#30 tag 24jam
Sentra Produksi Padi Bakal Hadapi Ancaman Kekeringan, Stok Beras Aman?
Indonesia diprediksi bakal menghadapi musim kemarau atau kekeringan mulai Agustus. [408] url asal
#stok-beras #kemarau #musim-kering #produksi-beras #pasokan-beras-bulog-bali
(detikFinance - Ekonomi dan Bisnis) 05/08/24 10:33
v/13357989/
Jakarta - Indonesia diprediksi bakal menghadapi musim kemarau atau kekeringan mulai Agustus. Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi mengatakan kondisi tersebut diproyeksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
"Bulan Agustus itu akan kekeringan, BMKG punya proyeksi ini. Jadi daerah yang gelap (dalam paparan) itu curah hujannya sedikit. Pada saat curah hujan sedikit ini artinya kita benar-benar mengandalkan saluran irigasi teknis," kata dia dalam rapat koordinasi inflasi dikutip dari YouTube Kemendagri, Senin (5/8/2024).
Dalam paparan Arief sejumlah daerah yang akan mengalami kekeringan didominasi merupakan wilayah sentra produksi beras nasional. Daerah diproyeksi mengalami kekeringan, pertama Provinsi Sumatera Selatan yang menyumbang 24,80% dari produksi beras di Pulau Sumatera sebesar 6,56 juta ton setahun.
Kemudian Jawa Timur, penghasil beras 32,17% dari keseluruhan produksi Pulau Jawa yang sebesar 17,37 juta ton setahun. Provinsi Nusa Tenggara Barat yang menghasilkan produksi beras 51,39%.
Selain itu sentra produksi beras Sulawesi Selatan juga diprediksi akan kekeringan. Padahal produksi provinsi tersebut sumbangsihnya cukup besar yakni 69,96% dari besaran produksi Pulau Sulawesi 4 juta ton setahun.
Arief mengatakan berdasarkan proyeksi Kerangka Sampel Area (KSA) produksi Agustus dan September akan meningkat dibandingkan Juni dan Juli. Data KSA menuliskan produksi bulan ini 2,66 juta ton dan September 2,96 juta ton naik dari Juni 2,06 juta ton dan Juli 2,18 juta ton.
Namun, Arief menyebutkan setiap tahunnya produksi akhir tahun selalu menurun drastis. Hal ini juga yang menjadi perhatian pemerintah untuk meningkatkan antisipasi secara dini.
"Produksi kita proyeksi dengan BPS KSA, kita melihat effort yang telah dilakukan oleh Kementerian teknis, pak Menteri Pertanian dan jajaran, sehingga proyeksi bisa naik. Tetapi yang kita waspadai bersama tren ini tidak pernah berubah di akhir tahun. Tadi baru saja saya diingatkan oleh pak Sekjen 'Mas Arief ini yang di akhir tahun'," tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman juga telah mengungkap ancaman kekeringan yang akan dihadapi Indonesia pada bulan depan hingga akhir tahun. Menurutnya hal itu menjadi ancaman produksi pangan ke depan.
"Singsingkan lengan, kita masuk lintasan kritis. Kritikal poin Agustus, September, November, Desember. Pertanian siaga penuh, nggak ada tanggal merah, di lapangan semua tim" ungkap dia dalam Rapat Koordinasi Optimalisasi Program Pompanisasi dan Optimalisasi Lahan Rawa di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (29/7/2024).
Amran menyebut kekeringan ini disebabkan oleh cuaca panas ekstrem atau El Nino yang masih berlangsung hingga saat ini. Untuk itu Kementerian Pertanian melakukan pengadaan pompanisasi untuk memompa air di daerah-daerah kekeringan.
(ada/kil)
Jokowi Ingin Petani Panen 2-3 Kali saat Musim Kering
Harapan Presiden Jokowi agar petani dapat panen sebanyak 2-3 kali didorong melalui program pompanisasi. - Halaman all [843] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #pompanisasi #musim-kering #jokowi #panen #petani #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 11/07/24 18:54
v/10446172/
LAMPUNG SELATAN, investor.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap produksi beras nasional bisa terjaga meskipun dilanda musim kering dan gelombang panas yang panjang. Ia menyebut upaya pompanisasi dapat mendorong para petani panen dua sampai tiga kali, sekalipun curah hujan kurang mendukung.
Kepala Negara menerangkan, langkah pompanisasi yang belakangan digencarkan pemerintah merupakan upaya serius untuk mengantisipasi musim kering dan fenomena gelombang panas yang dapat terjadi dalam waktu panjang. Dengan begitu, petani dapat lebih produktif dan produksi beras nasional pun tetap terjaga.
“Ini kan untuk mengantisipasi kalau terjadi kering panjang, terjadi gelombang panas, dan kita harus siap dulu. Sehingga produktivitas petani, produksi beras kita tidak turun, karena semua negara produksinya turun gara-gara gelombang panas, gara-gara kekeringan panjang,” beber Presiden Jokowi di sela-sela peninjauan program pompanisasi di Desa Bandan Hurip, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, pada Kamis (11/7/2024).
Berdasarkan peninjauannya, Presiden Jokowi mengatakan bahwa sistem irigasi di desa tersebut sudah baik. Namun demikian, ia menyebut tetap diperlukan pompanisasi untuk mengalirkan air dari sumber air yang berada lebih rendah dibandingkan sawahnya.
