#30 tag 24jam
Kenali Talent Maping, Tes Saat Pekerja Alami Krisis Karier
Untuk mendapatkan hasil yang valid memang harus menjalani tes talent mapping walau sebenarnya dari obrolan awal. [619] url asal
#talent-maping #krisis-karier #pekerjaan #tes-karir
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 01/11/24 10:24
v/17305912/
Bisnis.com, JAKARTA- Seorang yang mengalami krisis karier perlu mempertimbangkan langkah berganti pekerjaan dengan bantuantalent mapping.
Aninda, seorang praktisi psikologi dan pemetaan bakat membeberkan secara detail mengenai hal itu dalam program Broadcast, di kanal youtube Bisniscom.
Menurutnya dengantalents mappingakan terlihat bakat yang dimiliki oleh seseorang. Misalkan, tuturnya, ada yang tipikalnya sosial, dia bisa bekerja dalam tim. Ada pula yang tipikalnya bekerja sendiri hal ini cocok jika dia bekerja dengan mesin, dan lain sebagainya.
“Pernah ada klien sekolah kedokteran, tapi dari hasiltalent mappingskornya untuk empati dan menolong orang lain itu rendah. Karena itu dia merasa berat sekali menjalani pendidikan ini,” ucapnya.
Pengalaman lainnya, dia pernah mendapatkan klien seorang anak muda yang bekerja di sebuah agensi. Baru beberapa bulan bekerja, dia merasa tidak betah karena menilai terlalu banyak aturan. Setelah dites, skor tertingginya adalah tanggung jawab.
Menurutnya Aninda, orang yang memiliki tanggung jawab tinggi biasanya tidak mau diatur secara berlebihan. Kalau merasa sudah memberikan tanggung jawab kepada orang dengan tipikal itu, maka atasannya harus percaya dan biarkan dia mengerjakan tanggung jawab itu tanpa harus diatur lebih jauh.
“Dia bilang mau ganti pekerjaan jadi kreator konten, saya lihat ditalent mappingada bakat itu. Sudah pernah menjalani itu dan followers banyak sekitar 60.000-an. Setelah itu dia kabariresign. Selang dua minggu sesudah itu dia muncul ditimelinemedia sosial followersnya sudah 100.000-an. Memang jalannya di situ,” kisah Aninda.
Menurutnya, untuk mendapatkan hasil yang valid memang harus menjalani testalent mappingwalau sebenarnya dari obrolan awal Aninda bisa melihat tipe dari kliennya tersebut.
Dia juga menjelaskan seseorang membutuhkan tes talent mapping ketika merasa ada krisis karier di dalam dirinya dengan mulai mempertanyakan tentang dirinya, mulai tidak nyaman dan sebagainya. Selain itu, pelajar tingkat SMA atau SMK, juga banyak yang mengikuti tes itu untuk menentukan jurusan kuliahnya.
“Atau ada juga mahasiswa yang baru saja lulus dan ingin mengembangkan karier maka dia akan mengikuti tes ini untuk mengetahui pilihan karier yang cocok buatnya,” terang Aninda.
Menurutnya, tidak sedikit ibu rumah tangga yang anaknya sudah memasuki tahap sekolah, mengikut testalent mapping. Pasalnya, mereka mulai memiliki waktu luang ketika anaknya bersekolah dan ingin mengisi waktu itu dengan bekerja atau berusaha yang sesuai dengan bakat mereka.
“Ada yang akhirnya jadi asisten virtual, ada yang ingin bikin usaha, setelah dites oh ternyata cocok. Jadi mereka merasa bisa melakukan hal ini, walaupun di rumah saja.,” ucapnya.
Paa kesempatan itu, dia juga menyarankan bagi kaum perempuan yang memilih untuk berumah tangga, memiliki anak yang masih bayi atau balita dan ingin membangun kembali kariernya. Hal pertama yang harus dilakukan adalah realistis terhadap keadaan yang dihadapi .
“Karena anak masih kecil dan memungkinkan kita tidak bisa keluar rumah atau bekerja yang agak repot. Sadar akan posisi kita terlebih dahulu,. Setelah itu kalau ada pekerjaan yang kita suka, dan adapassionkita di situ boleh kita melakukannya. Tapi kalau misalkan tidak ada atau takut salah jalan, inilah gunanyatalent mapping. Jangan sampai waktu yang terbatas tapi salah aktivitas. Jadi sebaiknya dimanfaatkan saja,” urainya panjang lebar.
