Otoritas China menjatuhkan sanksi berat kepada unit audit PwC, termasuk larangan operasi dan denda, akibat keterlibatan dalam kebangkrutan Evergrande. [742] url asal
Otoritas China menjatuhkan hukuman berat kepada unit audit PwC di negara itu. Sanksi tersebut buntut dari keterlibatan unit audit PwC yang membuat raksasa properti Evergrande Group bangkrut.
Dikutip dari detikFinance yang melansir CNN Business, unit audit PwC mendapat sanksi larangan operasi selama enam bulan dan denda sebesar 441 juta yuan atau Rp 957,95 miliar (kurs Rp 2.172). Hukuman ini merupakan yang terberat yang pernah diterima oleh firma akuntansi 'Big Four' di Tiongkok.
Komisi Pengaturan Sekuritas China (CSRC) mendapati PwC Zhong Tian LLP (unit audit PcW di China) melakukan pembiaran hingga ikut membantu menutupi penipuan yang dilakukan oleh Evergrande. Hal ini terjadi saat mengaudit hasil tahunan unit usaha utama Evergrande, yakni Hengda Real Estate, pada 2019 dan 2020.
"PwC, sampai batas tertentu telah menutupi dan bahkan membiarkan penipuan keuangan Evergrande dan penerbitan obligasi perusahaan yang curang," ujar CSRC dikutip dari detikFinance, Minggu (15/9/2024).
Terpisah, jaringan PwC melalui situs resminya mengungkapkan kekecewaan terhadap hasil audit PwC Zhong Tian (atau "PwC ZT") atas Hengda yang jauh di bawah standar yang diharapkan firma anggota jaringan PwC. Mereka megatkan PwC ZT bekerja sama sepenuhnya dengan regulatornya, menghormati keputusan mereka, dan akan sepenuhnya mematuhi sanksi administratif.
"Pekerjaan yang dilakukan oleh tim audit Hengda PwC Zhong Tian jauh di bawah ekspektasi tinggi kami dan sama sekali tidak dapat diterima. Pekerjaan tersebut tidak mencerminkan apa yang kami perjuangkan sebagai sebuah jaringan dan tidak ada ruang untuk hal ini di PwC," Ketua Global PWC, Mohamed Kande.
"Itulah sebabnya, setelah penyelidikan menyeluruh, kami memastikan bahwa tindakan telah diambil untuk meminta pertanggungjawaban dari mereka yang bertanggung jawab dan program perbaikan yang komprehensif akan membangun perusahaan PwC China yang lebih kuat di masa mendatang. China tetap menjadi bagian penting dari jaringan PwC dan saya tetap yakin dengan mitra dan staf perusahaan China saat kita bekerja sama untuk membangun kembali kepercayaan dengan para pemangku kepentingan," sambungnya.
Kemudian, PwC China dan Dewan Tata Kelola, dengan dukungan dari jaringan PwC, telah mengambil sejumlah tindakan akuntabilitas dan perbaikan untuk mengatasi masalah ini. Antara lain pemutusan hubungan kerja dengan 6 mitra dan 5 staf yang terlibat langsung dengan proyek audit Hengda.
Lalu, jaringan PwC sudah mengambil tindakan pertanggungjawaban dan memulai proses pemberian sanksi finansial kepada pimpinan perusahaan saat ini dan sebelumnya yang bertanggung jawab atas bisnis tersebut.
Sebagai tambahan, Daniel Li setuju untuk mengundurkan diri sebagai Territory Senior Partner (TSP) PwC China. Mengingat sebelumnya ia bertanggung jawab sebagai Head of Assurance PwC China. Ia akan terus mendukung bisnis dalam perannya sebagai Chief Accountant di PwC Zhong Tian.
Global Risk & Regulatory Leader PwC, Hemione Hudson, telah ditunjuk untuk menjabat sebagai TSP sementara dan akan pindah setelah proses pemindahannya ke PwC China telah selesai. Lalu, Head of Assurance Kevin Wang akan memiliki peran yang lebih tinggi dalam memimpin bisnis audit dan assurance untuk PwC China.
Sementara Dewan Manajemen PwC China akan memanfaatkan para ahli jaringan PwC yang berpengalaman dalam memberikan peningkatan dalam manajemen kualitas dan aktivitas perbaikan. Para pemimpin ini akan memiliki prioritas tertinggi untuk menunjukkan komitmen PwC terhadap kepercayaan dan integritas di pasar modal.
