Video penjual kopi keliling di kawasan Dago, Kota Bandung ini mendadak viral di media sosial. Penyebabnya, penjual kopi tersebut merupakan gadis berparas cantik - Bagian all [218] url asal
BANDUNG, iNews.id – Video penjual kopi keliling di kawasan Dago, Kota Bandung ini mendadak viral di media sosial. Penyebabnya, penjual kopi tersebut merupakan gadis berparas cantik hingga membuat pembeli gagal fokus.
Penjual kopi bernama Bella Setiani (23) itu menyajikan dagangannya dengan sepeda motor di kawasan Dago.
Aksi Bella berjualan kopi meski memiliki paras cantik pun menuai pujian netizen. Mereka mengaku salut di usianya yang masih muda dan berwajah cantik tidak membuatnya malu berjualan kopi keliling.
Ditemui di sela-sela aktivitasnya berjualan kopi, Bella menuturkan, setiap hari berjualan kopi keliling seduh di kawasan Dago mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB. “Jualannya setiap hari muali sore sampai malam. Baru setahun jualan (kopi keliling),” ucapnya, Minggu (10/11/2024).
Setelah viral di media sosial TikTok, Bella mengaku usahanya mendadak ramai pembeli hingga rela antre.
“Alhamdulillah semakin rame pembelinya. Omzet sehari rata-rata Rp400.000 belum dipotong modal usaha,” katanya.
Bella mengaku akan tetap fokus mengeluti bisnisnya berjualan kopi keliling meski telah viral dan banyak pembeli. “Saya punya cita-cita bikin kafe kopi,” ucapnya.
Sejumlah pembeli mengaku salut dengan usaha Bella karena meski cantik dari segi fisik dirinya tidak malu ataupun gengsi dalam berwiraswasta.
“Salut sih, dia mau jualan kopi keliling. Secara kan dia punya wajah yang cantik. Semoga makin sukses,” kata pembeli, Bima Sopandi.
Istilah 'Starling' merujuk pada penjual kopi keliling di Jakarta. Kini, brand kopi modern juga menerapkan konsep ini dengan harga terjangkau dan praktis. [548] url asal
Istilah 'Starling' mungkin sudah cukup familiar bagi banyak orang, terutama yang tinggal di kota besar seperti Jakarta. Istilah ini kerap digunakan untuk para penjual kopi seduh yang berjualan dengan cara keliling.
Starling biasanya akan berkeliling menawarkan aneka kopi, minuman instan dan cemilan yang enak serta murah. Di luar itu para penjual kopi instan ini juga kerap mangkal di wilayah tertentu, terlebih saat ada proyek atau pembangunan yang banyak pekerjanya.
Konsep berjualan keliling inilah yang kemudian juga ikut diterapkan oleh beberapa brand kopi kekinian ala kafe, menjadikan mereka sebagai 'starling modern' yang turut menjual es kopi dengan harga terjangkau.
Berdasarkan pengamatan detikcom, Jumat (4/10/2024), di sekitar kawasan Cakung, Jakarta Timur hingga ke Kota Baru, Bekasi Barat setidaknya terdapat enam starling modern dari berbagai brand kopi keliling ala kafe.
Berbeda dengan starling 'tradisional' yang kerap menggunakan sepeda atau motor lengkap rencengan minuman instan, termos air panas, termos es, gelas plastik dan berbagai kebutuhan lainnya; penampilan starling ala kafe ini tampak lebih rapih dan sederhana.
Sebab para pedagang kopi keliling ala kafe ini biasanya hanya menggunakan sepeda listrik yang sudah dimodifikasi dengan gerobak tertutup pada bagian depannya. Sehingga tidak ada rencengan sachet kopi.
Kemudian starling modern ini juga tidak perlu lagi repot-repot menyeduh kopi setiap kali menerima pesanan. Sebab kopi ala kafe yang dijajakannya sudah dibawa dalam gelas-gelas plastik.
Mereka hanya perlu membuka segel gelas kopi yang dibawah dan menambahkan es batu ke dalamnya, sehingga para pembeli bisa dengan cepat mendapatkan pesanan mereka.
Salah satu penjual kopi keliling ala kafe yang mangkal dekat stasiun Cakung, Noval, mengatakan sehari-sehari biasanya ia membawa sekitar 70 gelas kopi dengan berbagai varian rasa seperti kopi susu hingga kopi hazelnut.
Namun khusus Sabtu-Minggu, biasanya ia dapat membawa sekitar 100-150 gelas. Kopi-kopi ini Noval bawa dari tempat produksi setiap harinya, kemudian dijual dengan harga mulai dari Rp 8.000 hingga Rp 12.000 tergantung varian rasa yang dipilih.
