#30 tag 24jam
Bank Neo Commerce (BBYB) Balikkan Rugi jadi Laba Rp4,06 Miliar pada Kuartal III/2024
Bank Neo Commerce (BBYB) mencatatkan laba bersih Rp4,06 miliar per kuartal III/2024, berbalik dari rugi Rp566,06 miliar pada periode yang sama tahun lalu. [694] url asal
#bank-neo-commerce #bnc #bbyb #saham-bbyb #bbyb-saham #idx-bbyb #bbyb-idx #bank-neo #kinerja-bank-neo-commerce #kinerja-bnc #kinerja-bbyb #emiten-bank #saham-bank #bank-digital #kinerja-bank-digital
(Bisnis.Com - Finansial) 31/10/24 13:33
v/17254702/
Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) atau BNC mencatatkan laba bersih Rp4,06 miliar pada kuartal III/2024, berbalik dari kondisi rugi sebesar Rp566,06 miliar kuartal III/2023.
Capaian ini terdorong dari kemampuan bank dalam menurunkan beban operasional dan peingkatan penyaluran kredit terhadap segmen korporasi yaitu senilai Rp2,31 triliun pada September 2024, naik 88,01% (year on year/YoY) dari Rp1,23 triliun pada September 2023.
Direktur Utama Bank Neo Commerce Eri Budiono mengatakan sepanjang tahun 2024 ini, pihaknya menjalankan operasional perbankan yang lebih pruden dan terukur yang membuat perseroan mencatatkan laba hingga akhir kuartal III/2024.
"Momentum ini merupakan hal yang baik, karena seiring dengan semakin lengkapnya layanan dan produk perbankan yang kami miliki dan semakin aktifnya nasabah menggunakan layanan yang tersedia, kami tetap berhasil menjalankan operasional perbankan yang semakin efisien dan lebih baik lagi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (31/10/2024).
BNC menerapkan pengelolaan layanan operasional perbankan yang efisien antara lain melalui optimalisasi layanan transaksi perbankan digital serta penerapan digitalisasi pada proses bisnis.
Hal ini tercermin dari Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) BNC yang terus mengalami penurunan, menjadi sebesar 99,88% pada kuartal III/2024, turun dari 116,91% pada kuartal III/2023.
Berdasarkan laporan keuangan yang dikutip pada Kamis (31/10/2024), sebenarnya perseroan membukukan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang turun tipis 1,53% yoy menjadi Rp2,18 triliun pada kuartal III/2024 dari sebelumnya Rp2,21 triliun pada kuartal III/2023.
Meski begitu, laba bank terdorong oleh pendapatan lainnya yang tumbuh 14,33% (YoY) menjadi Rp380,36 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp332,68 miliar.
Kemudian terjadi juga penyusutan pada kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) dari Rp1,89 triliun pada September 2023 menjadi Rp1,75 triliun pada September 2024.
Selain itu, bank juga mampu menekan sejumlah pos beban, misalnya beban promosi yang turun 14,54% (YoY) menjadi Rp61,55 miliar dari sebelumnya Rp72,02 miliar. Beban lainnya pun turun 44,49% (YoY) menjadi Rp560,37 miliar dari sebelumnya Rp1 triliun.
Hal ini membuat beban operasional lainnya menjadi turun 21,79% (YoY) menjadi Rp2,17 triliun dari sebelumnya Rp2,78 triliun. Alhasil Bank Neo Commerce berhasil membukukan laba operasional sebesar Rp3,88 miliar dari yang sebelumnya mengalami rugi operasoional Rp567,61 miliar.
Penyaluran Kredit Bank Neo Commerce (BBYB)
Terkait penyaluran kredit secara keseluruhan, Bank Neo Commerce semakin menerapkan prinsip kehati-hatian dalam prosesnya. Pada September 2024, BNC menyalurkan kredit sebesar Rp9,26 triliun, terkoreksi sebesar 15,54% (YoY) dari posisi September 2023 Rp10,97 triliun.
"Dalam penyaluran kredit, BNC lebih mengutamakan kualitas kredit," kata Eri.
Sebagaimana diketahui, hingga akhir September 2024, rasio kredit bermasalah alias nonperforming loan/NPL nett perseroan tercatat 0,99% dan NPL Gross sebesar 3,72%.
Eri menuturkan meski terjadi koreksi, pihaknya berhasil meningkatkan penyaluran kredit kepada nasabah korporasi dan juga penyaluran kredit secara langsung kepada nasabah melalui produk pinjaman milik BNC yang tersedia di aplikasi neobank, yaitu Neo Pinjam.
Tercatat, peningkatannya sebesar 152,32% dari Januari hingga September 2024, dari kisaran Rp86 miliar pada Januari menjadi kisaran Rp217 miliar pada September 2024. Dirinya optimistis prospek penyaluran kredit melalui Neo Pinjam akan terus meningkat ke depannya.
"Tren pinjaman melalui Neo Pinjam menunjukkan tren peningkatan. Selain itu, BNC juga memiliki database yang cukup lengkap yang memungkinkan kami untuk dapat meningkatkan jumlah peminjam dan jumlah pinjamannya, dengan terus memantau kualitasnya," paparnya.
Sementara itu, jika dilihat dari rasio kecukupan modal, BNC juga mencatatkan pertumbuhan Capital Adequacy Ratio (CAR) yang cukup signifikan, meningkat 7,83% (year to date/YtD) menjadi 34,18% pada posisi September 2024 dari sebelumnya 26,35% pada September 2023.
Meningkatnya CAR menunjukkan semakin baiknya kemampuan Bank untuk menanggung risiko dari kredit yang diberikan dan menunjang kemampuan Bank untuk dapat terus meningkatkan pertumbuhan kredit.
