#30 tag 24jam
10 Negara Arab dengan Cadangan Emas Terbesar di 2024, Nilainya Tembus Rp398,5 Triliun
Siapkah pemegang cadangan emas paling banyak saat ini? intip daftar 10 negara Arab dengan cadangan emas terbesar. Saat harga emas melonjak tinggi hingga menyentuh... | Halaman Lengkap [573] url asal
#emas #arab #negara-arab #berita-ekonomi #cadangan-emas
(SINDOnews Ekbis - Bursa Finansial) 02/10/24 11:40
v/15855037/
JAKARTA - Saat harga emas melonjak tinggi hingga menyentuh rekor terbaiknya di atas level USD2.500 per ons, hal itu berpengaruh terhadap nilai cadangan emas negara- negara Arab . Lantas siapkah pemegang cadangan emas paling banyak saat ini? intip daftar 10 negara Arab dengan cadangan emas terbesar.Logam mulia khususnya emas tidak hanya berfungsi sebagai aset safe-heaven , tapi juga bisa sebagai hedging (lindung nilai) saat kondisi perekonomian dunia yang semakin tidak menentu di tengah geopolitik yang memanas. Pada awal Mei, seorang pejabat tinggi Dana Moneter Internasional (IMF) membeberkan, peran emas dalam potensi fragmentasi tatanan ekonomi dan keuangan global.
Secara khusus beberapa negara memikirkan kembali ketergantungan mereka yang besar terhadap dolar AS dalam transaksi internasional dan kepemilikan cadangan devisa mereka. Sementara itu permintaan emas telah meningkat karena dipandang sebagai "aset aman yang netral secara politik, yang dapat disimpan di rumah dan aman dari sanksi atau penyitaan," kata Wakil direktur pelaksana IMF, Gita Gopinath.
Bank-bank sentral menyumbang seperempat dari permintaan emas pada tahun 2022 dan 2023, karena lembaga-lembaga tersebut membeli lebih dari 1.000 ton emas setiap tahun, menurut World Gold Council dalam sebuah laporan belum lama ini.
Tren lonjakan permintaan emas terjadi secara global, tidak terkecuali pada negara-negara Arab. Qatar menempati posisi teratas di antara negara-negara Arab dalam urusan pembelian emas dari Januari 2022 hingga Juli 2024, menurut data terbaru dari Dewan Emas Dunia (WGC).
Daftar 10 negara Arab dengan cadangan emas terbesar:
10. Yordania
Cadangan Emas: 70,1 ton
Besaran Emas dalam Cadangan Devisa: 26,7%
Nilai Saat Ini: USD5.7 miliar
9. Uni Emirat Arab
Cadangan Emas: 75 ton
Persentase dalam Cadangan Devisa: 2,8%
Nilai Saat Ini: USD6.1 miliar
8. Kuwait
Cadangan Emas: 79 ton
Besaran dalam Cadangan Devisa: 11,1%
Nilai Saat Ini: USD6.4 miliar
7. Qatar
Cadangan Emas: 106,4 ton
Bagian dalam Cadangan Devisa: 15,1%
Nilai Saat Ini: USD8.7 miliar
6. Mesir
Cadangan Emas: 126,6 ton
Persentase dalam Cadangan Devisa: 21,4%
Nilai Saat Ini: USD10.3 miliar
5. Libya
Cadangan Emas: 146,7 ton
Besaran dalam Cadangan Devisa: 12,1%
Nilai Saat Ini: USD11.9 miliar
4. Irak
Cadangan Emas: 148,3 ton
Bagian dalam Cadangan Devisa: 10,2%
Nilai Saat Ini: USD12.1 miliar
3. Algeria
Cadangan Emas: 173,6 ton
Persentase dalam Cadangan Devisa: 15,5%
Nilai Saat Ini: USD14.1 miliar
Aljazair menempati urutan ketiga di antara negara-negara Arab dengan sekitar 173,6 ton emas, terhitung 15,5% dari cadangannya.
2. Lebanon
Cadangan Emas: 286,8 tonBagian dalam Cadangan Devisa: 59,8%
Nilai Saat Ini: USD23.3 miliar
Lebanon yang dilanda krisis tercatat memiliki 286,8 ton cadangan emas. Angka tersebut merupakan 59,8% dari total cadangan negara.
1. Arab Saudi
Cadangan Emas: 323,1 ton
Persentase dalam Cadangan Devisa: 4,9%
Nilai Saat Ini: USD26.3 miliar (setara Rp398,5 triliun dengan kurs Rp15.152 per USD)
Total cadangan emas dari 10 negara Arab teratas mencapai sekitar 1.535,6 ton. Arab Saudi memimpin negara-negara Arab dengan sekitar 323,1 ton, mewakili 4,9% dari total cadangan bank sentral.
