#30 tag 24jam
Sistem Menara Terbang Airbus Gantikan BTS? Bos Mitratel (MTEL) Beri Penjelasan
Mitratel menyampaikan bahwa FTS tidak akan menggantikan BTS, terlebih di perkotaan. Bos Mitratel memberi penjelasan mengapa hal tersebut terjadi [670] url asal
#mitratel #fts #bts-terbang #airbus #jaringan-teresterial #bts #haps-pengganti-bts #teknologi #telekomunikasi #sistem-menara-terbang-fts-airbus-gantikan-bts-bos-mitratel-beri-penjelasan
(Bisnis.Com - Teknologi) 06/08/24 10:20
v/13490472/
Bisnis.com, MANGGARAI BARAT - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel menilai teknologi Flying Tower System (FTS) atau pesawat nirawak bertenaga surya milik Aalto (Airbus) akan menjadi pelengkap bagi infrastruktur terestrial.
Teknologi ini akan berperan krusial dalam menghadirkan internet di daerah rural dan menjaga kedaulatan wilayah kelautan Indonesia.
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan bahwa FTS milik Aalto, anak usaha Airbus, tidak akan menggantikan infrastruktur base transceiver station (BTS) .
“Apakah ini nanti akan menggantikan jaringan terestrial yang ada di bawah? tidak juga 100 persen menggantikan. Tetap infrastruktur teresterial itu ada terutama di kota-kota besar,” kata lelaki yang akrab disapa Teddy, Selasa (6/8/2024).
Teddy mengatakan daerah perkotaan membutuhkan layanan telekomunikasi yang kuat dan stabil, yang dapat diberikan melalui serat optik.
Mitratel sendiri menaruh perhatian dalam penggelaran serat optik dengan terus memperbanyak serat optik yang terhubung ke menara (fiber to the tower/FTTT) yang panjangnya mencapai 37.602 kilometer. Perusahaan berencana menambah 14.000 kilometer serat optik sepanjang 2024.
“Infrastruktur serat optik yang telah tersebar luas secara keandalan memang masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan non-terrestrial network (satelit dan Haps)” kata Teddy.
Dia mengatakan bahwa Indonesia memiliki geografis yang beragam, dengan 60%-70% wilayah Indonesia merupakan lautan.
Lautan tersebut membutuhkan dukungan akses internet untuk menjalankan aktivitas dan juga butuh infrastruktur internet untuk menjaga dan mengawasi wilayah lautan yang luas.
Infrastruktur yang dapat mendukung hal itu di lautan, kata Teddy, adalah infrastruktur yang berada di luar jaringan teresterial seperti serat optik, microwave hingga BTS.
Mitratel menjajaki peluang untuk melayani daerah tersebut dengan memanfaatkan FTS Aalto.
FTS ini nantinya tidak hanya dapat memberikan akses internet ke smartphone pelanggan, juga untuk sensor mesin atau perangkat yang digerakan oleh internet (IoT).
FTS juga dapat membantu menjaga kedaulatan Indonesia yang wilayahnya dikelilingi lautan.
FTS dapat menangkap objek lebih detail dibandingkan dengan satelit karena titik terbang FTS jauh lebih rendah dibandingkan dengan satelit LEO apalagi GEO.
Sementara itu untuk investasi perangkat ini, Teddy belum dapat memberitahu karena teknologi FTS masih dalam tahap pengembangan.
“Investasi masih terlalu dini. Kami juga masih memberikan respons kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi oleh calon mitra teknologi kami, yang jelas kami melihat ada peluang pasar yang besar melengkapi infrastruktur terestrial,” kata Teddy.

Mitratel dan AALTO HAPS Ltd. (AALTO), produsen dan operator High Altitude Platform Station (HAPS) bertenaga surya Zephyr, telah menjalin nota kesepahaman untuk menjajaki penyediaan solusi HAPS komersial di Indonesia.
Zephyr yang merupakan Flying Tower System (FTS) atau biasa disebut BTS Terbang, menyediakan layanan konektivitas seluler, termasuk 5G, langsung ke perangkat. Pesawat nirawak ini mampu terbang di ketinggian 18-20 kilometer, yang kemudian memberikan layanan internet dengan latensi lebih rendah.
Dalam laman resminya, Aalto mengklaim latensi Zephyr 5-10 milidetik jauh lebih rendah dibandingkan dengan Starlink yang berkisar 50 milidetik ke atas.
Aalto juga menyebut Haps dapat menjadi solusi konektivitas 4G dan 5G di lokasi- lokasi yang sulit dijangkau, khususnya di daerah terpencil.
Sementara itu, sejumlah operator menyatakan tertarik untuk memanfaatkan FTS.
Sambut Positif
PT Indosat Tbk. (ISAT) terbuka untuk memanfaatkan teknologi Flying Tower System (FTS) atau BTS Terbang yang disediakan oleh Mitratel (MTEL) bekerja sama dengan Airbus. Perusahaan akan terus memantau perkembangan dari teknologi tersebut.
“Perusahaan senantiasa terbuka terhadap penerapan teknologi baru untuk mempercepat pemerataan akses internet dan digitalisasi di Tanah Air,” kata SVP Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison Steve Saerang kepada Bisnis, Jumat (2/8/2024).
Steve mengatakan strategi ini sejalan dengan misi Indosat dalam menghadirkan pengalaman digital kelas dunia, menghubungkan dan memberdayakan masyarakat Indonesia.
Indosat, lanjut Steve, secara berkala mengkaji strategi untuk memperluas dan meningkatkan kualitas jaringan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan.
“Termasuk mengimplementasikan berbagai inovasi teknologi terkini pada infrastruktur jaringan kami,” kata Steve.
Sementara itu, Group Head Network Planning & Design XL Axiata Fadly Hamka mengatakan sebagai salah satu operator seluler FTS atau Haps dapat menjadi solusi inovatif untuk memperluas jangkauan jaringan dan mengatasi kesenjangan digital, namun demikian ada beberapa tantangan teknis yang harus diperhatikan sebelum melakukan adopsi teknologi ini.
“Misalnya daya tahan dan sumber energi, biaya pengembangan dan operasional serta regulasi penerbangan dan spektrum,” kata Fadly.
Mitratel (MTEL) Beberkan Cara Kerja FTS Haps Aalto, untuk IoT hingga Keamanan
Mitratel menyampaikan bahwa Haps Aalto merupakan sebuah pesawat nirawak yang dapat mengangkut berbagai inovasi teknologi [736] url asal
#mitratel #mtel #bts-terbang #fts #teknologi-bts-terbang-mitratel #mitratel-mtel-beberkan-cara-kerja-fts-haps-aalto #bukan-bts-terbang
(Bisnis.Com - Teknologi) 06/08/24 06:40
v/13471669/
Bisnis.com, MANGGARAI BARAT - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel menjelaskan bahwa pesawat nirawak bertenaga surya milik Aalto tidak sama dengan base transceiver station (BTS) Terbang. Teknologi Zephyr High Altitude Platform Station (Zephyr HAPS) lebih cocok disebut Flying Tower System (FTS), yang dapat membantu sensor Internet of Things (IoT) hingga Keamanan.
