#30 tag 24jam
Laba Bank Digital per Juli 2024: Allo Bank di Puncak, BCA Digital (Blu) Melesat
Berikut daftar kinerja laba 7 bank digital di Indonesia berdasarkan laba per Juli 2024. [614] url asal
#bank-digital #laba-bank-digital #allo-bank #laba-allo-bank #seabank #laba-seabank #bank-jago #laba-bank-jago #bbhi #arto
(Bisnis.Com - Finansial) 17/09/24 08:31
v/15121701/
Bisnis.com, JAKARTA - Mayoritas bank digital mencatatkan kinerja keuangan yang beragam, salah satunya terkait peningkatan laba pada tujuh bulan pertama 2024. Berikut daftar kinerja laba 7 bank digital di Indonesia berdasarkan laba per Juli 2024.
Berdasarkan laporan keuangan bulanan, PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) milik Chairul Tanjung melalui Mega Corpora ini membukukan laba Rp230,84 miliar per Juli 2024, turun 9,64% yoy dari periode yang sama tahun lalu Rp255,46 miliar per Juli 2023. Laba Allo Bank ini menjadi yang terbesar di antara bank digital lainnya.
Direktur Utama Allo Bank Indra Utoyo melaporkan bahwa bisnis inti Allo Bank tetap kuat dan pihaknya optimistis terhadap terkait kinerjanya tahun ini. Sebagai bank umum berbasis digital, Allo Bank memang banyak melakukan pengembangan Teknologi Informasi.
Hal ini, kata Indra, dilakukan untuk mendukung strategi pengembangan produk, layanan dan customer engagement/experience (Good Costs). Dia merinci bahwa belum lama ini, BBHI telah menyelesaikan pembangunan Data Center sebagai tulang punggung infrastruktur TI yang baru, di samping terus melakukan pengembangan TI lainnya.
Di samping itu, bank juga terus menerus mengantisipasi kondisi rawan terhadap kejahatan cyber crime yang dapat mempengaruhi pendapatan dan reputasi bank melalui peningkatan sistem keamanan digital secara komprehensif.
Pihaknya juga melakukan peningkatan kualitas SDM agar lebih kompeten dalam upaya pengembangan layanan dan penguatan pelindungan data nasabah.
“Ke depan, kami akan terus meningkatkan cost discipline dalam aspek-aspek operasional kami,” ujarnya kepada Bisnis.
Kemudian, di posisi kedua PT Bank Seabank Indonesia mencatatkan laba bersih Rp202,44 miliar, naik 53,06% yoy dibanding tahun sebelumnya Rp132,26 miliar.
Lalu, pencetak laba terbesar ketiga adalah PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR) yang membukukan laba Rp114,53 miliar per Juli 2024, naik 3,02% yoy dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp111,17 miliar pada Juli 2023.
Posisi Bank Amar diikuti oleh bank digital besutan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), yakni Hibank membukukan laba Rp79,22 miliar pada tujuh bulan pertama 2024, capaian ini mengalami penyusutan 38,68% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp129,19 miliar pada Juli 2023.
Selanjutnya, PT Bank Jago Tbk. (ARTO) yang menempati posisi kelima dengan raihan laba Rp61,62 miliar per Juli 2024, naik 42,61% yoy dari sebelumnya Rp43,21 miliar pada Juli 2023.

Nasabah beraktivitas di depan logo PT Bank Jago Tbk. di Jakarta, Kamis (11/1/2024). Bisnis/Abdurachman
Dari pemain lainnya yaitu Bank Digital BCA alias blu membukukan laba Rp51,02 miliar pada Juli 2024, naik signifikan 589,23% yoy dari sebelumnya Rp7,4 miliar. Pertumbuhan ini menjadikan Blu sebagai bank dengan kenaikan laba tertinggi di kelompoknya.
