Restoran cepat saji McDonald's di AS disorot usai muncul laporan cemaran bakteri E coli pada burger mereka. Ada yang kena gagal ginjal gegara cemaran itu. [532] url asal
Beberapa waktu lalu, restoran cepat saji terkenal McDonald's ramai dibicarakan. Satu orang meninggal dan sekitar 75 orang jatuh sakit usai menyantap salah satu menu dari restoran tersebut.
Diketahui, mereka sakit setelah menikmati burger Quarter Pounder yang terkontaminasi bakteri E coli. Hal ini yang juga dialami Kamberlyn Bowler.
Sebelum sakit, remaja berusia 15 tahun di Grand Junction, Colorado itu pergi beberapa kali ke McDonald's untuk menikmati makanan kesukaannya yaitu burger Quarter Pounder dengan keju dan acar tambahan.
Dalam wawancara pertamanya saat berada di rumah sakit, Kamberlyn mengatakan saat itu sangat tidak menyenangkan. Sang ibu, Brittany Randall, mengatakan gejala yang dialami putrinya itu dimulai pada bulan Oktober ini seperti demam dan sakit perut.
Awalnya, Randall dan Kamberlyn tidak terlalu khawatir. Mereka mengira sakit yang dialami Kamberlyn hanya demam biasa yang disertai sakit perut.
"Tetapi kemudian saya mulai muntah, diare, dan berdarah, jadi itu membuat saya takut," tutur Kamberlyn yang dikutip dari NBC News.
Melihat kondisinya semakin parah, Randall membawa putrinya ke dokter dan melakukan pemeriksaan di UGD yang tidak menunjukkan sesuatu yang signifikan. Namun, saat kembali ke rumah kondisi Kamberlyn tidak kunjung membaik.
"Saya rasa pada hari keenam, ada yang tidak beres. Saya merasa tidak enak badan dan harus kembali ke rumah sakit," kata remaja 15 tahun itu.
Kali ini, hasil tes yang dijalani Kamberlyn menunjukkan bahwa ia mengalami infeksi E coli yang sangat parah, hingga mengalami gagal ginjal. Pada tanggal 18 Oktober 2024, ia diterbangkan ke Rumah Sakit Anak Colorado dan dirawat di sana.
Kamberlyn telah didiagnosis dengan sindrom uremik hemolitik terkait Escherichia coli enterohemorrhagic atau HUS. Itu merupakan kondisi yang dapat muncul jika bakteri E. coli menyerang ginjal.
Ia telah menjalani beberapa kali dialisis di rumah sakit. Randall mengatakan bahwa ginjal putrinya itu menunjukkan beberapa tanda berfungsi kembali, tapi tidak jelas seberapa parah kerusakan yang akan terjadi.
"Kami tidak yakin seperti apa kondisinya ke depannya. Dia mungkin harus menjalani dialisis lagi," terang Randall.
"Kami berharap itu yang terakhir, tetapi kami juga tidak tahu, dan kami tidak tahu apakah akan ada masalah di masa mendatang," lanjutnya.
Pengalaman itu sangat menakutkan bagi Randall. Meski begitu, ia masih bersyukur karena Kamberlyn menyadari ada yang salah dengan tubuhnya.
Jika lebih lama lagi menyadarinya, tambah Randall, mungkin putrinya sudah tidak berada bersamanya.
"Dia berubah dari sangat sehat dan tidak memiliki masalah sama sekali menjadi kemungkinan kerusakan ginjal seumur hidupnya," pungkasnya.
REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Kasus Covid-19 melonjak di Jepang. Tim pakar setempat mendesak diberlakukannya tindakan pencegahan selama liburan musim panas, ungkap media lokal pada Jumat (27/7/2024).
Dalam beberapa pekan belakangan, Jepang telah melaporkan sepuluh kasus Covid-19 baru setiap pekan. Untuk pekan yang berakhir 14 Juli, jumlah rata-rata kasus terkonfirmasi di fasilitas medis tertentu adalah 11,18, menandai peningkatan 1,39 kali lipat dari pekan sebelumnya dan merupakan peningkatan jumlah kasus selama sepuluh pekan berturut-turut, menurut NHK.
Pasien yang mengunjungi fasilitas kesehatan mengalami gejala mirip dengan flu pada umumnya seperti demam dan sakit tenggorokan. Kepala sebuah klinik di Tokyo, Ando Sakuro mengatakan sepuluh orang telah teruji positif setiap hari sejak akhir Juni.
“Liburan musim panas akan meningkatkan kesempatan bagi masyarakat untuk berinteraksi dengan orang lain,” kata Sakuro.
“Saya merekomendasikan mengambil tindakan dasar pengendalian infeksi, seperti mencuci tangan, ventilasi, dan memakai masker jika batuk,” kata dia.
Profesor kedokteran Hamada Atsuo mengaitkan peningkatan infeksi baru-baru ini sebagian karena varian KP.3, sejenis strain Omicron. “KP.3, yang berasal dari JN.1, telah menjadi strain yang dominan tidak hanya di Jepang tetapi juga di belahan bumi utara, termasuk Eropa dan Amerika Serikat. Ada laporan bahwa virus ini sedikit lebih menular dibandingkan varian lainnya,” kata Hamada.
Bandung: Dinas Kesehatan Jawa Barat mengimbau masyarakat agar waspada terhadap meningkatnya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di musim kemarau basah. Pasalnya hampir seluruh wilayah di Jabar saat ini terjadi musim kemarau basah.
Menurut Kepala Dinkes Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, musim kemarau kali ini harus diwaspadai untuk peningkatan DBD lantaran berbeda dengan tahun sebelumnya. Karena saat ini tidak terjadi musim kemarau murni, melainkan adanya fase suhu udara dingin atau La Nina dan suhu udara panas atau El Nino.
"La Nina dan El Nino yang bersinggungan sehingga potensi ke arah beberapa penyakit seperti DBD masih bisa meningkat," kata Vini saat ditemui di Gedung sate Bandung, Kamis, 25 Juli 2024.
Ia mengatakan, kasus DBD di Jabar saat ini telah mengalami penurunan yang cukup siginifikan dibandingkan beberapa bulan yang lalu seperti yang terjadi di Januari-Maret lalu. Namun, masyarakat diminta tetap waspada dan jangan lengah untuk menerapkan pola hidup sehat untuk terhindar dari DBD. "Saat ini tidak ada peningkatan dibandingkan kemarin bulan Januari, Februari, Maret. dan bulan kemarin (Juni) dilaporkan hanya ada 300 (kasus). Jadi turun sekali, tapi tetap DBD ini penyakit sepanjang tahun. Sekarang kemaraunya bukan kemarau kering tapi kemarau basah kadang ada hujan kadang enggak. Jadi tetap, kita minta masyarakat untuk berhati-hati," bebernya.
Selain DBD, lanjut Vini, beberapa penyakit lainya yang harus diwaspadai saat musim kemarau basah ini seperti infeksi saluran pencernaan atau diare, tifoid, hepatitis, hingga infeksi mata dan saluran pernafasan (ISPA).
"Untuk mengantisipasinya, tetap masyarakat harus melakukan PHBS perilaku hidup bersih dan sehat seperti cuci tangan di waktu-waktu terpenting atau pada saat memegang benda, barang, setelah melakukan aktivitas, saat mau makan, pulang dari kamar mandi," jelas dia.