#30 tag 24jam
IMF Proyeksikan Perekonomian China Merosot di Tengah Perang Dagang dengan AS
Kesengsaraan China tidak akan berakhir karena perang dagangnya yang terus-menerus dengan AS. Dana Moneter Internasional (IMF) pada 22 Oktober menyampaikan laporan... | Halaman Lengkap [720] url asal
#china #amerika-serikat #imf #xi-jinping #partai-komunis-china
(SINDOnews Ekbis) 03/11/24 10:40
v/17417521/
BEIJING - Dana Moneter Internasional (IMF) pada 22 Oktober menyampaikan laporan Prospek Ekonomi Dunia dan mendapati China berada dalam kondisi goyah dengan perkiraan pertumbuhan yang lebih rendah menjadi 4,8 persen di tahun 2024 dibandingkan dengan 5 persen pada 2023.Penurunan ini diproyeksikan terjadi meski sejumlah paket stimulus telah disuntikkan oleh rezim Presiden China Xi Jinping dalam beberapa waktu terakhir.
Mengutip dari Financial Post, Minggu (3/11/2024), laporan terbaru IMF menyoroti sektor properti China yang melemah dan rendahnya belanja konsumen sebagai alasan utama kegagalan ekonominya.
IMF telah memperkirakan tingkat pertumbuhan China sebesar 4,5 persen pada tahun 2025, meski ada sejumlah langkah yang diambil seperti peningkatan ekspor neto dan lebih banyak dana yang dikeluarkan untuk mendukung pertumbuhan negara.
Kesengsaraan China tidak berakhir di sini karena perang dagangnya yang terus-menerus dengan Amerika Serikat (AS) telah mengakibatkan tarif baru yang saling dikenakan oleh kedua negara, dan tarif perdagangan ini memiliki konsekuensi ekonomi tersendiri bagi negara-negara di seluruh dunia.
Wakil Direktur IMF Gita Gopinath selama ini telah menyoroti eskalasi AS-China dan dampak globalnya bagi pihak lain.
"Kami melihat ada banyak perdagangan yang didorong faktor geopolitik di seluruh dunia. Itulah sebabnya jika Anda melihat perdagangan secara keseluruhan terhadap PDB, maka kondisinya bisa terlihat berjalan dengan baik. Tetapi, mengenai siapa yang berdagang dengan siapa, pastinya ada perubahan,? kata Gopinath dalam sebuah jumpa pers.
Peningkatan jumlah tarif perdagangan antara China, Uni Eropa, dan AS telah terjadi sepanjang 2024. Baik Uni Eropa (UE) maupun AS telah menyoroti praktik perdagangan yang tidak adil dan produksi berlebihan oleh China sebagai alasan untuk menaikkan tarif karena para pelaku industri lokal merasa tertipu.
China juga dalam tanggapannya menerapkan beberapa tarif sementara yang baru dan lebih tinggi pada sejumlah impor AS dan UE di saat ketegangannya dengan AS terus berlanjut.
Meroketnya Suku Bunga
Pernyataan Gopinath seputar kenaikan tarif oleh negara-negara ini menunjukkan bahwa hal itu cenderung berdampak buruk kepada semua pihak. Mengenai hubungan dagang AS-China dan dampak globalnya, dia berkata: ?Hasil akan jauh lebih rendah daripada yang kami proyeksikan untuk semua negara di dunia, dan akan ada tekanan pada inflasi, jadi itu bukan arah yang seharusnya kita tuju.?
Komentar Gopinath muncul setelah Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyatakan kekhawatirannya tentang bagaimana perdagangan global tidak lagi bergantung pada praktik perdagangan yang baik, dan sekarang sebagian besarnya didorong tindakan perdagangan balasan yang diambil suatu negara terhadap para pesaingnya.
Tim Adams, CEO Institute of International Finance, juga memperingatkan terhadap usulan tarif yang datang dari calon presiden AS Donald Trump karena hal itu dapat membuka jalan bagi disinflasi dan akhirnya mengarah pada suku bunga yang meroket.
Gopinath dari IMF mengindikasikan bahwa stabilitas ekonomi dunia bergantung pada hubungan AS-China yang baik, dan tidak ada yang lebih baik jika ?rasa kewarasan? berlaku di antara negara-negara terkemuka. ?Menjaga hubungan ini tetap stabil telah menjadi kepentingan semua pihak,? katanya.