Direktur Bisnis Mitratel Agus Winarno mengatakan bahwa teknologi ini kemungkinan bukan tentang menempatkan BTS di atas pesawat.
BTS milik operator seluler tetap dapat diletakan di bawah sementara Haps hanya mengangkut antena serta perangkat-perangkat untuk memantulkan sinyal internet yang ditembakan dari bawah.
“Sehingga kami mengambil terminologi FTS,” kata Agus, Senin (5/7/2024).
Agus mengatakan bahwa saat ini teknologi jaringan non-terrestrial terbagi atas beberapa teknologi mulai dari satelit GEO yang berada di ketinggian 36.000 kilometer di atas permukaan bumi, Medium Earth Orbit (MEO) di ketinggian 2.000-36.000 Km, LEO pada ketinggian 500-2.000 Km, dan Haps di ketinggian 20-50 kilometer.
Agus menjelaskan makin rendah ketinggian terbang suatu teknologi maka kemampuan dalam mengantarkan bandwidth atau internet ke suatu titik akan makin bagus dan latensi makin kecil.
“Jadi kalau Haps bisa masuk maka akan banyak kasus pemanfaatan (use case) yang bisa dilahirkan,” kata Agus.
Mitratel mencoba melakukan sejumlah eksplorasi mengenai manfaat teknologi ini ke depan. Alhasil, perusahaan menemukan bahwa FTS Aalto dapat dipakai tidak hanya untuk konektivitas internet bergerak (seluler) saja, juga untuk kebutuhan lain.
Sebagai contoh, teknologi ini dapat membantu pemerintah dalam melakukan pengawasan dan keamanan, jaringan untuk sensor-sensor IoT yang berada di daerah rural, melahirkan kota cerdas, dan lain sebagainya.
Dengan berada pada ketinggian tertentu dan terbang dalam waktu lama, Haps dapa memantau pergerakan obyek yang berada di bawahnya dengan daya tangkap gambar (foto) yang lebih tajam dibandingkan dengan satelit. Alhasil, pemerintah dapat mengetahui obyek masuk dan keluar dari teknologi ini.
“Penggunanya dari segmen ritel, enterprise, pemerintahan hingga operator telekomunikasi,” kata Agus.
Agus menuturkan solusi ini cocok untuk daerah rural dan pedalaman yang selama ini membutuhkan ongkos besar untuk menghadirkan jaringan internet di wilayah tersebut.

Haps Aalto akan memangkas ongkos operator dalam menggelar serat optik ke daerah rural.
Selain menawarkan beragam solusi baru, Haps Aalto juga berpeluang membuka lebih banyak lapangan kerja karena teknologi ini membutuhkan beberapa dukungan seperti pusat kontrol, landasan pacu hingga bengkel.
“Kebutuhan komunikasi data di tengah laut dan lain sebagainya juga saat ini LEO, GEO dan lain sebagainya, dengan Haps seharusnya menjadi lebih baik karena lebih rendah,” kata Agus.
Haps Aalto vs LEO
Tidak jauh berbeda dengan satelit orbit rendah (LEO) Starlink milik Elon Musk, kedua wahana ini sama-sama terbang di stratosfer atau lapisan bumi di bawah atmosfer.
Dilansir dari berbagai sumber, terdapat lima perbedaan antara Haps Zephyr dengan Starlink, mulai dari ketinggian, cakupan layanan, metode konektivitas, latensi hingga ongkos operasional per titik daerah rural.
Ketinggian
HAPS Zephyr terbang pada ketinggian 18 - 20 kilometer di atas permukaan bumi. jika dibandingkan dengan satelit LEO, yang rata-rata terbang di ketinggian 500 - 2.000 kilometer, maka HAPS Zephyr jauh lebih rendah.
Adapun Starlink terbang di ketinggian 550 kilometer di atas permukaan bumi. Elon Musk sempat berencana menurunkan ketinggian Starlink menjadi 300 kilometer.
Cakupan
Dengan jumlah satelit yang telah mencapai lebih dari 5.000 satelit, Starlink memiliki cakupan yang lebih luas per satelitnya, karena mereka terbang lebih tinggi, Namun Haps Aalto tidak kalah luas. Agus menyebutkan bahwa 1 Haps memiliki cakupan hingga 200 kilometer.
Konektivitas
Kemudian untuk menerima akses internet yang disuntikan masing-masing perangkat, Haps memiliki keunggulan yaitu dapat langsung terhubung ke smartphone pengguna. Sementara itu untuk terhubung ke internet Starlink, pengguna membutuhkan perangkat penangkap sinyal berupa dish, yang harus terhubung ke listrik, setelah itu penangkap sinyal (terminal) akan menyebarkan internet ke beberapa perangkat smartphone tergantung paket yang digunakan.
Latensi
Dari sisi latensi, Haps Zephyr dikabarkan memiliki latensi yang lebih rendah yaitu 5-10 milidetik, sementara itu Starlink sekitar 50 milidetik. Hal ini disebabkan ketinggian masing-masing wahana berbeda.
Ongkos
Kemudian untuk ongkos ke daerah rural, Haps Zephyr mengeklaim bahwa mereka lebih murah dibandingkan dengan Starlink. Jika Starlink membutuhkan ongkos sekitar ribuan dollar Amerika Serikat (AS) untuk melayani per titik daerah rural, Haps hanya menghabiskan tidak lebih dari 10 dollar (AS) karena pesawat ini tidak butuh roket untuk meluncur ke langit..
Haps Zephyr Aalto sendiri bukanlah teknologi baru dalam hal konektivitas internet. Pada Mei 2024, konsorsium Jepang menginvestasikan dana sebesar Rp1,6 triliun untuk pengembangan Haps Zephyr milik Airbus.
Kerja sama Haps Japan Corporation dengan Airbus menargetkan komersialisasi Haps pada 2026 secara global.
Mitratel (MTEL) Targetkan Komersialisasi FTS Haps Aalto pada 2026
Mitratel menargetkan komersialisasi FTS milik Haps akan terealisasi pada 2026 seiring dengan persiapan teknologi ini yang makin matang. [706] url asal
#mitratel #flying-tower-system #bts-terbang #target-komersialisasi-haps #mitratel-mtel-targetkan-komersialisasi-fts-haps-aalto-pada-2026
(Bisnis.Com - Teknologi) 06/08/24 05:35
v/13465757/
Bisnis.com, MANGGARAI BARAT - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel menargetkan komersialisasi pesawat nirawak bertenaga surya milik Aalto, anak usaha Airbus, dilakukan pada 2026.
