#30 tag 24jam
Menilik Nasib Merger XL Axiata - Smartfren di Tengah Pergantian Kabinet
Merger XL Axiata dan Smartfren kuat berhembus pada tahun ini. Namun, hingga pemerintahan berganti, aksi tersebut tak kunjung terealisasi. Saat ini waktu tepat? [966] url asal
#merger #merger-xl-axiata #merger-smartfren #xl-axiata #smartfren #merger-xl-axiata-dan-smartfren #smartfren-xl
(Bisnis.Com - Teknologi) 23/10/24 08:14
v/16868221/
Bisnis.com, JAKARTA - Rencana merger PT XL Axiata Tbk. (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) diperkirakan terus berlanjut kendati kabinet pemerintah berganti. Keduanya memiliki pasar yang berbeda, yang diyakini akan saling melengkapi ketika melebur.
Ketua Umum Idiec M. Tesar Sandikapura mengatakan hadirnya Meutya Hafid sebagai Menteri Komunikasi Digital (Menkomdigi) tidak akan mempengaruhi merger EXCL dan FREN, terlebih kedua perusahaan tersebut bukanlah perusahaan milik negara dan tidak perlu melibatkan pemerintah.
Merger antara XL Axiata dan Smartfren juga menjadi kebutuhan di tengah kondisi industri telekomunikasi yang makin menantang.
“Kabinet baru tidak memberi pengaruh karena itu aksi korporasi swasta yang alamiah, apalagi XL dan Smartfren bukan lah BUMN,” kata Tesar kepada Bisnis, Rabu (23/10/2024).
Namun, usul Tesar, sebaiknya merger dilakukan pada tahun depan sambil menunggu kondisi ekonomi dan perpolitikan Indonesia stabil. Mengingat saat ini Indonesia sedang mengalami transisi dari pemeritahan Joko Widodo (Jokowi) ke Prabowo Subianto, yang sedikit banyak mempengaruhi kondisi politik dan ekonomi.
Tesar mengatakan penggabungan keduanya adalah langkah tepat karena dari sisi segmen pasar cukup saling melengkapi.
“Sehingga kita bisa melihat perkembangan pasar yang lebih jernih,” kata Tesar.
Ketua Program Studi Magister Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Yosef M. Edward mengatakan merger keduanya tidak akan terganggu oleh pergantian kabinet.
"Karena tujuan merger adalah perusahaan lebih sehat dalam mengelola dan membangun sehingga adil merata serta bermanfaat bagi masyarakat; dengan tetap memperhatikan persaingan usaha yang sehat dan bukan praktek monopoli," kata Ian.
Masih Proses
Sebelumnya, Chairman Sinar Mas Group Franky Oesman Widjaja mengatakan Sinar Mas masih terus melakukan pembicaraan dengan EXCL mengenai aksi korporasi tersebut. “MergeCo itu yang kita sedang bicarakan dengan XL,” jelasnya.
Perusahaan hasil merger tersebut nantinya berpotensi mendapat sentuhan dari perusahaan solusi IT kongsi Sinar Mas dan LG CNS Co. Ltd..
“Ya kalau service-nya bagus mungkin itu akan di consider dengan MergeCo itu nanti. Itu kemungkinan, kalau sampai terjadi IT Servicenya juga bisa kemungkinan jadi salah satu partner,” tegasnya.
Sementara itu, Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys mengaku bahwa hingga saat ini perkembangan merger FREN—EXCL memang masih terus berlangsung. Di mana tahap uji tuntas (due diligence) masih belum rampung dari kedua belah pihak.
“[Update merger] baik-baik saja. Due belum selesai, masih berlangsung,” kata Merza.
Merza menjelaskan proses due diligence bisa rampung dalam waktu yang tak lama. Namun, dia enggan memberikan jadwal pasti rampungnya due diligence.
Sementara itu, pada Juni 2024, Group Chief Financial Officer Axiata Nik Rizal Kamil mengatakan proses merger diharapkan dapat rampung tahun ini atau lebih cepat.
Dari sisi spektrum, kata NIK, emiten bersandi saham EXCL itu mengaku sangat sulit bersaing secara mandiri dengan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dan PT Indosat Tbk. (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison (IOH).
Pasalnya, tambah Nik, Telkomsel dan Indosat Ooredoo Hutchison memiliki spektrum lebih dari 150 MHz. Sedangkan XL Axiata hanya memiliki sekitar 90 MHz. Serta, Smartfren memiliki spektrum sekitar 60 MHz.
“Jika Anda memiliki spektrum yang lebih sedikit, Anda harus memasang lebih banyak menara dan infrastruktur untuk mencapai tingkat cakupan yang sama,” jelas Nik.