Dalam laporan Prospek Ekonomi Dunia 2024, IMF mengatakan bahwa penggunaan kebijakan proteksionis yang berkelanjutan oleh sejumlah negara da[at memicu penurunan pertumbuhan ekonomi secara global.
IMF juga mengatakan bahwa ekonomi AS telah menjadi penggerak utama pertumbuhan global hingga akhir tahun ini dan tahun 2025, tetapi ekonomi China yang tergelincirlah yang berjuang melawan inflasi, dan aksi saling serang antar kedua negara itu telah menyebabkan meroketnya suku bunga tinggi di kancah global.
Perang Dagang AS-China
Laporan IMF selanjutnya menunjukkan bahwa pasar negara berkembang seperti India dan Brasil telah menonjol dalam hal peningkatan perkiraan IMF. Tetapi China, negara dengan ekonomi nomor dua dunia, telah bernasib di bawah ekspektasi pada 2024 dengan tingkat pertumbuhan di bawah tren sebesar 4,5 persen dan diperkirakan tergelincir di tahun 2025.
Laporan IMF juga memperingatkan terhadap kemungkinan risiko konflik bersenjata, potensi perang dagang baru, dan sisa dari kebijakan moneter ketat yang digunakan Federal Reserve AS dan bank sentral lainnya untuk mengendalikan inflasi.
"Hari ini, IMF melaporkan bahwa Amerika Serikat memimpin negara-negara maju dalam hal pertumbuhan untuk tahun kedua berturut-turut," kata Lael Brainard, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, dalam sebuah pernyataan.
Laporan IMF secara meyakinkan menyatakan: "Kemunduran menyeluruh dari sistem perdagangan global berbasis aturan mendorong banyak negara untuk mengambil tindakan sepihak. Intensifikasi kebijakan proteksionis tidak hanya akan memperburuk ketegangan perdagangan global dan mengganggu rantai pasokan global, tetapi juga dapat membebani prospek pertumbuhan jangka menengah."
IMF ingin dunia untuk duduk dan memperhatikan secara seksama perang dagang antara AS dan China, dan melihat bagaimana hal tersebut berdampak pada seluruh dunia.
Perang Teknologi Berimbas Buruk pada Mahasiswa China di Belanda
Diplomat AS di Belanda telah menyuarakan kekhawatiran tentang tingginya jumlah mahasiswa China di universitas negara Eropa tersebut. Media pemerintah China dan... | Halaman Lengkap [870] url asal
#belanda #china #teknologi #amerika-serikat #partai-komunis-china
(SINDOnews Ekbis) 05/09/24 17:15
v/14900981/
AMSTERDAM - Media pemerintah China dan sejumlah komentator nasionalis telah memperingatkan bahwa Belanda berisiko kehilangan bakat terbaiknya di industri semikonduktor jika terus melakukan pemeriksaan keamanan nasional yang ketat terhadap mahasiswa China.Hal ini menyusul komentar dari Robert-Jan Smits, Presiden Universitas Teknologi Eindhoven, yang mengungkapkan bahwa Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Belanda telah menyuarakan kekhawatiran tentang tingginya jumlah mahasiswa China di universitasnya.
Mengutip dari The Hong Kong Post, Kamis (5/9/2024), Smits menyebutkan bahwa beberapa pembatasan sudah diberlakukan karena universitas sangat berhati-hati dalam memberikan akses kepada mahasiswa terhadap teknologi sensitif.
Universitas Eindhoven terletak hanya delapan kilometer dari kantor pusat global ASML, pemasok peralatan pembuatan chip canggih terkemuka di dunia.
Lebih dari seperempat mahasiswa di Universitas Eindhoven adalah mahasiswa internasional. Pada bulan Mei, ASML mengumumkan investasi sebesar 80 juta euro untuk memperdalam kolaborasinya dengan universitas tersebut.
Selain itu, universitas itu telah menguraikan rencana menginvestasikan lebih dari 100 juta euro untuk membangun ruang bersih, lingkungan bebas debu yang penting untuk penelitian pembuatan chip, dan untuk mendanai program mahasiswa PhD-nya selama 10 tahun ke depan.
