Bisnis.com, JAKARTA - Selama setahun terakhir atau terhitung sejak 7 Oktober 2023, serangan pasukan Israel telah menewaskan 42.000 warga Palestina, dimana setengahnya merupakan perempuan dan anak-anak. Serangan Israel yang meluluhlantakkan Gaza juga membuat jutaan orang menjadi pengungsi.
Militer Israel mengklaim telah mengebom lebih dari 40.000 target, menemukan 4.700 terowongan dan menghancurkan 1.000 lokasi peluncur roket.MengutipReuters,Senin (7/10/2024), informasi tersebut disampaikan oleh militer Israel pada peringatan satu tahun serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Menghitung jumlah pasukan yang namanya diizinkan untuk dipublikasikan, militer Israel mengatakan bahwa sebanyak 726 tentara Israel telah tewas dalam serangan sejak 7 Oktober 2023.
Dari jumlah tersebut, 380 tewas dalam serangan 7 Oktober dan 346 tewas dalam pertempuran di Gaza yang dimulai pada 27 Oktober 2023.
Kemudian, sejak dimulainya perang, pihak militer mengatakan bahwa sebanyak 13.200 roket telah ditembakkan ke Israel dari Gaza. Sebanyak 12.400 lainnya ditembakkan dari Lebanon, sementara 60 berasal dari Suriah, 180 dari Yaman, dan 400 dari Iran.
Dijelaskan juga bahwa serangan tersebut menewaskan lebih dari 800 apa yang mereka sebut “teroris” di Lebanon, dengan 4.900 target telah diserang dari udara, bersama dengan sekitar 6.000 target darat.
Selama tahun lalu, Israel dikatakan menangkap lebih dari 5.000 tersangka di Tepi Barat dan Lembah Yordan.Kemudian, pihak militer mengatakan bahwa telah menewaskan delapan komandan brigade Gaza, sekitar 30 komandan batalyon dan 165 komandan kompi selama setahun terakhir.
Fotografer Reuters memotret seorang wanita bernama Inas Abu Maamar, yang wajahnya terkubur di dalam jenazah keponakannya yang berusia lima tahun, Saly, yang telah meninggal dunia. Foto itu diambil beberapa hari setelah Israel memulai serangan militernya di Gaza.
Foto ini menjadi salah satu gambaran paling jelas tentang penderitaan warga Palestina selama pengeboman Gaza selama setahun, yang merupakan respon Israel terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Saly terbunuh bersama ibu, adik perempuan, kakek, nenek, paman, bibi, dan tiga sepupunya. Sejak saat itu, Abu Maamar, 37 tahun, juga kehilangan saudara perempuannya, yang terbunuh bersama empat anaknya dalam serangan udara di Gaza utara.
Abu Maamar telah berpindah tempat tinggal sebanyak tiga kali untuk menghindari pengeboman, bahkan pernah tinggal di tenda selama empat bulan. Hari ini, ia kembali ke rumahnya di Khan Younis, Gaza selatan. Retakan-retakan membentang di atapnya yang bergelombang, tirai kamar mandi menutupi lubang seukuran jendela di dindingnya.
Bisnis.com, JAKARTA - Polisi Israel menangkap Imam Masjid Al-Aqsa Sheikh Ekrima Sabri atas dugaan hasutan dan dukungan terhadap terorisme setelah dia melakukan penghormatan terakhir untuk Ismail Haniyeh, pemimpin Hamas yang dibunuh di Iran.
Mantan mufti besar Yerusalem itu dalam khotbahnya berduka cita atas meninggalnya Ismail Haniyeh, dengan memohon kepada Allah agar mengasihaninya dan menempatkannya di surga.
Rekaman di media sosial menunjukkan para jemaah di masjid Al-Aqsa meneriakkan, “Allahu Akbar” dan “darah kita akan menebus sang martir” selama khotbahnya.
Polisi Israel mulai menyelidiki imam tersebut dengan tuduhan membuat pernyataan yang menghasut dan mendukung terorisme selama khotbah.
Adapun, polisi Israel juga mengatakan bahwa setelah mendapatkan persetujuan jaksa penuntut umum untuk penyelidikan tersebut, petugas membawa Sabri dari rumahnya di Yerusalem Timur untuk diinterogasi di Unit Investigasi Pusat Distrik Yerusalem.