Perkembangan teknologi Zephyr High Altitude Platform Station (Zephyr HAPS) dari Aalto ini memperlihatkan perkembangan yang signifikan.
Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama mengatakan pengembangan Haps oleh Airbus terus mengalami kemajuan yang membuat Mitratel dalam waktu 1-1,5 tahun pesawat tersebut siap dikomersialisasikan.
Saat ini, kata Hendra, payload atau daya angkut Haps Zephyr telah mencapai 75 kilogram dari target 100 kilogram. Daya angkut mempengaruhi kemampuan perangkat dalam menjalankan fungsinya karena pesawat nirawak ini nanti rencananya tidak hanya dipakai untuk konektivitas juga untuk internet of things (IoT), keamanan dan lain sebagainya.
“Sekarang [Haps] juga sudah bisa terbang 64 hari dari target 6 bulan di atas langit tanpa harus turun. Jadi mereka (Airbus) juga sudah cukup yakin dengan teknologi baterai sekarang, antena dan solar panel sehingga dalam waktu 1-1,15 tahun ke depan bisa mencapai target tersebut,” kata Hendra, Senin (5/7/2024).
Hendra menambahkan sejalan dengan teknologi Haps yang terus dikembangkan oleh Aalto, perusahaan akan memastikan bahwa teknologi nirawak tersebut beroperasi di Tanah Air sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Teknologi ini membutuhkan dukungan regulasi untuk memastikan bahwa Haps Aalto aman bagi penerbangan dan tidak mengganggu teknologi eksisting lainnya.
“Kami targetkan pada 2025 itu [Haps Aalto] sudah bisa selesai ... Jadi kami mulai bicara dengan pihak regulator,” kata Hendra.
Sekadar informasi, FTS merupakan terobosan baru dalam teknologi telekomunikasi yang menyediakan sistem layanan komunikasi dan pengawasan yang beroperasi di ketinggian stratosfer (sekitar 20 km di atas permukaan bumi), karena itu HAPS mirip dengan satelit tetapi dengan biaya operasional yang lebih rendah dan fleksibilitas yang lebih tinggi.
Dilansir dari laman resmi, Zephyr bekerja 100% dengan menggunakan tenaga ramah lingkungan yaitu matahari. Berdasarkan uji coba yang dilakukan Airbus, Zephyr mampu bertahan di Stratosfer selama 64 hari.
Sebelum memperkenalkan produk ini, Airbus telah melakukan riset mendalam, desain hingga uji coba penerbangan selama kurang lebih 20 tahun. Tidak hanya itu, Zephyr juga telah terbang mengudara selama lebih dari 4.000 jam, yang diklaim Airbus sebagai durasi terbang terlama yang pernah dilakukan oleh teknologi Haps.
Airbus menyebut Zephyr sebagai teknologi inovatif yang menawarkan solusi baru untuk mengatasi tantangan lama konektivitas dengan lebih efektif dan efisien, khususnya di daerah rural.
Wilayah terpencil dengan medan pembangunan yang terjal kerap menjadi masalah perusahaan telekomunikasi dalam menghadirkan jaringan. Perusahaan telekomunikasi harus menggunakan satelit, yang secara harga cukup mahal, untuk menghadirkan internet di wilayah pedalaman.
Dengan area cakupan sekitar 7.500 kilometer persegi, setara 250 menara, Zephyr berfungsi sebagai menara di langit yang dapat terintegrasi ke dalam jaringan operator seluler.

Respons
Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional Mastel Sigit Puspito Wigati Jarot mengatakan Non-Terestrial Network (NTN ) - termasuk satelit, HAPS, HIBS dan lain sebagainya - menjadi perhatian negara-negara global untuk konektivitas masa depan, karena diperkirakan mampu mengambil perang pelengkap terhadap BTS terestrial.
Pada era 5G-Advanced dan 6G, perhatian terhadap NTN ini makin meningkat.
“Apalagi seperti Indonesia, yang kondisi alamnya memang cukup menantang untuk mampu mencakup seluruh geografisnya,” kata Sigit.
Dia melanjutkan jika dibandingkan satelit, maka HAPS ini ketinggianya antar 18-22 KM, sehingga dalam hal latensi tentunya jauh lebih rendah daripada satelit.
HAPS sendiri ada beberapa jenis, ada yang dengan baloon, dengan aircraft, dan lain-lain. HAPS dinilai potensial untuk coverage area greenfield dan untuk benda yang terhubung dengan internet (Internet of Things/IoT).
“Kemudian untuk komunikasi saat darurat dan bencana, private network, backhaul bagi terestrial, dan lain-lain,” kata Sigit.
Namun, sambungnya, teknologi ini juga memiliki tantangan yaitu terkait daya listrik dan metode agar dapat menjaga di ketinggian yang ditetapkan.
Dia juga mengatakan bahwa teknologi akses ke depan akan makin banyak pilihan. Sudah sewarjarnya bagi operator utnuk terus melakukan identifikasi potensi teknologi-teknologi baru.
“Demikian juga bagi pemerintah untuk aspek regulasinya, baik regulasi spektrum, regulasi penyelenggaraan, peluang usaha dan lain-lain,” kata Sigit.
Dosen Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung Ian Josef Matheus Edward mengatakan bahwa BTS terbang dapat menjadi alternatif dalam memberikan konektivitas di daerah yang sulit dijangkau atau daerah rural.
Namun, untuk mengimplementasikan teknologi ini pemerintah dan Mitratel perlu melakukan uji coba terlebih dahulu dan memastikan bahwa frekuensi Haps tidak mengganggu pemain eksisting.
“Frekuensi yang digunakan sudah diperoleh dan diujicobakan tanpa mengganggu yang ada,” kata Ian.
BTS Terbang Haps Airbus Aman Bagi Penerbangan RI?
Mitratel dan Airbus perlu memastikan HAPS BTS Terbang yang sedang dikembangkan aman bagi penerbangan Indonesia. Keduanya meneken MoU untuk komersialisasi Haps. [609] url asal
#bts-terbang #mitratel #penerbangan #airbus #bts-terbang-mitratel #bts-terbang-haps-airbus-mtel-bakal-aman-bagi-penerbangan-ri
(Bisnis.Com - Teknologi) 02/08/24 13:54
v/13002033/
Bisnis.com, JAKARTA - Pakar keamanan sibe meminta pemerintah memastikan bahwa Haps Zephyr yang dikembangkan oleh Airbus nantinya tidak mengganggu keamanan penerbangan Indonesia.
Haps Zephyr akan terbang pada ketinggian 60.000 kaki atau 20 kilometer di atas permukaan bumi. Jauh lebih rendah dari Starlink yang terbang di ketinggian 500 kilometer. Ketinggian terbang Haps mendekati ketinggian terbang pesawat yang sekitar 30.000 - 40.000kaki.
Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Ardi Sutedja mengatakan konsep dari HAPS Aalto milik Airbus saat ini masih perlu dibuktikan. Meski Aalto mengeklaim berada di ketinggian 60.000 kaki dan aman dari penerbangan, perlu dibuktikan keamanan perangkat tersebut di Indonesia.
Tidak hanya itu, lanjutnya, Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas, tentunya akan menggunakan Haps dalam jumlah banyak, yang membuat wilayah udara Indonesia dikelilingi banyak Haps.
“Belum terbukti. Selain itu, badan penerbangan internasional di bawah PBB (ICAO) juga pernah menyampaikan bahwa objek terbang yang tidak terdeteksi, yang terbang di angkasa [kecuali satelit], itu susah,” kata Ardi kepada Bisnis, Jumat (2/8/2024).
Ardi juga khawatir bahwa bahan karbon fiber yang terdapat di Haps sulit dilacak oleh radar pesawat. Hal ini membuat Haps berpotensi menjadi objek yang tidak terlacak, seperti yang dikhawatirkan International Civil Aviation Organization (ICAO).
“Beberapa negara di Eropa dan Australia belum menyetujui,” kata Ardi.
Sepakat, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi meyakini bahwa Haps memiliki potensi yang besar untuk mendorong pemerataan jaringan internet di Indonesia. Haps juga dapat menggantikan BTS yang selama ini sulit untuk dihadirkan di daerah pedalaman yang terjal.
Hanya saja, Heru berpendapat, potensi tersebut belum terlihat, nampak dari negara-negara global yang hingga saat ini juga masih mengembangkan teknologi BTS terbang tersebut.
“Kita belum tahu secara real apakah ini nanti bisa menggantikan BTS? berapa banyak? keandalannya bagaimana? dimana? semua pertanyaan itu akan bisa terjawab kalau sudah trial termasuk apakah operator akan mengadopsi teknologi tersebut atau tidak?” kata Heru.
Sementara itu, Dosen Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung Ian Josef Matheus Edward mengatakan bahwa BTS terbang dapat menjadi alternatif dalam memberikan konektivitas di daerah yang sulit dijangkau atau daerah rural.
Namun, untuk mengimplementasikan teknologi ini pemerintah dan Mitratel perlu melakukan uji coba terlebih dahulu dan memastikan bahwa frekuensi Haps tidak mengganggu pemain eksisting.
“Frekuensi yang digunakan sudah diperoleh dan diujicobakan tanpa mengganggu yang ada,” kata Ian kepada Bisnis, Kamis (1/8/2024).
Ian menambahkan meski demikian dengan posisi Haps yang lebih rendah dibandingkan Starlink, maka redaman latensi akan makin kecil sehingga waktu respons perangkat akan lebih baik dibandingkan dengan internet berbasis Starlink.
Sebelumnya, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. dan AALTO HAPS Ltd. (AALTO), produsen dan operator High Altitude Platform Station (HAPS) bertenaga surya Zephyr, menjalin nota kesepahaman untuk menjajaki penyediaan solusi HAPS komersial di Indonesia.
Zephyr yang merupakan Flyng Tower System (FTS) atau biasa disebut BTS Terbang, menyediakan layanan konektivitas seluler, termasuk 5G, langsung ke perangkat. Pesawat nirawak ini mampu terbang di ketinggian 18-20 kilometer, yang kemudian memberikan layanan internet dengan latensi lebih rendah.
Dalam laman resminya, Aalto mengeklaim latensi Zephyr 5-10 milidetik jauh lebih rendah dibandingkan dengan Starlink yang berkisar 50 milidetik ke atas.
Aalto juga menyebut Haps dapat menjadi solusi konektivitas 4G dan 5G di lokasi- lokasi yang sulit dijangkau, khususnya di daerah terpencil.
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan kerja sama ini merupakan upaya perusahaan dalam mendukung rencana pemerintah Indonesia untuk memberikan akses yang merata terhadap telekomunikasi berkualitas bagi seluruh masyarakat.
Akses internet dapat meningkatkan kualitas hidup sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.
“Kami merintis berbagai inisiatif dan mengadopsi teknologi baru yang memungkinkan Mitratel untuk memperluas jaringannya secara efektif, dengan mengembangkan jalur industri dan komersial untuk HAPS dan Flying Tower System (FTS) di Indonesia,” kata lelaki yang akrab disapa Teddy, dikutip Kamis (1/8/2024).
Indosat (ISAT) Terbuka Adopsi ‘BTS Terbang’ Haps Airbus - MTEL
Indosat terbuka atas hadirnya teknologi baru di Tanah Air termasuk BTS Terbang yang bakal disediakan oleh Mitratel. [444] url asal
#indosat #isat #haps #mitratel #bts-terbang #teknologi-bts-terbang #indosat-isat-terbuka-adopsi-bts-terbang-haps-airbus-mtel
(Bisnis.Com - Teknologi) 02/08/24 09:56
v/12985004/
Bisnis.com, JAKARTA - PT Indosat Tbk. (ISAT) terbuka untuk memanfaatkan teknologi Flying Tower System (FTS) atau BTS Terbang yang disediakan oleh Mitratel (MTEL) bekerja sama dengan Airbus. Perusahaan akan terus memantau perkembangan dari teknologi tersebut.
“Perusahaan senantiasa terbuka terhadap penerapan teknologi baru untuk mempercepat pemerataan akses internet dan digitalisasi di Tanah Air,” kata SVP Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison Steve Saerang kepada Bisnis, Jumat (2/8/2024).
Steve mengatakan strategi ini sejalan dengan misi Indosat dalam menghadirkan pengalaman digital kelas dunia, menghubungkan dan memberdayakan masyarakat Indonesia.
Indosat, lanjut Steve, secara berkala mengkaji strategi untuk memperluas dan meningkatkan kualitas jaringan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan.
“Termasuk mengimplementasikan berbagai inovasi teknologi terkini pada infrastruktur jaringan kami,” kata Steve.
Sebelumnya, Indosat menambah 22.000 Base Transceiver Station atau BTS 4G pada semester I/2024. Adapun total belanja modal (capital expenditure/capex) yang diserap mencapai Rp4,52 triliun
Dari serapan capex tersebut, sekitar 89,8% telah dialokasikan untuk layanan seluler guna mendukung permintaan pertumbuhan layanan data. Selebihnya dialokasikan untuk layanan multimedia, internet, dan komunikasi data (MIDI), serta teknologi informasi.
Presiden Director dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menyatakan bahwa sebagai salah penguatan bisni inti, ISAT menambah sekitar 22.000 BTS 4G sepanjang semester I/2024. Secara keseluruhan, perseroan telah mengoperasikan 188.000 BTS 4G.
