#30 tag 24jam
OJK: Literasi keuangan digital cegah masyarakat dari pinjol ilegal
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan peningkatan literasi keuangan digital mendorong masyarakat bijak melakukan aktivitas keuangan dan memahami risiko ... [441] url asal
#literasi-keuangan-digital #otoritas-jasa-keuangan #ojk
(Antara) 04/11/24 20:20
v/17470529/
Indeks literasi dan inklusi keuangan Indonesia baru mencapai 65 persen dan 75 persen
Jakarta (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan peningkatan literasi keuangan digital mendorong masyarakat bijak melakukan aktivitas keuangan dan memahami risiko keuangan, sehingga tidak terjebak dengan pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online.
“Kenapa kami perlu penting ini terkait dengan literasi keuangan digital ini? Karena sumber dari sekarang ini yang muncul permasalahan ini di media karena rendahnya literasi keuangan digital. Apakah itu penggunaan aplikasi judol? Banyaknya yang kena pinjol ilegal misalnya dan juga aplikasi-aplikasi yang lain. Kenapa ini terjadi? Ya kembali lagi. Karena literasi keuangan digital kita yang memang masih rendah dan perlu ditingkatkan,” kata Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) OJK Djoko Kurnijanto di Jakarta, Senin.
Hal tersebut disampaikan Djoko pada konferensi pers pre-event Bulan Fintech Nasional (BFN) dan The 6th Indonesia Fintech Summit and Expo (IFSE) 2024 di Gedung OJK Menara Radius Prawiro.
Berdasarkan survei Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK pada 2024, indeks literasi dan inklusi keuangan Indonesia baru mencapai 65 persen dan 75 persen.
Sedangkan, data Institute for Development of Economics and Finance (Indef) 2023 menunjukkan indeks literasi digital Indonesia baru mencapai 62 persen dan yang paling rendah jika dibandingkan negara ASEAN yang rata-rata mencapai 70 persen.
Seiring dengan perkembangan digitalisasi, Djoko menuturkan masyarakat semakin mudah mengakses layanan dan produk keuangan atau melakukan aktivitas keuangan, hanya melalui telepon genggam atau smartphone.
“Cuma permasalahannya adalah apakah mereka-mereka yang mem-provide layanan di dalam handphone ini bertanggung jawab? Dan sebaliknya, apakah kita-kita yang menggunakan ini regardless umurnya, regardless gendernya, sudah pula memahami dampak risiko dari yang kita lakukan dengan HP kita? Nah, itulah yang juga ingin kita kejar selama BFN ini,” ujarnya.
Untuk itu, masyarakat perlu lebih meningkatkan pemahaman risiko dan bijak dalam mengelola keuangan agar tidak mengalami kerugian finansial akibat pinjol ilegal dan judi online.
“Ketika kita ngomongin digital, maka di situlah potensi untuk orang yang menggunakan atau digunakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu tinggi potensinya. Jadi literasi terhadap keuangan digital ini yang kita perlukan,” tuturnya.
Menurut dia, di balik kemudahan yang ditawarkan dari kehadiran inovasi dan teknologi seperti kecerdasan artifisial, blockchain, kripto, machine learning, ada potensi risiko yang harus diketahui bersama, misalnya penipuan.
Melalui penyelenggaraan BFN dan IFSE 2024, diharapkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap manfaat dan risiko dari berbagai aktivitas keuangan juga semakin meningkat sehingga dapat menghindari aktivitas keuangan ilegal seperti pinjol dan judi online.
“Kita ingin tingkatkan selama penyelenggaraan kegiatan itu untuk semuanya itu mempunyai tingkat awareness yang sudah lebih memadai dibandingkan dengan sebelumnya,” ujarnya.
Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2024
Cegah Risiko Keuangan Digital bagi Gen Z, Begini Jurus OJK
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus meningkatkan literasi finansial bagi masyarakat, termasuk mahasiswa, di berbagai daerah. [508] url asal
#ojk #risiko-keuangan-digital #keuangan-digital #literasi-keuangan-digital #literasi-keuangan #generasi-z #gen-z
(Bisnis.Com - Finansial) 28/09/24 13:07
v/15670569/
Bisnis.com, JAKARTA - Platform keuangan digital kini menjadi bagian penting dari sektor keuangan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat, terutama kalangan generasi Z atau gen Z, untuk memiliki literasi finansial yang baik.
Sebagai salah satu upaya memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai manfaat dan risiko keuangan digital, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus meningkatkan literasi finansial bagi masyarakat, termasuk mahasiswa, di berbagai daerah.
Kemarin, OJK menggelar acara OJK Mengajar menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) OJK ke-13 di Universitas Bengkulu, Jumat (27/9/2024).
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto Hasan Fawzi hadir menyampaikan materi literasi keuangan digital di hadapan sekitar 700 mahasiswa yang hadir di Ruang Serbaguna Universitas Bengkulu.
“Generasi Gen-Z harus memiliki pemahaman mengenai cara menggunakan platform keuangan digital yang kini menjadi bagian penting dari sektor keuangan dan memahami risiko dalam penggunaannya. Risiko tersebut dapat kita cegah dengan semakin berhati-hati dalam melindungi data pribadi dan keuangan kita menggunakan mekanisme pengamanan yang baik dalam menggunakan platform digital dan mampu mengenali bentuk penipuan di platform digital,” kata Hasan dalam keterangan resmi, Sabtu (28/9/2024).
Lebih lanjut Hasan menyampaikan bahwa dalam meningkatkan inovasi dan literasi keuangan digital, OJK mengembangkan beberapa inisiatif untuk meningkatkan keterampilan digital bagi seluruh lini masyarakat, antara lain menyusun dan mensosialisasikan modul terkait inisiatif Literasi Keuangan Digital bagi masyarakat.
Lalu, mengembangkan Fintech Center OJK dalam upaya meningkatkan jumlah inovasi di sektor keuangan dan mengembangkan regulatory sandbox dalam memfasilitasi konsultasi terkait Inovasi Teknologi Sektor Keuangan.
“Tentunya potensi inovasi ini tidak akan ada habisnya mengingat mahasiswa sebagai Gen-Z memiliki pola pikir yang kreatif, kesadaran sosial yang tinggi, dan semangat kewirausahaan yang besar. Kami yakin potensi ini dapat membawa perubahan yang signifikan kepada sektor keuangan serta berperan dalam membangun sistem keuangan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdaya tahan,” tambah Hasan.
OJK berharap melalui OJK Mengajar ini, para mahasiswa dapat memahami potensi dan risiko layanan dan produk keuangan digital di sektor keuangan dan selanjutnya dapat berperan sebagai penggerak dalam upaya meningkatkan literasi keuangan digital kepada lingkungan sekitarnya.
Kegiatan ini juga merupakan bagian dari komitmen OJK untuk terus berkontribusi dalam menciptakan industri jasa keuangan yang berdaya saing global serta memperkuat peran sektor keuangan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Hadir dalam kegiatan kuliah umum tersebut Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama Universitas Bengkulu Rina Suthia Hayu, Plt. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi M. Ismail Riyadi, Sekretariat Satgas Pasti OJK Hudiyanto, dan Kepala OJK Provinsi Bengkulu Ayu Laksmi Syntia Dewi.
Dalam kesempatan tersebut, Rina mengapresiasi kegiatan OJK Mengajar ini dan berharap kegiatan yang diselenggarakan dapat memberikan wawasan dan dampak yang besar bagi kehidupan mahasiswa sebagai salah satu langkah strategis terutama dalam membentuk generasi yang lebih siap menghadapi dinamika kehidupan ekonomi di era modern.
“Dengan kemampuan memahami pengelolaan keuangan yang baik kita bisa menghadapi tantangan ekonomi global, mengelola keuangan pribadi secara bijak dan kita bisa menciptakan peluang menuju kemandirian finansial. Pengetahuan tentang investasi, manajemen keuangan dan perencanaan keuangan itu bukan lagi hal yang sulit saat ini. Itu sangat relevan yang harus kita kuasai supaya kita bisa masuk ke dunia bisnis,” kata Rina.
