#30 tag 24jam
Hati-Hati! Doom Spending Bisa Bikin Utang Paylater Numpuk
Fenomena doom spending dapat memicu seseorang berutang secara berlebihan, termasuk melalui paylater. [717] url asal
#doom-spending #gen-z #milenial #fenomena-doom-spending #pengeluaran-receh #tips-keuangan #paylater #utang-paylater
(Bisnis.Com - Finansial) 17/10/24 13:11
v/16599678/
Bisnis.com, JAKARTA- Fenomena doom spending bisa mendorong seseorang berutang secara berlebihan dengan sistem paylater.
Ghita Argasasmita, pendidik sekaligus perencana keuangan mengatakan bahwa fenomena doom spending sebenarnya baru muncul akhir-akhir ini. Hal ini didorong oleh kondisi ekonomi di mana terjadi inflasi tinggi yang mendorong harga-harga, termasuk aset, naik tinggi dan sulit dinalar.
“Beberapa tahun ini ada perdebatan haruskah beli rumah atau sewa karena orang sadar karena beli aset sekarang ini tidak masuk akal. Ini latar belakangnya,” dalam program Broadcash di kanal youtube Bisniscom.
Dia juga menguraikan, kebiasaan staycation atau menginap di hotel bisa jadi merupakan bentuk doom spending, atau tidak, semua tergantung pada motivasi melakukan hal tersebut.
“Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Tergantung motivasinya. Tapi sebenarnya banyak orang yang tidak menyadari motivasi itu. Dia tidak punya target. Coba ada target. Tentu akan bisa membatasi konsumsinya, termasuk staycation atau semacamnya, untuk disisihkan buat menabung,” ,” ujarnya
Pada akhirnya, kata dia, jika tidak memiliki target memiliki aset di masa mendatang, kemudian gajinya dialihkan untuk konsumsi untuk kesenangan semata, maka akan berujung pada kebiasaan berutang paylater. Hal itu lantaran kebiasaan bersenang-senang yang terus dibangun dan selalu dituruti.
Selain itu, dia melihat tidak sedikit kelas menengah di Indonesia tidak memiliki kesadaran tentang situasi perekonomian teraktual di mana saat ini daya beli melemah akibat deflasi, serta pemutusan hubungan kerja yang terjadi di mana-mana.
Lantaran tidak mau mengakses informasi terkini mengenai perekonomiuan, banyak orang yang masih memilii gaji, menjadi tidak waspada dan terus membelanjakan gajinya untuk hal-hal kesenangan tanpa memiliki perencanaan memiliki aset di masa yang akan datang.
“Karena masih belum sadar, mereka tidak hati-hati. Padahal bisa jadi di masa mendatang terkena lay off bisa kena saya sehigga harusnya menyiapkan dana darurat dalam bujeting,” terangnya.
Lanjutnya, berbarengan dengan hal itu, produsen barang maupun jasa tersier memanfaatkan ketidaktahuan sebagian orang tentang situasi ekonomi yang tengah lesu, terus menerus ‘meracuni’ dengan berbagai produk kesenangan sesaat. Konsumen dijejali dengan berbagai macam produk berseri yang menjanjikan kesenangan tertentu,dan tidak mendapatkan kesempatan sejenak untuk berpikir guna menunda kesenangan.
“Jadi psikologi yang dimainkan terutama orang-orang yang masih punya gaji ini. Mungkin kebanyakan orang tidak akses berita ekonomi, tidak ingin menambah pengetahuan keuangannya sehingga asyik saja tenggelam dalam kehidupan seperti itu,” bebernya.
Tanda Terjebak Doom Spending
Dia kemudian menjelaskan beberapa tanda seseorang terpapar kebiasaan membelanjakan uang untuk kesenangan receh tanpa mempersiapkan diri menggapai aset di masa mendatang. Pertama, tentu saja tidak punya taget yang realistis.
“Tanyakan ke diri sendiri, apa ada target punya aset yang realistis. Soalnya kebanyakan yang bikin putus asa, maunya yang tidak realistis. Misalkan maunya langsung punya rumah di daerah Jakarta Selatan. Targetnya tidak bertahap tapi maunya langsung yang besar. Padahal orang harus berproses,” tuturnya.
Ciori kedua adalah tidak punya komitmen untuk menabung. Jika mau menyisihkan gaji untuk ditabung, seringkali terjadi inkonsistensi karena merasa ada hal lain yang ingin dibelanjakan. Tentu saja hal itu butuh pengaturan dan kontrol yang ketat dengan sistem bujeting yakni 50 persen gaji digunakan untuk memenuhi kebutuhan primer seperti makan dan minum dan membayar tagihan sehari-hari.
Selanjutnya, 20 persen berikutnya digunakan untuk menyicil utang, jika memang memiliki pinjaman. Sisanya, 20 persen lagi digunakan untuk menabung dan 10 persen tentu saja akan digunakan untuk bersenang-senang.
“Kalau di tengah jalan tiba-tiba ada kebutuhan misalkan untuk senang-senang, kan sudah ada jatahnya. Kalau kurang, ya ditabung saja. Boleh kok nabung dari yang 20 persen nabung tapi harus tahu bahwa harus punya kemampuan delay gratification atau menunda kesenangan. Harus latihan menunda kesenangan.
Untuk menghindarkan diri masuk dalam jebakan doom spending, Ghita menyarankan agar kita harus melatih diri menjalani setiap proses kehidupan. Hal ini berkaitan erat dengan faktor psikologi tentunya.
Langkah lainnya adalah membatasi akses ke sosial media. Sebaiknya selalu mengajukan pertanyaan untuk diri sendiri, apakah tontonan di media sosial itu lebih banyak berkaitan denganhal-hal tentang kesenangan? Konten-konten itu, tuturnya, memicu hasrat untuk menjadi kaya raya atau menikmati hidup dengan berfoya-foya dalam waktu singkat.