Pengalaman lain yang ia temukan adalah juga perempuan karier yang sudah berkeluarga dan merasa untuk mendapatkan pekerjaannya itu dia membutuhkan perjuangan yang luar biasa sehingga sayang kalau dilepas, namun untuk terus bertahan juga sama beratnya.
Pada klien jenis ini, dia selalu menyarankan untuk mencari pekerjaan sampingan yang sesuai dengan minat. Dari sisi finansial bisa didapatkan lewat pekerjaan utama, dan dari sisi psikologis, bisa diperoleh melalui pekerjaan sampingan.
Di akhir perbincangan, Aninda menyelipkan pesan jika ingin mencari pekerjaan apa yang cocok, maka tentu kita harus mengenali diri kita terlebih dahulu melalui potensi. Melakukan pekerjaan yang sesuai dengan potensi akan lebih sehat secara mental dan juga akan meminimalisasi munculnya krisis karier.
“Kalau merasa sedang mengalami krisis karier, boleh ikutitalent mappingatau bisa juga datang ke psikolog, kalau misalkan untuk cerita ke pasangan atau ke teman sulit untuk dilakukan,” pungkasnya.
Tips Kerja, Ini Dampak dari Krisis Karier
Krisis karier adalah sebuah momen di mana seseorang merasa ada yang perlu diselesaikan dari sisi karier. [852] url asal
#krisis-ekonomi #phk #krisis-karier #krisis-karir-melanda
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 01/11/24 08:22
v/17301937/
Bisnis.com, JAKARTA - Bekerja di perusahaan pada masa kondisi ekonomi tidak menentu membuat orang-orang bingung. Namun, ada kalanya orang yang kurang beruntung terdampak PHK, hingga harus menganggur.
Seseorang yang tidak bekerja atau mengalami putus hubunga kerja, sedang berada di dalam posisi krisis karir. Ini menimbulkan tantangan terhadap kondisi keuangan.
Aninda, seorang praktisi psikologi dan pemetaan bakat membeberkan secara detail mengenai krisis karier itu dalam program Broadcast, di kanal youtube Bisnis.com.
Menurutnya, krisis karier adalah sebuah momen di mana seseorang merasa ada yang perlu diselesaikan dari sisi karier. Biasanya ada tanda paling besar adalah ketika kita merasa perlu ada perubahan besar dalam karier. Hal itu kemudian mendorong perasaan ingin berhenti bekerja atau mengganti karier.
Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Atmajaya Jakarta itu menjelaskan ,ada alasan yang mendorong perasaan tersebut. Pertama, karena merasa sudah tidak lagi termotivasi untuk menjalani pekerjaan tersebut dan kedua merasa tidak lagi menemukan tantangan dari pekerjaan yang ada.
“Biasanya kalau merasa tidak termotivasi arahnya kalau pekerjaan yang sekarang itu cocok nggak buat kita atau dengan kata lain disebut demotivasi. Kalau yang merasa tidak ada tantangan, itu artinya merasa sudah jago dengan pekerjaan saat ini jadi merasa tidak ada lagi yang bisa dipelajari lalu membuat kita sulit untuk mendapatkan manfaat memenuhi kepuasan kita sebagai manusia. Itulah yang disebut sebagai krisis karier. Jadi ada perubahan besar yang sebenarnya ingin kita capai,” jelasnya.
Dia membeberkan, ada dua hal yang membedakan apakah sedang alami krisis karier atau hanya sekadar tidak puas dengan pekerjaan. Kalau yang berhubungan dengan kepuasaan terhadap pekerjaan, biasanya akan merasa ingin memperbaiki sesuatu pada pekerjaan karena merasa tidak puas dengan capaiannya.
“Oke yang tidak puas itu di area mana saja. Kita cek itu dahulu dan kita memperbaikinya. Contoh kita merasa tidak puas dengan tim kita lalu kita berupaya bagaimana caranya untuk membaur dengan tim kita. Atau misalkan oke saya harus memimpin tim ini tapi tidak mengintimidasi. Ada yang kita perbaiki. Atau contoh lain, kita merasa pekerjaan kita menumpuk apakah ada salah strategi di awal dan Itu yang perlu kita selesaikan,” tuturnya.