Terkait dengan catatan kinerja lainnya, sampai dengan posisi September 2024, BNC mencatatkan perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp14,14 triliun, terjadi koreksi sebesar 7,59%, dari Rp15,30 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kini, BNC telah melayani lebih dari 27 juta pengguna yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan menjadi bank dengan layanan digital yang memiliki layanan dan fitur perbankan lengkap yang tersedia di aplikasi mobile banking, neobank.
Sokongan Ekosistem di Balik Kinerja Bank Raya (AGRO) dan Bank Jago (ARTO)
Kinerja bank digital, seperti Bank Raya (AGRO) dan Bank Jago (ARTO) tak lepas dari dukungan ekosistem yang dimiliki masing-masing. [585] url asal
#ekosistem-bank-digital #ekosistem-bank-raya #ekosistem-bank-jago #agro #arto #bank-digital #kinerja-bank-digital #bank-raya-bri #jago-goto
(Bisnis.Com - Finansial) 31/08/24 17:55
v/14843444/
Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah bank digital mencatatkan kinerja moncer pada paruh pertama tahun ini, tak terkecuali PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) dan PT Bank Jago Tbk. (ARTO). Kinerja bank digital tersebut tak lepas dari dukungan ekosistem yang dimiliki masing-masing perseroan.
Sebagai informasi, Bank Raya merupakan anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), sedangkan Bank Jago disokong oleh ekosistem GoTo melalui PT Dompet Karya Anak Bangsa alias GoPay yang memiliki 21,4% saham ARTO.
Bank Raya membukukan laba bersih sebesar Rp20 miliar pada semester I/2024, tumbuh 115,9% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, Bank Jago mencetak laba bersih senilai Rp49,96 miliar atau naik 23,32% pada periode yang sama.
Direktur Utama Bank Jago Arief Harris Tandjung menjelaskan bahwa model bisnis kolaborasi digital dengan ekosistem GoTo yang terdiri dari Gojek, GoPay, Tokopedia-TikTok; serta ekosistem keuangan digital Bibit dan Stockbit telah berdampak positif terhadap pertumbuhan perseroan.
Per Juli 2024, pihaknya mencatatkan bahwa jumlah nasabah telah melampaui 10 juta orang. Ekosistem digital menyumbang sekitar 66% dari total nasabah Bank Jago hingga saat ini.
“Jika memperhitungkan nasabah lending, total nasabah Bank Jago mencapai 12,5 juta,” katanya dalam Public Expose Live 2024 secara daring, Kamis (29/8/2024).
Selain itu, pihaknya juga mengembangkan Jago App yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing nasabah pengguna, mulai dari layanan keuangan hingga investasi.
Arief menambahkan, pertumbuhan pengguna Jago App sejalan dengan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp14,8 triliun sampai dengan akhir semester II/2024, atau tumbuh 47% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Sebanyak 61% dari jumlah DPK atau sebesar Rp 9,1 triliun merupakan dana murah atau current account and savings account (CASA). Sisanya, sebanyak 39% atau Rp 5,7 triliun, merupakan term deposit (TD) atau simpanan berjangka.
“Sebagai bank berbasis teknologi, Bank Jago akan terus-menerus melakukan inovasi dan kolaborasi dengan ekosistem digital. Kami percaya kombinasi kedua hal tersebut merupakan landasan dan momentum yang kuat untuk bertumbuh lebih besar lagi,” tukas Arief.
Pada kesempatan lain, Direktur Utama Bank Raya Ida Bagus Ketut Subagia juga menjelaskan peran ekosistem grup BRI terhadap kinerja perusahaan.
Sebagaidigital attackerdari BRI Group, dia meyakini bahwa Bank Raya memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan bank digital lainnya.
“Yang pertama kami adalah bank digital dengan jaringan O2O [online to offline] yang kuat di seluruh Indonesia, karena kami memiliki lebih dari 900.000access point,” katanya dalam sesi tanya jawab Public Expose Live 2024 secara daring, Selasa (27/8/2024).
Keunggulan berikutnya adalah keberadaan produk digital komprehensif lintas segmen yang dimiliki Bank Raya. Menurut Bagus, bisnis keagenan menjadi andalan pihaknya dalam menyongsong pertumbuhan bisnis ke depan.
Pertumbuhan bisnis pun digalakkan dengan skema eksplorasi dan eksploitasi. Eksplorasi dilakukan untuk membangun pertumbuhan bisnis di luar dan di dalam ekosistem BRI Group, sementara eksploitasi merujuk pada peningkatan pengelolaan sumber daya yang telah ada dalam ekosistem bank pelat merah itu.
Hal tersebut juga mencakup sinergi dengan BRI Group dalam melayani segmen usaha mikro, kecil, dan menengah alias UMKM dengan produk-produk dan jasa perbankan digital terkait.
“Selanjutnya ada perbaikan berkesinambungan daribusiness enabler. Kami lakukan perbaikan-perbaikan sumber daya manusia, manajemen risiko untuk mendukung pertumbuhan bisnis kami yang solid dan berkesinambungan,” tutup Bagus.
Sebelumnya, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan juga menyampaikan bahwa dukungan ekosistem induk usaha berperan penting bagi kinerja bank digital.
“Ekosistem bank sudah terbentuk karena ada induk usaha, seperti Bank Raya dan Blu [bank digital BCA],” ujarnya.
Menurutnya, jika bank mampu melakukan efisiensi dengan baik, maka potensi untuk meraup keuntungan lebih besar akan kian terbuka pada masa mendatang.
Laba Bank Digital Hibank Capai Rp60,37 per Semester I/2024
Bank digital besutan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), yakni Hibank membukukan laba bersih Rp60,37 miliar pada semester I/2024. [483] url asal
#bank-digital #laba-bank-digital #kinerja-bank-digital
(Bisnis.Com) 20/08/24 11:00
v/14517536/
Bisnis.com, JAKARTA - Bank digital besutan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), yakni Hibank membukukan laba bersih Rp60,37 miliar pada semester I/2024.
Capaian ini susut 52,72% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan laba tahun sebelumnya Rp127,67 miliar pada semester I/2023.