PwC China memiliki sejarah panjang dalam audit berkualitas tinggi dan tidak meyakini perilaku sejumlah kecil anggota tim mencerminkan pekerjaan sebagian besar dari 18.000 profesional PwC China. Namun, mereka menyadari bahwa perlu mengambil tindakan yang terus-menerus memperkuat nilai dan harapan di seluruh jaringan PwC. Ini merupakan prioritas bagi semua pemimpin PwC.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
Otoritas China menjatuhkan sanksi berat kepada unit audit PwC, termasuk larangan operasi dan denda, akibat keterlibatan dalam kebangkrutan Evergrande. [704] url asal
Otoritas China menjatuhkan hukuman berat kepada unit audit PwC di negara itu. Sanksi tersebut buntut dari keterlibatan unit audit PwC yang membuat raksasa properti Evergrande Group bangkrut.
Dikutip dari detikFinance yang melansir CNN Business, unit audit PwC mendapat sanksi larangan operasi selama enam bulan dan denda sebesar 441 juta yuan atau Rp 957,95 miliar (kurs Rp 2.172). Hukuman ini merupakan yang terberat yang pernah diterima oleh firma akuntansi 'Big Four' di Tiongkok.
Komisi Pengaturan Sekuritas China (CSRC) mendapati PwC Zhong Tian LLP (unit audit PcW di China) melakukan pembiaran hingga ikut membantu menutupi penipuan yang dilakukan oleh Evergrande. Hal ini terjadi saat mengaudit hasil tahunan unit usaha utama Evergrande, yakni Hengda Real Estate, pada 2019 dan 2020.
"PwC, sampai batas tertentu telah menutupi dan bahkan membiarkan penipuan keuangan Evergrande dan penerbitan obligasi perusahaan yang curang," ujar CSRC dikutip dari detikFinance, Minggu (15/9/2024).
Terpisah, jaringan PwC melalui situs resminya mengungkapkan kekecewaan terhadap hasil audit PwC Zhong Tian (atau "PwC ZT") atas Hengda yang jauh di bawah standar yang diharapkan firma anggota jaringan PwC. Mereka megatkan PwC ZT bekerja sama sepenuhnya dengan regulatornya, menghormati keputusan mereka, dan akan sepenuhnya mematuhi sanksi administratif.
"Pekerjaan yang dilakukan oleh tim audit Hengda PwC Zhong Tian jauh di bawah ekspektasi tinggi kami dan sama sekali tidak dapat diterima. Pekerjaan tersebut tidak mencerminkan apa yang kami perjuangkan sebagai sebuah jaringan dan tidak ada ruang untuk hal ini di PwC," Ketua Global PWC, Mohamed Kande.
"Itulah sebabnya, setelah penyelidikan menyeluruh, kami memastikan bahwa tindakan telah diambil untuk meminta pertanggungjawaban dari mereka yang bertanggung jawab dan program perbaikan yang komprehensif akan membangun perusahaan PwC China yang lebih kuat di masa mendatang. China tetap menjadi bagian penting dari jaringan PwC dan saya tetap yakin dengan mitra dan staf perusahaan China saat kita bekerja sama untuk membangun kembali kepercayaan dengan para pemangku kepentingan," sambungnya.
Kemudian, PwC China dan Dewan Tata Kelola, dengan dukungan dari jaringan PwC, telah mengambil sejumlah tindakan akuntabilitas dan perbaikan untuk mengatasi masalah ini. Antara lain pemutusan hubungan kerja dengan 6 mitra dan 5 staf yang terlibat langsung dengan proyek audit Hengda.
Lalu, jaringan PwC sudah mengambil tindakan pertanggungjawaban dan memulai proses pemberian sanksi finansial kepada pimpinan perusahaan saat ini dan sebelumnya yang bertanggung jawab atas bisnis tersebut.
Sebagai tambahan, Daniel Li setuju untuk mengundurkan diri sebagai Territory Senior Partner (TSP) PwC China. Mengingat sebelumnya ia bertanggung jawab sebagai Head of Assurance PwC China. Ia akan terus mendukung bisnis dalam perannya sebagai Chief Accountant di PwC Zhong Tian.