- Negara-negara Arab lainnya
Menurut World Gold Council's, Suriah menempati urutan ke-11 di antara negara-negara Arab dengan memegang 25,8 ton emas senilai total USD2,1 miliar. Diikuti oleh Maroko, yang memiliki 22,1 ton emas senilai USD1,8 miliar, kemudian Tunisia dengan 6,8 ton senilai USD553,1 juta, Oman dengan 6,7 ton, Bahrain dengan 4,7 ton, dan Yaman dengan 1,6 ton.
Reaksi Berbeda Negara Arab soal Tewasnya Pemimpin Hizbullah Nasrallah
Negara-negara seperti Arab Saudi, UEA, hingga Mesir menyayangkan serangan israel ke Lebanon, tanpa menyebut tewasnya pemimpin Hizbullah, Sayyed Nasrallah. [568] url asal
#negara-arab #pemimpin-hizbullah #hizbullah #nasrallah #arab-saudi #uea #mesir #lebanon
(Bisnis.Com) 30/09/24 09:05
v/15756561/
Bisnis.com, JAKARTA – Pembunuhan pemimpin Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah oleh Israel ditanggapi secara berbeda oleh negara-negara Arab, meskipun tetap mengecam serangan yang menargetkan Lebanon.
Nasrallah merupakan pemimpin kelompok bersenjata dari golongan Muslim Syiah. Selain bermusuhan dengan Israel dan Barat, kelompok Hizbullah juga berseberangan dengan negara lain yang berhaluan Muslim Sunni di Timur Tengah.
Negara-negara Teluk dan Liga Arab menetapkan Hizbullah sebagai organisasi teroris pada tahun 2016, meskipun Liga Arab mencabut penetapan tersebut pada awal tahun ini.
Melansir Reuters, Senin (30/9/2024), Arab Saudi dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa mereka mengikuti perkembangan di Lebanon dengan keprihatinan besar. Saudi juga mendesak kedaulatan dan keamanan di Lebanon. Namun, Arab Saudi sama sekali tidak menyinggung kematian Nasrallah.
Negara-negara mayoritas Muslim Sunni lain seperti, Qatar, Uni Emirat Arab dan Bahrain juga tidak bersuara atas pembunuhan Nasrallah. UEA dan Bahrain menormalkan hubungan dengan Israel pada tahun 2020, dan Bahrain memadamkan pemberontakan pro-demokrasi yang cukup besar oleh komunitas Syiah pada tahun 2011.
Namun, media pro-Iran di Bahrain, LuaLua TV, menyiarkan video yang menunjukkan pawai berukuran sedang yang diklaim sebagai bentuk duka cita untuk Nasrallah. TV tersebut mengatakan bahwa rezim Bahrain menyerang para demonstran dan menahan beberapa di antaranya.
Situs oposisi Bahrain, Bahrain Mirror, melaporkan bahwa kerajaan menahan seorang ulama Syiah karena menyampaikan belasungkawa terhadap Nasrallah.
Menurut sebuah pernyataan dari kantor kepresidenan Mesir, Presiden Abdel Fattah El Sisi telah berbicara dengan Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati melalui telepon dan mengatakan bahwa Kairo menolak setiap pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon, tanpa menyebut nama Nasrallah.
Mesir telah bersikap kritis terhadap Iran dan proksi-proksinya, meskipun Mesir tetap menjalin kontak informal dengan Iran. Nenteri luar negeri Mesir telah mengadakan pertemuan resmi dengan para pejabat Iran selama setahun terakhir.
”Mesir mengelola isu-isu dengan cara yang dapat melindungi negara dan kawasan ini sebaik mungkin, tanpa terseret ke dalam isu-isu yang dapat berdampak pada stabilitas dan keamanannya,” ungkap El Sisi dalam pidatonya tanpa menyebut Nasrallah, seperti dikutip Reuters, Senin (30/9).
Negara-negara lain seperti Suriah dan Irak telah mengumumkan masa berkabung selama tiga hari.
Nama Hassan Nasrallah telah menjadi trending online di banyak negara Arab sejak hari Sabtu, dengan banyak yang berduka atas kepergiannya.
Mufti besar Oman Sheikh Ahmed Bin Hamad al-Khalili mengatakan dalam sebuah posting di X bahwa negaranya berduka atas meninggalnya Hizbullah.
”Oman berduka atas meninggalnya sekretaris jenderal Hizbullah setelah dia menjadi duri di tenggorokan proyek Zionis selama lebih dari tiga dekade,” ungkpanya.