Berdasarkan laporan keuangan yang dikutip Selasa (20/8/2024), pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) perusahaan tercatat naik 11,13% yoy menjadi Rp270,09 miliar dari sebelumnya Rp243,03 miliar
Bank juga membukukan pendapatan berbasis komisi alias fee based income naik 64,86% yoy menjadi Rp3,66 miliar per Juni 2024, dari sebelumnya Rp2,22 miliar per Juni 2023. Kemudian, pendapatan lainnya tumbuh 165,29% yoy menjadi Rp30,73 miliar dari sebelumnya Rp11,58 miliar.
Sayangnya, sejumlah pos beban mengalami kenaikan. Misal, beban tenaga kerja naik 81,6% yoy menjadi Rp110,27 miliar pada Juni 2024 dari sebelumnya hanya Rp60,72 miliar pada Juni 2023.
Kemudian, beban promosi membengkak empat kali lipat alias naik 326,67% menjadi Rp1,79 miliar dari sebelumnya Rp420 juta. Selanjutnya, beban lainnya naik 92,48% yoy menjadi Rp102,72 miliar dari sebelumnya Rp53,36 miliar
Pada periode yang sama, beban operasional lainnya juga mengalami kenaikan 64,14% yoy menjadi Rp192,29 miliar dibanding tahun sebelumnya Rp117,15 miliar. Dari sini, laba operasional tertekan hingga 38,2% menjadi Rp77,8 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu Rp125,88 miliar.
Hasilnya, rasio profitabilitas Hibank pun turun apabila dilihat dari tingkat pengembalian aset (return on asset/ROA) menjadi 1,02% pada Juni 2024 dari 2,18% pada Juni 2023. Adapun, tingkat pengembalian ekuitas (return on equity/ROE) juga turun menjadi 2,87% pada Juni 2024 dari sebelumnya 5,85% per Juni 2023.
Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) Hibank pun turun 66 basis poin (bps) ke level 3,9% pada Juni 2024 dari sebelumnya 4,56% pada Juni 2023.
Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) pun meningkat menjadi 85,76% per Juni 2024, naik 1.881 bps dari sebelumnya 66,95% per Juni 2023. Makin naik rasio BOPO menunjukkan semakin tidak efisiennya perbankan dalam menjalankan usahanya.
Meski begitu, dari sisi intermediasi, Hibank telah menyalurkan kredit Rp8,78 triliun pada semester I/2024, melesat 85,25% yoy dari sebelumnya Rp4,74 triliun. Alhasil, aset bank ikut terkerek naik sebesar 29,1% yoy menjadi Rp16,32 triliun dari sebelumnya Rp12,64 triliun.
Seiring dengan kenaikan kredit, kualitas aset bank tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) gross yang turun 133 bps ke level 0,79% dari 2,21%. Kemudian NPL net juga susut 71 bps ke level 0,08% dari 0,79%.
Dari sisi pendanaan, Hibank telah meraup dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp11,13 triliun pada semester I/2024, naik 43,71% yoy dari sebelumnya Rp7,75 triliun. Adapun, dana murah (CASA) pun naik pesat hingga 91,49% yoy menjadi Rp4,53 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu Rp2,37 triliun.
Adu Laba 8 Bank Digital Semester I/2024: Cuan BCA Digital (Blu) Salip Seabank
Berikut daftar 8 bank digital terbesar di Indonesia berdasarkan raupan cuan terbesar per Juni 2024. [2,155] url asal
#bank-digital #laba-bank-digital #laba-bank-digital-semester-i-2024 #kinerja-bank-digital #bca-digital #hibank #amar-bank #bank-jago #seabank
(Bisnis.Com - Finansial) 13/08/24 08:30
v/14346142/
Bisnis.com, JAKARTA - Sederet bank digital mencatatkan kinerja keuangan yang membaik, salah satunya terkait peningkatan laba pada semester I/2024. Berikut daftar 8 bank digital terbesar di Indonesia berdasarkan raupan cuan terbesar per Juni 2024.
Sebagaimana diketahui, berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) industri mencatatkan laba bank umum menjadi Rp101,47 triliun per Mei 2024.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan umumnya kinerja bank digital yang naik signifikan kerap dirasakan oleh bank yang memiliki induk bank konvensional, sehingga dapat lebih efisien dalam operasional dan biaya dana.
“Ekosistem bank [digital] sudah terbentuk karena ada induk usaha seperti Bank Raya dan Blu,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (1/8/2024).
Dia menyebut, jika bank mampu melakukan efisiensi dengan baik, maka potensi untuk meraup keuntungan akan semakin besar. Di sisi lain bank juga perlu menjaga likuiditas yang dilakukan dengan cara memberikan bunga simpanan yang tinggi.
Lebih lanjut, soal potensinya ke depan, demi menjaga irama pertumbuhan laba bank digital, Trioksa menuturkan diperlukan efisiensi dan antisipasi soal kondisi kredit macet yang masih menanjak, tingginya suku bunga hingga belum pulihnya daya beli masyarakat.]
Update Bank Digital dengan Jumlah Laba Terbesar per Semester I/2024
1. Seabank
Bank digital PT Bank Seabank Indonesia membukukan laba bersih senilai Rp159,95 miliar pada semester I/2024. Nilai itu melompat 359,5% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari Rp34,81 miliar pada semester I/2023.
Dikutip dari laporan keuangan perseroan, laba tersebut didapat dari pendapatan bunga bersih yang senilai Rp2,51 triliun. Meskipun pendapatan bunga bersih mengalami penyusutan 16,64% YoY dari Rp3,01 triliun, tetapi beban operasional lainnya juga menurun 22,04% YoY menjadi Rp2,32 triliun.
Pada periode yang sama, aset SeaBank tercatat Rp31,25 triliun, naik 10,68% dibandingkan dengan Desember 2023, yang senilai Rp28,23 triliun. Kemudian, dari sisi penghimpunan dana, SeaBank membukukan dana pihak ketiga (DPK) senilai Rp23,49 triliun dengan kredit senilai Rp17,99 triliun.