Terlebih, dia mengungkap bahwa bisnis telekomunikasi sangat kompetitif. Artinya, jika layanan suatu perusahaan tidak baik, maka pelanggan akan beralih ke perusahaan lain. Dengan aksi ini, Nik menyebut entitas merger nanti akan berada dalam posisi yang lebih kompetitif untuk bersaing dengan pemain telekomunikasi lain.
“Jadi jika Anda melakukan kombinasi dari awal, Anda memiliki lebih dari 90 MHz dari XL ditambah dengan 60 MHz dari Smartfren. Sekarang MergeCo juga akan memiliki lebih dari 150 MHz, sama dengan Telkomsel dan IOH,” terangnya.
Selain masalah spektrum, Nik menambahkan bahwa pangsa pasar XL Axiata dan Smartfen juga lebih sedikit dibandingkan Telkomsel dan IOH.
Saat ini, pangsa pasar IOH mencapai sekitar 20% dari pasar dan hampir 60% adalah pangsa pasar Telkomsel. Sedangkan XL Axiata hanya sekitar 17%, begitu pun dengan FREN sekitar 10%. “Jika XL dan Smartfren digabungkan, pangsa pasar menjadi 27%,” imbuhnya.
Pada pertengahan 2024, kata Nik, perusahaan tidak ada rencana untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan XL Axiata dari aksi merger tersebut.
“Saat ini, tidak ada rencana dalam hal PHK karyawan,” kata Nik.
Di sisi lain, Nik menuturkan bahwa ancaman terbesar terhadap angkatan kerja adalah tingkat digitalisasi, otomatisasi, serta kecerdasan buatan (AI). Meski ancaman itu tidak terjadi sekarang.
Meski demikian, Nik menyampaikan bahwa semua orang dibutuhkan untuk mendukung proses penggabungan alias merger.
“Rencana awalnya semua orang dibutuhkan untuk mendorong merger dan juga menuju integrasi merger,” ujarnya.
Hak Pekerja
Berbeda, Sekjen Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia Saepul Tavip menilai bahwa penggabungan kedua perusahaan tersebut akan sangat berdampak terhadap bisnis & reorganisasi perusahaan.
Jumlah pegawai akan membengkak yang berdampak pada perampingan untuk sejumlah posisi yang tumpang tindih.
“Akan terjadi overlapping terhadap sejumlah posisi jabatan dari kedua perusahaan tersebut, sehingga akan terjadi seleksi ulang terhadap personil yang diperlukan untuk menduduki posisi-posisi tersebut. Jika XL Axiata sebagai leading corporation, maka kemungkinan yang akan diseleksi adalah para karyawan yang berasal dari Smarfren,” kata Tavip kepada Bisnis.
Kompensasi
Tavip menuturkan bagi karyawan yang tidak lulus seleksi, atau dalam satu unit kerja terjadi redundant, maka para karyawan tersebut akan terkena PHK.
Sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah No.35 tahun 2021, ujarnya, maka karyawan yang terdampak PHK berhak atas uang pesangon & uang penghargaan masa kerja masing sebesar 1x tergantung masa kerja dari masing-masin karyawan.
“Namun, apabila ada itikad baik dari perusahaan, bisa saja diberikan kompensasi yang nilainya diatas ketentuan normatif (PP 35/2021),” kata Tavip.
Dia juga berpesan agar para direksi melibatkan karyawan XL dan Smartfren sebelum melebur. Beberapa perusahaan mengalami sedikit kesulitan merger karena mengabaikan keterlibatan dan pemenuhan hak-hak karyawannya
Sebaliknya, perusahaan-perusahaan yang sukses melakukan aksi korporasi merger karena proses aksi korporasinya dilakukan secara hati-hati dengan melibatkan keterlibatan karyawannya termasuk pemenuhan hak-hak-hak karyawannya.
Karyawan seringkali terkena dampak negatif dalam aksi merger karena beberapa faktor seperti efisiensi biaya operasional, prioritas penguatan aset bukan karyawan, hingga keterbatasan komunikasi di internal.
“Jika di perusahaan tersebut ada serikat pekerja, maka perusahaan wajib merundingkannya dengan serikat pekerja yang ada,” kata Tavip.
Reli Saham TOWR hingga TBIG di Tengah Rencana Merger EXCL - FREN
Rencana merger XL Axiata (EXCL) dan Smartfren Telecom (FREN) disambut positif oleh deretan emiten menara. [636] url asal
#merger #merger-excl-fren #merger-xl-dan-fren #merger-xl-fren #emiten-menara #merger-excl-dan-fren #merger-smartfren #merger-xl #merger-smartfren-dan-excl #smartfren #xl #smartfren-excl #smartfren-xl
(Bisnis.Com - Market) 30/08/24 21:23
v/14832033/
Bisnis.com, JAKARTA - Rencana merger dua emiten telekomunikasi PT XL Axiata Tbk. (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) disambut positif oleh deretan emiten menara di tengah kinerja saham yang beragam.