Namun, pengguna X lain mengkritik Nasrallah, terutama karena intervensi Hizbullah dalam perang sipil Suriah. Bersama dengan dukungan dari Iran dan Rusia, intervensi tersebut pada akhirnya membantu Presiden Bashar al-Assad untuk mendapatkan kembali kendali atas sebagian besar wilayah Suriah dari para pemberontak anti pemerintah.
“Korban Nasrallah di Suriah mencapai ratusan ribu orang, apakah dia layak mendapatkan belas kasihan dari umat Islam?” kata wartawan yang berbasis di Irak, Omar AlJmmal, di X.
Wartawan yang berbasis di UEA, Saif alDareei, memposting video di X yang menggambarkan “kegembiraan” penduduk di provinsi Idlib, Suriah, setelah berita pembunuhan Nasrallah.
“Hizbullah melakukan apa yang tidak dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap saudara-saudara kita di Suriah,” katanya.
Sementara itu, pihak lain mencoba menyeimbangkan kritik terhadap Nasrallah dan Israel, yang operasi militernya di Gaza dan eskalasi baru-baru ini di Lebanon telah memicu kemarahan yang meluas.
“Kegembiraan dan kesombongan saat ini adalah meraih kemenangan bagi musuh, memecah belah bangsa (Arab) dan mengkhianati rakyat Lebanon dan Gaza,” ujar pembawa acara TV Mesir, Lamis Elhadidi, di X.
6 Negara Arab yang Tertarik Gabung BRICS
Setidaknya ada delapan negara Arab yang pernah mendaftar secara resmi untuk bergabung dengan kelompok negara-negara berkembang utama, BRICS. Setidaknya ada delapan... | Halaman Lengkap [903] url asal
#negara-arab #brics #perluasan-brics #negara-berkembang #berita-ekonomi
(SINDOnews Ekbis) 08/08/24 14:31
v/13801122/
JAKARTA - Setidaknya ada delapan negara Arab yang pernah mendaftar secara resmi untuk bergabung dengan kelompok negara- negara berkembang utama, BRICS . Hal ini disampaikan oleh menteri luar negeri Afrika Selatan menjelang KTT BRICS tahun lalu.Saat itu Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, Naledi Pandor mengatakan, bahwa total ada 23 negara yang secara resmi mengajukan permohonan untuk bergabung dengan BRICS, termasuk di antaranya delapan negara Arab.Dari deretan negara Arab yang tertarik gabung BRICS, tiga di antaranya kini sudah bergabung dalam geng negara berkembang yang dipimpin China-Rusia tersebut. Mereka adalah Uni Emirat Arab (UEA), Mesir dan Arab Saudi.
Aliansi ekonomi BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan sepakat mengundang 6 anggota baru sejak awal tahun. Arab Saudi sah gabung dengan blok BRICS bersama dengan Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab sebagai anggota resmi.
Keanggotaan mereka mulai berlaku pada 1 Januari 2024, menandai ekspansi yang signifikan oleh BRICS. Meskipun BRICS telah berjuang untuk mencapai potensi ekonominya, BRICS memproyeksikan dirinya sebagai alternatif geopolitik terhadap tatanan dunia yang dipimpin AS, dan memposisikan dirinya sebagai perwakilan negara-negara Selatan.
Anggota-anggota baru sangat ingin memanfaatkan pengaruh dan kekuatan ekonomi BRICS, tak terkecuali bagi negara-negara Arab. Selanjutnya terserah BRICS, apakah mereka bakal kembali melakukan perluasan dengan merekrut negara-negara Arab?.
Berikut daftar 6 negara Arab yang tertarik gabung BRICS
1. Afghanistan
Afghanistan berada di bawah kendali Taliban sejak September 2021. Taliban telah mengumumkan Negara Islam Afghanistan, tetapi belum diakui secara resmi. Itulah yang menjadikan Afghanistan ingin bergabung dengan BRICS sehingga mendapatkan pengakuan dari negara lain.
Dengan populasi 40 juta jiwa, negara ini adalah salah satu yang terbesar di Asia Tengah, tetapi perang selama puluhan tahun telah menjadikan Afghanistan sebagai salah satu negara termiskin dan terbelakang di dunia.
2. Aljazair
Sejak 2022, Aljazair dilaporkan telah mengisi sebuah lamaran untuk menjadi anggota BRICS. Kabar ini terungkap berdasarkan pernyataan Leila Zerrouki yang saat itu menjadi utusan khusus Kementerian Luar Negeri Aljazair bidang kemitraan luar negeri.
Aljazair telah mengajukan permohonan untuk bergabung dengan kelompok BRICS dan mengajukan permintaan untuk menjadi anggota pemegang saham Bank BRICS dengan jumlah USD1,5 miliar, mengutip Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune seperti dilaporkan Ennahar TV.