Dalam keterangan resminya, SeaBank menyatakan jumlah nasabah pada semester I/2024 mencapai sekitar 13 juta nasabah. Manajemen juga menjaga rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di angka 1,98%.
"Perusahaan menyatakan tetap konsisten menjalankan prinsip kehati-hatian dalam pertumbuhan penyaluran kredit yang meningkat tersebut," ujar Direktur Utama SeaBank Sasmaya Tuhuleley dalam keterangan resmi, Rabu (7/8/2024).
2. BCA Digital
Bank Digital BCA alias blu mencatatkan laba bersih Rp39,47 miliar pada semester I/2024, naik 723,56% yoy dibanding periode yang sama tahun lalu yaitu hanya Rp4,79 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan, laba bersih anak usaha PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) ini terdorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) 82,87% yoy menjadi Rp437,87 miliar dari sebelumnya Rp239,44 miliar.
Bank juga mencatatkan peningkatan pendapatan berbasis komisi (fee based income) dan pendapatan lainnya yang masing-masing melesat 256,43% dan 523,66% menjadi Rp25,73 miliar dan Rp11,86 miliar pada semester I/2024.
Pada rasio profitabilitas, semester I/2024 BCA Digital mencatatkan perbaikan rasio imbal balik ekuitas (return on equity/ROE) menjadi 1,98% dari 0,24%. Lalu, rasio imbal balik aset (return on asset/ROA) BCA digital berada di level 0,74% dari yang sebelumnya terparkir di 0,08%.
Adapun, rasio margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tercatat naik 168 basis poin (bps) menjadi 6,14% pada semester I/2024 dari sebelumnnya 4,46% pada semester I/2023.
Kemudian, dari segi intermediasi, blu by BCA Digital telah menyalurkan total kredit sebesar Rp5,34 triliun per Juni 2024, naik 36,11% yoy dari sebelumnya Rp3,92 triliun pada Juni 2023. Alhasil, aset bank ikut terkerek naik 18,23% yoy menjadi Rp14,79 triliun dari sebelumnya Rp12,51 triliun.
Seiring dengan kenaikan kredit, rasio kredit bermasalah (NPL) gross BCA Digital naik ke level 1,5% dari 0,45%. Kemudian, NPL net juga naik ke level 0,28% dari 0,19%.
Terakhir, dari sisi pendanaan, BCA Digital telah meraup dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp10,53 triliun, naik 25,52% yoy, dibanding periode sebelumnya Rp8,39 triliun. Adapun, dana murah atau current account savings account (CASA) mengalami kenaikan 57,93% menjadi Rp4,28 triliun dari sebelumnya Rp2,71 triliun
3. Bank Raya
PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) membukukan laba bersih sebesar Rp20 miliar, tumbuh 115,9% secara tahunan (yoy) pada semester I/2024.
Seiring dengan pertumbuhan laba, total kredit Bank Raya tumbuh 12,1% (yoy) atau mencapai Rp6,8 triliun. Pertumbuhan tersebut menopang pertumbuhan total aset Bank Raya menjadi sebesar Rp13,1 triliun atau tumbuh 9,0% (yoy).
Komitmen Bank Raya untuk terus memperkuat bisnis digital juga ditunjukkan dengan penyaluran kredit digital selama semester I/2024 yang mencapai Rp8,1 triliun atau tumbuh 60,3% yoy, sehingga mendorong pertumbuhan signifikan outstanding kredit digital Bank Raya sebesar 81,5% yoy mencapai Rp1,5 trilliun.
Pertumbuhan tersebut pun diimbangi dengan kualitas aset yang terjaga. Di mana, Bank Raya berhasil memperbaiki Rasio NPL gross menjadi 4,14% dan NPL Net sebesar 1,80%.
Lebih lanjut dari sisi pendanaan, Bank Raya mencatatkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp8,7 triliun atau tumbuh 5,7% (yoy).
Direktur Utama Bank Raya Ida Bagus Ketut Subagia mengatakan dalam kuartal kedua tahun 2024, Bank Raya terus membuktikan pertumbuhan kinerja yang positif
“Untuk itu, kami terus melakukan eksplorasi ke sektor-sektor ekonomi dan segmen bisnis yang memiliki prospek yang menjanjikan untuk menumbuhkan bisnis digital kami,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (25/7/2024).
4. Bank Neo
PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) atau BNC membukukan penyusutan rugi bersih menjadi Rp6,16 miliar pada semester I/2024. Rugi ini makin kecil dari periode yang sama tahun lalu yaitu Rp326,78 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan, penyusutan kerugian Bank Neo Commerce didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 12,09% secara tahunan (yoy) menjadi Rp1,55 triliun dari sebelumnya Rp1,38 triliun.
Pendapatan nonbunga (fee based income/FBI) juga naik sebesar 16,98% yoy dari Rp42,46 miliar pada Juni 2023 menjadi Rp51,15 miliar pada Juni 2024.
Pada periode ini, BBYB juga tercatat telah meyalurkan kredit sebesar Rp9,02 triliun tumbuh 1,6% apabila dibandingkan penyaluran kredit per 31 Mei 2024 sebesar Rp8,88 triliun.
Direktur Bisnis Bank Neo Commerce Aditya Windarwo menjelaskan BNC akan terus memacu penyaluran kredit, salah satunya dengan menggenjot direct loan melalui aplikasi neobank.
“Penyaluran tersebut dilakukan dengan selektif untuk menjaga kualitas kredit dengan risiko yang dapat terkelola dengan baik,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (31/7/2024).
5. Bank Amar
PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR) membukukan laba bersih Rp97,79 miliar pada semester I/2024, tumbuh 14,99% secara tahunan dibanding periode yang sama tahun lalu Rp85,04 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) naik 34,55% yoy menjadi Rp540,57 miliar dari sebelumnya Rp401,75 miliar.
Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) AMAR pun meningkat 557 basis poin (bps) ke level 22,9% dari 17,33%.
Bank juga membukukan pendapatan berbasis komisi alias fee based income yang naik 339,55% yoy menjadi Rp1,37 miliar per Juni 2024, dari sebelumnya Rp311 juta. Kemudian, pendapatan lainnya tumbuh 34,92% yoy menjadi Rp214,86 miliar dari sebelumnya Rp159,27 miliar.
Selanjutnya, dari sisi intermediasi, AMAR telah menyalurkan kredit 25,25% yoy menjadi Rp2,81 triliun dari sebelumnya Rp2,24 triliun. Namun, aset bank mengalami penyusutan tipis 1,46% menjadi Rp4,6 triliun dari sebelumnya Rp4,67 triliun
Seiring dengan kenaikan kredit, rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) gross berada di level 8% dari sebelumnya 7,33%. Meski demikan, NPL net susut menjadi 1,21% dari 1,84%.
Dari sisi pendanaan, AMAR telah meraup dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp886,9 miliar pada semester I/2024, turun 19,45% yoy dari sebelumnya Rp1,1 triliun. Sedangkan, dana murah alias current account saving account (CASA) mengalami kenaikan 38,3% yoy menjadi Rp244,09 miliar dari sebelumnya Rp176,49 miliar.
6. Bank Jago
PT Bank Jago Tbk. (ARTO) telah mencetak laba bersih senilai Rp49,96 miliar pada paruh pertama tahun ini atau semester I/2024, naik 23,32% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp40,51 miliar.
Berdasarkan laporan keuangannya, Bank Jago sebenarnya mencatatkan penurunan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) 14,94% yoy menjadi Rp708,07 miliar pada kuartal II/2024. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) bank pun merosot dari 10,46% per Juni 2023, menjadi 7,32% per Juni 2024.
Namun, bank mampu menekan beban operasional dari Rp787,74 miliar per Juni 2023, menjadi Rp643,05 miliar per Juni 2024.
Alhasil, rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) pun menurun dari 95,86% pada Juni 2023 menjadi 93,78% pada Juni 2024. Semakin susut rasio BOPO menunjukkan semakin efisiennya perbankan dalam menjalankan usahanya.
"Bank Jago menjaga pertumbuhan bisnis yang positif dengan tetap mempertahankan kualitas yang baik," kata Direktur Utama Bank Jago Arief Harris Tandjung dalam keterangan tertulis pada Jumat (26/7/2024).
Dari sisi intermediasi, Bank Jago telah menyalurkan kredit sebesar Rp15,7 triliun pada kuartal II/2024, melesat 40% yoy. Aset emiten bank digital berkode ARTO ini pun menjadi Rp24,2 triliun per kuartal II/2024, tumbuh 29% yoy.
Dari sisi pendanaan, Bank Jago telah meraup dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp14,8 triliun per kuartal II/2024, tumbuh 47% yoy.
7. Allo Bank
Bank digital PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) milik Chairul Tanjung melalui Mega Corpora ini melaporkan telah membukukan laba senilai Rp200,59 miliar pada semester I/2024.
Mengutip laporan keuangan, laba BBHI itu turun 7,24% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode Juni 2023 yang sebesar Rp216,26 miliar.
Sebenarnya BBHI mencatatkan peningkatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 7,46% yoy menjadi Rp528,61 miliar per Juni 2024 dari Rp491,94 miliar pada Juni 2023.
Kemudian Bank juga membukukan pendapatan berbasis komisi alias fee based income yang naik 115,36% yoy menjadi Rp10,77 miliar per Juni 2024 dari sebelumnya Rp5 miliar. Lalu, pendapatan lainnya tumbuh 333,31% yoy menjadi Rp66,34 miliar dari sebelumnya Rp15,31 miliar.
Namun, pada saat yang sama kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) mengalami kenaikan 84,09% yoy menjadi Rp30,99 miliar dari sebelumnya Rp16,83 miliar.
Sejumlah beban mengalami peningkatan, mulai dari tenaga kerja yang naik 18,23% yoy menjadi Rp83,83 miliar. Kemudian, beban promosi naik 6,89% yoy menjadi Rp85,62 miliar disusul oleh beban lainnya yang membengkak 41,31% yoy menjadi Rp144,83 miliar.
Dari sana, beban operasional lainnya pun kian meningkat menjadi Rp268,36 miliar atau naik 26,2% yoy dari periode yang sama tahun lalu Rp212,64 miliar. Hal ini akhirnya menekan laba operasional BBHI yang susut 6,82% yoy menjadi Rp260,25 miliar.
Direktur Utama Allo Bank Indra Utoyo melaporkan bahwa bisnis inti Allo Bank tetap kuat dan pihaknya optimistis terhadap terkait kinerjanya tahun ini.
“Namun demikian, biaya operasional mengalami kenaikan 24% yoy dari Rp253 miliar ke Rp314 miliar. Sebagai bank umum berbasis digital, Allo Bank banyak melakukan pengembangan Teknologi Informasi,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (8/8/2024).
Hal ini, kata Indra, dilakukan untuk mendukung strategi pengembangan produk, layanan dan customer engagement/experience (Good Costs).
Dia merinci bahwa belum lama ini, BBHI telah menyelesaikan pembangunan Data Center sebagai tulang punggung infrastruktur TI yang baru, di samping terus melakukan pengembangan TI lainnya.
Di samping itu, bank juga terus menerus mengantisipasi kondisi rawan terhadap kejahatan cyber crime yang dapat mempengaruhi pendapatan dan reputasi bank melalui peningkatan sistem keamanan digital secara komprehensif.
Pihaknya juga melakukan peningkatan kualitas SDM agar lebih kompeten dalam upaya pengembangan layanan dan penguatan pelindungan data nasabah.