CRING! Talks Roadshow Bekali UMKM Agar Tak Takut Hadapi Era Digital
CRING! Talks Roadshow menjadi wadah bagi para pelaku bisnis khususnya UMKM yang membutuhkan kemudahan akses terhadap layanan keuangan digital untuk saling terhubung.... | Halaman Lengkap [864] url asal
#keuangan-digital #literasi-keuangan-digital #digitalisasi-umkm #transformasi-digital #era-digital
(SINDOnews Ekbis - Bursa Finansial) 18/09/24 10:11
v/15200862/
JAKARTA - Seminar literasi keuangan yang diselenggarakan oleh SPE Solution, CRING! Talks, kembali hadir spesial dengan melakukan roadshow di Kota Solo dan Semarang pada 29 - 30 Agustus 2024.Bersama Rio Agustra Anjany - VP of Product SPE Solution dan Agid Kusprasetyo - Head of Business and Relationship SPE Solution acara ini mengangkat topik ?Ubah Tantangan Menjadi Peluang: Strategi Kolaboratif Mengakses Layanan Keuangan Digital ? dengan fokus membahas bagaimana pelaku bisnis terutama UMKM dapat mengambil peluang dari tantangan transformasi digital dengan kolaborasi yang strategis bersama penyedia teknologi keuangan digital seperti CRING!.
Acara ini menjadi salah satu upaya SPE Solution untuk mendukung program pemerintah dalam mendorong tingkat literasi keuangan digital di tengah pesatnya laju transformasi dalam sektor bisnis.
Head of Business and Relationship SPE Solution, Agid Kusprasetyo mengungkapkan, ?Acara CRING! Talks ini sejalan dengan visi SPE Solution dan roadmap blueprint Bank Indonesia untuk membantu UMKM dalam menyediakan akses teknologi keuangan yang merata bagi seluruh kalangan bisnis, acara ini adalah bukti komitmen nyata kami untuk memberikan solusi yang komprehensif bagi UMKM dalam mengakses layanan keuangan digital yang tidak hanya mudah tetapi juga terjangkau melalui produk kami CRING! Payment Facilitator?.
CRING! Talks Roadshow menjadi wadah bagi para pelaku bisnis khususnya UMKM yang membutuhkan kemudahan akses terhadap layanan keuangan digital untuk saling terhubung sekaligus merupakan ajang memperkenalkan CRING! Payment Facilitator sebagai penyedia layanan keuangan digital yang aman, fleksibel, dan terjangkau bagi seluruh kalangan bisnis.
Rangkaian acara CRING! Talks Roadshow diawali oleh pemaparan presentasi bisnis yang kemudian dilanjutkan dengan sesi talk show dan tanya jawab dengan audiens terkait banyaknya kendala serta tingginya kebutuhan akan digitalisasi layanan keuangan pada bisnis di skala UMKM.
Para peserta juga diberikan kesempatan untuk melakukan konsultasi bisnis gratis dengan para ahli di bidang teknologi keuangan digital dari SPE Solution. Pada penyelenggaraan di Solo dan Semarang, acara ini dihadiri lebih dari 120 pelaku bisnis yang sebagian besar berasal dari komunitas UMKM rekanan CRING! serta perwakilan BPD Jawa Tengah yang turut hadir pada penyelenggaraan di Kota Semarang.
UMKM berperan sebagai penggerak ekonomi lokal, terutama di daerah pedesaan dan kotakota kecil. Peran pemerintah dalam mendukung UMKM adalah dengan memperbaiki fasilitas yang dapat meningkatkan kemajuan UMKM. Namun, di lain sisi dihadapkan dengan era digitalisasi dimana kondisi ini dapat menjadi peluang atau malah menjadi bumerang untuk pelaku UMKM.
