#30 tag 24jam
Mitratel (MTEL) - Airbus Bikin BTS Terbang, Babak Baru Bisnis Menara
Mitratel meneken MoU dengan Aalto (Airbus) dalam pengembangan teknologi Haps Zephyr atau BTS terbang untuk menghadirkan internet di daerah rural [1,112] url asal
#mitratel #mtel #airbus #bts-terbang #bisnis-menara #mitratel-mtel-airbus-bikin-bts-terbang #babak-baru-bisnis-menara
(Bisnis.Com - Teknologi) 02/08/24 07:00
v/12969956/
Bisnis.com, JAKARTA - Persaingan menara telekomunikasi memasuki babak baru saat PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel dan AALTO HAPS Ltd. (AALTO), produsen dan operator High Altitude Platform Station (HAPS) bertenaga surya Zephyr, menjalin nota kesepahaman untuk menjajaki penyediaan solusi HAPS komersial di Indonesia.
Zephyr yang merupakan Flyng Tower System (FTS) atau biasa disebut BTS Terbang, menyediakan layanan konektivitas seluler, termasuk 5G, langsung ke perangkat. Pesawat nirawak ini mampu terbang di ketinggian 18-20 kilometer, yang kemudian memberikan layanan internet dengan latensi lebih rendah.
Dalam laman resminya, Aalto mengeklaim latensi Zephyr 5-10 milidetik jauh lebih rendah dibandingkan dengan Starlink yang berkisar 50 milidetik ke atas.
Aalto juga menyebut Haps dapat menjadi solusi konektivitas 4G dan 5G di lokasi- lokasi yang sulit dijangkau, khususnya di daerah terpencil.
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan kerja sama ini merupakan upaya perusahaan dalam mendukung rencana pemerintah Indonesia untuk memberikan akses yang merata terhadap telekomunikasi berkualitas bagi seluruh masyarakat.
Akses internet dapat meningkatkan kualitas hidup sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.
“Kami merintis berbagai inisiatif dan mengadopsi teknologi baru yang memungkinkan Mitratel untuk memperluas jaringannya secara efektif, dengan mengembangkan jalur industri dan komersial untuk HAPS dan Flying Tower System (FTS) di Indonesia,” kata lelaki yang akrab disapa Teddy, dikutip Kamis (1/8/2024).

Teddy meyakini bahwa kolaborasi dengan AALTO akan memperluas infrastruktur yang ada untuk meningkatkan akses terhadap konektivitas yang terjangkau dan efektif di seluruh wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
Chief Executive Officer AALTO Samer Halawi mengatakan Zephyr berada di ujung tombak teknologi berkelanjutan, dengan kemampuan konektivitas dan pengamatan yang dapat membantu menjembatani kesenjangan digital di Indonesia.
Anak usaha Airbus itu menilai terdapat peluang bagi jaringan non-terestrial seperti HAPS untuk terlibat dalam ekosistem telekomunikasi di Indonesia, dengan meningkatkan infrastruktur yang sudah ada dari operator seluler dan perusahaan menara.
“Mitratel terus menjadi pemimpin pasar yang inovatif, dengan menyadari potensi layanan yang dapat mengubah permainan dari stratosfer. Fokus kami saat ini adalah memperdalam kerja sama dengan Mitratel untuk membangun ekosistem HAPS yang kohesif di Indonesia,” kata Halawi.
Diketahui, Mitratel sebagai perusahaan infrastruktur telekomunikasi digital, saat ini memiliki lebih dari 38.000 menara dan lebih dari 37.000 KM fiber optic. Kerja sama dengan AALTO akan menghasilkan layanan baru yang dapat mengubah dunia dari stratosfer, yang akan mendukung transformasi konektivitas seluler dan observasi bumi.
Fungsi Haps
Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional Mastel Sigit Puspito Wigati Jarot mengatakan Non-Terestrial Network (NTN ) - termasuk satelit, HAPS, HIBS dan lain sebagainya - menjadi perhatian negara-negara global untuk konektivitas masa depan, karena diperkirakan mampu mengambil perang pelengkap terhadap BTS terestrial.
Pada era 5G-Advanced dan 6G, perhatian terhadap NTN ini makin meningkat.
“Apalagi seperti Indonesia, yang kondisi alamnya memang cukup menantang untuk mampu mencakup seluruh geografisnya,” kata Sigit.
Dia melanjutkan jika dibandingkan satelit, maka HAPS ini ketinggianya antar 18-22 KM, sehingga dalam hal latensi tentunya jauh lebih rendah daripada satelit.
HAPS sendiri ada beberapa jenis, ada yang dengan baloon, dengan aircraft, dan lain-lain. HAPS dinilai potensial untuk coverage area greenfield dan untuk benda yang terhubung dengan internet (Internet of Things/IoT).
“Kemudian untuk komunikasi saat darurat dan bencana, private network, backhaul bagi terestrial, dan lain-lain,” kata Sigit.