“Sadari saja realita yang di sekitar kita bukan di medos. Screening apa yang kita follow itu penting untuk menjaga kesehatan mental. Kesehatan mental yang baik jadi dasar kemampuan kita untuk aware, untuk bisa menyadari bahwa perencanaan keuangan penting sehingga kita mampu menunda kesenangan kita. Kalau mau berproses harus sabar,” terangnya.
Tips terakhir, tuturnya, adalah perbanyak pengetahuan tentang keuangan, termasuk manajemen keuangan atau hal-hal yang bersifat menambah pengetahuan keuangan dan pendapatan pasif.
Kenali Fenomena Doom Spending yang Bisa Bikin Miskin Gen Z dan Milenial
Doom spending adalah pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya receh atau affordable joy alias mudah untuk dinikmati saat ini. [543] url asal
#doom-spending #gen-z #milenial #fenomena-doom-spending #pengeluaran-receh #tips-keuangan
(Bisnis.Com - Finansial) 17/10/24 09:48
v/16593610/
Bisnis.com,JAKARTA- Fenomena doom spending sering tidak disadari oleh generasi muda, khususnya gen Z dan milenial, padahal hal itu mengancam kualitas masa depan pribadi.
Ghita Argasasmita, pendidik sekaligus perencana keuangan mengatakan bahwa doom spending adalah pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya receh atau affordable joy alias mudah untuk dinikmati saat ini. Menurutnya, kelakuan ini sebenarnya didorong oleh faktor keputusasaan atau frustrasi karena tidak bisa mencapai target finansialnya.
“Sekarang kan kita harus punya aset. Kalau kita lakukan pembelian, kita bisa mencicil tapi harus menghasilkan aset. Asset yang paling penting dalam kehidupan misalkan rumah atau kendaraan, terutama rumah mahal sekali saat ini. Hal ini buat orang frustrasi, misalkan menabung sampai kapan juga tidak akan terbeli mendingan menikmati hidup dengan melakukan pembelian hal-hal receh demi kesenangan. Jadi dia tahu harus beli aset tapi merasa tidak mampu,” ujarnya dalam program Broadcash di kanal youtube Bisniscom, dikutip Kamis (17/10/2024).
Dengan kata lain, tuturnya, doom spending membuat siapa saja yang terpapar pemikiran itu, berpikir untuk tidak memiliki aset. Mereka berpikir lebih baik pendapatan yang diperoleh dari hasil kerja dihabiskan untuk mencari kesenangan.
Dia menjelaskan, perilaku doom spending pada dasarnya berpangkal dari ketiadaan kesabaran untuk menjalani proses. Hal ini tergambar jelas dari perilaku kebanyakan orang di media sosial yang ingin segalanya serba instan atau cepat.
“Kita hidup di zaman media sosial yang orang suka bikin konten yang singkat. Secara tidak sadar kita pengennya cepat saja. Sementara kalau membeli aset, misalkan membeli rumah itu kan perlu proses yang panjang dan kesabaran yang tinggi. Ketiadaan kesabaran itulah yang kemudian mengarahkan pada perilaku doom spending,” ucapnya.
Lanjutnya, dalam teori perencanaan keuangan ada yang disebut dengan bujeting. Di dalam bujeting itu, porsi menabung tentu lebih besar dibandingkan dengna porsi untuk bersenang-senang. Perinciannya, untuk menabung semestinya 20 persen dari gaji, sementara kesenangan sebesar 10 persen.
Kebanyakan, kata dia, kelas menengah di Indonesia memiliki gaji sesuai upah minimum atau sedikit di atas upah regional tersebut. Seringkali, khususnya di daerah metropolitan, para pekerja malah merasa porsi gaji untuk bersenang-senang terlampau kecil jika sesuai dengan bujeting 10 persen.
Doom Spending Bukan Monopoli Perempuan
“Kok 10% jatah saya untuk senang-senang. Buat apa menabung banyak-banyak toh targetnya kayaknya tidak mungkin tercapai. Lebih baik yang masuk akal, yang di depan mata saja jadi bisa dibalik porsi bersenang-senang 20 persen, menabung 10 persen itu juga kalau masih ada uangnnya,” bebernya.
Dalam kesempatan itu dia membantah bahwa doom spending kebanyakan dilakukan oleh kaum perempuan. Menurutnya kaum lelaki pun terpapar doom spending. Stigma terhadap kaum permepuan itu menurutnya berkaitan dengan kebiasaan manajerial keuangan dalam keluarga.
Di dalam keluarga, menurutnya kaum perempuanlah yang biasa memegang uang entah itu dari hasil kerja suami atau juga ditambah dengan hasil kerja sendiri. Uang itu akan dibelanjakan untuk kebutuhan sekeluarga, termasuk untuk suami dan anak. Alhasil, jumlah dan intensitasnya pun lebih besar.
“Tapi coba dicek dari jumlah uang yang dipegang, berapa uang yang benar-benar untuk keperluan perempuan sendiri. Bandingkan dengan apa yang disebut uang laki, yang memang disimpan untuk keperluan diri sendiri misalkan untuk gajet, hobi dan semacamnya. Jadi kalau dihitung sebenarnya lelaki itu lebih boros dibandingkan perempuan,” urainya.
Lantaran memiliki intensitas berbelanja yang tinggi untuk keperluan seluruh keluarga, kaum perempuan menurutnya mudah terpapar berbagai promosi dan diskon belanja. Hal itulah yang melahirkan stigma bahwa doom spending paling banyak menyasar perempuan.