#30 tag 24jam
Kisah Sahabat Nabi, Abu Dzar al-Ghifari Memeluk Islam
Sebelum berislam, Abu Dzar al-Ghifari adalah seorang perampok. [700] url asal
#abu-dzar-al-ghifari #sahabat-nabi #sahabat-rasulullah #kisah-sahabat-nabi
(Republika - Khazanah) 17/07/24 12:56
v/11065058/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jundub bin Junadah al-Ghifari adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Namanya lebih populer dengan sebutan Abu Dzar al-Ghifari.
Seperti tampak pada gelarnya, lelaki berkulit sawo matang ini berasal dari Kabilah Ghifar, yang menghuni daerah antara Makkah dan Madinah—dahulu bernama Yastrib. Seluruh Jazirah Arab mengenai suku ini dengan predikat yang buruk.
Pada zaman pra-Islam, orang-orang Ghifar gemar merampok kafilah dagang yang melewati lembah perbukitan. Mereka merampas harta benda atau bahkan membahayakan nyawa banyak pedagang dan musafir.
Sebelum mengenal Islam, Jundub alias Abu Dzar pun mencari penghidupan dari jalan merampok. Yang luar biasa, ia tidak segan-segan membegal sendirian para targetnya. Alih-alih ikut dalam rombongan perampok, lelaki berjanggut tebal ini dengan percaya diri membekap mangsanya dan merebut sebanyak-banyaknya harta dari korbannya.
Bagaimanapun, Abu Dzar percaya adanya Tuhan. Ia kerap merenung di kala malam, menatap luasnya langit dan ratusan bintang gemintang. Hatinya meyakini dengan sungguh-sungguh, tidak mungkin alam semesta ini ada tanpa Sang Maha Pencipta.
Karena itu, sebelum mendengar dakwah Rasulullah SAW, di termasuk yang beriman kepada Allah SWT. Tidak pernah kepalanya sujud menyembah kepada berhala.
Kisahnya dalam memeluk Islam disampaikan riwayat dari Ibnu Abbas. Abu Dzar berkata, “Sampai kabar kepada kami (Bani Ghifar) bahwa ada seorang lelaki di Makkah mengaku sebagai nabi. Aku pun menyuruh saudaraku, ‘Temuilah orang itu. Kabarkan padaku tentang dia!’ Saudaraku itu segera berangkat. Lantas, ia kembali dan menyampaikan, ‘Demi Allah, aku melihat seseorang yang mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran'.”
Berita yang dibawa saudaranya itu ternyata tidak memuaskannya. Abu Dzar pun segera bertolak menuju Makkah dengan bekal seadanya. Padahal, saat itu dia belum mengetahui dengan pasti siapa sosok yang mengaku sebagai utusan Allah itu, apatah lagi tempat tinggalnya.
Sesampainya di Makkah, ia berpapasan dengan Ali bin Abi Thalib. Sepupu Nabi Muhammad SAW itu lantas mencegatnya dan berkata, “Sepertinya kau ini orang asing?”
“Benar,” jawab Abu Dzar.
Ali lantas mengajaknya ke rumah untuk singgah dan menikmati jamuan. Abu Dzar pun menginap satu malam di kediaman Ali. Selama di sana, tidak pernah dirinya menceritakan maksud dan tujuan untuk menyambangi Makkah.
Menjelang waktu subuh tiba, ia melihat sang tuan rumah bersiap-siap ke masjid. Abu Dzar pun membuntutinya. Sepulang dari masjid, Ali bertanya kepada tamunya itu, “Apakah kau sudah memutuskan untuk tinggal di mana?”
“Belum.”
“Kalau begitu, tinggal lagi di sini bersamaku,” kata Ali menawarkan.
Melihat tamunya itu mengangguk, Ali kembali bertanya, “Sebenarnya, apa keperluanmu untuk datang ke Makkah?”
“Kalau kau rahasiakan, akan kuberi tahu,” jawab Abu Dzar.