“Ke depan, kami akan terus meningkatkan cost discipline dalam aspek-aspek operasional kami,” ujarnya.
8. Hibank
Sementara itu, bank digital besutan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), yakni Hibank saat ini belum merilis laporan kinerja semester I/2024.
Akan tetapi, berdasarkan presentasi perusahaan per Mei 2024 Hibank mencatatka laba Rp46,85 miliar, turun 55,94% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp106,33 miliar.
Sebenarnya Hibank mencatatkan peningkatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 9,51% yoy menjadi Rp221,35 miliar per Mei 2024 dari Rp202,13 miliar pada Mei 2023.
Namun, sejumlah pos beban membebani kinerja, di mana beban tenaga kerja naik 84,37% yoy menjadi Rp91,58 miliar. Kemudian, beban promosi naik 397,71% yoy menjadi Rp1,52 miliar dari Rp306 juta. Selanjutnya, beban lainnya turut naik 83,87% yoy menjadi Rp82,33 miliar.
Adapun, pada semester I/2024 ini terdapat setidaknya tiga bank dengan raupan laba paling besar di Indonesia. Pertama, diduduki oleh Allo Bank. Kedua, Seabank dan disusul Bank Amar.
Sementara jika dilihat secara laju pertumbuhan, BCA Digital menggeser posisi Seabank menjadi peraup laba paling kencang, lalu baru disusul oleh Seabank, dan yang ketiga adalah Bank Raya.
Nama Bank | Laba Semester I/2024 (Rp Miliar) | Laba Semester I/2023 (Rp Miliar) | Pertumbuhan (YoY) |
Seabank | 195,95 | 43,81 | 359,5% |
BCA Digital (Blu) | 39,47 | 4,79 | 723,56% |
Bank Raya | 20,03 | 9,28 | 115,9% |
Bank Amar | 97,79 | 85,04 | 14,99% |
Bank Jago | 49,96 | 40,51 | 23,32% |
Allo Bank | 200,59 | 216,26 | -7,24% |
Hibank | 46,85 | 106,33 | -55,94 |
Bank Neo | (6,16) | (326,78) |
Daftar Bank Digital Raup Simpanan Nasabah, Seabank No 1
Bank digital mana yang paling banyak meraup simpanan nasabah atau dana pihak ketiga (DPK)? Cek Sebank, BNC, hingga Bank Jago [1,083] url asal
#bank-digital #kinerja-bank-digital #simpanan-bank-digital #dana-pihak-ketiga #suku-bunga-bank-digital #bank-jago #seabank
(Bisnis.Com - Finansial) 22/07/24 14:05
v/11683979/
Bisnis.com, JAKARTA -- Bank digital kerap memberikan penawaran suku bunga simpanan yang tinggi guna meraup simpanan dari nasabah atau dana pihak ketiga (DPK). Lantas, dengan penawaran bunga tinggi, bank digital mana yang paling banyak meraup simpanan nasabah?
PT Bank Jago Tbk. (ARTO) misalnya menawarkan suku bunga deposito hingga level 5,25% per tahun. Bank digital milik Sea Group PT Bank Seabank Indonesia menawarkan produk deposito dengan suku bunga mencapai 6% per tahun. Selanjutnya, PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) atau BNC juga menawarkan bunga deposito tembus 8% per tahun.
Suku bunga simpanan bank-bank digital itu pun berada di atas tingkat bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Terbaru, LPS telah menetapkan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah pada bank umum 4,25%.
Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pada dasarnya LPS tidak melarang bank menawarkan bunga simpanan di atas bunga penjaminan LPS. Menurutnya, langkah bank-bank digital itu merupakan bagian dari strategi bisnis.
Bank menawarkan suku bunga tinggi di atas bunga penjaminan LPS karena berkaitan dengan persaingan. Selain itu, alasan penerapan suku bunga simpanan bank digital tinggi adalah karena tujuan penghimpunan dana untuk menopang ekspansi kredit yang lebih masif.
Meski begitu, seiring dengan adanya penawaran suku bunga simpanan bank di atas tingkat bunga penjaminan, LPS meminta bank digital transparan kepada nasabah.
"Ini agar fair. Saat memberikan bunga simpanan lebih tinggi harus transparan ke masyarakat," ujarnya pada beberapa waktu lalu.
LPS meminta perbankan harus memberikan pengumuman terkait program penjaminan simpanan LPS, termasuk tingkat bunga yang bisa dijamin LPS.
Presiden Direktur SeaBank Indonesia Sasmaya Tuhuleley mengatakan sejumlah bank digital memang memberikan bunga simpanan tinggi guna meraup nasabah. Akan tetapi, pemberian bunga itu tetap mengacu perhitungan yang matang.
Menurutnya, model bisnis bank digital berbeda dengan bank konvensional sehingga bank digital bisa memberikan bunga simpanan tinggi.
"Bunga lending [bank digital] juga gede, jadinya berani kasih bunga funding tinggi," ujarnya.
Sasmaya juga mengatakan meski bank digital menawarkan bunga simpanan tinggi, namun nasabah memiliki pertimbangan lain dalam menyimpan dananya di bank digital.
"Mereka [nasabah] lebih mementingkan free transfer, bunga tidak begitu memperhatikan. Tapi kalau free transfer kena ya itu berdampak," katanya.
Head of Finance, Technology & Operations Bank Jago Supranoto Prajogo juga mengatakan penawaran bunga bukan menjadi satu-satunya faktor bagi nasabah untuk menggunakan perbankan digital, melainkan unique value proposition (UVP) juga menjadi strategi yang lebih berkelanjutan (sustainable) untuk bisnis perseroan.
“Bank Jago juga percaya dengan UVP kami, yaitu menyediakan solusi keuangan digital yang berfokus pada kehidupan dan tertanam di dalam ekosistem digital,” ucapnya.