Sementara itu, PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) atau BNC juga terus mencatatkan perbaikan kinerja di mana rugi bersih Bank Neo kian menyusut menjadi Rp2,27 miliar pada Juli 2024. Rugi ini makin kecil dari periode yang sama tahun lalu yaitu Rp436,92 miliar.
Saat itu, Direktur Bisnis Bank Neo Commerce Aditya Windarwo menjelaskan BNC akan terus memacu penyaluran kredit, salah satunya dengan menggenjot direct loan melalui aplikasi neobank.
“Penyaluran tersebut dilakukan dengan selektif untuk menjaga kualitas kredit dengan risiko yang dapat terkelola dengan baik,” ujarnya.
Adapun, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai penting bagi ekosistem bank digital untuk mampu berkolaborasi dengan ekosistem digital lainnya sehingga memberikan multiplier effect kepada penggunanya.
Dia menuturkan kepercayaan masyarakat terhadap bank digital pun sudah mulai pulih, hal ini yang mendorong penetrasi bank digital terus tumbuh dan berkembang.
“Apalagi dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan. Namun, semua kembali lagi, tanpa eksosistem yang kuat, rasanya akan sia sia,” ungkapnya kepada Bisnis.
Laba Bank Digital Hibank Capai Rp60,37 per Semester I/2024
Bank digital besutan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), yakni Hibank membukukan laba bersih Rp60,37 miliar pada semester I/2024. [483] url asal
#bank-digital #laba-bank-digital #kinerja-bank-digital
(Bisnis.Com) 20/08/24 11:00
v/14517536/
Bisnis.com, JAKARTA - Bank digital besutan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), yakni Hibank membukukan laba bersih Rp60,37 miliar pada semester I/2024.
Capaian ini susut 52,72% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan laba tahun sebelumnya Rp127,67 miliar pada semester I/2023.
Berdasarkan laporan keuangan yang dikutip Selasa (20/8/2024), pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) perusahaan tercatat naik 11,13% yoy menjadi Rp270,09 miliar dari sebelumnya Rp243,03 miliar
Bank juga membukukan pendapatan berbasis komisi alias fee based income naik 64,86% yoy menjadi Rp3,66 miliar per Juni 2024, dari sebelumnya Rp2,22 miliar per Juni 2023. Kemudian, pendapatan lainnya tumbuh 165,29% yoy menjadi Rp30,73 miliar dari sebelumnya Rp11,58 miliar.
Sayangnya, sejumlah pos beban mengalami kenaikan. Misal, beban tenaga kerja naik 81,6% yoy menjadi Rp110,27 miliar pada Juni 2024 dari sebelumnya hanya Rp60,72 miliar pada Juni 2023.
Kemudian, beban promosi membengkak empat kali lipat alias naik 326,67% menjadi Rp1,79 miliar dari sebelumnya Rp420 juta. Selanjutnya, beban lainnya naik 92,48% yoy menjadi Rp102,72 miliar dari sebelumnya Rp53,36 miliar
Pada periode yang sama, beban operasional lainnya juga mengalami kenaikan 64,14% yoy menjadi Rp192,29 miliar dibanding tahun sebelumnya Rp117,15 miliar. Dari sini, laba operasional tertekan hingga 38,2% menjadi Rp77,8 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu Rp125,88 miliar.
Hasilnya, rasio profitabilitas Hibank pun turun apabila dilihat dari tingkat pengembalian aset (return on asset/ROA) menjadi 1,02% pada Juni 2024 dari 2,18% pada Juni 2023. Adapun, tingkat pengembalian ekuitas (return on equity/ROE) juga turun menjadi 2,87% pada Juni 2024 dari sebelumnya 5,85% per Juni 2023.
Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) Hibank pun turun 66 basis poin (bps) ke level 3,9% pada Juni 2024 dari sebelumnya 4,56% pada Juni 2023.
Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) pun meningkat menjadi 85,76% per Juni 2024, naik 1.881 bps dari sebelumnya 66,95% per Juni 2023. Makin naik rasio BOPO menunjukkan semakin tidak efisiennya perbankan dalam menjalankan usahanya.
Meski begitu, dari sisi intermediasi, Hibank telah menyalurkan kredit Rp8,78 triliun pada semester I/2024, melesat 85,25% yoy dari sebelumnya Rp4,74 triliun. Alhasil, aset bank ikut terkerek naik sebesar 29,1% yoy menjadi Rp16,32 triliun dari sebelumnya Rp12,64 triliun.
Seiring dengan kenaikan kredit, kualitas aset bank tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) gross yang turun 133 bps ke level 0,79% dari 2,21%. Kemudian NPL net juga susut 71 bps ke level 0,08% dari 0,79%.
Dari sisi pendanaan, Hibank telah meraup dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp11,13 triliun pada semester I/2024, naik 43,71% yoy dari sebelumnya Rp7,75 triliun. Adapun, dana murah (CASA) pun naik pesat hingga 91,49% yoy menjadi Rp4,53 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu Rp2,37 triliun.
Adu Laba 8 Bank Digital Semester I/2024: Cuan BCA Digital (Blu) Salip Seabank
Berikut daftar 8 bank digital terbesar di Indonesia berdasarkan raupan cuan terbesar per Juni 2024. [2,155] url asal
#bank-digital #laba-bank-digital #laba-bank-digital-semester-i-2024 #kinerja-bank-digital #bca-digital #hibank #amar-bank #bank-jago #seabank
(Bisnis.Com - Finansial) 13/08/24 08:30
v/14346142/
Bisnis.com, JAKARTA - Sederet bank digital mencatatkan kinerja keuangan yang membaik, salah satunya terkait peningkatan laba pada semester I/2024. Berikut daftar 8 bank digital terbesar di Indonesia berdasarkan raupan cuan terbesar per Juni 2024.
Sebagaimana diketahui, berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) industri mencatatkan laba bank umum menjadi Rp101,47 triliun per Mei 2024.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan umumnya kinerja bank digital yang naik signifikan kerap dirasakan oleh bank yang memiliki induk bank konvensional, sehingga dapat lebih efisien dalam operasional dan biaya dana.
“Ekosistem bank [digital] sudah terbentuk karena ada induk usaha seperti Bank Raya dan Blu,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (1/8/2024).
Dia menyebut, jika bank mampu melakukan efisiensi dengan baik, maka potensi untuk meraup keuntungan akan semakin besar. Di sisi lain bank juga perlu menjaga likuiditas yang dilakukan dengan cara memberikan bunga simpanan yang tinggi.
Lebih lanjut, soal potensinya ke depan, demi menjaga irama pertumbuhan laba bank digital, Trioksa menuturkan diperlukan efisiensi dan antisipasi soal kondisi kredit macet yang masih menanjak, tingginya suku bunga hingga belum pulihnya daya beli masyarakat.]
Update Bank Digital dengan Jumlah Laba Terbesar per Semester I/2024
1. Seabank
Bank digital PT Bank Seabank Indonesia membukukan laba bersih senilai Rp159,95 miliar pada semester I/2024. Nilai itu melompat 359,5% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari Rp34,81 miliar pada semester I/2023.
Dikutip dari laporan keuangan perseroan, laba tersebut didapat dari pendapatan bunga bersih yang senilai Rp2,51 triliun. Meskipun pendapatan bunga bersih mengalami penyusutan 16,64% YoY dari Rp3,01 triliun, tetapi beban operasional lainnya juga menurun 22,04% YoY menjadi Rp2,32 triliun.
Pada periode yang sama, aset SeaBank tercatat Rp31,25 triliun, naik 10,68% dibandingkan dengan Desember 2023, yang senilai Rp28,23 triliun. Kemudian, dari sisi penghimpunan dana, SeaBank membukukan dana pihak ketiga (DPK) senilai Rp23,49 triliun dengan kredit senilai Rp17,99 triliun.