"Ini kopi saya ambi dari tempat produksinya, ada tempat produksinya sendiri. Tutup cup, es, katong plastik semua ambil di sana, kita tinggal jual saja. (Sepeda punya sendiri?) nggak, dari sana sudah disediakan. Jadi tinggal kita bawa saja," kata Noval saat ditemui detikcom di lokasi.
Kalau Senin sampai Jumat sih biasanya saya bisa bawa 70 cup. Kalau Sabtu-Minggu bisa 100-150 cup. Hari minggu sih yang lumayan ramai, saya kan biasanya pas pagi ngejar CFD di dekat BKT, itu 3 jam saja bisa laku 90 cup, sisanya baru saya balik mangkal di sini sampai sore," terangnya lagi.
Kemudian ada juga pedagang kopi keliling ala kafe dengan brand lain, Anda Susanto, mengatakan dirinya juga mengambil sepeda dan semua dagangannya dari pusat produksi yang disebutnya sebagai 'kantor' di kawasan Kranji, Bekasi Barat.
"Ya biasanya saya ke kantor naik motor, di sana kan ada tempat parkirnya, habis itu ya bawa sepeda ini. Di sana biasanya kita ada antreannya, jadi pas datang langsung antre pesan kopi yang mau dibawa apa saja, berapa, nanti disiapkan semua, habis itu tinggal berangkat," ucapnya.
Tidak berbeda jauh dengan Noval, sehari-hari ia biasa membawa sekitar 100 gelas kopi untuk hari biasa, dan 150-200 gelas kopi untuk Sabtu-Minggu.
"Biasanya sih habis saja, paling nggak kalaupun sisa ya tinggal 10 cup, 15 cup paling banyak. Tapi biasanya habis saja sih," terang Anda.
JAKARTA, KOMPAS.com - Sebuah sepeda listrik dengan gerobak merah yang dikemudikan Yanwar (35) menjadi magnet. Terhitung, sepuluh menit saja belum, tetapi belasan orang datang mendekat silih berganti.
Kebanyakan dari mereka pergi dengan senyum sembari menggenggam segelas kopi di tangan. Segelintir orang lainnya harus menelan kekecewaan karena pergi dengan tangan kosong.
Yanwar adalah tukang kopi keliling. Kopi yang dijajakannya bukan seperti yang dijual pedagang kopi bersepeda atau yang populer disebut 'starling' (Starbucks keliling). Kopi yang dijajakan Yanwar adalah kopi kekinian.
"Sekali bawa, biasanya langsung 200 cup. Alhamdulilah seringnya habis," ujar Yanwar saat berbincang dengan Kompas.com di Jalan Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat, Rabu (3/7/2024).
Yanwar biasanya memulai menjajakan kopi kekinian merek salah satu perusahaan food and beverage lokal itu sejak pukul 06.00 WIB.
Pertama, ia mengambil sepeda listrik terlebih dahulu di daerah Cideng, kemudian barulah ia berkeliling mencari pencinta kopi.
Tak butuh waktu seharian untuk menghabiskan kopi yang dibawa. Sering kali saat memasuki pukul 13.00 WIB, kopi sudah ludes tak tersisa.
Seperti ketika berbincang dengan Kompas.com, meski kopi di dalam boks merah sudah habis, masih banyak saja orang yang menghampiri untuk membeli.
Yanwar pun meminta maaf kepada mereka sembari berharap mereka kembali lagi esok hari saat hari lebih pagi.
"Padahal, dari tadi aku tungguin tau, mana nih Ibu enggak muncul-muncul," ujar Yanwar melontarkan canda.
Sepeda listrik yang ia bawa dilengkapi payung cukup besar serta boks berukuran 1 x 0,5 meter. Sepeda listrik inilah yang membawanya berkeliling menjajakan kopi kekinian.
Sepeda listriknya tidaklah besar, tetapi tenaganya cukup kuat untuk mendorong segala beban yang Yanwar bawa, bahkan pada jalan tanjakan. Tak jarang baterai sepeda listrik itu habis di tengah jalan, Yanwar harus mengayuhnya hingga ke pool.
"Aku berangkat dari Cideng (pool), terus lanjut ke Balai Kota, terus ke sini (Jalan Budi Kemuliaan)," ujar Yanwar.
Yanwar telah menjadi penjaja kopi merek Sejuta Kopi itu sejak Januari 2024. Semula ia mengaku cukup kesulitan untuk memenuhi target penjualan yang ditentukan oleh kantor.