Perang Teknologi
Terjebak dalam perang teknologi AS-China, Belanda menghadapi situasi sulit. Pada tahun 2019, AS mendesak pemerintah Belanda untuk menghentikan ekspor peralatan litografi ultraviolet ekstrem (EUV) ke China karena paten penting untuk sistem EUV.
Tanpa litografi EUV, pembuat chip China hanya dapat memproduksi chip 7 nanometer, tidak seperti perusahaan Taiwan dan Korea yang memproduksi chip 2-3 nm.
Beijing ingin mahasiswa China di luar negeri, termasuk yang berada di Belanda, untuk mempelajari teknologi chip Barat dan membawanya kembali ke China.
Seorang kolumnis yang berbasis di Henan mencatat bahwa teknologi EUV ASML sangat dibutuhkan oleh China, dan AS menekan Belanda untuk memblokirnya.
Kolumnis itu menyoroti bahwa Belanda telah membatasi penerimaan dan kursus mahasiswa China, menjadikan mereka korban yang tidak disengaja dari perang teknologi AS-China.
Dia mengeklaim AS mengganggu kerja sama global dalam bidang pendidikan dan penyaluran bakat dengan kedok keamanan nasional.
Yang Rong, kolumnis di Guancha.cn, berpendapat bahwa AS menekan sektor semikonduktor China dengan melibatkan universitas yang didukung ASML dalam perang chip AS-China.
Dia menambahkan bahwa penyaringan mahasiswa China di Belanda mencerminkan interogasi dan pemulangan mahasiswa China yang "tidak beralasan" di AS.
Dia menyoroti bahwa meski AS mengeluarkan lebih banyak visa pelajar untuk mahasiswa China pada tahun 2023, hanya 290.000 mahasiswa China yang belajar di AS tahun lalu, turun 20 persen dari 370.000 di tahun 2019.
Dia mengeklaim AS terlibat dalam tindakan "selektif, diskriminatif, dan bermotif politik" terhadap mahasiswa China, yang didorong oleh mentalitas Perang Dingin baru.
Awal tahun ini, Duta Besar China Xie Feng melaporkan bahwa puluhan warga negara China dengan visa yang sah ditolak masuk ke AS.
Selain itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin menyatakan bahwa sedikitnya delapan mahasiswa China dideportasi secara tidak adil oleh otoritas imigrasi AS di Bandara Internasional Dulles.
Pada April 2023, Delta, situs berita independen dari Universitas Teknologi Delft, melaporkan bahwa sekitar 2.000 kandidat PhD China di Belanda menerima beasiswa dari Dewan Beasiswa China (CSC).
Para mahasiswa tersebut harus melaporkan kemajuan studi mereka ke Kedutaan Besar China di Belanda setiap semester. Saat itu, badan intelijen Belanda, AIVD, mencatat bahwa universitas-universitas Belanda merupakan target yang menarik bagi mata-mata asing, terutama dari China.
Visa bagi Mahasiswa China
Menurut Global Times, sebuah publikasi yang dikelola Partai Komunis China (CCP), terdapat 5.610 mahasiswa China di Belanda pada 2023. Di antara mereka, 1.441 mahasiswa mempelajari teknik, 1.422 ekonomi, 800 bahasa dan budaya, dan 600 ilmu alam.
Pada Juni tahun sebelumnya, pemerintah Belanda mengumumkan rencana menyusun undang-undang guna membatasi penerimaan mahasiswa China ke program teknologi yang sensitif, termasuk pertahanan dan semikonduktor.
Jika diberlakukan, peraturan itu akan berlaku bagi mahasiswa doktoral China dan mereka yang berasal dari luar Uni Eropa.
Rancangan undang-undang tersebut terhenti di Parlemen. Menteri Pendidikan Belanda Eppo Bruins menyatakan bahwa pemerintah akan mengambil "pendekatan yang cermat" untuk menghindari dampak terhadap mahasiswa China yang berbakat.
Seorang profesor di Universitas Eindhoven mengatakan kepada Bloomberg bahwa perekrutan mahasiswa China menjadi lebih sulit, dengan banyak yang berjuang untuk mendapatkan magang satu tahun karena perusahaan chip Belanda semakin enggan mempekerjakan mereka.
Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, Smits dari Universitas Eindhoven mengungkapkan bahwa dubes AS untuk Belanda menyarankan agar berhati-hati dengan mahasiswa China. Meski demikian, AS terus mengeluarkan berbagai visa bagi mahasiswa China untuk universitas-universitas Amerika.
Pada tahun 2019, FBI dilaporkan mendesak setidaknya 10 universitas AS untuk memantau mahasiswa dan akademisi China secara ketat.
FBI juga merekomendasikan peningkatan pengawasan terhadap peneliti China dan menghindari pendanaan proyek dari perusahaan teknologi China seperti Huawei. Akibatnya, lebih banyak universitas AS telah membatasi akses mahasiswa China ke teknologi sensitif.
Wakil Menteri Luar Negeri Kurt Campbell menyoroti kekurangan mahasiswa AS di bidang STEM selama pidatonya di Council on Foreign Relations bulan lalu. Dia menyarankan untuk merekrut lebih banyak mahasiswa internasional dari India untuk disiplin ilmu ini daripada China.
Campbell mengusulkan bahwa meski AS harus menyambut mahasiswa China, mereka harus fokus pada humaniora dan ilmu sosial ketimbang fisika partikel.
Menurut Statista.com, 23,2 persen dari 290.000 mahasiswa China di AS selama 2022-2023 mempelajari matematika dan ilmu komputer, dengan yang lain di bidang teknik (16,8 persen), bisnis/manajemen (13,4 persen), ilmu sosial (11,2 persen), dan fisika/ilmu hayati (9,8 persen).
Krisis Perbankan China Memburuk, 40 Bank Gulung Tikar
Para pakar memperingatkan bahwa situasi ini dapat berdampak serius pada ekonomi dunia. Industri perbankan China sedang mengalami krisis besar. Dalam kurun waktu... | Halaman Lengkap [765] url asal
#china #bank-china #bangkrut #xi-jinping #partai-komunis-china
(SINDOnews Ekbis) 14/08/24 12:47
v/14415094/
BEIJING - Industri perbankan China sedang mengalami krisis besar. Dalam kurun waktu tujuh hari saja, seperti dikutip dari Mekong News pada Rabu (14/8/2024), 40 bank di China telah gulung tikar, dan laporan kejatuhan Bank Jiangxi telah menambah kesengsaraan bidang tersebut.Para pakar memperingatkan bahwa situasi ini dapat berdampak serius pada ekonomi dunia.
Berita dari China menunjukkan rumor kebangkrutan salah satu bank. Website renminbao.com mengunggah laporan dari depan kantor pusat Bank Jiangxi, yang dikepung para nasabah yang khawatir di tengah rumor kebangkrutan. Bank tersebut sebelumnya telah memperingatkan bahwa labanya mungkin turun hingga 30 persen karena masalah pembayaran pinjaman dari nasabah.
The Economist membahas tentang apa yang terjadi dengan bank-bank di China. Laporan itu menyebutkan sekitar 3.800 bank di China dalam bahaya.
Bank-bank tersebut memiliki aset senilai 55 triliun yuan (sekitar USD7,5 triliun), yang merupakan 13 persen dari semua uang di bank-bank negara tersebut. Laporan itu juga menunjukkan bahwa bank-bank tersebut sudah lama tidak berjalan dengan baik dan memiliki banyak pinjaman macet.
Lebih lanjut, laporan The Economist menyatakan sejumlah besar bank itu telah memberikan pinjaman kepada pengembang dan pemerintah daerah, sehingga membuat mereka rentan terhadap dampak penurunan pasar real estate.
Para penulis laporan itu menyoroti bahwa sejumlah bank telah mengungkapkan dalam beberapa tahun terakhir bahwa pinjaman bermasalah mencapai 40 persen dari portofolio mereka.
Pengungkapan kesulitan bank yang jarang terjadi dapat menyoroti betapa seriusnya situasi tersebut. Pola yang sama terlihat pada perusahaan pengembangan properti di China.
Masalah yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan besar ini sebagian besar tidak pernah terdengar sampai pihak berwenang akhirnya mengakui adanya masalah yang berdampak pada seluruh sektor.
