#30 tag 24jam
Marak Tipu-tipu Akhir Zaman, Tanda Kiamat Kecil, dan Peringatan Rasulullah SAW
Aksi tipu muslihat marak sebagai pertanda akhir zaman [470] url asal
#kiamat #tanda-akhir-zaman #kengerian-pada-hari-kiamat #hadits-akhir-zaman #hadits-kiamat #aksi-tipu-tipu-kiamat
(Republika - Khazanah) 08/07/24 16:10
v/10088260/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Di akhir zaman semakin banyak modus-modus penipuan dan tipu muslihat yang menimpa umat manusia. Hal ini sudah diperingatkan Rasulullah SAW sejak berabad-abad lalu agar umatnya berhati-hati terhadap dunia yang penuh dengan kedustaan ini.
Dalam Islam, akhir zaman merujuk pada periode menjelang terjadinya hari kiamat, yang ditandai dengan berbagai peristiwa besar dan tanda-tanda tertentu. Beberapa tanda dan kejadian yang sering disebutkan dalam literatur Islam terkait akhir zaman antara lain, munculnya Imam Mahdi, Dajjal, turunnya Nabi Isa, dan munculnya Ya'juj dan Ma'juj.
Di samping itu, Rasulullah SAW juga telah memberi peringatan kepada umatnya tentang banyaknya penipuan di akhir zaman. Peringatan tentang tipu daya pada akhir zaman sering disebut dalam hadits-hadits Nabi.
Rasulullah SAW memperingatkan bahwa pada akhir zaman, akan muncul banyak kedustaan yang menimpa manusia. Dalam hadits riwayat Ibnu Majah dijelaskan,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
“Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidhah turut bicara.” Lalu beliau ditanya, “Apakah al-ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab,“Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum.” (HR Ibnu Majah).
Imam Al-Suyuthi menjelaskan, maksud dari kata al-khada’ dalam Hadits di atas adalah “Al-Khadda’ al-makru wa al-hilatu, wa idhafatu al-khadda’ ila as-sanawat majaziyah wal–muradu ahlu as-sanawati” (Al Khadda’ artinya makar dan muslihat.
Dikaitkannya Al Khadda’ kepada al-sanawat (tahun-tahun) merupakan bentuk kiasan/majaz, maksudnya adalah orang yang hidup di tahun-tahun tersebut) (Syarh Sunan Ibni Majah, 1/292).
Dosen Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) dan mengajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, Ruslan Fariadi dalam artikelnya menjelaskan, hadits di atas memberi suatu peringatan akan datangnya suatu masa, di mana manusia dipenuhi berbagai intrik dan tipu-muslihat, serta kebohongan.
Gambaran ini...
Gambaran ini dijadikan Rasulullah sebagai tanda-tanda dekatnya hari kiamat, di mana banyak pembohong dicitrakan sebagai orang jujur. Sebaliknya, orang jujur dikriminalisasi sebagai pembohong, para pengkhianat dipandang amanah, disambut bak pahlawan.
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga memperingatkan tentang munculnya banyak dajjal kecil (pendusta) sebelum datangnya Dajjal yang terbesar. Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda,
"Demi Allah, sesungguhya Hari Kiamat belum akan terjadi sampai tiga puluh orang pendusta muncul, dan yang terakhir muncul di antara mereka adalah pendusta terbesar yang bermata satu" (HR Ahmad).
Peringatan-peringatan ini menekankan pentingnya berpegang teguh pada ajaran Islam yang benar, memperdalam pengetahuan agama, dan berhati-hati terhadap berbagai bentuk tipu daya yang mungkin muncul. Hadits di atas menjadi peringatan keras bahaya dusta, yang mana hal ini jiga selaras dengan sabda Rasulullah saw dari Abdullah bin Mas’ud ra berikut ini:
“....Jauhilah kedustaan, karena ia menyeret kepada keburukan, dan keburukan menjerumuskan ke neraka. Bila seseorang terus berdusta dan mempertahankannya, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR Muslim).