“Ekspansi signifikan ini dilengkapi dengan penyebaran 103 BTS 5G, yang menegaskan komitmen Indosat untuk memajukan infrastruktur jaringannya,” ujarnya, Selasa (30/7/2024).
Peningkatan cakupan dan kapasitas berdampak langsung pada rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) untuk pelanggan seluler, yang naik 10,5% year-on-year (YoY) menjadi Rp37.900. Hal ini dinilai memperkuat posisi ISAT di pasar telekomunikasi dalam negeri.
Direktur Indosat Ooredoo Hutchison Nicky Lee mengatakan bahwa meski serapan capex cenderung melambat pada Juni lalu, perseroan tetap berkomitmen meningkatkan belanja modal untuk mengembangkan jaringan dan pengalaman para pelanggan pada paruh kedua.
Hingga semester I/2024, Indosat telah membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp2,73 triliun atau naik 43,3% secara tahunan. Sejalan dengan kenaikan laba, kinerja pendapatan ISAT juga meningkat 13,38% YoY menjadi Rp27,9 triliun.
Pendapatan perseroan didorong oleh kinerja bisnis selular yang membukukan perolehan sebesar Rp23,6 triliun, lalu bisnis multimedia, komunikasi data, internet mencapai Rp3,9 triliun, sedangkan telekomunikasi tetap senilai Rp458,8 miliar.
Indosat juga mencatatkan EBITDA senilai Rp13,41 triliun alias tumbuh 17,8% YoY. Marjin EBITDA yang mencapai 47,9% pada semester I/2024, menegaskan kemampuan ISAT untuk mengonversi pendapatan menjadi keuntungan secara efisien.
Dari sisi basis pelanggan, ISAT membukukan kenaikan 900.000 pelanggan baru atau secara total mencapai 100,9 juta pelanggan hingga akhir Juni 2024. Pertumbuhan ini berkontribusi pada peningkatan lalu lintas data yang naik 13,4% YoY menjadi 7.965 Petabyte (PB).
Mitratel (MTEL) - Airbus Bikin BTS Terbang, Babak Baru Bisnis Menara
Mitratel meneken MoU dengan Aalto (Airbus) dalam pengembangan teknologi Haps Zephyr atau BTS terbang untuk menghadirkan internet di daerah rural [1,112] url asal
#mitratel #mtel #airbus #bts-terbang #bisnis-menara #mitratel-mtel-airbus-bikin-bts-terbang #babak-baru-bisnis-menara
(Bisnis.Com - Teknologi) 02/08/24 07:00
v/12969956/
Bisnis.com, JAKARTA - Persaingan menara telekomunikasi memasuki babak baru saat PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel dan AALTO HAPS Ltd. (AALTO), produsen dan operator High Altitude Platform Station (HAPS) bertenaga surya Zephyr, menjalin nota kesepahaman untuk menjajaki penyediaan solusi HAPS komersial di Indonesia.
Zephyr yang merupakan Flyng Tower System (FTS) atau biasa disebut BTS Terbang, menyediakan layanan konektivitas seluler, termasuk 5G, langsung ke perangkat. Pesawat nirawak ini mampu terbang di ketinggian 18-20 kilometer, yang kemudian memberikan layanan internet dengan latensi lebih rendah.
Dalam laman resminya, Aalto mengeklaim latensi Zephyr 5-10 milidetik jauh lebih rendah dibandingkan dengan Starlink yang berkisar 50 milidetik ke atas.
Aalto juga menyebut Haps dapat menjadi solusi konektivitas 4G dan 5G di lokasi- lokasi yang sulit dijangkau, khususnya di daerah terpencil.
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan kerja sama ini merupakan upaya perusahaan dalam mendukung rencana pemerintah Indonesia untuk memberikan akses yang merata terhadap telekomunikasi berkualitas bagi seluruh masyarakat.
Akses internet dapat meningkatkan kualitas hidup sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.
“Kami merintis berbagai inisiatif dan mengadopsi teknologi baru yang memungkinkan Mitratel untuk memperluas jaringannya secara efektif, dengan mengembangkan jalur industri dan komersial untuk HAPS dan Flying Tower System (FTS) di Indonesia,” kata lelaki yang akrab disapa Teddy, dikutip Kamis (1/8/2024).

Teddy meyakini bahwa kolaborasi dengan AALTO akan memperluas infrastruktur yang ada untuk meningkatkan akses terhadap konektivitas yang terjangkau dan efektif di seluruh wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
Chief Executive Officer AALTO Samer Halawi mengatakan Zephyr berada di ujung tombak teknologi berkelanjutan, dengan kemampuan konektivitas dan pengamatan yang dapat membantu menjembatani kesenjangan digital di Indonesia.
Anak usaha Airbus itu menilai terdapat peluang bagi jaringan non-terestrial seperti HAPS untuk terlibat dalam ekosistem telekomunikasi di Indonesia, dengan meningkatkan infrastruktur yang sudah ada dari operator seluler dan perusahaan menara.
“Mitratel terus menjadi pemimpin pasar yang inovatif, dengan menyadari potensi layanan yang dapat mengubah permainan dari stratosfer. Fokus kami saat ini adalah memperdalam kerja sama dengan Mitratel untuk membangun ekosistem HAPS yang kohesif di Indonesia,” kata Halawi.
Diketahui, Mitratel sebagai perusahaan infrastruktur telekomunikasi digital, saat ini memiliki lebih dari 38.000 menara dan lebih dari 37.000 KM fiber optic. Kerja sama dengan AALTO akan menghasilkan layanan baru yang dapat mengubah dunia dari stratosfer, yang akan mendukung transformasi konektivitas seluler dan observasi bumi.
Fungsi Haps
Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional Mastel Sigit Puspito Wigati Jarot mengatakan Non-Terestrial Network (NTN ) - termasuk satelit, HAPS, HIBS dan lain sebagainya - menjadi perhatian negara-negara global untuk konektivitas masa depan, karena diperkirakan mampu mengambil perang pelengkap terhadap BTS terestrial.
Pada era 5G-Advanced dan 6G, perhatian terhadap NTN ini makin meningkat.
“Apalagi seperti Indonesia, yang kondisi alamnya memang cukup menantang untuk mampu mencakup seluruh geografisnya,” kata Sigit.
Dia melanjutkan jika dibandingkan satelit, maka HAPS ini ketinggianya antar 18-22 KM, sehingga dalam hal latensi tentunya jauh lebih rendah daripada satelit.
HAPS sendiri ada beberapa jenis, ada yang dengan baloon, dengan aircraft, dan lain-lain. HAPS dinilai potensial untuk coverage area greenfield dan untuk benda yang terhubung dengan internet (Internet of Things/IoT).