Pjs Direktur Utama Bank Neo Commerce Aditya Windarwo juga mengatakan meski memberi bunga tinggi, Bank Neo Commerce tetap menjalankan strategi dan kedisiplinan mitigasi risiko.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan pada tahun ini, tren bunga tinggi bank digital memang masih akan terjadi, bahkan kondisi ini berlangsung hingga tiga tahun ke depan.
“Apalagi, tren perebutan dana di pasar makin ketat karena bank juga harus bersaing dengan surat utang pemerintah yang bunganya tinggi,” ujarnya kepada Bisnis pada beberapa waktu lalu.
Daftar Bank Digital dengan Simpanan Terbesar
Seiring dengan penawaran bunga simpanan tinggi, lantas bank digital mana saja yang telah meraup nilai simpanan besar?
1. Seabank
Bank digital besutan induk Shopee ini menjadi bank digital peraup simpanan nasabah terbesar di Indonesia. Seabank telah mendapatkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp24,18 triliun hingga Mei 2024, meskipun nilainya turun 1,35% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Raupan simpanan bank ditopang oleh dana murah atau current account saving account (CASA) dengan nilai Rp15,24 triliun, turun 4,91%. Seiring dengan tawaran bunga deposito tinggi, Seabank pun meraup simpanan jenis deposito Rp8,93 triliun pada Mei 2024, naik 5,37%.
2. Bank Neo Commerce (BBYB)
Bank besutan Akulaku ini menjadi bank digital kedua dengan raupan simpanan nasabah terbesar. Tercatat, DPK Bank Neo Commerce mencapai Rp14,77 triliun pada Mei 2024, turun 3,51% yoy.
Raupan simpanan bank masih didominasi deposito dengan nilai Rp10,66 triliun, namun nilainya turun 8,37%. Adapun, Bank Neo Commerce mencatatkan peningkatan dana murah 11,89% yoy menjadi Rp4,11 triliun per Mei 2024.
3. Bank Jago (ARTO)
Bank Jago telah meraup DPK Rp14,44 triliun pada Mei 2024, melesat 41,33% yoy. Raupan pendanaan bank ditopang dana murah sebesar Rp9,4 triliun, juga naik 31,27% yoy. Adapun, raupan deposito Bank Jago mencapai Rp5,03% yoy juga melesat 64,94% yoy.
4. Hibank
PT Bank Hibank Indonesia (Hibank) telah meraup DPK Rp10,46 triliun pada Mei 2024, melesat 37,15% yoy. Raupan simpanan bank digital besutan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) ini ditopang oleh deposito yang naik 28,46% yoy.
Meski begitu, raupan dana murah bank pun tak kalah moncer, naik 54,21% yoy menjadi Rp3,97 triliun per Mei 2024.
5. BCA Digital (Blu)
PT Bank BCA Digital atau Blu by BCA Digital telah meraup DPK Rp10,4 triliun, melesat 27,02% yoy. Raupan simpanan bank digital besutan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) ini masih didominasi oleh deposito Rp6,26 triliun, naik 11,82% yoy.
Namun, dana murah milik BCA Digital juga tumbuh pesat 60% yoy menjadi Rp4,13 triliun pada Mei 2024.
6. Bank Raya (AGRO)
PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) telah membukukan DPK sebesar Rp7,86 triliun pada Mei 2024, turun 7,07% yoy. Struktur pendanaan bank digital milik PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) ini didominasi oleh deposito sebesar Rp5,94 triliun, turun 9,45% yoy.
Adapun, dana murah dari giro dan tabungan Bank Raya mencapai Rp1,91 triliun, naik 1,18% yoy.
7. Allo Bank (BBHI)
Bank digital besutan konglomerat Chairul Tanjung, PT Allo Bank Tbk. (BBHI) telah mencatatkan DPK sebesar Rp5 triliun pada Mei 2024, tumbuh tipis 0,04% yoy.
Dana murah bank sebenarnya melesat 49,11% yoy menjadi Rp662,52 miliar. Namun, struktur pendanaan bank didominasi oleh deposito yang mencapai Rp4,33 triliun, turun 4,47% yoy.
Daftar Bank Digital Raup Simpanan Nasabah Terbesar, Seabank hingga Bank Jago (ARTO)
Bank digital mana yang paling banyak meraup simpanan nasabah atau dana pihak ketiga (DPK)? Cek Sebank, BNC, hingga Bank Jago [1,083] url asal
#bank-digital #kinerja-bank-digital #simpanan-bank-digital #dana-pihak-ketiga #suku-bunga-bank-digital #bank-jago #seabank
(Bisnis.Com - Finansial) 22/07/24 14:05
v/11668660/
Bisnis.com, JAKARTA -- Bank digital kerap memberikan penawaran suku bunga simpanan yang tinggi guna meraup simpanan dari nasabah atau dana pihak ketiga (DPK). Lantas, dengan penawaran bunga tinggi, bank digital mana yang paling banyak meraup simpanan nasabah?
PT Bank Jago Tbk. (ARTO) misalnya menawarkan suku bunga deposito hingga level 5,25% per tahun. Bank digital milik Sea Group PT Bank Seabank Indonesia menawarkan produk deposito dengan suku bunga mencapai 6% per tahun. Selanjutnya, PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) atau BNC juga menawarkan bunga deposito tembus 8% per tahun.
Suku bunga simpanan bank-bank digital itu pun berada di atas tingkat bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Terbaru, LPS telah menetapkan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah pada bank umum 4,25%.
Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pada dasarnya LPS tidak melarang bank menawarkan bunga simpanan di atas bunga penjaminan LPS. Menurutnya, langkah bank-bank digital itu merupakan bagian dari strategi bisnis.
Bank menawarkan suku bunga tinggi di atas bunga penjaminan LPS karena berkaitan dengan persaingan. Selain itu, alasan penerapan suku bunga simpanan bank digital tinggi adalah karena tujuan penghimpunan dana untuk menopang ekspansi kredit yang lebih masif.
