KOMPAS.com - Di era modern saat ini, paylater hadir sebagai alternatif pembayaran yang lebih fleksibel. Inovasi metode pembayaran ini pun semakin menjamur di tengah masyarakat.
Paylater memungkinkan penggunanya melakukan pembelian barang atau jasa dan membayarnya di kemudian hari, baik dalam satu kali pembayaran atau cicilan dalam periode waktu tertentu.
Metode pembayaran paylater memang menawarkan banyak keuntungan, tapi juga ada risiko yang perlu dipertimbangkan sebelum menggunakannya.
Lantas, apa itu paylater dan risiko yang bisa ditimbulkannya?
Apa itu paylater
Dilansir dari laman resmi Kementerian Keuangan (Kemenkeu), paylater adalah sebuah istilah yang merujuk pada transaksi pembayaran atau jasa.
Pada dasarnya, paylater adalah layanan untuk menunda pembayaran atau berhutang yang wajib dilunasi saat jatuh tempo.
Dituliskan dalam laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pinjaman paylater telah masuk dalam pencatatan riwayat kredit dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Artinya, riwayat pembayaran cicilan paylater bisa mempengaruhi riwayat kredit seseorang.
Riwayat kredit atau credit scoring adalah angka yang diberikan oleh biro kredit kepada seseorang berdasarkan riwayat kredit atau pembiayaannya.
Hal yang perlu diingat, hutang harus dilunasi secara tepat waktu dan tepat jumlahnya. Bila tidak tertib melakukan pembayaran cicilan, ini bisa dianggap kredit macet dan mengakibatkan riwayat kredit buruk.
Ketentuan layanan paylater
Lebih lanjut, ada beberapa ketentuan layanan paylater yang perlu dipahami antara lain:
Limit pinjaman adalah batas pinjaman yang bisa diajukan melalui aplikasi Paylater. Dalam hal ini, Anda bsia mengajukan pinjaman maksimal sebesar limit pinjaman.
Meskipun mempunyai limit besar, jangan sampai terlalu banyak memanfaatkan paylater dan selalu sesuaikan dengan kemampuan dalam membayarnya.
Paylater mempunyai presentase bunga yang dikenakan per bulan, minggu, atau hari. Untuk itu, perhitungkan kemampuan membayar dan melunasi pinjaman agar bunga tidak terus menumpuk.
Akan ada biaya yang dibayarkan per bulan atau per transaksi saat membayar menggunakan paylater. Biaya ini seperti biaya aplikasi atau administrasi.
Tenor atau jangka waktu pelunasan pinjaman biasanya per bulan atau minggu. Anda harus melunasi pinjaman tersebut saat jatuh tempo, baik melalui metode cicilan atau sekali pembayaran.
Apabila pengguna paylater tidak bisa melunasi pinjaman sesuai tenor yang telah ditetapkan, maka akan ada biaya denda keterlambatan. Biaya ini bisa dihitung per bulan, minggu, atau hari, tergantung dari penyelanggara paylater.
Kemudahan dalam bertransaksi dengan paylater bisa membuat penggunanya kecanduan. Paylater juga dapat menyebabkan gaya hidup konsumtif. Dikutip dari laman Kemenkeu, beberapa risiko paylater sebagai berikut:
- Pengaturan keuangan terganggu
Kemudahan fitur paylater seringkali menjadi penyebab terganggunya pengaturan keuangan, karena cicilan yang harus dibayarkan.
Tidak jarang dana yang sudah disiapkan untuk membayar cicilan digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih mendesak.
Hal tersebut tentunya mengakibatkan ketidakmampuan membayar cicilan, yang berdampak pada buruknya riwayat kredit.
Dalam penggunaan paylater, tanpa disadari akan ada biaya lain yang aktif seperti biaya cicilan, subscription, dan biaya lainnya. Hal-hal tersebut bisa memberatkan pengguna paylater setiap kali tagihan datang.
Secara tidak disadari, pengguna paylater bisa menimbulkan dorongan belanja yang impulsif, terutama saat ada diskon dan tawaran menarik lainnya.
Risiko peretasan identitas jarang disadari oleh pengguna, tapi ini bisa dan mungkin terjadi meskipun sudah ada keamanan tinggi dari pihak platform.
Sebenarnya tidak ada salahnya menggunakan paylater, tapi pastikan menggunakan paylater secara bijak agar tidak menganggu keuangan.
Demikian informasi mengenai pengertian apa itu paylater, ketentuan, hingga risiko menggunakan paylater.