“Kemudian untuk komunikasi saat darurat dan bencana, private network, backhaul bagi terestrial, dan lain-lain,” kata Sigit.
Namun, sambungnya, teknologi ini juga memiliki tantangan yaitu terkait daya listrik dan metode agar dapat menjaga di ketinggian yang ditetapkan.
Babak Baru Bisnis Menara
Dia juga mengatakan bahwa teknologi akses ke depan akan makin banyak pilihan. Sudah sewarjarnya bagi operator utnuk terus melakukan identifikasi potensi teknologi-teknologi baru.
“Demikian juga bagi pemerintah untuk aspek regulasinya, baik regulasi spektrum, regulasi penyelenggaraan, peluang usaha dan lain-lain,” kata Sigit.
Uji Coba
Dosen Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung Ian Josef Matheus Edward mengatakan bahwa BTS terbang dapat menjadi alternatif dalam memberikan konektivitas di daerah yang sulit dijangkau atau daerah rural.
Namun, untuk mengimplementasikan teknologi ini pemerintah dan Mitratel perlu melakukan uji coba terlebih dahulu dan memastikan bahwa frekuensi Haps tidak mengganggu pemain eksisting.
“Frekuensi yang digunakan sudah diperoleh dan diujicobakan tanpa mengganggu yang ada,” kata Ian kepada Bisnis, Kamis (1/8/2024).

Ian menambahkan meski demikian dengan posisi Haps yang lebih rendah dibandingkan Starlink, maka redaman latensi akan makin kecil sehingga waktu respons perangkat akan lebih baik dibandingkan dengan internet berbasis Starlink.
Sementara itu, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi meyakini bahwa Haps memiliki potensi yang besar untuk mendorong pemerataan jaringan internet di Indonesia. Haps juga dapat menggantikan BTS yang selama ini sulit untuk dihadirkan di daerah pedalaman yang terjal.
Hanya saja, Heru berpendapat, potensi tersebut belum terlihat, nampak dari negara-negara global yang hingga saat ini juga masih mengembangkan teknologi BTS terbang tersebut.
Terbaru, konsorsium Jepang menginvestasikan dana sebesar Rp1,6 triliun untuk membangun Haps Aalto yang ditargetkan beroperasi pada 2026.
Perbedaan Haps vs Starlink
Dilansir dari berbagai sumber, terdapat lima perbedaan antara Haps Zephyr dengan Starlink, mulai dari ketinggian, cakupan layanan, metode konektivitas, latensi hingga ongkos operasional per titik daerah rural.
Ketinggian
HAPS Zephyr terbang pada ketinggian 18 - 20 kilometer di atas permukaan bumi. jika dibandingkan dengan satelit LEO, yang rata-rata terbang di ketinggian 500 - 2.000 kilometer, maka HAPS Zephyr jauh lebih rendah.
Adapun Starlink terbang di ketinggian 550 kilometer di atas permukaan bumi. Elon Musk sempat berencana menurunkan ketinggian Starlink menjadi 300 kilometer.
Cakupan
Dengan jumlah satelit yang telah mencapai lebih dari 5.000 satelit, Starlink memiliki cakupan yang lebih luas. Tidak hanya itu, dengan daya terbang yang lebih tinggi dari Haps, Starlink memiliki cakupan yang lebih luas per satelitnya, Belum diketahui dengan pasti jangkauan layanan masing-masing teknologi.
Konektivitas
Kemudian untuk menerima akses internet yang disuntikan masing-masing perangkat, Haps memiliki keunggulan yaitu dapat langsung terhubung ke smartphone pengguna. Sementara itu untuk terhubung ke internet Starlink, pengguna membutuhkan perangkat penangkap sinyal berupa dish, yang harus terhubung ke listrik, setelah itu penangkap sinyal (terminal) akan menyebarkan internet ke beberapa perangkat smartphone tergantung paket yang digunakan.
Latensi
Dari sisi latensi, Haps Zephyr dikabarkan memiliki latensi yang lebih rendah yaitu 5-10 milidetik, sementara itu Starlink sekitar 50 milidetik. Hal ini disebabkan ketinggian masing-masing wahana berbeda.
Ongkos
Kemudian untuk ongkos ke daerah rural, Haps Zephyr mengeklaim bahwa mereka lebih murah dibandingkan dengan Starlink. Jika Starlink membutuhkan ongkos sekitar ribuan dollar Amerika Serikat (AS) untuk melayani per titik daerah rural, Haps hanya menghabiskan tidak lebih dari 10 dollar (AS).
Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward memiliki pendapat lain. Dia menilai ongkos Haps bisa lebih mahal karena waktu terbang Haps singkat tidak sampai 1 tahun. Sementara Starlink bisa 6-7 tahun.
Haps Zephyr Aalto sendiri bukanlah teknologi baru dalam hal konektivitas internet. Pada Mei 2024, konsorsium Jepang menginvestasikan dana sebesar Rp1,6 triliun untuk pengembangan Haps Zephyr milik Airbus.

Penerapan BTS Terbang, Pakar Dorong Pemerintah Gelar Uji Coba
Teknologi Haps diyakini dapat menjadi solusi untuk menghadirkan internet di daerah rural. Namun perlu ada uji coba untuk membuktikan teknologi berfungsi. [435] url asal
#haps #implementasi-haps #bts-terbang #implementasi-bts-terbang #pakar-dorong-pemerintah-gelar-uji-coba
(Bisnis.Com - Teknologi) 01/08/24 18:10
v/12898206/
Bisnis.com. JAKARTA - Pakar teknologi mendorong pemerintah dan swasta untuk bersama-sama melakukan uji coba mengenai wahana dirgantara HAPS atau yang biasa disebut dengan Flying Tower System (FTS) BTS terbang, untuk menguji efektivitas teknologi ini.
Dosen Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung Ian Josef Matheus Edward mengatakan bahwa BTS terbang dapat menjadi alternatif dalam memberikan konektivitas di daerah yang sulit dijangkau atau daerah rural.
Namun, untuk mengimplementasikan teknologi ini pemerintah dan Mitratel perlu melakukan uji coba terlebih dahulu dan memastikan bahwa frekuensi Haps tidak mengganggu pemain eksisting.
“Frekuensi yang digunakan sudah diperoleh dan diujicobakan tanpa mengganggu yang ada,” kata Ian kepada Bisnis, Kamis (1/8/2024).
Ian menambahkan meski demikian dengan posisi Haps yang lebih rendah dibandingkan Starlink, maka redaman latensi akan makin kecil sehingga waktu respons perangkat akan lebih baik dibandingkan dengan internet berbasis Starlink.
Sementara itu, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi meyakini bahwa Haps memiliki potensi yang besar untuk mendorong pemerataan jaringan internet di Indonesia. Haps juga dapat menggantikan BTS yang selama ini sulit untuk dihadirkan di daerah pedalaman yang terjal.
