Pasukan Israel terus menggempur Jabalia yang terletak di bagian utara daerah kantong dan merupakan kamp pengungsi bersejarah terbesar di Gaza. [393] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Tank-tank Israel terus menggempur kamp Jabalia di Jalur Gaza hingga Jumat (11/10/2024) malam dan menewaskan sedikitnya 19 warga Palestina.
Melansir Reuters, Sabtu (12/10/2024), warga Palestina mengatakan pasukan Israel terus menggempur Jabalia, yang terletak di bagian utara daerah kantong dan merupakan kamp pengungsi bersejarah terbesar di Gaza, dari udara dan darat.
Militer Israel menerbitkan perintah evakuasi baru pada hari Sabtu ke dua lingkungan di tepi utara Kota Gaza, yang juga terletak di utara daerah kantong, dengan mengatakan bahwa daerah itu adalah zona tempur berbahaya.
Dalam sebuah pernyataan, kementerian dalam negeri Gaza yang dikelola Hamas mendesak penduduk untuk tidak pindah ke daerah utara daerah kantong dan juga untuk menghindari ke arah selatan
”Ppenjajah terus melakukan pemboman dan pembunuhan setiap hari di daerah-daerah yang diklaimnya aman,” demiokian pernyataan Kementerian.
Belum ada komentar terbaru dari Israel mengenai jumlah korban tewas, namun militer mengatakan dalam beberapa hari terakhir bahwa pasukan yang beroperasi di Jabalia dan daerah-daerah sekitarnya telah menewaskan puluhan militan, menemukan senjata dan menghancurkan infrastruktur militer.
Operasi di daerah ini dimulai seminggu yang lalu dan militer mengatakan bahwa operasi ini bertujuan untuk memerangi para militan yang melancarkan serangan dan untuk mencegah Hamas menyusun kekuatan kembali.
Para pejabat kesehatan Palestina mengatakan jumlah korban tewas di Jabalia selama seminggu terakhir mencapai 150 orang.
Pada Jumat, serangan Israel menghantam empat rumah di Jabalia, menewaskan sekitar 20 orang dan melukai puluhan lainnya, kata para petugas medis. Militer Israel telah mengirim pasukan ke kota-kota terdekat, Beit Hanoun dan Beit Lahiya serta Jabalia dan memerintahkan penduduk untuk mengevakuasi rumah mereka dan menuju ke daerah yang aman di selatan daerah kantong tersebut.
Para pejabat Palestina dan PBB mengatakan bahwa tidak ada daerah yang aman di Gaza. Mereka juga menyuarakan keprihatinan atas kekurangan makanan, bahan bakar, dan pasokan medis yang parah di Gaza utara, dan mengatakan bahwa ada risiko kelaparan di sana.
Kampanye militer Israel di Gaza, yang bertujuan untuk menghabisi kelompok militan Hamas, telah menewaskan lebih dari 42.000 warga Palestina sejak dimulai setahun yang lalu, menurut kementerian kesehatan Gaza, dan telah meluluhlantakkan daerah kantung tersebut.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu, Hamas mengatakan “pembantaian terhadap warga sipil” yang dilakukan Israel bertujuan untuk menghukum penduduk Jabalia karena menolak meninggalkan rumah mereka.
Hamas juga mengatakan bahwa hal itu merupakan tanda kegagalan militer Israel untuk mengalahkan kelompok tersebut. Israel membantah bahwa mereka menargetkan warga sipil.
Bisnis.com, JAKARTA - Selama setahun terakhir atau terhitung sejak 7 Oktober 2023, serangan pasukan Israel telah menewaskan 42.000 warga Palestina, dimana setengahnya merupakan perempuan dan anak-anak. Serangan Israel yang meluluhlantakkan Gaza juga membuat jutaan orang menjadi pengungsi.
Militer Israel mengklaim telah mengebom lebih dari 40.000 target, menemukan 4.700 terowongan dan menghancurkan 1.000 lokasi peluncur roket.MengutipReuters,Senin (7/10/2024), informasi tersebut disampaikan oleh militer Israel pada peringatan satu tahun serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Menghitung jumlah pasukan yang namanya diizinkan untuk dipublikasikan, militer Israel mengatakan bahwa sebanyak 726 tentara Israel telah tewas dalam serangan sejak 7 Oktober 2023.