Namun, sambungnya, teknologi ini juga memiliki tantangan yaitu terkait daya listrik dan metode agar dapat menjaga di ketinggian yang ditetapkan.
Babak Baru Bisnis Menara
Dia juga mengatakan bahwa teknologi akses ke depan akan makin banyak pilihan. Sudah sewarjarnya bagi operator utnuk terus melakukan identifikasi potensi teknologi-teknologi baru.
“Demikian juga bagi pemerintah untuk aspek regulasinya, baik regulasi spektrum, regulasi penyelenggaraan, peluang usaha dan lain-lain,” kata Sigit.
Uji Coba
Dosen Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung Ian Josef Matheus Edward mengatakan bahwa BTS terbang dapat menjadi alternatif dalam memberikan konektivitas di daerah yang sulit dijangkau atau daerah rural.
Namun, untuk mengimplementasikan teknologi ini pemerintah dan Mitratel perlu melakukan uji coba terlebih dahulu dan memastikan bahwa frekuensi Haps tidak mengganggu pemain eksisting.
“Frekuensi yang digunakan sudah diperoleh dan diujicobakan tanpa mengganggu yang ada,” kata Ian kepada Bisnis, Kamis (1/8/2024).

Ian menambahkan meski demikian dengan posisi Haps yang lebih rendah dibandingkan Starlink, maka redaman latensi akan makin kecil sehingga waktu respons perangkat akan lebih baik dibandingkan dengan internet berbasis Starlink.
Sementara itu, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi meyakini bahwa Haps memiliki potensi yang besar untuk mendorong pemerataan jaringan internet di Indonesia. Haps juga dapat menggantikan BTS yang selama ini sulit untuk dihadirkan di daerah pedalaman yang terjal.
Hanya saja, Heru berpendapat, potensi tersebut belum terlihat, nampak dari negara-negara global yang hingga saat ini juga masih mengembangkan teknologi BTS terbang tersebut.
Terbaru, konsorsium Jepang menginvestasikan dana sebesar Rp1,6 triliun untuk membangun Haps Aalto yang ditargetkan beroperasi pada 2026.
Perbedaan Haps vs Starlink
Dilansir dari berbagai sumber, terdapat lima perbedaan antara Haps Zephyr dengan Starlink, mulai dari ketinggian, cakupan layanan, metode konektivitas, latensi hingga ongkos operasional per titik daerah rural.
Ketinggian
HAPS Zephyr terbang pada ketinggian 18 - 20 kilometer di atas permukaan bumi. jika dibandingkan dengan satelit LEO, yang rata-rata terbang di ketinggian 500 - 2.000 kilometer, maka HAPS Zephyr jauh lebih rendah.
Adapun Starlink terbang di ketinggian 550 kilometer di atas permukaan bumi. Elon Musk sempat berencana menurunkan ketinggian Starlink menjadi 300 kilometer.
Cakupan
Dengan jumlah satelit yang telah mencapai lebih dari 5.000 satelit, Starlink memiliki cakupan yang lebih luas. Tidak hanya itu, dengan daya terbang yang lebih tinggi dari Haps, Starlink memiliki cakupan yang lebih luas per satelitnya, Belum diketahui dengan pasti jangkauan layanan masing-masing teknologi.
Konektivitas
Kemudian untuk menerima akses internet yang disuntikan masing-masing perangkat, Haps memiliki keunggulan yaitu dapat langsung terhubung ke smartphone pengguna. Sementara itu untuk terhubung ke internet Starlink, pengguna membutuhkan perangkat penangkap sinyal berupa dish, yang harus terhubung ke listrik, setelah itu penangkap sinyal (terminal) akan menyebarkan internet ke beberapa perangkat smartphone tergantung paket yang digunakan.
Latensi
Dari sisi latensi, Haps Zephyr dikabarkan memiliki latensi yang lebih rendah yaitu 5-10 milidetik, sementara itu Starlink sekitar 50 milidetik. Hal ini disebabkan ketinggian masing-masing wahana berbeda.
Ongkos
Kemudian untuk ongkos ke daerah rural, Haps Zephyr mengeklaim bahwa mereka lebih murah dibandingkan dengan Starlink. Jika Starlink membutuhkan ongkos sekitar ribuan dollar Amerika Serikat (AS) untuk melayani per titik daerah rural, Haps hanya menghabiskan tidak lebih dari 10 dollar (AS).
Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward memiliki pendapat lain. Dia menilai ongkos Haps bisa lebih mahal karena waktu terbang Haps singkat tidak sampai 1 tahun. Sementara Starlink bisa 6-7 tahun.
Haps Zephyr Aalto sendiri bukanlah teknologi baru dalam hal konektivitas internet. Pada Mei 2024, konsorsium Jepang menginvestasikan dana sebesar Rp1,6 triliun untuk pengembangan Haps Zephyr milik Airbus.