Penyerapan Bank
The Economist menunjukkan bahwa strategi utama China dalam menangani bank-bank kecil yang sedang berjuang adalah dengan "menyerapnya?. Dari 40 bank yang baru-baru ini menghilang, 36 berada di provinsi Liaoning dan diambil alih oleh bank bernama Liaoning Rural Commercial Bank.
Pengamat pasar mata uang kripto Sigma G juga telah meneliti keadaan di industri perbankan China. Dia mengidentifikasi sumber utama masalah tersebut sebagai kemerosotan tajam di pasar properti China.
Pengembang dan pemerintah daerah, yang terbebani utang berlebihan, tidak mampu membayar kembali pinjaman mereka, yang mengakibatkan turbulensi keuangan. Penurunan tajam nilai properti dan penghentian proyek konstruksi telah menambah tekanan pada struktur ekonomi.
Penulis artikel The Economist juga menyoroti masalah pinjaman bermasalah yang disembunyikan. Bank telah mempekerjakan perusahaan manajemen aset (AMC) untuk menyingkirkan pinjaman macet mereka, dengan demikian memproyeksikan kesan stabilitas.
Namun, pengawas perbankan baru, Badan Pengawas Keuangan Nasional (NAFR), telah mulai menindak metode ini dengan mengenakan denda dan meningkatkan pengawasan.
The Economist mengantisipasi bahwa ekonomi China berada di ambang fase pertumbuhan yang berkelanjutan dan terselubung. Sina_21st memperingatkan, era pertumbuhan yang didorong oleh kredit telah mencapai batasnya, dan hasilnya adalah perlambatan pertumbuhan China dan dampak merugikan pada ekonomi global. Perlambatan ekonomi China pada gilirannya akan memperparah masalah perbankan mereka.
Laporan itu, mengutip pakar, memperkirakan bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi China akan memperburuk masalah sektor perbankan. Ia berpendapat bahwa situasi ini kemungkinan akan berujung pada suntikan likuiditas yang besar, stimulus ekonomi, dan investor yang mencari perlindungan dalam aset berwujud.
Para pakar dari S&P, sebagaimana disebutkan dalam laporan The Economist, berpendapat bahwa perlu waktu hingga 10 tahun untuk memperbaiki sistem perbankan China. Namun, angka resmi mungkin tidak menunjukkan seberapa besar masalah sebenarnya.
Lautan Utang
Laporan People?s Bank of China tahun 2023 mengatakan bahwa 3.655 bank, yang memegang 98,28 persen dari semua uang di bank-bank China, relatif aman.
People?s Bank of China juga mengatakan bahwa risikonya sebagian besar ada pada bank-bank kecil dan menengah di daerah pedesaan. Laporan tersebut menambahkan bahwa bank-bank besar mendapat peringkat yang baik, yang berarti ekonominya stabil.
Apa yang menyebabkan masalah besar ini bagi bank-bank kecil? Banyak kota dan bahkan seluruh wilayah di China tenggelam di bawah lautan utang. Tingkat utang telah meningkat sedemikian rupa sehingga perwakilan dari pemerintah daerah mengirim delegasi ke Beijing pada musim semi.
Mereka tengah berunding untuk mencari cara membayar kembali pinjaman bernilai miliaran dolar. Beban utang yang belum dilunasi secara bertahap memberikan tekanan pada ekonomi regional, sehingga menimbulkan risiko bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Kota-kota di China terlilit utang, terutama karena krisis real estate dan pandemi Covid-19. Dalam 10 tahun terakhir, banyak proyek pembangunan yang dibayar dengan uang pinjaman.
Proyek-proyek tersebut dimaksudkan untuk membantu daerah setempat tumbuh, tetapi setelah krisis Covid-19, pemerintah daerah tidak dapat terus berinvestasi. Pada saat yang sama, mereka masih harus membayar kembali uang yang mereka pinjam.
Goldman Sachs telah menghitung utang daerah-daerah utama di China mencapai sekitar USD13 miliar. Sebagian dari kewajiban ini berbentuk obligasi publik, dan kegagalan memenuhi kewajiban ini dapat berdampak buruk pada seluruh perekonomian.