"Untungnya ada seminar CRING! yang memberikan wawasan kepada pelaku UMKM agar tidak takut menghadapi era digitalisasi. Harapannya ke depan CRING! dapat membantu untuk UMKM khususnya di Jawa Tengah untuk dapat mengoptimalkan digitalisasi bersama dengan CRING!,? ujar Digital Banking Bank Jateng, Riza Indra Kurniawan.
Tingginya kebutuhan akan digitalisasi layanan keuangan pada bisnis di skala UMKM terlihat dari data Indeks Daya Saing Digital 2024 yang dikeluarkan oleh East Ventures dimana menempatkan Jawa Tengah pada peringkat ke 10 (sepuluh) sebagai provinsi dengan tingkat daya saing digital tertinggi di Indonesia.
Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan masyarakat akan pemenuhan layanan yang terdigitalisasi di berbagai sektor salah satunya sektor layanan keuangan digital pada bisnis. Didukung angka pertumbuhan UMKM yang terus meningkat di Jawa Tengah sebanyak 4,2 juta pada 2023, menjadikan seminar literasi keuangan digital CRING! Talks menjadi relevan.
Sejalan dengan hal tersebut, acara CRING! Talks merupakan sarana untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada para pelaku bisnis khususnya UMKM tentang kemudahan mengakses layanan keuangan digital melalui kolaborasi dengan platform penyedia layanan keuangan digital CRING!.
Rio Agustra Anjany selaku VP of Product SPE Solution yang juga menjadi salah satu narasumber di acara CRING! Talks menjelaskan pentingnya literasi digital dalam mendukung kemajuan transformasi teknologi di sektor bisnis.
"Menilik dari perkembangan zaman dan generasi dewasa ini, literasi digital adalah salah satu hal penting yang harus kita tumbuhkan untuk membantu kita dalam mengejar ketertinggalan teknologi, terutama di bidang perdagangan atau bisnis. CRING! Talks hadir untuk membantu para pelaku bisnis dan mendorong mereka memanfaatkan teknologi yang menolong dan meringankan pekerjaan mereka. Dan jangan lupa, ditengah persaingan industri yang maha ketat ini teknologi akan menjadi salah satu solusi untuk menaikan omset para pelaku bisnis,? ujarnya.
CRING! Payment Facilitator sebagai fasilitator produk perbankan yang menyediakan berbagai layanan terintegrasi melalui API menawarkan fasilitas portal web yang memungkinkan mitra untuk memantau dan mengontrol bisnis mereka melalui satu portal. Memiliki layanan seperti Virtual Account, QRIS, pembayaran, dan pencairan dana, CRING! memastikan setiap transaksi data terenkripsi dan aman melalui dukungan teknis 24 jam dengan standar keamanan tinggi.
Dengan skema kerja sama kemitraan yang terjangkau dan tanpa adanya biaya integrasi maupun biaya langganan, CRING! menjadi pilihan tepat bagi UMKM untuk dapat melakukan digitalisasi bisnis tanpa harus memikirkan kendala seperti modal, SDM yang terbatas, ataupun waktu integrasi yang memakan waktu lama.
Upaya CRING! dalam menghadirkan solusi bagi pelaku bisnis melakukan digitalisasi tidak hanya dalam proses transaksi tetapi juga mengatur dan mengelola operasional bisnis mereka merupakan bagian dari kemudahan yang ditawarkan bagi pelaku bisnis untuk dapat bersaing di era digital.
Melalui CRING! Talks, SPE Solution berkomitmen untuk terus mendukung upaya percepatan transformasi digital di Indonesia khususnya dalam sektor layanan keuangan digital melalui produk CRING! Payment Facilitator. Ke depannya, CRING! Talks diharapkan dapat menjangkau lebih banyak daerah di Indonesia sebagai upaya memberikan pemerataan akses digitalisasi layanan keuangan yang dapat dijangkau oleh bisnis kecil dan menengah.
Dengan pengembangan platform yang terus dilakukan secara berkelanjutan sebagai upaya memberikan layanan terbaik kepada mitra CRING!, CRING! Payment facilitator siap bersaing menjadi produk layanan keuangan digital unggulan bagi UMKM di seluruh Indonesia.