaan monopoli yang dilakukan oleh sejumlah perusaahaans swasta pada pengadaan APD Covid-19, yang kini disebut merugikan keuangan negara Rp319 miliar.
Hal itu diungkap oleh Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron pada konferensi pers penahanan tersangka kasus APD, Jumat (1/11/2024). Tersangka dimaksud yakni Direktur Utama PT Permana Putra Mandiri (PPM) Ahmad Taufik.
Dua tersangka lain yakni Direktur Utama PT Energi Kita Indonesia (EKI) Satrio Wibowo serta mantan pejabat pembuat komitmen (PPK) di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Budi Sylvana telah ditahan awal Oktober 2024 lalu.
Ghufron menjelaskan bahwa dalam pengadaan APD saat pagebluk 2020 lalu, perusahaan-perusahaan yang berperan sebagai produsen maupun distributor hazmat diduga melakukan praktik monopoli. Beberapa perusahaan di antaranya adalah PT PPM milik Ahmad Taufik, PT EKI milik Satrio, serta PT Yoon Shin Jaya (YS) milik Shin Dong Keun yang mewakili para produsen APD.
"Kerja Sama antara PT PPM, PT EKI, PT YS dan para produsen APD merupakan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Hal tersebut berlawanan dengan Pasal 4 Undang-undang No.5/1999 di mana pengusaha dilarang secara bersama-sama melakukan penguasaan produksi dan pemasaran sehingga terbentuk monopoli," jelasnya pada konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (1/11/2024).
Selain monopoli, terdapat sejumlah perbuatan melawan hukum lain yang diduga dilakukan perusahaan-perusahaan itu. PT EKI dan PT YS disebut tidak memiliki Izin Penyalur Alat Kesehatan (IPAK) kendati terlibat dalam mata rantai pengadaan APD.
Kemudian, PT EKI dan PT PPM disebut tidak menyiapkan dan menyerahkan bukti pendukung kewajaran harga kepada PPK sehingga melanggar prinsip pengadaan barang/jasa pemerintah dalam penanganan keadaan darurat.
"PT EKI ditetapkan sebagai penyedia APD, padahal tidak mempunyai pengalaman untuk mengadakan APD sebelumnya," lanjut Ghufron.
DUGAAN MARK UP
Pada konferensi pers sebelumnya, Oktober 2024 lalu, Direktur Penyidikan KPK Asep Guntur Rahayu menjelaskan asal usul kerugian keuangan negara sebesar Rp319 miliar yang dihasilkan dari audit bersama dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Awalnya, anggaran pengadaan APD oleh pemerintah bersumber dari Dana Siap Pakai (DSP) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam proses pengadaan, penyidik KPK mengendus dugaan penggelembungan harga atau mark-up.
Asep menduga kerugian negara Rp319 miliar itu seharusnya tidak terjadi apabila APD langsung dipasok dari PT PPM ke Kemenkes, tanpa harus ada pelibatan PT EKI.
"Jadi secara garis besar bahwa ada penambahan harga, ada mark up harga antara PT PPM dengan Kemenkes, di tengahnya ada PT EKI. Jadi, seharusnya kalau misalkan langsung ke PT PPM itu harganya lebih rendah. Sehingga di situ ada kenaikan harga, peningkatan harga, mark-up lah," ujar Jenderal Polisi bintang satu itu.
Asep menjelaskan bahwa kasus dugaan korupsi itu bermula ketika pemerintah berupaya untuk memenuhi kebutuhan APD saat awal pandemi Covid-19 sekitar empat tahun lalu. Pengadaan dilakukan dengan turut melibatkan aparat seperti TNI dan Polri. Bahkan, APD itu langsung diambil oleh TNI dari Kawasan Berikat berdasarkan instruksi Kepala BNBP yang saat itu dipimpin Letjen TNI Doni Monardo.
APD lalu diambil aparat pada 21 Maret 2020 untuk disebar ke 10 provinsi. Namun, pengambilan dilakukan tanpa kelengkapan dokumentasi, bukti pendukung, serta surat pemesananan.
Menurut Asep, inti permasalahan dalam kasus tersebut adalah perbedaan harga yang cukup lebar. Awalnya, APD untuk Kemenkes hanya dipasok langsung oleh PT PPM.