Berdasarkan data RTI Business, harga saham emiten menara milik Grup Djarum, PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) menguat 0,6% pada perdagangan akhir pekan atau akhir bulan ini, Jumat (30/8/2024) ke level Rp835 per lembar. Harga saham TOWR naik 3,09% dalam sepekan. Meskipun, harga saham TOWR masih di zona merah, turun 15,66% sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YtD).
Harga sagam PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) stagnan di level Rp1.925 pada perdagangan hari ini. Dalam sepekan, harga saham TBIG naik 0,26%. Sementara, TBIG mencatatkan harga saham yang turun 7,89% YtD.
PT Link Net Tbk. (LINK) mencatatkan penurunan harga saham 0,56% ke Rp1.760. Harga saham LINK turun 2,22% dalam sepekan dan naik 32,83% ytd.
Sementara itu, harga saham deretan emiten menara lainnya yakni PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL), PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA), dan PT Bali Towerindo Sentra Tbk. (BALI) jeblok.
Harga saham MTEL turun 0,75% ke level Rp665 pada perdagangan hari ini. MTEL mencatatkan penurunan harga saham 1,48% dalam sepekan dan penurunan harga saham 5,67% ytd.
MORA dan BALI masing-masing mencatatkan penurunan harga saham 2,34% serta 2,96% dalam sepekan. Sepanjang tahun berjalan, MORA dan BALI masing-masing mencatatkan penurunan harga saham 7,52% ytd dan 0,61% ytd.
Reli saham deretan emiten menara itu terjadi di tengah semakraknya aksi korporasi emiten telekomunikasi. EXCL-FREN tengah berencana untuk merger.
Aksi korporasi itu pun disambut positif oleh deretan emiten menara. Direktur TOWR Indra Gunawan mengatakan aksi korporasi di Industri telekomunikasi yang marak terjadi belakangan ini bakal berdampak baik bagi kinerja perseroan.
"Kami sangat bersyukur dengan semaraknya aksi korporasi. Kami melihat bahwa dari beberapa aksi korporasi itu memberikan dampak signifikan. Terbukti, ada penambahan jumlah menara," katanya dalam Pubex Live 2024 pada Rabu (28/8/2024).
Menurutnya, dengan bergabungnya dua entitas bisnis, maka kemampuan finansial pun lebih kuat. Permintaan akan layanan tower pun semakin meningkat. "Dampaknya, dengan merger punya jangkauan yang besar. Ini memberikan dampak positif terhadap TOWR," ujar Indra.
Direktur Investasi dan Sekretaris Perusahaan Mitratel Hendra Purnama juga mengatakan dalam jangka menengah-panjang konsolidasi operator seluler akan mendorong kesehatan industri telekomunikasi, yang artinya akan berdampak positif terhadap industri menara.
"Untuk itu, kami yakin ke depan kebutuhan infrastruktur telco seperti Menara dan fiber akan semakin dibutuhkan untuk akselerasi perluasan jaringan dari mobile network operator," kata Hendra kepada Bisnis pada Mei lalu (27/5/2024).
Presiden Direktur Tower Bersama Infrastructure Herman Setya Budi mengatakan merger operator seluler yakni EXCL-FREN bukan merupakan yang pertama kali terjadi di Indonesia. Menurutnya, dua tahun lalu juga terjadi merger antara PT Indosat Tbk. (ISAT) dan Hutchison 3 Indonesia.
"Kalau saya melihat, merger ini akan membuat industri telekomunikasi semakin sehat, sehingga medium long term akan bagus," kata Herman dalam paparan publik TBIG di Jakarta, pada Mei lalu (30/5/2024).
Dia melanjutkan, bagi TBIG, memang akan terjadi pengurangan infrastruktur dan sebagainya dari EXCL-FREN dalam jangka pendek. Akan tetapi, lanjutnya pada saat yang sama akan terjadi pertumbuhan.
Dengan semakin sehatnya operator seluler, TBIG melihat efek dari merger EXCL-FREN ini akan sangat baik dalam jangka menengah dan panjang.
Sementara itu, EXCL dan FREN diketahui telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) tidak mengikat pada 15 Mei 2024, terkait dengan rencana menciptakan entitas baru.
Jika proses penggabungan usaha berjalan mulus, dipastikan ada satu pihak yang bakal bertahan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai surviving entity atau entitas yang menerima penggabungan usai proses merger selesai.
Dalam perkembangan terbarunya, guna memuluskan merger, EXCL dan FREN dikabarkan telah menunjuk penjamin emisi yakni CIMB dan Citigroup. Hadirnya penjamin emisi meningkatkan peluang merger kedua pemain telekomunikasi itu terus bergulir.