“Saya lihat disini, karena irigasinya baik, ini kita tarik airnya dari irigasi yang lebih rendah, masuk ke irigasi sekunder, tersier, bisa lari ke sawah. Sehingga kita harapkan yang biasanya panen sekali bisa dua kali, yang sudah dua kali bisa tiga kali,” urai Jokowi.
Adapun luas baku sawah di Kabupaten Lampung Selatan sendiri mencapai 38.688 hektare. Dari luas tersebut, potensi luas sawah tadah hujan di mencapai 30.976 hektare.
Pemerintah telah menyalurkan bantuan 150 pompa untuk Kabupaten Lampung Selatan dari total 2.606 unit pompa untuk Provinsi Lampung. Kehadiran 150 pompa tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pengairan untuk 1.650 hektare sawah.
Inisiatif pompanisasi menjadi salah satu langkah konkret pemerintah dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi petani di Indonesia, serta mendukung upaya-upaya peningkatan produksi pangan lokal maupun nasional, terutama di tengah tantangan perubahan iklim yang kian nyata.
Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam kesempatan tersebut yaitu Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Pj. Gubernur Lampung Samsudin, dan Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto.
Target Besar
Menteri Pertanian Amran Sulaiman sebelumnya telah mengungkapkan tujuan besar dari pompanisasi sejumlah upaya masif lainnya perihal menjaga ketahanan pangan. Tujuan yang dimaksud adalah mengembalikan status Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.
Dia menerangkan, perlu solusi cepat namun terukur untuk Indonesia swasembada hingga menjadi lumbung pangan dunia. Apalagi saat ini banyak dari negara-negara berstatus hampir kelapaan dan telah kelaparan. Kondisi ini yang memaksa mesti ada solusi jangka pendek yang memadai dalam rangka menjawab masalah pangan tersebut.
“Ada 10 negara kelaparan dan ada 59 negara di dunia itu terancam kelaparan. Penduduk yang sudah kelaparan, bukan terancam, itu 970 juta orang, hampir 1 miliar orang sekarang kelaparan,” urai Amran dalam Investor Daily Roundtable (IDR) di Jakarta, pada Selasa (2/7/2024).
Menyadari persoalan pangan yang ada, pemerintah Indonesia telah menetapkan peta jalan bagi Indonesia menuju swasembada dan lumbung pangan dunia untuk tahun 2024-2029. Peta jalan ini antara lain memuat upaya pompanisasi, optimalisasi waduk, mencetak sawah, perbaikan irigasi, hingga pada saatnya Indonesia dapat mengimpor beras dan menyalurkan bantuan beras untuk kemanusiaan.
Dimulai pada 2024 menjadi tahun bagi pemerintah Indonesia melakukan persiapan dan perencanaan yang matang. Tetapi disamping itu, pemerintah juga mulai untuk melancarkan program pompanisasi terhadap 1 juta hektare lahan.
Memasuki tahun 2025, Indonesia akan masuk pada tahap dimana produksi beras naik sampai dengan 2,5 juta ton per tahun. Program pompanisasi masih dilanjutkan untuk 1 juta hektare lahan lainnya. Sedangkan untuk menggenjot produksi beras, pemerintah RI bakal turut mengoptimalkan 61 waduk yang ada.
Selanjutnya pada 2026, pemerintah RI mencanangkan produksi beras akan meningkat secara signifikan yakni sebesar 5 juta ton. Pada saat sama, Indonesia akan memulai untuk mencetak lahan rawa mineral menjadi sawah dengan target 1 juta hektare. Selain itu, ditargetkan pula adanya perbaikan irigasi untuk 1 juta hektare lahan dan melanjutkan optimalisasi 61 waduk.
Lalu pada 2027, hal yang sama pada tahun sebelumnya masih dilancarkan, seperti mencetak 1 juta hektare sawah baru, perbaikan irigasi untuk 1 juta hektare lahan lainnya, dan optimalisasi 61 waduk. Saat itu akan menjadi tahap swasembada beras bagi Indonesia, dimana produksi beras diharapkan dapat meningkat sampai 7,5 juta ton.
Setelah mencapai swasembada, Indonesia berencana memulai ekspor beras pada tahun 2028, dengan dukungan peningkatan produksi beras sampai 10 juta ton. Meski begitu, pemerintah Indonesia tetap menargetkan mencetak 1 juta hektare lahan sawah baru. Sehingga pada akhir 2028 akan ada sebanyak 3 juta hektare lahan sawah baru yang dimiliki Indonesia.
Sampailah pada tahun 2029, dimana Indonesia diharapkan dapat menggapai cita-citanya menjadi lumbung pangan dunia untuk komoditas beras dengan target produksi meningkat sampai 12,5 juta ton. Meski beras melimpah, pemerintah masih akan mencetak 1 juta hektare sawah dan melanjutkan ekspor beras. Indonesia akan mengambil peran lebih dengan mengirim bantuan beras kemanusian kepada negara-negara yang membutuhkan.
“Persoalan pangan tidak perlu kita bahas (lagi), kita akan menjadi lumbung pangan dunia dan bisa memberikan bantuan pada negara saudara-saudara kita yang kelaparan,” beber Amran.
Editor: Prisma Ardianto (redaksi@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News