Dalam keterangan resminya, SeaBank menyatakan jumlah nasabah pada semester I/2024 mencapai sekitar 13 juta nasabah. Manajemen juga menjaga rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di angka 1,98%.
"Perusahaan menyatakan tetap konsisten menjalankan prinsip kehati-hatian dalam pertumbuhan penyaluran kredit yang meningkat tersebut," ujar Direktur Utama SeaBank Sasmaya Tuhuleley dalam keterangan resmi, Rabu (7/8/2024).
2. BCA Digital
Bank Digital BCA alias blu mencatatkan laba bersih Rp39,47 miliar pada semester I/2024, naik 723,56% yoy dibanding periode yang sama tahun lalu yaitu hanya Rp4,79 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan, laba bersih anak usaha PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) ini terdorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) 82,87% yoy menjadi Rp437,87 miliar dari sebelumnya Rp239,44 miliar.
Bank juga mencatatkan peningkatan pendapatan berbasis komisi (fee based income) dan pendapatan lainnya yang masing-masing melesat 256,43% dan 523,66% menjadi Rp25,73 miliar dan Rp11,86 miliar pada semester I/2024.
Pada rasio profitabilitas, semester I/2024 BCA Digital mencatatkan perbaikan rasio imbal balik ekuitas (return on equity/ROE) menjadi 1,98% dari 0,24%. Lalu, rasio imbal balik aset (return on asset/ROA) BCA digital berada di level 0,74% dari yang sebelumnya terparkir di 0,08%.
Adapun, rasio margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tercatat naik 168 basis poin (bps) menjadi 6,14% pada semester I/2024 dari sebelumnnya 4,46% pada semester I/2023.
Kemudian, dari segi intermediasi, blu by BCA Digital telah menyalurkan total kredit sebesar Rp5,34 triliun per Juni 2024, naik 36,11% yoy dari sebelumnya Rp3,92 triliun pada Juni 2023. Alhasil, aset bank ikut terkerek naik 18,23% yoy menjadi Rp14,79 triliun dari sebelumnya Rp12,51 triliun.
Seiring dengan kenaikan kredit, rasio kredit bermasalah (NPL) gross BCA Digital naik ke level 1,5% dari 0,45%. Kemudian, NPL net juga naik ke level 0,28% dari 0,19%.
Terakhir, dari sisi pendanaan, BCA Digital telah meraup dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp10,53 triliun, naik 25,52% yoy, dibanding periode sebelumnya Rp8,39 triliun. Adapun, dana murah atau current account savings account (CASA) mengalami kenaikan 57,93% menjadi Rp4,28 triliun dari sebelumnya Rp2,71 triliun
3. Bank Raya
PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) membukukan laba bersih sebesar Rp20 miliar, tumbuh 115,9% secara tahunan (yoy) pada semester I/2024.
Seiring dengan pertumbuhan laba, total kredit Bank Raya tumbuh 12,1% (yoy) atau mencapai Rp6,8 triliun. Pertumbuhan tersebut menopang pertumbuhan total aset Bank Raya menjadi sebesar Rp13,1 triliun atau tumbuh 9,0% (yoy).
Komitmen Bank Raya untuk terus memperkuat bisnis digital juga ditunjukkan dengan penyaluran kredit digital selama semester I/2024 yang mencapai Rp8,1 triliun atau tumbuh 60,3% yoy, sehingga mendorong pertumbuhan signifikan outstanding kredit digital Bank Raya sebesar 81,5% yoy mencapai Rp1,5 trilliun.
Pertumbuhan tersebut pun diimbangi dengan kualitas aset yang terjaga. Di mana, Bank Raya berhasil memperbaiki Rasio NPL gross menjadi 4,14% dan NPL Net sebesar 1,80%.