Meski begitu, seiring dengan adanya penawaran suku bunga simpanan bank di atas tingkat bunga penjaminan, LPS meminta bank digital transparan kepada nasabah.
"Ini agar fair. Saat memberikan bunga simpanan lebih tinggi harus transparan ke masyarakat," ujarnya pada beberapa waktu lalu.
LPS meminta perbankan harus memberikan pengumuman terkait program penjaminan simpanan LPS, termasuk tingkat bunga yang bisa dijamin LPS.
Presiden Direktur SeaBank Indonesia Sasmaya Tuhuleley mengatakan sejumlah bank digital memang memberikan bunga simpanan tinggi guna meraup nasabah. Akan tetapi, pemberian bunga itu tetap mengacu perhitungan yang matang.
Menurutnya, model bisnis bank digital berbeda dengan bank konvensional sehingga bank digital bisa memberikan bunga simpanan tinggi.
"Bunga lending [bank digital] juga gede, jadinya berani kasih bunga funding tinggi," ujarnya.
Sasmaya juga mengatakan meski bank digital menawarkan bunga simpanan tinggi, namun nasabah memiliki pertimbangan lain dalam menyimpan dananya di bank digital.
"Mereka [nasabah] lebih mementingkan free transfer, bunga tidak begitu memperhatikan. Tapi kalau free transfer kena ya itu berdampak," katanya.
Head of Finance, Technology & Operations Bank Jago Supranoto Prajogo juga mengatakan penawaran bunga bukan menjadi satu-satunya faktor bagi nasabah untuk menggunakan perbankan digital, melainkan unique value proposition (UVP) juga menjadi strategi yang lebih berkelanjutan (sustainable) untuk bisnis perseroan.
“Bank Jago juga percaya dengan UVP kami, yaitu menyediakan solusi keuangan digital yang berfokus pada kehidupan dan tertanam di dalam ekosistem digital,” ucapnya.
Pjs Direktur Utama Bank Neo Commerce Aditya Windarwo juga mengatakan meski memberi bunga tinggi, Bank Neo Commerce tetap menjalankan strategi dan kedisiplinan mitigasi risiko.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan pada tahun ini, tren bunga tinggi bank digital memang masih akan terjadi, bahkan kondisi ini berlangsung hingga tiga tahun ke depan.
“Apalagi, tren perebutan dana di pasar makin ketat karena bank juga harus bersaing dengan surat utang pemerintah yang bunganya tinggi,” ujarnya kepada Bisnis pada beberapa waktu lalu.
Daftar Bank Digital dengan Simpanan Terbesar
Seiring dengan penawaran bunga simpanan tinggi, lantas bank digital mana saja yang telah meraup nilai simpanan besar?
1. Seabank
Bank digital besutan induk Shopee ini menjadi bank digital peraup simpanan nasabah terbesar di Indonesia. Seabank telah mendapatkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp24,18 triliun hingga Mei 2024, meskipun nilainya turun 1,35% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Raupan simpanan bank ditopang oleh dana murah atau current account saving account (CASA) dengan nilai Rp15,24 triliun, turun 4,91%. Seiring dengan tawaran bunga deposito tinggi, Seabank pun meraup simpanan jenis deposito Rp8,93 triliun pada Mei 2024, naik 5,37%.
2. Bank Neo Commerce (BBYB)
Bank besutan Akulaku ini menjadi bank digital kedua dengan raupan simpanan nasabah terbesar. Tercatat, DPK Bank Neo Commerce mencapai Rp14,77 triliun pada Mei 2024, turun 3,51% yoy.
Raupan simpanan bank masih didominasi deposito dengan nilai Rp10,66 triliun, namun nilainya turun 8,37%. Adapun, Bank Neo Commerce mencatatkan peningkatan dana murah 11,89% yoy menjadi Rp4,11 triliun per Mei 2024.
3. Bank Jago (ARTO)
Bank Jago telah meraup DPK Rp14,44 triliun pada Mei 2024, melesat 41,33% yoy. Raupan pendanaan bank ditopang dana murah sebesar Rp9,4 triliun, juga naik 31,27% yoy. Adapun, raupan deposito Bank Jago mencapai Rp5,03% yoy juga melesat 64,94% yoy.
4. Hibank
PT Bank Hibank Indonesia (Hibank) telah meraup DPK Rp10,46 triliun pada Mei 2024, melesat 37,15% yoy. Raupan simpanan bank digital besutan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) ini ditopang oleh deposito yang naik 28,46% yoy.
Meski begitu, raupan dana murah bank pun tak kalah moncer, naik 54,21% yoy menjadi Rp3,97 triliun per Mei 2024.
5. BCA Digital (Blu)
PT Bank BCA Digital atau Blu by BCA Digital telah meraup DPK Rp10,4 triliun, melesat 27,02% yoy. Raupan simpanan bank digital besutan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) ini masih didominasi oleh deposito Rp6,26 triliun, naik 11,82% yoy.
Namun, dana murah milik BCA Digital juga tumbuh pesat 60% yoy menjadi Rp4,13 triliun pada Mei 2024.
6. Bank Raya (AGRO)
PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) telah membukukan DPK sebesar Rp7,86 triliun pada Mei 2024, turun 7,07% yoy. Struktur pendanaan bank digital milik PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) ini didominasi oleh deposito sebesar Rp5,94 triliun, turun 9,45% yoy.
Adapun, dana murah dari giro dan tabungan Bank Raya mencapai Rp1,91 triliun, naik 1,18% yoy.
7. Allo Bank (BBHI)
Bank digital besutan konglomerat Chairul Tanjung, PT Allo Bank Tbk. (BBHI) telah mencatatkan DPK sebesar Rp5 triliun pada Mei 2024, tumbuh tipis 0,04% yoy.
Dana murah bank sebenarnya melesat 49,11% yoy menjadi Rp662,52 miliar. Namun, struktur pendanaan bank didominasi oleh deposito yang mencapai Rp4,33 triliun, turun 4,47% yoy.