#30 tag 24jam
Tradisi Rebo Wekasan Menurut Islam, Asal Usul serta Hukum Meyakininya
Tradisi Rebo Wekasan menurut Islam penting diketahui muslim agar tidak terjebak dalam lubang kemusyrikan. - Bagian all [772] url asal
#menurut-islam #asal-usul #bulan-safar #tradisi-rebo-wekasan #rebo-wekasan-2024
(iNews - Terkini) 03/09/24 17:00
v/14877921/
JAKARTA, iNews.id - Tradisi Rebo Wekasanmenurut Islam penting diketahui muslim agar tidak terjebak dalam lubang kemusyrikan. Tahun ini, Rabu Wekasan jatuh pada Hari Rabu, 4 September 2024.
Di kalangan masyarakat Jawa, Bulan Safar atau Sapar kerap dihubungkan dengan mitos bulan sial dan banyak bencana. Pada masa Arab Jahiliyah, bulan Safar juga disebut bulan sial.
Karena itu, sebagian masyarakat Nusantara, khusunya di Jawa, melakukan ritual khusus di Rebo Wekasan untuk menolak bala atau musibah yang dipercaya turun di hari itu.
Dilansir dari Jurnal Theologia IAIN Kudus, sejatinya bulan Ṣafar tidaklah berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Hanya saja Rasulullah pernah menyinggung tentang bulan Ṣafar ini dalam hadisnya:
“Tidak ada penyakit menular, tidak ada mitos, tidak ada prasangka buruk, tidak ada (keramat) bulan Ṣafar.”
Menurut KH. Abdul Hamid Kudus, bulan Ṣafar memiliki kekhasan tersendiri sebagaimana yang ia tulis dalam kitabnya Kanz al-Najāḥ wa al-Surūr. Kitab ini sering menjadi rujukan bagi sebagian masyarakat Jawa untuk menyelenggarakan ritual Rebo Wekasan.
Rebo Wekasan merupakan fenomena yang terjadi di masyarakat karena faktor akulturasi budaya Jawa dengan Islam secara intensif. Menurut Ahmad Nurozi, Islam di wilayah Jawa memiliki karakter tersendiri karena banyak prosesi ritual keagamaan yang merupakan perpaduan dari nilai-nilai Islam dengan animisme dan dinamisme.
Meskipun banyak kalangan yang menganggap ritual Rebo Wekasan hanya sebagai mitos, namun juga tidak sedikit yang masih terus melestarikannya hingga sekarang.
Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra disebutkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:
لا عدوى ولا طيرة ةلا هامة ةلا صفر وفر من المجذوم كما تفر من الأسد
Artinya: Tidak ada wabah (yang menyebar secara sendirinya), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga Safar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa.”
Menurut Ibnu Utsaimin rahimahullah, kata Safar dalam hadis tersebut memiliki makna yang bervariasi. Namun yang paling kuat menurut umat Jahiliah adalah sebagai bulan kesialan, sehingga sebagian orang jika selesai melakukan pekerjaan tertentu pada hari ke-25 dari bulan Safar merasa lega, dan berkata, “Selesai sudah hari kedua puluh lima dari bulan Safar dengan baik.”
Ketahuilah, Safar merupakan bulan yang cukup bersejarah. Bulan di mana Allah Swt menurunkan 300.000 musibah yang terjadi pada satu tahun. Al-Syaikh Imam al-Dairabi berkata:
Sebagian ulama Arifin dari Ahli Kasyf menuturkan bahwa pada setiap tahunnya diturunkan 300.000 bala’ (cobaan). Yaitu terjadi pada hari Rabu terakhir dari bulan Safar.
Pada waktu itu merupakan hari terberat dari sekian banyak di hari selama satu tahun. Keterangan tersebut sesungguhnya mengingatkan agar semakin mendekatkan diri, ber-taqarrub kepada Allah Swt.