Lebih lanjut dari sisi pendanaan, Bank Raya mencatatkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp8,7 triliun atau tumbuh 5,7% (yoy).
Direktur Utama Bank Raya Ida Bagus Ketut Subagia mengatakan dalam kuartal kedua tahun 2024, Bank Raya terus membuktikan pertumbuhan kinerja yang positif
“Untuk itu, kami terus melakukan eksplorasi ke sektor-sektor ekonomi dan segmen bisnis yang memiliki prospek yang menjanjikan untuk menumbuhkan bisnis digital kami,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (25/7/2024).
4. Bank Neo
PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) atau BNC membukukan penyusutan rugi bersih menjadi Rp6,16 miliar pada semester I/2024. Rugi ini makin kecil dari periode yang sama tahun lalu yaitu Rp326,78 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan, penyusutan kerugian Bank Neo Commerce didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 12,09% secara tahunan (yoy) menjadi Rp1,55 triliun dari sebelumnya Rp1,38 triliun.
Pendapatan nonbunga (fee based income/FBI) juga naik sebesar 16,98% yoy dari Rp42,46 miliar pada Juni 2023 menjadi Rp51,15 miliar pada Juni 2024.
Pada periode ini, BBYB juga tercatat telah meyalurkan kredit sebesar Rp9,02 triliun tumbuh 1,6% apabila dibandingkan penyaluran kredit per 31 Mei 2024 sebesar Rp8,88 triliun.
Direktur Bisnis Bank Neo Commerce Aditya Windarwo menjelaskan BNC akan terus memacu penyaluran kredit, salah satunya dengan menggenjot direct loan melalui aplikasi neobank.
“Penyaluran tersebut dilakukan dengan selektif untuk menjaga kualitas kredit dengan risiko yang dapat terkelola dengan baik,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (31/7/2024).
5. Bank Amar
PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR) membukukan laba bersih Rp97,79 miliar pada semester I/2024, tumbuh 14,99% secara tahunan dibanding periode yang sama tahun lalu Rp85,04 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) naik 34,55% yoy menjadi Rp540,57 miliar dari sebelumnya Rp401,75 miliar.
Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) AMAR pun meningkat 557 basis poin (bps) ke level 22,9% dari 17,33%.
Bank juga membukukan pendapatan berbasis komisi alias fee based income yang naik 339,55% yoy menjadi Rp1,37 miliar per Juni 2024, dari sebelumnya Rp311 juta. Kemudian, pendapatan lainnya tumbuh 34,92% yoy menjadi Rp214,86 miliar dari sebelumnya Rp159,27 miliar.
Selanjutnya, dari sisi intermediasi, AMAR telah menyalurkan kredit 25,25% yoy menjadi Rp2,81 triliun dari sebelumnya Rp2,24 triliun. Namun, aset bank mengalami penyusutan tipis 1,46% menjadi Rp4,6 triliun dari sebelumnya Rp4,67 triliun
Seiring dengan kenaikan kredit, rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) gross berada di level 8% dari sebelumnya 7,33%. Meski demikan, NPL net susut menjadi 1,21% dari 1,84%.
Dari sisi pendanaan, AMAR telah meraup dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp886,9 miliar pada semester I/2024, turun 19,45% yoy dari sebelumnya Rp1,1 triliun. Sedangkan, dana murah alias current account saving account (CASA) mengalami kenaikan 38,3% yoy menjadi Rp244,09 miliar dari sebelumnya Rp176,49 miliar.
6. Bank Jago
PT Bank Jago Tbk. (ARTO) telah mencetak laba bersih senilai Rp49,96 miliar pada paruh pertama tahun ini atau semester I/2024, naik 23,32% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp40,51 miliar.
Berdasarkan laporan keuangannya, Bank Jago sebenarnya mencatatkan penurunan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) 14,94% yoy menjadi Rp708,07 miliar pada kuartal II/2024. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) bank pun merosot dari 10,46% per Juni 2023, menjadi 7,32% per Juni 2024.