Perusahaan milik Ahmad Taufik itu merupakan perusahaan yang ditunjuk sebagai distributor utama oleh para produsen APD. Salah satunya yakni oleh Direktur Utama PT Yoon Shin Jaya Shin Dong Keun. Pada saat itu, Kemenkes membeli 10.000 set APD dari PT PPM dengan harga hanya Rp379.500 per set.
Namun, setelahnya Shin Dong Keun turut menandatangani kontrak kesepakatan dengan Direktur Utama PT EKI Satrio Wibowo untuk menjadi authorized seller. Kontraknya yakni sebanyak 500.000 set APD dengan harga dinamis atau tergantung nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat pemesanan.
PT PPM dan PT EKI lalu memutuskan untuk menandatangani kontrak kerja sama distribusi. PT PPM mendapatkan margin keuntungan 18,5%.
Adapun penawaran harga APD melonjak dari Rp379.500 per set menjadi US$60 atau hampir mendekati Rp1 juta per set. Kemudian, Sestama BNPB saat itu, Harmensyah, selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) DSP BNPB melakukan negosiasi harga dengan Satrio agar harga APD diturunkan menjadi US$50 (sekitar Rp700.000) per set.
Harga itu pun tetap hampir dua kali lipat yang dibayar oleh Kemenkes ke PT PPM awalnya yakni Rp379.500 per set. "Jadi ini sangat jauh perbedaan harganya antara yang dibeli oleh Kemenkes kemenkes sebesar Rp370.000 per set, dengan yang diadakan oleh KPA. Itu saudara HM [Harmensyah] dengan saudara SW [Satrio]," jelas Asep.
Di sisi lain, PT PPM juga akan menagih 170.000 set APD gelombang pertama yang telah didistribusikan oleh TNI sebelumnya dengan harga sekitar Rp700.000 per set.
Tidak hanya itu, Satrio juga diduga menghubungi Kepala BNPB Doni Monardo untuk segera menyelesaikan pembayaran 170.000 set APD yang diambil TNI. Dia juga meminta agar diberikan SPK dari BNPB agar sesuai dengan pengamanan raw material dari Korea Selatan.
Pada 25 Maret 2020, PT EKI dan perusahaan Shin Dong Keun merealisasikan kontrak mereka dengan pemesanan 500.000 set APD. Pemesanan dilakukan dengan menyerahkan giro Rp113 miliar bertanggal 30 Maret 2020.
Akan tetapi, pemesanan menggunakan dokumen kepabeanan PT PPM karena PT EKI tidak memiliki izin penyaluran alat kesehatan, gudang serta bukan perusahaan kena pajak (PKP).
KPK mencatat, ada dua kali pembayaran dari negara kepada PT PPM. Pertama, Rp10 miliar ketika belum ada kontrak atau surat pesanan. Kedua, Rp109 miliar yang diserahkan oleh Pusat Krisis Kesehatan.
Setelah itu, pada 28 Maret 2020, Budi Sylvana ditunjuk sebagai PPK dari Kemenkes menggantikan Eri Gunawan menggunakan surat bertanggal backdate sehari. Pada kesempatan yang sama, surat pesanan APD dari Kemenkes diterbitkan untuk sebanyak 5 juta set dengan harga US$48,4 per set.
Surat itu diteken oleh Budi, Taufik dan Satrio. Namun, KPK menyebut surat itu tidak mencantumkan spesifikasi pekerjaan, waktu pelaksanaan, pembayaran, serta hak dan kewajiban para pihak. Tidak hanya itu, surat yang hanya ditujukan kepada PT PPM juga ikut ditandatangani oleh PT EKI.
Adapun Kemenkes mencatat telah menerima 3.140.200 set APD PT PPM dari total 5.000.000 set yang dipesan sampai dengan 18 Mei 2020. Dari waktu pemesanan sampai dengan saat itu, telah dilakukan negosiasi antara Kemenkes dengan PT PPM untuk menurunkan harga.
Kedua pihak menyepakati negosiasi yakni 503.500 set APD yang dikirim dari periode 27 Apil sampai dengan 7 Mei 2020 dihargai sebesar Rp366.850 per set. Setelahnya, satu set APD akan dihargai Rp294.000.