Menteri Dalam Negeri Israel Moshe Arbel menulis surat kepada Jaksa Agung Gali Baharav-Miara untuk memberitahunya bahwa dia akan mencabut izin tinggal tetap Sabri.
Sheikh Ekrima Sabri (85) tidak memiliki kewarganegaraan Israel. Dia tinggal di Yerusalem Timur sebagai penduduk Palestina. Dia juga memegang izin tinggal di Israel, yang relatif mudah dicabut oleh Menteri Dalam Negeri.
“Sabri memegang izin tinggal permanen di Israel, yang selama bertahun-tahun tidak menghentikannya dari menghasut menentang negara tersebut, mempromosikan antisemitisme dan terorisme, serta melakukan kejahatan keamanan serius,” kata Arbel.
Dilansir Times of Israel, Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben Gvir telah menyerukan penyelidikan terhadap Sabri, dengan tuduhan dari mereka berdua.
"Saya berharap jaksa penuntut negara, yang berupaya menyelidiki saya atas tuduhan hasutan terhadap penduduk Gaza, akan bertindak dengan tekad yang sama terhadap seorang syekh yang menghasut pembunuhan orang-orang Yahudi di Temple Mount," tulis Ben Gvir di X.
Polisi Israel pernah memeriksa Sabri atas tuduhan penghasutan sebelumnya, yang didakwa dengan tuduhan menghasut terorisme atas komentarnya yang diduga mendukung penyerang yang menembaki penjaga di pemukiman Maale Adumim di Tepi Barat, yang menewaskan seorang prajurit, pada Oktober 2022.
Imam itu juga dituduh memuji seorang yang menewaskan 3 warga Israel dan melukai 6 orang lainnya dalam penembakan April 2022 di Tel Aviv. Sabri diangkat menjadi mufti Yerusalem oleh mendiang pemimpin Palestina Yasser Arafat pada 1994.
Namun, Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas mencopotnya dari jabatan tersebut pada 2006. Saat ini, dia mengepalai Dewan Muslim Tertinggi Yerusalem.
Seperti diketahui, kompleks Masjid Al-Aqsa terletak di Temple Mount, situs yang dianggap sebagai tempat tersuci ketiga dalam agama Islam dan tersuci dalam agama Yahudi.
Bisnis.com, JAKARTA – Gejolak di Timur Tengah, khususnya pembunuhan pemimpin HamasIsmail Haniyeh, dinilai dapat kembali meningkatkan ketidakpastian global, termasuk berdampak pada perekonomian nasional.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan stabilitas sistem keuangan relatif terjaga pada semester pertama 2024.
Namun demikian, dia menilai ketidakpastian yang berpotensi meningkat kata dia dapat berdampak pada kondisi perekonomian dalam negeri di sisa tahun 2024.
“Misalnya konflik geopolitik di Timur Tengah belum terlihat akan selesai dalam waktu dekat. Apalagi kita tahu bahwa salah satu petinggi dari Hamas yang terbunuh kemarin bisa saja akan mengubah arah dari konflik geopolitik saat ini,” katanya kepada Bisnis, Jumat (2/8/2024).
Menurutnya, konflik geopolitik, terutama di Timur Tengah sangat erat hubungannya dengan perkiraan atau proyeksi harga minyak.
Jika eskalasi dari konflik ini meningkat kembali, maka volatilitas harga minyak akan meningkat. Apalagi, kata Yusuf, konflik geopolitik ini juga ikut mempengaruhi Iran sebagai salah satu negara produsen minyak.
Yusuf menilai ketika harga komoditas terutama minyak terdampak, maka proyeksi yang sudah disusun sebelumnya dapat berubah, termasuk proyeksi terkait keputusan bank sentral Amerika Serikat untuk menurunkan suku bunganya yang diperkirakan terjadi pada September.
“Saya kira periode ketidakpastian yang bisa mempengaruhi stabilitas ekonomi global dan pada muaranya stabilitas sistem keuangan di dalam negeri masih relatif tinggi, sehingga pemerintah perlu tetap waspada dan dalam kondisi siaga,” jelasnya.