Dari jumlah tersebut, 380 tewas dalam serangan 7 Oktober dan 346 tewas dalam pertempuran di Gaza yang dimulai pada 27 Oktober 2023.
Kemudian, sejak dimulainya perang, pihak militer mengatakan bahwa sebanyak 13.200 roket telah ditembakkan ke Israel dari Gaza. Sebanyak 12.400 lainnya ditembakkan dari Lebanon, sementara 60 berasal dari Suriah, 180 dari Yaman, dan 400 dari Iran.
Dijelaskan juga bahwa serangan tersebut menewaskan lebih dari 800 apa yang mereka sebut “teroris” di Lebanon, dengan 4.900 target telah diserang dari udara, bersama dengan sekitar 6.000 target darat.
Selama tahun lalu, Israel dikatakan menangkap lebih dari 5.000 tersangka di Tepi Barat dan Lembah Yordan.Kemudian, pihak militer mengatakan bahwa telah menewaskan delapan komandan brigade Gaza, sekitar 30 komandan batalyon dan 165 komandan kompi selama setahun terakhir.
Fotografer Reuters memotret seorang wanita bernama Inas Abu Maamar, yang wajahnya terkubur di dalam jenazah keponakannya yang berusia lima tahun, Saly, yang telah meninggal dunia. Foto itu diambil beberapa hari setelah Israel memulai serangan militernya di Gaza.
Foto ini menjadi salah satu gambaran paling jelas tentang penderitaan warga Palestina selama pengeboman Gaza selama setahun, yang merupakan respon Israel terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Saly terbunuh bersama ibu, adik perempuan, kakek, nenek, paman, bibi, dan tiga sepupunya. Sejak saat itu, Abu Maamar, 37 tahun, juga kehilangan saudara perempuannya, yang terbunuh bersama empat anaknya dalam serangan udara di Gaza utara.
Abu Maamar telah berpindah tempat tinggal sebanyak tiga kali untuk menghindari pengeboman, bahkan pernah tinggal di tenda selama empat bulan. Hari ini, ia kembali ke rumahnya di Khan Younis, Gaza selatan. Retakan-retakan membentang di atapnya yang bergelombang, tirai kamar mandi menutupi lubang seukuran jendela di dindingnya.
Bisnis.com, JAKARTA -- Peperangan Israel dan Palestina sudah genap satu tahun sejak Kelompok Hamas melakukan serangan mendadak pada Jumat, 7 Oktober 2023.
Dilansir dari Reuters pada Senin (7/10/2024), serangan yang dilakukan oleh Hamas atau gerakan nasionalisme dari Palestina itu setidaknya telah menewaskan lebih dari 1.200 orang dan sekitar 240 orang warga Israel lainnya dijadikan sandera.
Tak tinggal diam, Israel kemudian membombardir wilayah Palestina sebagai respons dari serangan tersebut. Misalnya, saat terjadi ledakan di Baptis al-Ahli al-Arabi di Kota Gaza yang dituding berasal dari serangan udara Israel pasa (17/10/2024).
Namun, Israel mengatakan ledakan tersebut disebabkan oleh peluncuran roket Palestina yang gagal. Atas kejadian ini, Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan 471 orang tewas.
Selanjutnya, serangan udara Israel menghantam kamp pengungsi Jabalia yang padat penduduk hingga menewaskan komandan Hamas di Gaza pada (31/10/2024). Petugas kesehatan Palestina mengatakan serangan itu menewaskan sekitar 50 orang dan melukai 150 orang.
Israel terus melakukan serangan brutal di Gaza sejak serangan awal Oktober lalu, meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera.
Hampir 41.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, tewas dan lebih dari 95.000 orang terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.
Gencatan Senjata Alot
Sekitar Maret 2024, Israel-Hamas membahas soal perundingan gencatan senjata. Setidaknya ada Mesir, Amerika dan Qatar terlibat dalam upaya menghentikan perang sementara itu.