Dilansir dari laman pondok pesantren tambakberas, asal-usul tradisi Rebo Wekasan ini bermula dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (w.1151 H) dalam kitab “Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid (biasa disebut: Mujarrobat ad-Dairobi). Anjuran serupa juga terdapat pada kitab: ”Al-Jawahir Al-Khams” karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar (w. th 970 H), Hasyiyah As-Sittin, dan sebagainya.
Dalam kitab-kitab tersebut disebutkan bahwa salah seorang Waliyullah yang telah mencapai maqam kasyaf (kedudukan tinggi dan sulit dimengerti orang lain) mengatakan bahwa dalam setiap tahun pada Rabu terakhir Bulan Shafar, Allah Swt menurunkan 320.000 (tiga ratus dua puluh ribu) macam bala’ dalam satu malam.
Bermuhasabah sesungguhnya tidak memiliki waktu tertentu. Tidak harus dilakukan pada bulan Safar atau Rabu terakhir di dalamnya. Sesungguhnya tidak ada istilah “hari sial” dalam pandangan syari’at. Semua hari adalah sama.
Muslim juga tidak boleh berperasangka buruk (tasya’um) pada hari tertentu. Kaum Jahiliyyah dahulu memiliki mitos bahwa bulan Shafar adalah hari buruk dan sial.
Firman Allah SWT
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا}
Artinya: Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. Al-Hadid: 22)
Rasulullah Saw juga telah meluruskan mitos tersebut. Nabi SAW bersabda:
Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya sial dari bulan Shafar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati, rohnya menjadi burung yang terbang. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dari keterangan Hadits tersebut mengingatkan jangan sampai meyakini bahwa Rabu Wekasan adalah hari buruk. Muslim dianjurkan bermuhasabah dengan datangnya 300.000 cobaan sebagaimana keterangan dari sebagian Ahli Kasyf di atas.
Namun tetap harus berperasangka baik kepada Allah Swt akan hari tersebut. Tidak meyakininya sebagai hari buruk.
Karena itu, Muslim dilarang meyakini akan adanya musibah yang terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar. Muslim harus yakin bahwa semua yang terjadi pada Rabu Wekasan apakah itu baik atau buruk merupakan takdir dan kehendak Allah. Seperti tertera dalam rukun iman yang kelima. Yakni meyakini qadha" dan qadar baik dan buruk itu berasal dari Allah.
Demikian penjelasan mengenai Rebo Wekasan Menurut Islam yang penting dipahami Muslim agar tidak salah dalam memahaminya.
Wallahu A'lam
Editor: Kastolani Marzuki
Bacaan Doa Rebo Wekasan Beserta Artinya, Dibaca setelah Sholat Magrib
Sebagian masyarakat muslim Jawa melakukan ritual di Rebo Wekasan atau Rabu terakhir di Bulan Safar agar terhindar dari bala bencana atau musibah. - Bagian all [656] url asal
#doa-rebo-wekasan #artinya #bulan-safar #tolak-bala
(iNews - Terkini) 03/09/24 16:37
v/14877923/
JAKARTA, iNews.id - Sebagian masyarakat muslim Jawa melakukan ritual di Rebo Wekasan atau Rabu terakhir di Bulan Safar agar terhindar dari bala bencana atau musibah. Salah satunya dengan membaca doa Rebo Wekasan setelah shalat magrib.
Rebo Wekasan 2024 jatuh pada 30 Safar bertepatan 4 September 2024. Hal ini karena posisi hilal pada Selasa sore tanggal 29 Safar 1446 (3 September 2024) belum mencapai imkanurrukyat atau masih pada posisi istihaturrukyah (muhal dilihat), dan jika ada seseorang yang bersaksi melihatnya maka kesaksiannya akan tertolak, sehingga umur bulan Safar diistikmal atau digenapkan menjadi 30 hari yaitu pada hari Rabu Wage, 4 September 2024 yang merupakan Rebu pungkasan pada bulan Safar tahun ini. Sehingga, awal Bulan Rabi’ul Awal 1446 jatuh pada hari Kamis Kliwon, 5 September 2024.