Namun, bank mampu menekan beban operasional dari Rp787,74 miliar per Juni 2023, menjadi Rp643,05 miliar per Juni 2024.
Alhasil, rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) pun menurun dari 95,86% pada Juni 2023 menjadi 93,78% pada Juni 2024. Semakin susut rasio BOPO menunjukkan semakin efisiennya perbankan dalam menjalankan usahanya.
"Bank Jago menjaga pertumbuhan bisnis yang positif dengan tetap mempertahankan kualitas yang baik," kata Direktur Utama Bank Jago Arief Harris Tandjung dalam keterangan tertulis pada Jumat (26/7/2024).
Dari sisi intermediasi, Bank Jago telah menyalurkan kredit sebesar Rp15,7 triliun pada kuartal II/2024, melesat 40% yoy. Aset emiten bank digital berkode ARTO ini pun menjadi Rp24,2 triliun per kuartal II/2024, tumbuh 29% yoy.
Dari sisi pendanaan, Bank Jago telah meraup dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp14,8 triliun per kuartal II/2024, tumbuh 47% yoy.
7. Allo Bank
Bank digital PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) milik Chairul Tanjung melalui Mega Corpora ini melaporkan telah membukukan laba senilai Rp200,59 miliar pada semester I/2024.
Mengutip laporan keuangan, laba BBHI itu turun 7,24% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode Juni 2023 yang sebesar Rp216,26 miliar.
Sebenarnya BBHI mencatatkan peningkatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 7,46% yoy menjadi Rp528,61 miliar per Juni 2024 dari Rp491,94 miliar pada Juni 2023.
Kemudian Bank juga membukukan pendapatan berbasis komisi alias fee based income yang naik 115,36% yoy menjadi Rp10,77 miliar per Juni 2024 dari sebelumnya Rp5 miliar. Lalu, pendapatan lainnya tumbuh 333,31% yoy menjadi Rp66,34 miliar dari sebelumnya Rp15,31 miliar.
Namun, pada saat yang sama kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) mengalami kenaikan 84,09% yoy menjadi Rp30,99 miliar dari sebelumnya Rp16,83 miliar.
Sejumlah beban mengalami peningkatan, mulai dari tenaga kerja yang naik 18,23% yoy menjadi Rp83,83 miliar. Kemudian, beban promosi naik 6,89% yoy menjadi Rp85,62 miliar disusul oleh beban lainnya yang membengkak 41,31% yoy menjadi Rp144,83 miliar.
Dari sana, beban operasional lainnya pun kian meningkat menjadi Rp268,36 miliar atau naik 26,2% yoy dari periode yang sama tahun lalu Rp212,64 miliar. Hal ini akhirnya menekan laba operasional BBHI yang susut 6,82% yoy menjadi Rp260,25 miliar.
Direktur Utama Allo Bank Indra Utoyo melaporkan bahwa bisnis inti Allo Bank tetap kuat dan pihaknya optimistis terhadap terkait kinerjanya tahun ini.
“Namun demikian, biaya operasional mengalami kenaikan 24% yoy dari Rp253 miliar ke Rp314 miliar. Sebagai bank umum berbasis digital, Allo Bank banyak melakukan pengembangan Teknologi Informasi,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (8/8/2024).
Hal ini, kata Indra, dilakukan untuk mendukung strategi pengembangan produk, layanan dan customer engagement/experience (Good Costs).
Dia merinci bahwa belum lama ini, BBHI telah menyelesaikan pembangunan Data Center sebagai tulang punggung infrastruktur TI yang baru, di samping terus melakukan pengembangan TI lainnya.
Di samping itu, bank juga terus menerus mengantisipasi kondisi rawan terhadap kejahatan cyber crime yang dapat mempengaruhi pendapatan dan reputasi bank melalui peningkatan sistem keamanan digital secara komprehensif.
