JAKARTA, KOMPAS.com - Suharti (56), seorang pedagang di Pasar Cempaka Putih mengatakan, dirinya terlalu bersemangat bertemu Anies yang datang ke lapaknya, hingga lupa menyampaikan masalah yang ia rasakan selama ini.
Anies datang ke Pasar Cempaka Putih sekitar pukul 12.00 WIB. Di sana, ia berbincang dengan setidaknya enam pedagang.
"Ditanyain, 'Di sini sudah lama?' Aku bilang, 'sudah lama, Pak, saya di sini sudah dari 1989'. Terus ditanya 'Penjualannya bagaimana?' Ya aku bilang, 'pasarnya penjualannya kayak gini ,Pak'," ujar Suharti ketika ditemui di lapaknya, Minggu (28/7/2024).
Suharti bilang, ada tren penurunan penjualan di Pasar Cempaka Putih. Dirinya menduga penurunan penjualan disebabkan oleh belanja online yang semakin banyak digunakan masyarakat.
Namun sayangnya hal itu tidak sempat dia sampaikan kepada Anies. Dia malah fokus menjawab pertanyaan Anies saja.
"Ketemu seneng lah. Seumur hidup baru ketemu kok. Saya juga enggak nyangka kalau bisa ngobrol. Tapi saya kan enggak bilang tadi (pasar sepi). Aku tadi lupa, enggak bilang begitu sih," ujar Suharti.
Dia mengaku, penjualannya turun drastis dalam empat tahun terakhir. Kebakaran menjadi titik baliknya, kata dia.
Suharti menjelaskan, pasar tempatnya berjualan sempat terbakar pada tahun 2020. Sejak saat itu penjualannya menjadi sepi.
"Dulu kalau sebelum kebakaran, (dapat) Rp 5 juta, Rp 6 juta bisa. Sekarang separuhnya aja enggak sampai, mungkin karena online. Kalau dulu kan belum ada namanya online," duga dia.
Suharti juga bilang, tata letak pasar juga membuat pembeli tidak banyak berdatangan. Lapak tidak tampak dari sisi jalan karena terhalang tembok.
"Pasar saja dibangunnya kaya pabrik gini, enggak menghadap jalan raya. Enggak terbuka. Aturannya kan pasar menghadap jalan raya, biar keliatan, kalau begini kalau enggak masuk kan enggak ngerti (tahu) pasarnya," tutup dia.