Pembicaraan selama berbulan-bulan telah membahas masalah yang sama, dengan Israel mengatakan perang hanya bisa berakhir dengan kehancuran Hamas sebagai kekuatan militer dan politik.
Sementara itu, Hamas mengatakan mereka hanya akan menerima gencatan senjata permanen, bukan sementara seperti permintaan Israel.
Di antara periode perundingan itu, akhirnya Militer Israel dan kelompok militan Palestina, Hamas, telah menyetujui gencatan senjata selama tiga hari di Gaza pada akhir Agustus 2024.
Kesepakatan itu dilakukan agar 640.000 anak dapat melakukan vaksin polio. Sebelumnya, WHO mengkonfirmasi pada 23 Agustus bahwa satu bayi telah lumpuh karena virus polio tipe 2. Kasus ini disebut merupakan kasus pertama di Gaza dalam 25 tahun.
Adapun, hingga kini perbincangan gencatan senjata permanen masih berlangsung. Pada intinya, pihak Israel menginginkan kelompok Hamas agar tidak beroperasi lagi.
Misalnya, dengan meminta perbatasan antara Gaza selatan dan Mesir tidak akan pernah digunakan sebagai jalur kehidupan bagi Hamas.
“Sampai hal itu terjadi, kami akan mencapainya,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikutip dari Reuters pada Kamis (5/9/2024).
Di sisi lain, Hamas menyatakan siap untuk melakukan gencatan senjata apabila Israel menyetujui proposal yang diajukan oleh Presiden AS, Joe Biden.
Proposal itu memuat tiga fase untuk mengakhiri permusuhan di Gaza dan menjamin pembebasan sandera yang ditahan di wilayah pesisir tersebut. Rencana tersebut mencakup gencatan senjata, pertukaran sandera-tahanan dan rekonstruksi Gaza.
Konflik Israel vs Palestina Meluas
Belakangan, kondisi timur tengah semakin memanas usai Israel membunuh pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah pada Jumat (27/9/2024). Setelah kematian Nasrallah, Hizbullah meluncurkan serangan roket baru ke Israel.
Tak tinggal diam, Israel juga gencar melakukan serangan di Lebanon timur, selatan, dan Beirut pada Senin (30/9/2024). Iran juga kemudian menembakkan salvo rudal balistik ke Israel pada hari Selasa (1/10/2024).
Aksi serang tersebut terus berlangsung hingga serangan Israel ke gudang-gudang Pangkalan Udara Khmeimim Rusia pada Kamis (3/10/2024).
Pada Minggu (6/10/2024), serangan udara Israel di kawasan Lebanon Utara menewaskan pemimpin Hamas, bersama istri dan dua putrinya.
Komandan Saeed Attalah Ali dan keluarganya telah meninggal dunia dalam pengeboman terhadap rumahnya di kamp Beddawi, di dekat kota Tripoli di Utara. Ali telah diidentifikasi sebagai pemimpin sayap bersenjata Hamas, Brigade Qassam.
Pertempuran antara Hizbullah dengan Israel ini, merupakan babak terbaru dari peperangan sejak dilancarkannya serangan Hamas kepada Israel pada 7 Oktober 2023.
Meningkatnya frekuensi serangan Israel terhadap milisi Hizbullah di Lebanon dan milisi Houthi di Yaman telah memicu kekhawatiran bahwa ketegangan di Timur Tengah meluas hingga melibatkan Amerika Serikat.
Terkait dengan hal ini, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mencatatkan ada 116 WNI yang lebih memilih menetap di Lebanon. Ratusan WNI itu tersebar di sejumlah kota mulai dari Beirut 83 orang; Baabda empat orang; Bekaa lima orang.
Selanjutnya, Byblos tiga orang; Tripoli tiga belas orang; Akkar empat orang; Tyre tiga orang; dan Saida satu orang. Terdapat beberapa alasan yang membuat ratusan WNI itu memilih menetap di Lebanon meski ada ketegangan situasi geopolitik di Timur Tengah.
Meskipun begitu, Kemlu juga telah berhasil melakukan evakuasi terhadap 65 WNI yang berada di Lebanon. Proses evakuasi itu dilakukan melalui lima gelombang mulai dari 10 Agustus hingga 3 Oktober 2024.
Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meyakini persoalan ketegangan di Timur Tengah ketika Israel melancarkan serangan udara baru di Lebanon dapat segera diselesaikan dengan turunnya pihak ketiga.
Orang nomor satu di Indonesia itu mengatakan bahwa semua Negara perlu berunding dan melakukan pendekatan-pendekatan lunak untuk segera menyudahi konflik yang ada.
Hal ini disampaikannya usai menghadiri acara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke-79 yang dilaksanakan di Lapangan Silang Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Sabtu (5/10/2024).
"Ya, sebetulnya kalau semua negara melakukan pendekatan-pendekatan lunak. Lalu dialog, lalu bertemu, melalui komunikasi yang baik saya kira peristiwa di Palestina, di Gaza, di Lebanon, bisa dihindari,” ujarnya kepada wartawan.
Lebih lanjut, dia menekankan bahwa upaya preventif lebih dibutuhkan dibandingkan cara represif sehingga setiap Negara agar berdiskusi tanpa mendorong ego sektoral masing-masing.
“Saya kira memang dialog adalah jalan satu-satunya untuk menyelesaikan konflik yang ada di Gaza, di Lebanon, Israel dengan Palestina, isralel dengan Hizbullah, Iran dengan Israel, saya kira harus diselesaikan di meja perundingan dan semua harus menahan diri. Untuk tidak memperbesar eskalasi yang ada,” imbuhnya.
Di sisi lain, Kepala Negara mengaku sudah meminta agar Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI yang dipimpin Retno Marsudi agar juga melakukan pendekatan dari sisi Kementerian.
“Dan Bu Menlu sudah melakukannya. Melalui pendekatan-pendekatan kementerian,” pungkas Jokowi.
Bisnis.com, JAKARTA - Tentara Israel menyerang sebuah sekolah di Gaza Tengah yang menampung keluarga pengungsi Palestina pada Sabtu (13/7/2024). 16 orang warga sipil tewas akibat serangan bom tersebut.
Dilansir dari Reuters pada Minggu (14/7/2024), Kementerian Kesehatan Palestina serangan terhadap sekolah di Al-Nuseirat menewaskan sedikitnya 16 orang dan melukai lebih dari 50 orang.
Sementara itu, Militer Israel mengatakan bahwa pihaknya mengambil tindakan pencegahan untuk meminimalkan risiko terhadap warga sipil sebelum menargetkan orang-orang bersenjata yang menggunakan daerah tersebut sebagai tempat persembunyian untuk merencanakan dan melakukan serangan terhadap tentara.
Kelompok Hamas membantah para pejuangnya berada di sekolah tersebut.
Di tempat kejadian, Ayman al-Atouneh mengatakan bahwa ia melihat anak-anak di antara para korban tewas.
"Kami datang ke sini berlari untuk melihat area yang menjadi sasaran, kami melihat mayat anak-anak, dalam keadaan terpotong-potong, ini adalah taman bermain, ada trampolin di sini, ada ayunan, dan pedagang," kata Ayman al-Atouneh dikutip dari Reuters, Minggu (14/7/2024).
Mahmoud Basal, juru bicara Dinas Darurat Sipil Gaza mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa jumlah korban tewas dapat meningkat karena banyak dari korban yang terluka dalam kondisi kritis.
Serangan itu berarti tidak ada tempat di daerah kantong itu yang aman bagi keluarga-keluarga yang meninggalkan rumah mereka untuk mencari perlindungan, katanya.
Al-Nuseirat, salah satu dari delapan kamp pengungsi bersejarah di Jalur Gaza, menjadi sasaran pengeboman Israel pada Sabtu (14/7/2024).
Sebuah serangan udara sebelumnya terhadap sebuah rumah di kamp tersebut menewaskan sedikitnya 10 orang dan melukai banyak orang lainnya, menurut petugas medis.
Dalam laporan hariannya mengenai jumlah korban tewas dalam perang yang telah berlangsung hampir sembilan bulan itu, Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan serangan militer Israel di daerah kantong tersebut menewaskan setidaknya 29 warga Palestina dan melukai 100 orang.