Asep menuturkan, hasil audit final yang dilakukan BPKP menunjukkan adanya kerugian negara yang timbul akibat pengadaan APD itu senilai Rp319 miliar. Dia memastikan penyidik bakal menelusuri lebih jauh ke mana saja aliran uang tersebut.
"Atas pengadaan tersebut, audit BPKP menyatakan telah mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp319 miliar," terang Asep.
Jepang Alami Lonjakan Kasus Covid-19
Jepang melaporkan sepuluh kasus Covid-19 baru setiap pekan. [208] url asal
#kasus-covid-19 #covid-19 #flu #covid-19-di-jepang #gejala-covid-19 #penyebaran-covif-19 #demam #sakit-tenggorokan #omicron
(Republika - News) 27/07/24 14:43
v/12307392/
REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Kasus Covid-19 melonjak di Jepang. Tim pakar setempat mendesak diberlakukannya tindakan pencegahan selama liburan musim panas, ungkap media lokal pada Jumat (27/7/2024).
Dalam beberapa pekan belakangan, Jepang telah melaporkan sepuluh kasus Covid-19 baru setiap pekan. Untuk pekan yang berakhir 14 Juli, jumlah rata-rata kasus terkonfirmasi di fasilitas medis tertentu adalah 11,18, menandai peningkatan 1,39 kali lipat dari pekan sebelumnya dan merupakan peningkatan jumlah kasus selama sepuluh pekan berturut-turut, menurut NHK.
Pasien yang mengunjungi fasilitas kesehatan mengalami gejala mirip dengan flu pada umumnya seperti demam dan sakit tenggorokan. Kepala sebuah klinik di Tokyo, Ando Sakuro mengatakan sepuluh orang telah teruji positif setiap hari sejak akhir Juni.
“Liburan musim panas akan meningkatkan kesempatan bagi masyarakat untuk berinteraksi dengan orang lain,” kata Sakuro.
“Saya merekomendasikan mengambil tindakan dasar pengendalian infeksi, seperti mencuci tangan, ventilasi, dan memakai masker jika batuk,” kata dia.
Profesor kedokteran Hamada Atsuo mengaitkan peningkatan infeksi baru-baru ini sebagian karena varian KP.3, sejenis strain Omicron. “KP.3, yang berasal dari JN.1, telah menjadi strain yang dominan tidak hanya di Jepang tetapi juga di belahan bumi utara, termasuk Eropa dan Amerika Serikat. Ada laporan bahwa virus ini sedikit lebih menular dibandingkan varian lainnya,” kata Hamada.
Orang Dewasa Paling Banyak Terkena Long Covid, Ini Tanda dan Gejalanya
Berikut tanda dan gejala long Covid-19 yang banyak diidap oleh orang dewasa. [686] url asal
#covid-19 #gejala-covid-19 #kasus-covid-19 #tanda-long-covid #long-covid #long-covid-19 #gejala-long-covid-19
(Bisnis.Com) 08/07/24 20:04
v/10107874/
Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah studi mengatakan bahwa orang dewasa lebih rentan terkena long Covid-19.
Mengutip dari Science Alert, setidaknya hampir 6.9 persen atau 17,8 juta orang dewasa di Amerika Serikat (AS) menderita Covid-19 dalam jangka waktu yang lama.
Kemudian dalam sebuah survei, total 8.275 orang dewasa mengatakan mereka telah terinfeksi Covid-19 setidaknya satu kali. Kemudian 1.202 dilaporkan mengalami gejala yang berkepanjangan, seperti kelelahan, kabut otak, dan kesulitan bernapas.
Dari kelompok umur, perempuan lebih mungkin melaporkan pernah menderita Covid-19 jangka panjang dibandingkan laki-laki.
Namun data juga menunjukkan bahwa orang yang sudah mendapat vaksin booster lebih rendah terkena long Covid, dibandingkan mereka yang hanya menerima dua dosis vaksinasi.
Tanda-tanda Long Covid
David Putrino, PhD, seorang direktur Inovasi Rehabilitasi untuk Sistem Kesehatan Mount Sinai di New York City mengatakan ia telah merawat dan mempelajari pasien yang menderita Covid-19 jangka panjang.
Menurutnya, pasien dapat pulih (atau merasa pulih) dari long Covid yang berkepanjangan hingga tantangan kekebalan berikutnya.