Ekonomi Melambat, Pemerintah China Janji Rilis Kebijakan Baru
China berjanji untuk meningkatkan dukungan bagi perekonomian lantaran hilangnya momentum dalam beberapa bulan terakhir. [304] url asal
#ekonomi-china #pertumbuhan-ekonomi-china-2024 #kebijakan-ekonomi-china #xi-jinping #partai-komunis-china #china
(Bisnis.Com - Ekonomi) 30/07/24 17:20
v/12665569/
Bisnis.com, JAKARTA - Partai Komunis yang berkuasa di China berjanji untuk meningkatkan dukungan bagi perekonomian. Hal ini karena hilangnya momentum dalam beberapa bulan terakhir, yang berisiko membuat target pertumbuhan tahunan China tidak tercapai.
MengutipBloomberg,Selasa (30/7/2024) hal tersebut diungkapkan dalam pertemuan badan pengambilan keputusan yang beranggotakan 24 orang, yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping.
Para pemimpin berjanji untuk meluncurkan sejumlah langkah baru pada waktu yang tepat, tanpa merinci lebih lanjut. Mereka juga berjanji untuk mempercepat kebijakan yang ada.
Permintaan domestik yang tidak mencukupi disorot sebagai area yang perlu diperhatikan, lantaran ekonomi berjuang untuk melawan dampak negatif dari perubahan lingkungan eksternal.
Pertemuan tersebut juga menyerukan penerbitan dan penggunaan obligasi khusus pemerintah daerah yang lebih cepat, sumber utama pendanaan untuk proyek infrastruktur.
“[China akan] memperlakukan peningkatan konsumsi sebagai pendorong untuk memperluas permintaan domestik, dan fokus kebijakan ekonomi perlu bergeser ke arah yang menguntungkan penghidupan masyarakat dan meningkatkan pengeluaran," pungkas pernyataan tersebut, yang menyoroti layanan, pariwisata dan perawatan lansia.
China baru-baru ini mengalami pertumbuhan yang sangat lambat hingga mencapai laju terburuk dalam lima kuartal. Hal ini karena belanja konsumen yang melambat, yang kemudian menganggu kinerja lonjakan ekspor.
Hal tersebut kemudian dapat mengancam target China untuk mencapai pertumbuhan sekitar 5% dalam produk domestik bruto (PDB) pada tahun ini dan memicu seruan untuk memperbanyak stimulus.
Sebagai catatan, pertemuan Politbiro pada Juli 2024 merupakan salah satu dari tiga pertemuan tahunan yang difokuskan pada ekonomi. Pertemuan ini juga diawasi secara ketat untuk mengetahui sinyal-sinyal pergeseran kebijakan.
Menganalisis bahasa dalam peristiwa semacam ini menjadi penting lantaran pejabat kurang terbuka untuk membahas kebijakan dengan para ahli. Konsolidasi kekuasaan Xi berarti proses pengambilan keputusan ekonomi menjadi semakin tidak transparan.
Menjelang pertemuan tersebut, para ekonom juga telah meminta pemerintah untuk membelanjakan uang lebih cepat. Pengeluaran fiskal pada paruh pertama 2024 berkontraksi hampir 3% dari tahun lalu, yang kemungkinan membebani aktivitas ekonomi.
Apa Itu Pleno Ketiga China yang Dipimpin Xi Jinping? Ini Penjelasannya
Pada Senin (15/7/2024), Partai Komunis China memulai apa yang disebut pleno ketiga. [620] url asal
#china #partai-komunis-china #presiden-xi-jinping #rapat-pleno #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #peristiwa
(Kontan - Terbaru) 17/07/24 08:07
v/11044698/
Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Pada Senin (15/7/2024), Partai Komunis China memulai apa yang disebut pleno ketiga.
Melansir Reuters, ini merupakan sebuah pertemuan besar yang diadakan kira-kira sekali dalam lima tahun untuk memetakan arah umum kebijakan sosial dan ekonomi jangka panjang negara tersebut.
Komite Sentral mengadakan sidang pleno, atau pleno ketiga sejak para anggotanya dipilih dalam kongres terakhir partai pada tahun 2022, untuk membahas dokumen kebijakan utama mengenai reformasi yang lebih mendalam dan memajukan modernisasi China.
Pertemuan tertutup yang dipimpin oleh Xi Jinping, kepala Komite Sentral partai, akan berakhir pada hari Kamis dengan rencana untuk menjabarkan arah kebijakan China untuk lima tahun ke depan dan seterusnya.