Dikutip dari @ulamagaleri, Bulan Safar dalam pandangan Islam, itu sama dengan bulan lainnya. Bukan bulan bala’ atau bulan yang penuh musibah dan lain-lainnya. Namun menurut sebagian ulama ahli ma'rifat dari golongan ahli mukasyafah dalam kitab “Kanzun Najah Wassurur” karya Syekh Abdul Hamid Al Qudsy, menerangkan bahwa “Setiap tahun Allah menurunkan bala’ ke dunia sebanyak 320.000 macam bala’ (malapetaka) untuk satu tahun”. Tepatnya bala’ itu turun pada Rabu terakhir dari bulan Shafar atau yang terkenal dengan sebutan “Rebo Wekasan” untuk satu tahun ke depan.
Abu Hurairah berkata, bersabda Rasulullah:
لا عدوى ولا طيرة ةلا هامة ةلا صفر وفر من المجذوم كما تفر من الأسد
“Tidak ada wabah (yang menyebar secara sendirinya), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga Safar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa.”
Firman Allah SWT
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا}
Artinya: Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. Al-Hadid: 22)
Karena itu, Muslim dilarang meyakini akan adanya musibah yang terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar. Muslim harus yakin bahwa semua yang terjadi pada Rabu Wekasan apakah itu baik atau buruk merupakan takdir dan kehendak Allah. Seperti tertera dalam rukun iman yang kelima. Yakni meyakini qadha` dan qadar baik dan buruk itu berasal dari Allah.
Berikut ini bacaan doa di hari Rebo Wekasan agar dijauhkan dari bala bencana.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
Latin: Allahummadfa’ ‘annal ghalaa’a wal wabaa’a wal fahsyaa’a wal munkara was suyuufal mukhtalifata wasy syadaa’ida wal mihana maadhahara minhaa wa maabaathana. Mim balaadinaa indonesia khaasshataw wa saairil buldaanil muslimiina ‘aammatan yaa rabbal 'alamiin. Rabbana aatina fiddunyaa khasanah wafil aakhirati khasanah waqinaa 'adzabannaar.
Artinya: Ya Allah, hindarkanlah dari kami kekurangan pangan, cobaan hidup, penyakit-penyakit, wabah, perbuatan-perbuatan keji dan munkar, ancaman-ancaman yang beraneka ragam, paceklik-paceklik dan segala ujian, yang lahir maupun batin dari negeri kami Indonesia ini pada khususnya dan dari seluruh negeri kaum muslimin pada umumnya, Yaa Allah Tuhan Sekalian alam.Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".
Doa Rebo Wekasan (2)
Amalan doa Rebo Wekasan ini diambil dari Kitab Kanzun Najah Wa Surur karangan Abdul Hamid bin Muhammad Ali bin Abdul Qodir.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الزَّمَانِ وَأَهْلِهِ، وَأَسْأَلُكَ بِجَلَالِكَ وَجَلَالِ وَجْهِكَ وَكَمَالِ جَلَالِ قُدْسِكَ أَنْ تُجِيْرَنِي وَوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي وَأَهْلِي وَأَحْبَابِي وَمَا تُحِيْطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِي مِنْ شَرِّ هَذِهِ السَّنَةِ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فِيْهَا، وَاصْرِفْ عَنِّي شَرَّ شَهْرِ صَفَرَ، يَا كَرِيْمَ النَّظَرِ، وَاخْتِم لِي فِي هَذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ بِالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي وَلِأَهْلِي وَمَا تَحُوْطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِي وَجِمْيعِ الْمُسْلِمِيْن. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah selalu memberi rahmat kepada Tuan kami, Muhammad SAW dan keluarganya serta sahabatnya semuanya. Aku berlindung dari keburukan zaman ini dan orang-orang yang memiliki keburukan itu, dan aku memohon dengan wasilah keagungan-Mu dan keagungan keridhaan-Mu serta keagungan kesucian-Mu, supaya Engkau melindungiku, kedua orang tuaku, keluargaku, orang-orang yang aku cintai dan sesuatu yang diliputi kasih sayangku, dari keburukan tahun ini, dan cegahlah aku dari keburukan yang telah Engkau tetapkan di dalamnya. Palingkanlah dariku keburukan di bulan Safar, wahai Dzat Yang Memiliki Pandangan Yang Mulia. Akhirilah aku di bulan ini, di waktu ini dengan keselamatan dan sejahtera bagi kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, dan sesuatu yang diliputi kasih sayangku seluruhnya. Semoga Allah selalu memberi rahmat dan keselamatan kepada tuan kami Muhammad SAW, dan keluarganya serta sahabatnya.