“Kami melihat pasien yang terjangkit Covid-19 diikuti dengan long Covid kemudian menjadi lebih baik sepenuhnya atau sebagian besar membaik. Kemudian mereka tertular Covid lagi, dan ini diikuti dengan kambuhnya gejala-gejala Covid yang berkepanjangan,” kata Jeffrey Parsonnet, MD, spesialis penyakit menular dan direktur Klinik Sindrom COVID Pasca Akut Dartmouth Hitchcock, Lebanon, New Hampshire, dikutip dari Medscape.
Jeffrey menjelaskan bahwa setiap pasien yang mengalami long Covid, memiliki gejala yang berbeda-beda.
“Setiap pasien terlihat berbeda dalam hal apa yang menjadi lebih baik dan seberapa cepat. Dan lagi, beberapa pasien tidak membaik (atau bahkan sedikit membaik) setelah beberapa tahun,” katanya.
Gejala Long Covid
Menurut WHO, long Covid-19 adalah kondisi di mana seorang penyintas masih merasakan gejala penyakit tersebut dalam jangka waktu yang lama.
Kini sebuah studi baru menemukan bahwa hanya ada 7 gejala kesehatan jangka panjang yang terkait langsung long Covid-19.
Hal ini ditemukan oleh para peneliti di University of Missouri yang menganalisis catatan medis elektronik 52.461 pasien di Amerika Serikat. Semua pasien telah didiagnosis dengan infeksi COVID sebelum 14 April 2022.
Para peneliti mempelajari 47 gejala kesehatan teratas yang paling sering dilaporkan dari long Covid-19. Mereka hanya menemukan tujuh gejala yang diterapkan pada subkelompok pasien dewasa yang terinfeksi. Berikut adalah tujuh gejala yang bisa bertahan hingga satu tahun.
Bahkan gejala-gejala ini pun sangat mungkin mengganggu aktivitas seseorang sehari-hari. Lantas, apa saja gejala terbaru yang bisa dialami oleh seseorang menderita long Covid-19? Berikut ulasannya.
1. Jantung berdebar kencang...
1. Jantung berdebar kencang
Salah satu gejala yang dirasakan oleh seseorang yang mengalami long Covid-19 adalah ketika jantung berdetak cepat atau tidak teratur di dada. Seseorang juga mungkin bisa merasa pusing, terutama saat berdiri.
2. Rambut rontok
Orang bisa mengalami rambut rontok. Kondisi ini disebut Telogen Effluvium, yang dapat terjadi ketika tubuh mengalami tekanan fisik dan emosional, seperti saat melawan infeksi Covid-19. Stres akibat COVID mengejutkan tubuh dan mengganggu siklus pertumbuhan-istirahat. Hal ini menyebabkan peningkatan kerontokan rambut.
3. Kelelahan
Ini adalah salah satu gejala long Covid-19 yang paling umum. Para peneliti di Iran melakukan meta-analisis yang mencakup 52 studi dengan 127.117 peserta. Mereka menemukan bahwa 42,5 persen orang yang mengidap long Covid-19 mengalami kelelahan kronis yang dapat bertahan selama berbulan-bulan, meskipun sudah mendapat perawatan medis.
4. Nyeri dada
Nyeri dada atau rasa tidak nyaman di dada juga merupakan gejala umum dari long Covid-19. Jenis nyeri ini bisa terasa seperti otot di dada yang pegal. Bahkan, ketika bagiann dada disentuh itu bisa sangat terasa sakit dan rasa sakitnya semakin parah dari gerakan seperti memutar atau meregangkan tubuh.
5. Sesak napas
Meski sudah terinfeksi Covid-19 sejak awal, tapi akan ada kemungkinan seseorang mendapati bahwa nafasnyatersengal-sengal dan lebih mudah merasa sesak napas.
6. Nyeri sendi
Seseorang akan mungkin mengalami nyeri sendi sebagai tanda jika orang tersebut berada di rumah sakit selama Covid-19 atau kurang aktif dari biasanya karena sakit. Rasa sakit ini mungkin hilang dengan sendirinya atau kadang-kadang bisa berlangsung lebih lama.
7. Obesitas
Menurut temuan studi tahun 202 dalam Journal of Clinical Medicine, sindrom Covid-19 sebelumnya, bisa menyebabkan ketidakmampuan untuk melakukan tugas rumah dan pekerjaan sehari-hari. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan risiko obesitas.