Hanya saja, Heru berpendapat, potensi tersebut belum terlihat, nampak dari negara-negara global yang hingga saat ini juga masih mengembangkan teknologi BTS terbang tersebut.
Terbaru, konsorsium Jepang menginvestasikan dana sebesar Rp1,6 triliun untuk membangun Haps Aalto yang ditargetkan beroperasi pada 2026.
Sebelumnya, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel dan AALTO HAPS Ltd. (AALTO), produsen dan operator High Altitude Platform Station (HAPS) bertenaga surya Zephyr, menandatangani Nota Kesepahaman untuk menjajaki penyediaan solusi HAPS komersial di Indonesia.
Zephyr merupakan platform muatan agnostik yang dapat berubah menjadi menara multi-fungsi di udara untuk menyediakan layanan konektivitas seluler, termasuk 5G, langsung ke perangkat. Zephyr disebutkan juga sebagai Flyng Tower System (FTS) atau HAPS.
Seperti menara pengangkut base transceiver station (BTS) yang terbang di ketinggian 18-20 kilometer, Haps Zephyr dapat memberikan latensi rendah di lokasi- lokasi yang sulit dijangkau, khususnya di daerah terpencil.
Platform muatan agnostik merupakan platform yg dikonfigurasi untuk membawa berbagai peralatan atau teknologi sesuai kebutuhan, tanpa harus melakukan perubahan besar pada platform. Zephyr dirancang untuk mampu terbang selama berbulan-bulan dalam satu waktu.
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan kerja sama ini merupakan upaya perusahaan dalam mendukung rencana pemerintah Indonesia untuk memberikan akses yang merata terhadap telekomunikasi berkualitas bagi seluruh masyarakat.
Akses internet dapat meningkatkan kualitas hidup sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.
“Kami merintis berbagai inisiatif dan mengadopsi teknologi baru yang memungkinkan Mitratel untuk memperluas jaringannya secara efektif, dengan mengembangkan jalur industri dan komersial untuk HAPS dan Flying Tower System (FTS) di Indonesia.,” kata lelaki yang akrab disapa Teddy, dikutip Kamis (1/8/2024).
Perbedaan BTS Terbang HAPS Aalto vs Starlink, Latensi hingga Ongkos
Haps Zephyr milik Aalto dan Starlink sama-sama berada di lapisan stratosfer dalam memberikan layanan internet ke bumi. Lantas apa berbedaan masing-masing. [392] url asal
#haps #bts-terbang #aalto #starlink #latensi #perbedaan-bts-terbang-haps-aalto-vs-starlink #latensi-hingga-ongkos
(Bisnis.Com - Teknologi) 01/08/24 13:57
v/12875520/
Bisnis.com, JAKARTA - Wahana dirgantara bertenaga surya atau High Altitude Platform Station (HAPS) Zephyr Aalto resmi menjalin kerja sama dengan Mitratel. anak usaha Telkom yang bergerak di bidang menara telekomunikasi.
Tidak jauh berbeda dengan satelit orbit rendah (LEO) Starlink milik Elon Musk, kedua wahana ini sama-sama terbang di stratosfer atau lapisan bumi di bawah atmosfer. Lantas apa bedanya?
Dilansir dari berbagai sumber, terdapat lima perbedaan antara Haps Zephyr dengan Starlink, mulai dari ketinggian, cakupan layanan, metode konektivitas, latensi hingga ongkos operasional per titik daerah rural.
Ketinggian
HAPS Zephyr terbang pada ketinggian 18 - 20 kilometer di atas permukaan bumi. jika dibandingkan dengan satelit LEO, yang rata-rata terbang di ketinggian 500 - 2.000 kilometer, maka HAPS Zephyr jauh lebih rendah.
Adapun Starlink terbang di ketinggian 550 kilometer di atas permukaan bumi. Elon Musk sempat berencana menurunkan ketinggian Starlink menjadi 300 kilometer.
Cakupan
Dengan jumlah satelit yang telah mencapai lebih dari 5.000 satelit, Starlink memiliki cakupan yang lebih luas. Tidak hanya itu, dengan daya terbang yang lebih tinggi dari Haps, Starlink memiliki cakupan yang lebih luas per satelitnya, Belum diketahui dengan pasti jangkauan layanan masing-masing teknologi.
Konektivitas
Kemudian untuk menerima akses internet yang disuntikan masing-masing perangkat, Haps memiliki keunggulan yaitu dapat langsung terhubung ke smartphone pengguna. Sementara itu untuk terhubung ke internet Starlink, pengguna membutuhkan perangkat penangkap sinyal berupa dish, yang harus terhubung ke listrik, setelah itu penangkap sinyal (terminal) akan menyebarkan internet ke beberapa perangkat smartphone tergantung paket yang digunakan.
Latensi
Dari sisi latensi, Haps Zephyr dikabarkan memiliki latensi yang lebih rendah yaitu 5-10 milidetik, sementara itu Starlink sekitar 50 milidetik. Hal ini disebabkan ketinggian masing-masing wahana berbeda.
Ongkos
Kemudian untuk ongkos ke daerah rural, Haps Zephyr mengeklaim bahwa mereka lebih murah dibandingkan dengan Starlink. Jika Starlink membutuhkan ongkos sekitar ribuan dollar Amerika Serikat (AS) untuk melayani per titik daerah rural, Haps hanya menghabiskan tidak lebih dari 10 dollar (AS).
Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward memiliki pendapat lain. Dia menilai ongkos Haps bisa lebih mahal karena waktu terbang Haps singkat tidak sampai 1 tahun. Sementara Starlink bisa 6-7 tahun.
Haps Zephyr Aalto sendiri bukanlah teknologi baru dalam hal konektivitas internet. Pada Mei 2024, konsorsium Jepang menginvestasikan dana sebesar Rp1,6 triliun untuk pengembangan Haps Zephyr milik Airbus.
Kerja sama Haps Japan Corporation dengan Airbus menargetkan komersialisasi Haps pada 2026 secara global.
Mengenal Haps Zephyr Airbus, BTS Terbang Pesaing Starlink Elon Musk
Berbeda dengan satelit orbit rendah (LEO), Haps Zephyr Airbus terbang jauh lebih rendah sekitar 20 kilometer di atas permukaan bumi. [326] url asal
#haps #haps-zephyr #aalto #haps-aalto #bts-terbang #starlink #mengenal-haps-zephyr-airbus #bts-terbang-pesaing-starlink-elon-musk
(Bisnis.Com - Teknologi) 01/08/24 11:50
v/12863255/
Bisnis.com, JAKARTA – Wahana Dirgantara Super atau High Altitude Platform Station (HAPS) digadang-gadang menjadi terobosan baru dalam menghadirkan infrastruktur internet di daerah terpencil dan rural.