Demikian ulasan doa Rebo Wekasan untuk diamalkan agar dijauhkan dari bala bencana dan diberikan keselamatan dunia serta akhrat.
Wallahu A'lam
Editor: Kastolani Marzuki
Apa Itu Rebo Wekasan? Tradisi Umat Muslim Jawa untuk Hindari Petaka
Mengenai tradisi Rebo Wekasan yang banyak dilakukan oleh umat muslim Jawa. [267] url asal
#rabu-wekasan #rebo-wekasan #rabu-terakhir #apa-itu-rebo-wekasan #tradisi #tradisi-umat-muslim #muslim-jawa #tradisi-rebo-wekasan
(Bisnis.Com) 28/08/24 15:03
v/14796434/
Bisnis.com, JAKARTA - Rebo Wekasan merupakan salah satu tradisi umat muslim Jawa yang masih dilakukan hingga saat ini.
Biasanya, tradisi Rebo Wekasan dilakukan untuk menghindarkan diri dari petaka dan bahaya yang akan dating.
Arti Rebo Wekasan yakni Rabu Pungkasan atau Terakhir, yang diadakan di setiap Rabu terakhir di bulan Safar, atau bulan kedua dalam penanggalan Hijriah.
Tahun ini, Rabu Wekasan jatuh pada 4 September 2024. Di malam Rabu wekasan dipercaya bahwa akan ada kesialan datang.
Oleh sebab itu, umat muslim Jawa melakukan sejumlah amalan yakni sholat, berdoa, berdzikir, hingga pengajian bersama.
Dengan mendekatkan diri kepada Allah, diharapkan seseorang agar terhindar dari kesialan di dunia.
Amalan Rabu Wekasan
Terdapat sejumlah amalan yang biasa dilakukan oleh umat muslim Jawa di malam Rabu Wekasan. Di antaranya yakni sebagai berikut:
- Sholat sunnah
- Membaca Al-Fatihah, Al-Kautsar 17x, Al-Ikhlas 5x, Al-Alaq 1x, dan An-Nas 1x
- Membaca do’a talak bala
- Mandi safar
Kemudian ada juga amalan lain yakni dengan mendoakan leluhur dan melakukan ziarah kubur. Kemudian pengajian dengan ditutup makan ketupat Bersama.
Asal-usul Rebo Wekasan
Melansir dari NU Online, Rebo Wekasan atau Rabu terakhir di Bulan Safar yang dikenal dengan hari diturunkannya bala’ atau marabahaya.
Hal ini juga diungkaokan dari sebuah pendapat dari seorang waliyullah yang sudah mencapai maqam kasyaf yaitu Syaikh Ad-Dairobi yang mengatakan bahwa dalam satu tahun Allah swt akan menurunkan bala’ sebanyak 320.000 (tiga ratus dua puluh ribu) macam dalam satu malam. Malam yang dimaksudkan adalah malam Rabu terakhir di Bulan Safar. (Al Faruq, 2021).
Kemudian muncul tradisi tolak bala yang berkembang di masyarakat. Tradisi tersebut berupa amalan seperti sholat Rebo Wekasan, sedekah tolak bala dan memperbanyak dzikir.