Akan tetapi, setelah bekerja beberapa bulan, Yanwar mulai mengerti polanya. Kini, setiap hari ia dihubungi oleh pelanggan yang telah menyimpan nomor teleponnya untuk memesan minuman kekinian tersebut.
"Dan sekarang jam satu lewat, sudah habis. Tadi bawa 175 gelas. Alhamdulillah," ujar dia.
Jika matahari sedang terik, Yanwar hanya perlu berjualan hingga tengah hari. Tapi jika cuaca sedang dingin, Yanwar terpaksa pulang lebih petang dari biasanya untuk menjajakan minuman dinginnya.
Dengan kehadiran Yanwar dan kawan-kawan, pelanggan tidak harus susah-susah pergi ke coffee shop. Kopi kekinian saat ini sudah mendekati pelanggan, sedekat para pedagang kaki lima.
"Mungkin kalau yang baru-baru masih ngerayap mencari tempat pangkalan. Kalau aku kan sudah ada tempat pangkalan," ujar ayah beranak satu itu.
Di Jakarta, ada beberapa merk besar yang telah 'turun ke jalan' untuk menjajakan dagangan mereka, antara lain Kopi Jago atau Haus.
Konsep mereka serupa, dengan menggunakan sepeda listrik dan boks yang cukup besar untuk membawa barang dagangan mereka.
Dalam hal pendapatan, Yanwar sendiri bisa meraup pendapatan Rp 1 juta setiap minggunya.
Perusahaan akan membayar Yanwar seharga Rp 1.000 setiap gelas yang berhasil ia jual dan Rp 50.000 untuk biaya transportasinya setiap bekerja.
Setiap hari Minggu, perusahaan akan membayarnya sesuai hari kerja dan produk yang berhasil ia jual.
Yanwar mengaku, setiap harinya, ia dapat membawa minimal 150 gelas. Setidaknya, Yanwar dapat mengantongi Rp 4 juta setiap bulannya.
"Alhamdulillah cukup sih untuk hidup sama keluarga," kata dia.
Dalam seminggu, Yanwar berjualan selama lima hari. Jika ditotalkan, maka dalam seminggu Yanwar bisa mengantongi uang Rp 1 juta. Halaman all [416] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Yanwar, seorang penjual kopi keliling milik Jiwa Grup mengaku bisa mengantongi Rp 1 juta setiap minggunya dari profesinya tersebut.
Dia bercerita, perusahaanya memberi komisi Rp 1.000 untuk setiap gelas kopi yang berhasil dijual. Rata-rata, pria berusia 35 tahun itu mampu menjual 150 gelas kopi dalam tiap harinya.
Selain komisi Rp 1.000 per gelasnya, Yanwar juga mendapatkan uang Rp 50.000 per hari dari perusahaan untuk transportasi.
"Alhamdulillah (penghasilan dari jualan kopi keliling) cukup sih untuk hidup sama keluarga," ujar Yanwar saat ditemui Kompas.com di belakang gedung Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Jakarta Pusat, Rabu (4/7/2024).
Dalam seminggu, Yanwar berjualan selama lima hari. Jika ditotalkan, maka dalam seminggu Yanwar bisa mengantongi uang Rp 1 juta dan dalam satu bulan bisa mencapai Rp 4 juta.
Yanwar mengaku sudah menggeluti profesi ini sejak Januari 2024. Saat pertama kali berjualan, dia mengaku kesulitan memenuhi target penjualan.
Namun, lambat laun dia sudah bisa menggaet para pelanggannya. Kopi yang dijual Yanwar beragam, harganya mulai dari Rp 8.000 hingga Rp 10.000.
Saat ini, setiap harinya dia membawa minimal 150 gelas kopi dari tujuh menu yang disediakan oleh Kopi Sejuta Jiwa.
"Dan sekarang (sudah) jam 13.00 WIB lewat, (kopi) sudah habis. Tadi bawa 175 gelas. Alhamdulillah," kata dia.
Setiap harinya, Yanwar mampu menjual barang dagangannya sampai habis. Untuk itu, dia bisa menyetorkan uang minimal Rp 1 juta ke kantornya.
Jika cuaca sedang cerah, dagangan Yanwar bisa ludes dalam waktu setengah hari saja. Namun, apabila turun hujan, Yanwar harus rela pulang lebih sore dari biasanya untuk menghabiskan dagangannya.
Tiap hari, Yanwar menjajakan dagangannya di daerah Jakarta Pusat. Sejak pukul 06.00 WIB dia sudah mengayuh gerobaknya dari wilayah Cideng.
"Aku berangkat dari Cideng, terus lanjut ke Balai Kota, terus ke sini (belakang kantor Kementerian PPPA)," ujar Yanwar ketika ditemui di belakang Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).