Berbeda dengan satelit orbit rendah (LEO) Starlink milik Elon Musk, Haps terbang jauh lebih rendah sekitar 20 kilometer di atas permukaan bumi.
Salah satu produsen Haps ternama adalah Airbus. Dengan merek Aalto, Airbus memproduksi Haps bernama Zephyr. Pesawat nirawak ini memiliki bobot sekitar 75 kilogram dengan rentang sayap (wing span) selebar 25 kilometer.
Haps Zephyr terbang di stratosfer atau lapisan kedua dari atmosfer bumi. Jika rentang ketinggian Stratosfer bumi pada rentang 15 kilometer – 50 kilometer, Haps terbang di ketinggian 60.000 kaki di atas permukaan bumi atau sekitar 18- 20 kilometer.
Bagaimana Cara Zephyr Haps Aalto bekerja?
Dilansir dari laman resmi, Zephyr bekerja 100% dengan menggunakan tenaga ramah lingkungan yaitu matahari. Berdasarkan uji coba yang dilakukan Airbus, Zephyr mampu bertahan di Stratosfer selama 64 hari.
Sebelum memperkenalkan produk ini, Airbus telah melakukan riset mendalam, desain hingga uji coba penerbangan selama kurang lebih 20 tahun. Tidak hanya itu, Zephyr juga telah terbang mengudara selama lebih dari 4.000 jam, yang diklaim Airbus sebagai durasi terbang terlama yang pernah dilakukan oleh teknologi Haps.
Airbus menyebut Zephyr sebagai teknologi inovatif yang menawarkan solusi baru untuk mengatasi tantangan lama konektivitas dengan lebih efektif dan efisien, khususnya di daerah rural.
Wilayah terpencil dengan medan pembangunan yang terjal kerap menjadi masalah perusahaan telekomunikasi dalam menghadirkan jaringan. Perusahaan telekomunikasi harus menggunakan satelit, yang secara harga cukup mahal, untuk menghadirkan internet di wilayah pedalaman.
Dengan area cakupan sekitar 7.500 kilometer persegi, setara 250 menara, Zephyr berfungsi sebagai menara di langit yang dapat terintegrasi ke dalam jaringan operator seluler.

Hal ini menjadikannya solusi ideal untuk memperluas cakupan di daerah yang jarang penduduknya atau medan yang menantang.
Untuk pertama kalinya, operator jaringan seluler dan entitas lain yang membutuhkan konektivitas dapat memperluas jangkauan jaringan mereka ke wilayah pedesaan dan terpencil, meningkatkan kualitas layanan, memperluas basis pelanggan.
Adopsi Teknologi Baru, Mitratel (MTEL) Gandeng Anak Usaha Airbus Bangun 'BTS Terbang'
Mitratel (MTEL) atau Mitratel dan AALTO HAPS Ltd. (AALTO), anak usaha Airbus, menandatangani MOU untuk menjajaki penyediaan solusi HAPS komersial di Indonesia. [433] url asal
#mitratel #mtel #haps #aalto #airbus #anak-usaha-airbus #bts-terbang #adopsi-teknologi-baru #mitratel-mtel-gandeng-anak-usaha-airbus-bikin-bts-terbang
(Bisnis.Com - Teknologi) 01/08/24 10:12
v/12851865/
Bisnis.com, JAKARTA - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel dan AALTO HAPS Ltd. (AALTO), produsen dan operator High Altitude Platform Station (HAPS) bertenaga surya Zephyr, menandatangani Nota Kesepahaman untuk menjajaki penyediaan solusi HAPS komersial di Indonesia.
Zephyr merupakan platform muatan agnostik yang dapat berubah menjadi menara multi-fungsi di udara untuk menyediakan layanan konektivitas seluler, termasuk 5G, langsung ke perangkat. Zephyr disebutkan juga sebagai Flyng Tower System (FTS) atau HAPS.
Seperti menara pengangkut base transceiver station (BTS) yang terbang di ketinggian 18-20 kilometer, Haps Zephyr dapat memberikan latensi rendah di lokasi- lokasi yang sulit dijangkau, khususnya di daerah terpencil.
Platform muatan agnostik merupakan platform yg dikonfigurasi untuk membawa berbagai peralatan atau teknologi sesuai kebutuhan, tanpa harus melakukan perubahan besar pada platform. Zephyr dirancang untuk mampu terbang selama berbulan-bulan dalam satu waktu.
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan kerja sama ini merupakan upaya perusahaan dalam mendukung rencana pemerintah Indonesia untuk memberikan akses yang merata terhadap telekomunikasi berkualitas bagi seluruh masyarakat.
Akses internet dapat meningkatkan kualitas hidup sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.
“Kami merintis berbagai inisiatif dan mengadopsi teknologi baru yang memungkinkan Mitratel untuk memperluas jaringannya secara efektif, dengan mengembangkan jalur industri dan komersial untuk HAPS dan Flying Tower System (FTS) di Indonesia.,” kata lelaki yang akrab disapa Teddy, dikutip Kamis (1/8/2024).
Teddy meyakini bahwa kolaborasi dengan AALTO akan memperluas infrastruktur yang ada untuk meningkatkan akses terhadap konektivitas yang terjangkau dan efektif di seluruh wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
Tidak hanya itu, kerja sama antara Mitratel dan AALTO membuka potensi perluasan konektivitas makin lebar, yang juga membuat cakupan operator jaringan seluler (MNO) makin merata. Haps juga dapat mengurangi titik-titik blank spot jaringan yang selama ini menjadi isu utama konektivitas di Indonesia sebagai negara kepulauan.
Chief Executive Officer AALTO Samer Halawi mengatakan Zephyr berada di ujung tombak teknologi berkelanjutan, dengan kemampuan konektivitas dan pengamatan yang dapat membantu menjembatani kesenjangan digital di Indonesia.
Anak usaha Airbus itu menilai terdapat peluang bagi jaringan non-terestrial seperti HAPS untuk terlibat dalam ekosistem telekomunikasi di Indonesia, dengan meningkatkan infrastruktur yang sudah ada dari operator seluler dan perusahaan menara.
“Mitratel terus menjadi pemimpin pasar yang inovatif, dengan menyadari potensi layanan yang dapat mengubah permainan dari stratosfer. Fokus kami saat ini adalah memperdalam kerja sama dengan Mitratel untuk membangun ekosistem HAPS yang kohesif di Indonesia,” kata Halawi.
Diketahui, Mitratel sebagai perusahaan infrastruktur telekomunikasi digital, saat ini memiliki lebih dari 38.000 menara dan lebih dari 37.000 KM fiber optic. Kerja sama dengan AALTO akan menghasilkan layanan baru yang dapat mengubah dunia dari stratosfer, yang akan mendukung transformasi konektivitas seluler dan observasi bumi.