Pihaknya juga melakukan peningkatan kualitas SDM agar lebih kompeten dalam upaya pengembangan layanan dan penguatan pelindungan data nasabah.
“Ke depan, kami akan terus meningkatkan cost discipline dalam aspek-aspek operasional kami,” ujarnya.
8. Hibank
Sementara itu, bank digital besutan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), yakni Hibank saat ini belum merilis laporan kinerja semester I/2024.
Akan tetapi, berdasarkan presentasi perusahaan per Mei 2024 Hibank mencatatka laba Rp46,85 miliar, turun 55,94% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp106,33 miliar.
Sebenarnya Hibank mencatatkan peningkatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 9,51% yoy menjadi Rp221,35 miliar per Mei 2024 dari Rp202,13 miliar pada Mei 2023.
Namun, sejumlah pos beban membebani kinerja, di mana beban tenaga kerja naik 84,37% yoy menjadi Rp91,58 miliar. Kemudian, beban promosi naik 397,71% yoy menjadi Rp1,52 miliar dari Rp306 juta. Selanjutnya, beban lainnya turut naik 83,87% yoy menjadi Rp82,33 miliar.
Adapun, pada semester I/2024 ini terdapat setidaknya tiga bank dengan raupan laba paling besar di Indonesia. Pertama, diduduki oleh Allo Bank. Kedua, Seabank dan disusul Bank Amar.
Sementara jika dilihat secara laju pertumbuhan, BCA Digital menggeser posisi Seabank menjadi peraup laba paling kencang, lalu baru disusul oleh Seabank, dan yang ketiga adalah Bank Raya.
Nama Bank | Laba Semester I/2024 (Rp Miliar) | Laba Semester I/2023 (Rp Miliar) | Pertumbuhan (YoY) |
Seabank | 195,95 | 43,81 | 359,5% |
BCA Digital (Blu) | 39,47 | 4,79 | 723,56% |
Bank Raya | 20,03 | 9,28 | 115,9% |
Bank Amar | 97,79 | 85,04 | 14,99% |
Bank Jago | 49,96 | 40,51 | 23,32% |
Allo Bank | 200,59 | 216,26 | -7,24% |
Hibank | 46,85 | 106,33 | -55,94 |
Bank Neo | (6,16) | (326,78) |
Laba Emiten Bank Digital Ini Tumbuh Double Digit, Kinerja Kredit Agresif
Emiten bank digital itu adalah Krom Bank (BBSI). Anak usaha Kredivo Group ini berhasil meningkatkan kapasitas binsisnya dua kali lipat. - Halaman all [670] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #bank-digital #krom-bank #bbsi #laba-bank-digital #laba-krom-bank #kredit-krom-bank #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 09/07/24 16:41
v/10206215/
JAKARTA, investor.id – Emiten bank digital, PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) alias Krom Bank mencetak laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 52,97 miliar atau tumbuh 11,97% year on year (yoy) sampai Mei 2024. Perolehan laba ini didorong penyaluran kredit yang cukup agresif dari perseroan.
Mengacu laporan keuangan Krom Bank, kredit yang disalurkan tumbuh dua kali lipat atau 109,88% menjadi Rp 2,49 triliun. Tren ini juga yang mendorong pendapatan bunga BBSI melesat hampir sama tinggi yakni 196,80% menjadi Rp 350,76 miliar.
Perusahaan juga mulai mengimbangi penyaluran kredit menggunakan dana masyarakat, dimana dana pihak ketiga tumbuh signifikan sampai dengan 713,41% menjadi Rp 1,20 triliun pada Mei 2024. Seperti bank digital lainnya, mayoritas DPK Krom Bank datang dari instrumen deposito, kendati instrumen tabungan juga mencatat pergerakan yang cukup baik.
