Bisnis.com, JAKARTA – Presiden dan wakil presiden terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming berencana membentuk kementerian baru, yakni Kementerian Koordinator bidang Infrastruktur.
Berdasarkan informasi yang Bisnis terima, rencananya Kemenko Infrastruktur mengoordinasikan berbagai proyek infrastruktur lintas kementerian, termasuk Kementerian PUPR, Perhubungan, dan ESDM. Tujuannya, untuk memastikan proyek-proyek infrastruktur strategis berjalan lebih terintegrasi dan efisien.
Pembentukan kementerian baru ini diharapkan dapat menjadi langkah penting untuk meningkatkan koordinasi antarkementerian dan mempercepat pembangunan.
Hal tersebut pun dibenarkan oleh Ketua Relawan Pengusaha Muda Nasional (Repnas) sekaligus Wakil Komandan Tim Kampanye Nasional Pemilih Muda (TKN Fanta) Prabowo-Gibran, Anggawira.
“Iya [sudah masuk pembicaraan rencana pembentukan Kemenko Infrastruktur],” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Minggu (6/10/2024).
Melihat Visi, Misi, dan Program Kerja Prabowo-Gibran, infrastruktur bahkan menjelaskan dua dari delapan Program Hasil Terbaik Cepat.
Pertama, membangun sekolah-sekolah unggul terintegrasi di setiap kabupaten, dan memperbaiki sekolah-sekolah yang perlu renovasi.
Kedua, melanjutkan pembangunan infrastruktur desa, Bantuan Langsung Tunai (BLT), dan menyediakan rumah murah bersanitasi baik untuk yang membutuhkan
Anggaran Kementerian Baru
Meski demikian, belum ada info lebih lanjut mengenai pembentukan kementerian baru tersebut menjelang pelantikan presiden pengganti Jokowi pada 20 Oktober 2024.
Begitu pula dengan anggaran untuk birokrasi penambahan kementerian, belum diketahui besarannya. Melihat anggaran Kemenko yang ada saat ini, berkisar antara Rp200 miliar hingga Rp500 miliar.
Berbeda dengan lembaga baru berupa Badan Gizi Nasional yang telah mendapatkan porsi anggaran senilai Rp71 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.
Meski demikian, Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Wahyu Utomo menyampaikan pemerintah terus mencermati dan mengantisipasi dinamika reorganisasi di kelembagaan.
Jika terjadi pemisahan K/L atau munculnya K/L baru, pemerintah memastikan defisit anggaran tidak akan melabar dan tetap di angka 2,53% sebagaimana tercantum dalam APBN 2025.
“Tapi sudah kita hitung bahwa itu memungkinkan ditampung dari belanja nonK/L. Jadi, sekarang overall defisit tetap 2,53%,” ungkapnya beberapa waktu lalu.
Sebagaimana program Quick Win Prabowo, pemerintah telah mengalokasikan Rp121 triliun untuk makan bergizi gratis, cek kesehatan gratis, hingga pembentukan lumbung pangan nasional yang seluruhnya diambil dari anggaran nonK/L.
Tercatat belanja K/L tahun 2025 mencapai Rp1.160,1 triliun. Sementara Rp1.541,4 triliun belanja nonK/L pada belanja pemerintah pusat.
Sebelumnya pun, Wakil Menteri Keuangan II Thomas Djiwandono mengungkapkan bahwa APBN telah menyiapkan porsi khusus bagi K/L baru bila mana benar terjadi penambahan jumlah instansi.
"Itu sudah dilakukan supaya apapun yang akan diputuskan oleh presiden terpilih atau presiden nanti akan bisa dilakukan secara anggaran," ungkapnya dalam Media Briefing di kantor Kemenkeu, Rabu (11/9/2024).
Anggaran Kemenko dalam APBN 2024/2025
| Kementerian | APBN 2024 | APBN 2025 |
|---|
| Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan | Rp332,79 miliar | Rp277,31miliar |
| Kementerian Koordinator bidang Perekonomian | Rp524 miliar | Rp459,77 miliar |
| Kementerian Koordinator bidang Maritim dan Investasi | Rp342,94 miliar | Rp250,97 miliar |
| Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan | Rp258,99 miliar | Rp274,09 miliar |
Sumber: Peraturan Presiden No. 76/2023 Tentang Rincian APBN Tahun Anggaran 2024 dan Kementerian Keuangan, diolah