Rapat pleno dimulai ketika China melaporkan laju pertumbuhan ekonomi paling lambat pada April-Juni sejak kuartal pertama 2023.
Ekonomi China terbebani oleh penurunan harga properti yang berlarut-larut dan permintaan yang lemah dari konsumen yang berhati-hati.
Apa yang dimaksud dengan rapat pleno?
Partai ini mengadakan kongres besar dua kali dalam satu dekade. Anggota Komite Sentral, badan pengambil keputusan tertinggi partai, dipilih pada setiap kongres.
Komite Sentral ke-20 dipilih pada kongres terakhir pada Oktober 2022.
Di sela-sela kongres, Komite Sentral mengadakan tujuh rapat pleno yang dihadiri oleh seluruh anggota yang berjumlah 205 orang dan 171 anggota pengganti.
Pleno pertama, kedua, dan ketujuh biasanya berfokus pada transisi kekuasaan di antara Komite Sentral.
Pleno keempat dan keenam umumnya berpusat pada ideologi partai.
Dalam beberapa dekade terakhir, pleno ketiga berfokus pada reformasi ekonomi jangka Panjang. Sementara pleno kelima terkait dengan pembahasan rencana pembangunan lima tahun negara.
Rencana lima tahun saat ini akan berakhir pada tahun 2025.
Mengapa pleno ketiga penting?
Rapat pleno ketiga minggu ini, yang digambarkan oleh media pemerintah Tiongkok sebagai “penentuan zaman”, diharapkan dapat menghasilkan inisiatif-inisiatif besar untuk mengatasi risiko dan hambatan yang terkait dengan kemajuan sosial dan ekonomi jangka panjang China.
Rapat pleno ketiga pada bulan Desember 1978 di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping memprakarsai reformasi ekonomi Tiongkok, mendorong kebangkitannya dari negara terpencil yang terencana secara terpusat menjadi negara dengan kekuatan ekonomi global.
Pada rapat pleno ketiga di bulan November 2013, Komite Sentral berjanji untuk membiarkan pasar memainkan peran “menentukan” dalam mengalokasikan sumber daya di dalam perekonomian.
Sejak tahun 1990-an, rapat pleno ketiga sebagian besar diadakan pada musim gugur, dengan pengecualian pada tahun 2018 dan tahun ini.
Rapat pleno ketiga pada bulan Februari 2018 mendesak partai untuk “bersatu dengan erat” dengan Xi sebagai “intinya”, dan mengusulkan penghapusan klausul konstitusional yang membatasi masa jabatan presiden untuk dua periode.
Beberapa hari kemudian, parlemen China memilih untuk menghapus batas masa jabatan presiden, yang memungkinkan Xi untuk tetap menjabat tanpa batas waktu.
Apa yang akan menjadi fokus pembahasan pada pleno ketiga ini?
Sejak mengangkat lebih dari 800 juta orang keluar dari kemiskinan sejak akhir 1970-an, China kini berada di persimpangan jalan di mana para pengamat khawatir negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia ini dapat terjebak dalam periode pertumbuhan yang rendah atau bahkan deflasi seperti Jepang.
Menurut media pemerintah yang mengutip pernyataan lembaga-lembaga pemikir China, rapat pleno ketiga minggu ini akan membantu China menavigasi kompleksitas lanskap global dengan lebih baik, memajukan transformasi ekonominya, dan meningkatkan “rasa keuntungan” rakyat.
Pada rapat pleno kelima terakhir di tahun 2020, partai tersebut mengatakan bahwa mereka menargetkan untuk meningkatkan produk domestik bruto (PDB) per kapita ke tingkat yang terlihat di negara-negara maju pada tahun 2035.
Pada saat itu, kesenjangan dalam pembangunan perkotaan-pedesaan, pembangunan antar daerah, dan standar hidup akan berkurang secara signifikan, katanya.
Minggu ini, rapat pleno ketiga akan menguraikan upaya-upaya untuk mempromosikan manufaktur maju, merevisi sistem pajak untuk mengekang risiko utang, mengelola krisis properti yang luas, meningkatkan konsumsi domestik, dan merevitalisasi sektor swasta, demikian ungkap para penasihat kebijakan.