Kondisi Manusia Digiring di Padang Mahsyar Saat Kiamat dan 5 Cara Umat Islam Dikenali | Republika Online
Kiamat keniscayaan yang akan terjadi atas kehendak Allah SWT [717] url asal
#tanda-kiamat #padang-mahsyar #cara-muslim-dikenal-padang-mahsyar #padang-mashyar-kiamat #kiamat-hari-jumat #kengerian-pada-hari-kiamat #dahsyatnya-kiamat #kapan-kiamat #waktu-kiamat #tanda-tanda-kiama
(Republika - Iqra) 05/07/24 19:06
v/9770460/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Terdapat banyak riwayat dari Rasulullah SAW yang menggambarkan ihwal bagaimana umat manusia kelak akan digiring pada hari kiamat kelaak di Padang Mahsyar.
Di antaranya adalah riwayat dari Imam Bukhari yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut:
إِنَّكُمْ مُلاَقُو اللهِ حُفَاةً عُرَاةً مُشَاةً غُرْلاً
“Sesungguhnya kalian akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, berjalan kaki, dan belum dikhitan.” (HR Bukhari no 6043)
Ada juga yang berkendaraan. Namun tidak sedikit yang diseret di atas wajah-wajah mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّكُمْ تُحْشَرُوْنَ رِجَالاً وَرُكْبَانًا وَتُجَرُّوْنَ عَلَى وُجُوْهِكُمْ
“Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (ke Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan, dan (ada juga yang) berkendaraan, serta (ada juga yang) diseret di atas wajah-wajah kalian.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi).
Lantas dalam kondisi miliaran umat manusia yang berada di Padang Mahsyar tersebut, bagaimana kita, umat Islam akan dikenali oleh Allah SWT dan para malaikatnya?
Dikutip dari buku Para Musuh Allah karya Rizem Aizid, terdapat empat cara agar Allah SWT tidak mengabaikan kita pada hari kiamat.
Pertama, tobat. Cara pertama dan paling utama agar setiap Muslim terhindar dari murka Allah SWT dan tidak lagi dicap sebagai musuh-Nya pada hari kiamat adalah dengan bertobat memohon ampunan-Nya.
Menurut kaum sufi, tobat memiliki tiga pengertian. Pertama, meninggalkan segala kemaksiatan dan melakukan kebajikan secara terus-menerus. Kedua, keluar dari kejahatan dan memasuki kebaikan karena takut kepada murka Allah SWT. Dan ketiga, terus-menerus bertobat meskipun sudah merasa tidak berbuat dosa lagi.
Tobat sesungguhnya tidak sebatas mengucapkan kalimat istighfar, karena sebanyak apa pun seseorang mengucapkan kalimat istighfar, kalau setelah itu mengulangi perbuatan dosanya, maka dia belum dikatakan bertobat.
Selain mengucapkan kalimat istighfar, jalan lain yang dapat mengantarkan seseorang ke jalan tobat adalah melakukan shalat sunnah tobat. Shalat sunnah tobat tersebut harus dilakukan dengan kesadaran diri untuk tidak lagi mengulangi perbuatan dosa yang sama ataupun perbuatan dosa yang baru.
Bertobat harus dilakukan sesegera mungkin setelah menyadari perbuatan dosanya, ini merupakan salah satu syarat tobat. Tobat juga harus dilakukan sebelum ajal menjemput karena ketika ajal sudah tiba, maka tobat tersebut akan sia-sia. Allah SWT berfirman tentang pentingnya menyegerakan tobat dalam Alquran:
وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
"Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang. Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih." (QS an-Nisa ayat 18).
Kedua, dzikir..
Kelima, sujud. Ternyata seorang Muslim yang banyak bersujud memiliki keutamaan yang besar di hari kiamat kelak. Ini diketahui berdasarkan riwayat hadits yang menjelaskan tentang hal tersebut. Adapun haditsnya sebagai berikut:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ الْمَازِنِيِّ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: " مَا مِنْ أُمَّتِي مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَأَنَا أَعْرِفُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ "، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَكَيْفَ تَعْرِفُهُمْ يَا رَسُولَ اللهِ فِي كَثْرَةِ الْخَلَائِقِ؟، قَالَ: " أَرَأَيْتَ لَوْ دَخَلْتَ صُبْرَةً فِيهَا خَيْلٌ دُهْمٌ بُهْمٌ، وَفِيهَا فَرَسٌ أَغَرُّ مُحَجَّلٌ، أَمَا كُنْتَ تَعْرِفُهُ مِنْهَا؟ "، قَالَ: بَلَى، قَالَ: " فَإِنَّ أُمَّتِي يَوْمَئِذٍ غُرٌّ مِنْ السُّجُودِ، مُحَجَّلُونَ مِنْ الْوُضُوءِ "
Diriwayatkan dari Abdillah bin Busr RA, Rasullah SAW bersabda, "Tidak ada seorang pun dari umatku, kecuali aku mengenalnya nanti pada hari Kiamat". Para sahabat bertanya, "Bagaimana engkau mengenal mereka wahai Rasulullah, mereka berada di antara banyak makhluk?"