Global Risk & Regulatory Leader PwC, Hemione Hudson, telah ditunjuk untuk menjabat sebagai TSP sementara dan akan pindah setelah proses pemindahannya ke PwC China telah selesai. Lalu, Head of Assurance Kevin Wang akan memiliki peran yang lebih tinggi dalam memimpin bisnis audit dan assurance untuk PwC China.
Sementara Dewan Manajemen PwC China akan memanfaatkan para ahli jaringan PwC yang berpengalaman dalam memberikan peningkatan dalam manajemen kualitas dan aktivitas perbaikan. Para pemimpin ini akan memiliki prioritas tertinggi untuk menunjukkan komitmen PwC terhadap kepercayaan dan integritas di pasar modal.
PwC China memiliki sejarah panjang dalam audit berkualitas tinggi dan tidak meyakini perilaku sejumlah kecil anggota tim mencerminkan pekerjaan sebagian besar dari 18.000 profesional PwC China. Namun, mereka menyadari bahwa perlu mengambil tindakan yang terus-menerus memperkuat nilai dan harapan di seluruh jaringan PwC. Ini merupakan prioritas bagi semua pemimpin PwC.
Evergrande sekarang menjadi lambang krisis properti di China. Hal ini menumbuhkan skeptisisme dalam industri properti yang sebelumnya menguntungkan. [514] url asal
Evergrande merupakan perusahaan properti raksasa di China. Perusahaan ini sempat memiliki 800 proyek di seluruh negeri. Namun, kini Evergrande tengah terlilit utang dengan nilai fantastis.
Melansir dari CNN, Kamis (5/9/2024), Evergrande gagal membayar utangnya pada tahun 2021, sehingga memicu krisis properti di ekonomi China. Total utang yang tercatat pada akhir Juni 2022 sebesar 2,39 triliun yuan atau sekitar Rp 5.188 triliun (Kurs Rp 2.171). Perusahaan ini pun mengajukan kebangkrutan di New York pada tahun 2023.
Evergrande pun diperintahkan untuk likuidasi oleh Pengadilan Tinggi di Hong Kong pada awal tahun 2024. Perintah tersebut muncul setelah raksasa real estate China yang tengah berjuang dan para kreditor luar negerinya gagal menyepakati cara merestrukturisasi utang besar perusahaan tersebut.
"Menurut saya, kepentingan kreditor akan lebih terlindungi jika perusahaan dilikuidasi oleh pengadilan, sehingga likuidator independen dapat mengambil alih perusahaan," kata Hakim Linda Chan pada akhir Januari 2024, dikutip dari CNN, Kamis (5/9/2024).
Tak sampai di situ, Evergrande terjerat kasus setelah regulator China melayangkan tuduhan baru pada Maret lalu atas dugaan laporan keuangan palsu. Mereka dituding menggelembungkan pendapatan sebesar US$ 78 miliar atau setara Rp 1.202 triliun (Kurs Rp 15.421)
Angka fantastis tersebut menjadikan Evergrande sebagai pusat kasus penipuan keuangan terbesar yang pernah ada di China.
Komisi Pengawasan Sekuritas Tiongkok (CSRC) menjatuhkan denda sebesar 4,175 miliar yuan atau setara Rp 9,063 triliun kepada Hengda Real Estate, yakni unit utama grup tersebut di China.
Pendiri dan Ketua Evergrande Group, Xu Jiayin didenda sebesar 47 juta yuan atau sekitar Rp 102 miliar atas pernyataan berlebihan dan dugaan pelanggaran lainnya. Sebelumnya, ia merupakan orang terkaya di China, kini dilarang bertransaksi di pasar sekuritas seumur hidup.
Mengutip dari The Brussels Times, Evergrande bersama para likuidator pada Agustus lalu menagih dividen dan pendapatan senilai US$ 6 miliar atau setara Rp 92,5 triliun dari tujuh individu atau entitas, termasuk pendiri perusahaan Xu Jiayin.
Evergrande sekarang menjadi lambang krisis properti di China. Hal ini menumbuhkan skeptisisme dalam industri properti yang sebelumnya menguntungkan. Industri ini dijauhi di tengah perlambatan ekonomi dan proyek perumahan yang belum tuntas sejak 2020.
Mau tahu berapa cicilan rumah impian kamu? Cek simulasi hitungannya di kalkulator KPR.