Tebboune mengatakan pada akhir kunjungannya ke China bahwa Aljazair telah berusaha bergabung dengan BRICS untuk membuka peluang ekonomi baru. Layanan berita resmi APS Aljazair menyoroti peran China sebagai negara non-Arab pertama yang mengakui pemerintahan sementara Aljazair pada 1958, yang didirikan di tengah perang kemerdekaan yang brutal dari Perancis.
Sejak 2014, Aljazair dan China telah menjadi mitra strategis dan berkomitmen untuk mengembangkan kerja sama di bidang ekonomi, perdagangan, energi, ruang angkasa, dan kesehatan.
China juga telah terlibat dalam serangkaian proyek infrastruktur di Aljazair. Ditopang oleh hubungan kedua negara, sepertinya Aljazair menjadi salah satu negara yang sangat intens menawarkan diri buat bergabung ke dalam BRICS.
3. Bahrain
Kelompok BRICS mulai menyebar undangan untuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) 2024 mendatang di Kazan, Rusia. Diberitakan, Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengundang Raja Bahrain, Hamad bin Isa Al Khalifa, untuk menghadiri pertemuan puncak yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober, mendatang.
Melansir watcher.guru, Bahrain tertarik dengan inisiatif BRICS, dan karena hubungannya dengan Rusia. Kemungkinan Bahrain menjadi kandidat yang akan menerima undangan untuk bergabung dengan aliansi tersebut pada musim gugur ini.
Sebagai informasi Bahrain disebutkan mengajukan permohonan untuk bergabung dengan BRICS pada tahun 2022, tetapi tidak termasuk di antara negara-negara yang secara resmi diundang untuk bergabung dengan blok ekonomi berkembang utama dalam KTT di Johannesburg, Afrika Selatan.
4. Kuwait
Kuwait disebut-sebut menjadi salah satu negara yang masuk dalam antrean untuk gabung bersama BRICS. Namun belum ada pernyataan resmi dari negara kaya minyak tersebut.
Perekonomian Kuwait sangat bertumpu pada sektor minyak. Sektor minyak menyumbang sekitar 90% total penerimaan Pemerintah dan 95% total ekspor Kuwait.
Negara yang menjadi tujuan ekspor produk Kuwait adalah India, Saudi Arabia, United Arab Emirates, Cina, Iraq, Qatar, Rusia, Oman, Pakistan Amerika dan Indonesia. Sedangkan Negara pengimpor Kuwait adalah Cina, Amerika, Emirat Arab, Jepang, Jerman, India, Saudi, Itali Korea, Perancis dan Indonesia.
5. Palestina
Pada akhir 2023, Palestina telah mengajukan permohonan untuk bergabung dengan blok BRICS bersama tujuh negara Arab: Aljazair, Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Maroko.
Meskipun Palestina tidak diundang ke KTT Johannesburg pada bulan Agustus, lalu dan tidak termasuk di antara negara-negara yang akan segera bergabung dalam pertemuan tersebut, BRICS dapat membantu membawa ? dan dalam beberapa hal sudah membawa ? isu kenegaraan Palestina ke panggung internasional.
Meskipun dukungan BRICS terhadap Palestina bukanlah hal yang baru, namun konteks terkini menjadi hal yang baru seperti dilansir Aljazeera. Namun ada beberapa tantangan berat untuk membuat Palestina bergabung dalam blok BRICS yang digawangi China dan Rusia.
6. Tunisia
Tunisia juga menyatakan minatnya untuk bergabung dengan BRICS, meski belum mengajukan permohonan resmi. Meski begitu, permintaan tersebut terbilang mengejutkan, pasalnya negara ini terperosok dalam krisis ekonomi parah yang semakin memburuk sejak tahun 2021.
Utang nasional negara tersebut tahun 2020 mencapai 80% dari PDB, dan pemerintah Tunisia menghadapi krisis keuangan yang serius. Namun Tunisia enggan menerima persyaratan dan reformasi anggaran yang diberlakukan oleh pemberi pinjaman tradisional, terutama Dana Moneter Internasional (IMF).
Oleh karena itu, pemerintah Tunisia tampaknya bertekad untuk mencari bantuan dari organisasi alternatif, termasuk BRICS dan NDB-nya. Namun, tujuan bank tersebut adalah untuk memobilisasi sumber daya untuk proyek-proyek negara anggota ? bukan untuk menopang pemerintah yang gagal.
Kita lihat saja apakah Tunisia berpeluang gabung bersama negara-negara berkembang utama. Ketertarikan negara Arab mencerminkan ambisi mereka untuk menjadi aktor penuh di arena global ? dan bukannya hanya menonton dari pinggir lapangan.