Beliau menjawab, "Bagaimana pendapatmu jika engkau masuk dalam shirath" di dalamnya terdapat kumpulan kuda berwarna hitam, dan dalam kumpulan itu terdapat seekor kuda yang memiliki ghurrah (warna putih cerah di dahinya) dan muhajjal (berkaki putih), bukankah kamu dapat mengenalinya?" Sahabat itu menjawab, "Ya". Lalu beliau bersabda, "Sungguh, umatku pada hari itu mempunyai wajah yang putih karena sujud, serta anggota wudhu yang putih karena wudhu'". (HR Ahmad)
Makna sujud yang terkandung di dalam hadits tersebut merujuk pada ibadah sholat. Orang yang memperbanyak sujud, yakni sholat, akan menemani Rasulullah SAW di surga.
Seorang sahabat Nabi SAW bernama Rabi'ah bin Ka'b Al-Aslami suatu ketika bermalam di rumah Rasulullah SAW, lalu menghampiri beliau SAW dengan membawa air wudhu. Kemudian Nabi SAW berkata, "Mintalah sesuatu."
Lalu Rabi'ah menjawab, "Aku ingin menemanimu di Surga." Rasulullah bertanya lagi, "Ada permintaan selain itu?" Rabiah mengatakan lagi, "Itu yang aku minta." Nabi Muhammad SAW kemudian bersabda, "Bantulah aku mewujudkan keinginanmu dengan memperbanyak sujud (sholat)." (HR Muslim)
Sujud merupakan momen yang paling dekat dengan Allah SWT, dan di saat itulah waktu terkabulnya doa seorang hamba. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Waktu yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah doa."
Hendaknya seorang Muslim memperhatikan betul-betul sujud. Sebab Nabi SAW pernah memerintahkan untuk menyempurnakan sujud. Anas bin Malik RA mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sempurnakanlah ruku dan sujud, demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku benar-benar melihat kalian dari belakang punggungku, jika kalian ruku dan sujud." (HR Bukhari dan Muslim)
Allah Bersumpah Demi Hari Kiamat, Apa Maksudnya? | Republika Online
Hari kiamat disebut juga hari pembalasan. [394] url asal
#kiamat #kiamat-hari-jumat #tanda-kiamat #allah-bersumpah-demi-hari-kiamat #kengerian-pada-hari-kiamat #surah-alquran-yang-membahas-kiamat #tanda-tanda-kiamat
(Republika - Iqra) 05/07/24 14:01
v/9752003/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Banyak orang mendiskusikan hari kiamat. Ada yang menolaknya, tapi juga ada yang membenarkan bahwa hari itu pasti akan terjadi. Hari yang menjadikan semua makhluk bingung hendak kemana dan akan berlindung di mana. Hari yang di dalamnya penuh dengan kengerian.
Dahulu orang kafir menafikkan hari kiamat. Mereka mengira hari kiamat tidak ada. Kemudian Allah berfirman dalam Surah al-Qiyamah berikut ini:
لَآ أُقْسِمُ بِيَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ
lā uqsimu biyaumil-qiyāmah
1. Aku bersumpah demi hari kiamat.
Ayat ini menunjukkan bagaimana Allah bersumpah dengan hari kiamat. Ini merupakan kuasa Allah untuk bersumpah dengan ciptaan apapun yang Dia kehendaki. Namun yang menarik adalah Allah bersumpah atas nama hari kiamat. Para ahli tafsir menjelaskan, dengan sumpah tersebut, Allah menekankan, bahwa hari kiamat itu benar terjadi, tidak seperti yang dipikirkan orang-orang kafir dan mereka yang menafikkan hari kiamat.