Alhasil dari komposisi penghimpunan dana tersebut, pos beban bunga BBSI yang merupakan anak usaha Kredivo Group ini ikut naik sama tinggi dengan DPK yaitu 718,56% menjadi Rp 21,20 miliar.
Sehingga pendapatan bunga bersih bergerak positif di jalur pertumbuhan sebesar 185,10% menjadi Rp 329,55 miliar. Mendukung perolehan laba bersih tahun berjalan perusahaan yang ditutup pada Mei 2024 sebesar Rp 52,97 miliar atau naik 11,97% (yoy).
Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan mengatakan, bank digital perlu merancang layanan yang memiliki nilai tambah selain penyediaan bunga deposito yang tinggi, sehingga mampu bersaing di industri. Meskipun pertumbuhan industri bank digital masih berada pada tahap awal, namun pihaknya melihat bahwa bank digital perlu memiliki unique value proposition untuk lebih menarik target market dan unggul di pasar.
“Oleh karena itu, Krom Bank tidak hanya menawarkan suku bunga deposito yang tinggi, tetapi juga fokus menghadirkan fleksibilitas fitur dan layanan. Hal ini akan membuat nasabah lebih nyaman bertransaksi dan mengelola keuangan di bank digital serta lebih loyal terhadap layanan kami,” ujar Anton.
Strategi Krom Bank
Menurut Anton, bank digital punya tantangan krusial mengenai fleksibilitas dalam rangka melayani segmen nasabah yang berasal dari generasi muda. Hal ini karena fleksibilitas dipercaya mampu menjawab kebutuhan generasi muda yang mengutamakan kemudahan dan kecepatan.
Selain itu, generasi muda juga cenderung memilih layanan keuangan yang dapat dipersonalisasi sesuai kebutuhan mereka. Menjawab tantangan itu, Krom Bank menghadirkan berbagai fleksibilitas bagi nasabah seperti keleluasaan dalam memilih tenor deposito harian dengan bunga progresif; kemudahan mengatur keuangan dengan 20 tabungan dan 20 deposito; hingga memilih nomor rekening sendiri.
Sementara itu, seiring semakin populernya bank digital dengan penawaran bunga yang tinggi, keamanan dana dan data menjadi faktor penting untuk membangun dan mempertahankan kepercayaan nasabah, terutama di generasi muda yang kini semakin kritis dalam hal keamanan bertransaksi digital. Dalam hal ini, keamanan dana nasabah di bank digital dapat tercermin dari laporan keuangan perusahaan.
Bank digital bersandi BBSI ini memilih fokus pada dua strategi untuk menjaga keamanan dana nasabah, yaitu komitmen perusahaan untuk selalu membukukan laba; dan menjaga likuiditas perusahaan dengan menyeimbangkan jumlah modal, DPK hingga penyaluran kredit.
Lebih lanjut, sebagai bank yang telah berizin dan diawasi oleh OJK, Krom Bank juga berkomitmen untuk terus memprioritaskan keamanan data nasabah, melalui penerapan standar ISO 27001; risk management plan dan disaster recovery yang diuji dan di-review secara berkala; enkripsi tingkat tinggi berbagai data nasabah; dan penerapan PIN, password, dan OTP yang memperkuat setiap transaksi.
Anton yakin, industri bank digital memiliki potensi pertumbuhan yang besar ke depannya, meskipun menghadapi berbagai tantangan. Krom Bank pun optimistis bahwa kedepannya industri bank digital ini akan semakin berkembang, terlebih saat ini jumlah bank digital di Indonesia terus bertambah.
“Kami percaya bahwa dengan makin banyaknya jumlah bank digital, masyarakat dapat lebih terbantu dalam mengelola keuangan dan meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia. Kami juga berkomitmen untuk senantiasa memprioritaskan keamanan data dan dana nasabah, guna menciptakan iklim industri yang kondusif,” demikian jelas Anton.
Editor: Prisma Ardianto (redaksi@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News