Tapi kalau bicara soal krisis karier, maka arahnya lebih kepada mempertanyakan kepada diri sendiri. Apalagi diri sendiri cocok tidak dengan pekerjaan ini, atau apakah diri sendiri bisa belajar lebih banyak jika keluar dari pekerjaan ini, atau juga bisakah pekerjaan ini bisa mengaktualisasikan diri sendiri. Jadi dengan kata lain, krisis karier bertumpu pada pertanyaan-pertanyaan yang menyasar pada diri sendiri.
Aspek Finansial dan Psikologis
Menurutnya, ada dua aspek dalam menganalisis kaitan antara diri sendiri dengan pekerjaan. Aspek-aspek tersebut adalah finansial dan psikologis dan kedua hal ini sangat bertolak belakang sehingga menurutnya perlu diberi tembok pemisah.
Ambil misa kalau bicara soal finansial berarti kita akan mengerjakan pekerjaan apapun untuk memenuhi kebutuhan ibarat. Ibaratnya kata Aninda, selama halal, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala dijalani.
Tapi kalau berbicara soal pekerjaan yang berhubungan dengan aspek psikologis, hal itu, menurutnya lebih mengarah pada kesehatan mental. Aspek ini lebih dalam dibandingkan sekadar finansial.
“Kita bakal berpikir pekerjaan ini bakalan sesuai dengan passion kita, potensi kita ada di situ atau tidak. Ketika kita mengerjakan hal ini kita puas atau tidak, kita bisa mengaktualisasikan diri atau tidak. Makanya dibilang kalau hal ini berhubungan dengan kesehatan mental kita,” ucapnya.
Menurutnya, perasaan krisis karier bisa dialami oleh pekerja yang berusia 30-an tahun. Dengan usia seperti itu dan mengawali karier di usia 20-an awal, berarti sang buruh telah bekerja selama 8-10 tahun lamanya.
Kalau usia pensiun ambil misal 60 tahun, berarti masa kerja pekerja tersebut masih 30 tahun lagi dan mengerjakan hal yang sama setiap harinya. Aninda menyelipkan pertanyaan bisakah sang pekerja memproses mentalnya selama 30 tahun ke depan. Atau juga bisa jadi akan ada perasaan lelah yang teramat sangat sehingga butuh untuk mencari solusi.
Dia membeberkan krisis karier sebenarnya juga berkaitan dengan bagaimana seseorang memilih karier pertamanya. Ketika pada awalnya mengambil karier tertentu karena alasan finansial semata, dalam perjalanan hal itu bisa menjadi krisis karier dan ia akan mempertanyakan apakah karier yang dijalani ini sesuai dengan bakat dan bisa mengembangkan dirinya pada tahap yang lebih tinggi lagi.
Tips Berganti Karier
Salah satu solusi krisis sebagaimana yang dimaksud, adalah berganti karier. Aninda mewanti-wanti bahwa berganti karier bukan sekadar berganti perusahaan dengan posisi yang sama tapi benar-benar mengganti jenis pekerjaan.
Sebelum melakukan hal itu, menurutnya si pekerja harus benar-benar jujur pada diri sendiri karena nanti akan ada dua kesimpulan yang bisa dipilih setelah mengontemplasikan diri. Pertama tetap mengikuti karier ini sampai akhir atau, kedua mencari hal baru yakni berganti karier.
Ketika memilih untuk berganti karier maka dibutuhkan strategi tertentu. Dia menyarankan tidak boleh resign tanpa mempersiapkan diri akan melakukan hal apa saja setelah tidak lagi bekerja. Sebelum mengundurkan diri, menurutnya harus membuat riset pekerjaan apa yang cocok dengan cara mengikuti seminar tentang talenta, diri atau melihat referensi pekerjaan dari teman, atau bisa juga mengunjungi psikolog.
“Strategi kedua, tentukan waktu, mau berapa lama nganggur. Kalau menganggur setelah bekerja bertahun-tahun enak menikmati, malah bisa menghanyutkan. Ketiga, cek pendapatan selamamu tidak bekerja, bisa menutupi kebutuhan hidup dari mana. Tiga strategi ini memang benar-benar harus dilaksanakan dengan disiplin tinggi,” bebernya.
Menurutnya, berdasarkan hasil penelitian, idealnya waktu menganggur adalah selama tiga bulan. Enam bulan menganggur menurutnya sudah terlalu lama.