وَلَآ أُقْسِمُ بِٱلنَّفْسِ ٱللَّوَّامَةِ
wa lā uqsimu bin-nafsil-lawwāmah
2. Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).
Di ayat ini, Allah juga bersumpah dengan jiwa yang selalu menyesal. Maksudnya adalah jiwa yang selalu menyayangkan tidak dapat maksimal taat kepada Allah dan selalu penuh kekurangan.
أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَٰنُ أَلَّن نَّجْمَعَ عِظَامَهُۥ
a yaḥsabul-insānu allan najma’a ‘iẓāmah
3. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
Di ayat ini, Allah menunjukkan keagungannya sebagai Tuhan yang mampu melakukan apa saja, juga sebagai penguasa hari pembalasan. Bahwa di hari kiamat nanti, Allah akan membangkitkan semua makhluk, termasuk yang hanya tersisakan tulang-belulang.
بَلَىٰ قَٰدِرِينَ عَلَىٰٓ أَن نُّسَوِّىَ بَنَانَهُۥ
balā qādirīna ‘alā an nusawwiya banānah
4. Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.
Allah mampu menyusun kembali makhluk makhluk yang sudah hancur menjadi sempurna lagi dan hidup lagi untuk mempertanggungjawabkan semua yang sudah dia perbuat.
Lihat halaman berikutnya >>>
Dalam Islam, Hari Kiamat adalah waktu ketika semua makhluk akan dibangkitkan dari kematian untuk menghadapi penghakiman Allah. Beberapa aspek penting tentang Hari Kiamat dalam Islam meliputi:
Tanda-tanda Kiamat: Ada berbagai tanda besar dan kecil yang menandakan kedatangan Hari Kiamat. Tanda besar termasuk munculnya Dajjal (anti-Kristus), kedatangan Isa (Yesus) yang akan membunuh Dajjal, dan keluarnya Ya'juj dan Ma'juj (Gog and Magog).
Proses Kiamat: Hari Kiamat akan diawali dengan tiupan sangkakala oleh malaikat Israfil. Seluruh makhluk akan mati pada tiupan pertama, dan kemudian dibangkitkan kembali pada tiupan kedua.
Penghakiman: Semua manusia akan dihakimi berdasarkan amal perbuatannya selama hidup. Mereka yang amal baiknya lebih banyak akan masuk surga, sedangkan yang amal buruknya lebih banyak akan masuk neraka.
Surah Alquran ini Deskripsikan Kengerian Hari Kiamat | Republika Online
Hari kiamat penuh dengan kengerian. [637] url asal
#kiamat #kiamat-hari-jumat #tanda-kiamat #kengerian-pada-hari-kiamat #surah-alquran-yang-membahas-kiamat
(Republika - Iqra) 05/07/24 11:20
v/9737761/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hidup semewah dan senikmat apapun di dunia ini, pada akhirnya akan berujung kepada kematian. Kemudian setelah mati, semua manusia, dari mulai zaman Nabi Adam hingga yang terakhir, akan dibangkitkan kembali untuk pertanggungjawaban pada hari kiamat.
Allah mendeskripsikan hari kiamat dalam Surah al-Qariah, surah pendek yang terdapat di bagian akhir Juz 30.
ٱلْقَارِعَةُ
al-qāri’ah
1. Hari Kiamat,
مَا ٱلْقَارِعَةُ
mal-qāri’ah
2. apakah hari Kiamat itu?
وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْقَارِعَةُ
wa mā adrāka mal-qāri’ah
3. Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?
Tiga ayat pertama ini menjelaskan bagaimana Allah bertanya kepada manusia apa yang mereka ketahui tentang hari akhir tersebut. Ayat ini juga menjadi penyentak perhatian, bahwa di tengah berbagai kesibukan yang dilakukan banyak orang, mereka harus tahu apa itu kiamat.
Kemudian Allah melanjutkan penjelasan mengenai kiamat dalam ayat selanjutnya.
يَوْمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ كَٱلْفَرَاشِ ٱلْمَبْثُوثِ
yauma yakụnun-nāsu kal-farāsyil-mabṡụṡ
4. Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran
Maksudnya adalah pada hari kiamat nanti, semua manusia yang sudah mati, meskipun sudah ribuan tahun lalu dikubur, akan dibangkitkan. Saat dibangkitkan, mereka dipenuhi rasa cemas, akan mendapatkan hukuman apa, atau sebaliknya akan mendapatkan ganjaran kebaikan dari Allah. apakah mereka akan masuk surga, atau sebaliknya akan diceburkan ke dalam neraka penuh siksa.
Selain itu, apalagi yang membuat mereka khawatir? Ternyata terkait dengan gambaran ayat berikutnya.
وَتَكُونُ ٱلْجِبَالُ كَٱلْعِهْنِ ٱلْمَنفُوشِ
wa takụnul-jibālu kal-‘ihnil-manfụsy
5. dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
Bisa dibayangkan bagaimana gunung dan bukit yang sungguh besar dan kokoh, tercerai berai, beterbangan dan mudah sekali beterbangan seperti kapas terembus angin. Sungguh ini pemandangan tidak umum dan penuh kengerian.
فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ
fa ammā man ṡaqulat mawāzīnuh
6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,
فَهُوَ فِى عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ
fa huwa fī ‘īsyatir rāḍiyah
7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
Ayat enam dan tujuh menjelaskan bagaimana mereka, yaitu golongan pertama, orang-orang yang amal kebaikannya berlimpah alias berat ketika ditimbang. Sungguh mereka ditempatkan dalam kehidupn selanjutnya yang penuh keridhaan Allah, alias di surga yang penuh kenikmatan.
Bisa jadi, mereka adalah orang-orang yang ketika di dunia hidup penuh dengan keterbatasan, bahkan dikategorikan dhuafa, tapi karena berbuat kebaikan dengan segala apa yang ada, dia akhirnya menjadi orang yang punya bekal amal kebajikan yang berlimpah.
Tapi bukan tidak mungkin yang termasuk dalam golongan pertama ini adalah mereka yang memiliki banyak harta. Kemudian ‘ringan tangan’ untuk bersedekah. bahkan sebagian besar hartanya memang disedekahkan dan diwakafkan.
Kemudian ditambah dengan bertutur kata yang baik, berbuat kebaikan, hingga akhirnya Allah menyayangi dan memberatkan timbangan kebaikan orang tersebut di hari kiamat. Maka mareka menjadi ahli surga.
Lihat halaman berikutnya >>>
وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ
wa ammā man khaffat mawāzīnuh
8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,
فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٌ
fa ummuhụ hāwiyah
9. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
Ayat ke delapan dan kesembilan berbicara tentang golongan kedua, yaitu mereka yang timbangan kebaikannya ringan. Sedangkan yang berat adalah timbangan keburukannya. Orang demikian dilemparkan, ada ahli tafsir yang mengatakan, orang itu dijungkirkan ke neraka. Kepalanya jatuh ke dasar neraka kemudian isi kepalanya, termasuk otaknya tercerai berai. Kemudian di dalam sana dia disiksa terus menerus.
وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا هِيَهْ
wa mā adrāka mā hiyah
10. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?
نَارٌ حَامِيَةٌۢ
nārun ḥāmiyah
11. (Yaitu) api yang sangat panas.
Apakah kamu mengetahui wahai manusia tentang neraka Hawiyah yang dapat menghancurkan(mu) ini? Dinamakan sebagai neraka Hawiyah karena dia jatuh sampai ke dasarnya. Dasar neraka Hawiyah adalah tempat yang sangat rendah (curam).
Kecuraman dan kedalaman neraka dijelaskan dalam sebuah hadits Rasulullah riwayat Bukhori, yaitu batu yang dilempar ke bawah dan baru sampai ke dasarnya 70 tahun kemudian.
Karena itulah ketika seorang yang amal keburukannya lebih, bahkan sangat berat, maka dijungkirkan ke sana. Kemudian ketika sampai di dasar neraka, tubuhnya hancur.
Kemudian di dalam neraka itu terdapat kobaran api yang sangat panas. Suhu api tersebut 90 kali lebih panas dari api yang ada di bumi.
Api semacam itu membakar para pendosa dalam waktu lama.