“Aku akan merahasiakannya.”
Maka Abu Dzar mengungkapkan alasannya, yakni hendak menemui lelaki yang telah mengaku sebagai nabi di kota ini. Ali berkata, “Sungguh, Allah telah memberikanmu hidayah. Aku akan berjalan ke tempatnya, maka ikutilah aku. Kalau sampai ada yang yang melihatmu, aku khawatir mereka melakukan sesuatu padamu.”
Kedua orang ini lalu menuju ke rumah Nabi SAW dengan sedemikian rupa sehingga orang-orang tak menyangka mereka saling mengenal. Saat bertemu Rasulullah SAW, Abu Dzar memintanya untuk menjelaskan tentang Islam. Sesudah itu, dia langsung bersyahadat dan menyatakan diri sebagai Muslim.
Waktu itu, syiar Islam masih disebarkan secara sembunyi-sembunyi. Apalagi, kaum Muslimin di Makkah belum memiliki kekuatan untuk mengimbangi tekanan musyrikin, terutama yang berasal dari kalangan elite Quraisy. Akan tetapi, Abu Dzar bersikeras mengumumkan keislamannya di hadapan khalayak.
Ia berkata kepada Nabi SAW, “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku akan meneriakkan hal ini di tengah-tengah mereka.” Abu Dzar pun pergi ke dekat Baitullah. Saat itu, banyak pemuka Quraisy berkumpul di sana.
Langsung saja ia berteriak, “Wahai orang-orang Quraisy! Sungguh aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang benar kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya!”
Tak menunggu lama, mereka menangkap dan memukuli Abu Dzar. Bahkan, nyaris saja lelaki yang baru memeluk Islam ini kehilangan nyawanya. Abbas datang di dekatnya dan mengangkat tubuh Abu Dzar yang babak belur.
“Celakalah kalian, kaum Quraisy! Apa kalian hendak membunuh seorang dari Bani Ghifar!? Padahal, jalur perdagangan kalian melewati perkampungan orang-orang Ghifar!” ujar Abbas. Mendengar itu, mereka berhenti menghajar Abu Dzar.
Sejak itu, ia menjadi salah satu sahabat Nabi SAW. Di Madinah, sesudah hijrah, Rasulullah SAW mempersaudarakannya dengan seorang Anshar bernama al-Mundzir bin Amr. Tak pernah sehari pun dilewatkannya tanpa mengambil ilmu dan hikmah dari sang khatamul anbiya.
Amalan Menakjubkan Sahabat Rasulullah
Allah takjub pada amalan yang dilakukan sahabat Rasulullah SAW ini. [584] url asal
#kisah-nabi #kisah-rasulullah #kisah-sahabat-nabi #kisah-sahabat-rasulullah #abu-thalhah-al-anshari
(Republika - Khazanah) 10/07/24 07:09
v/10277205/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada suatu hari, seorang musafir datang ke Madinah. Pengelana itu lantas menyambangi Masjid Nabawi. Sesudah ikut menunaikan shalat berjamaah, ia pun meminta izin bertemu Nabi Muhammad SAW.
“Wahai Rasulullah, aku betul-betul tertimpa kepayahan. Tubuhku lemas sekarang karena aku begitu kelaparan,” kata dia.
Nabi SAW pun memintanya untuk menunggu dalam masjid. Selanjutnya, beliau mendatangi rumah seorang istrinya untuk menanyakan, apakah ada makanan yang dapat disajikan untuk tamunya itu.
“Demi Tuhan yang mengutusmu dengan kebenaran, kita tak memiliki suatu sajian apa pun kecuali air saja,” jawab istrinya itu.
Rasul SAW lantas pergi ke rumah istrinya yang lain. Pertanyaan beliau ditanggapi dengan jawaban yang sama, “Demi Tuhan yang mengutusmu dengan kebenaran, kita tak memiliki apa pun kecuali hanya air minum.”
Beliau pun mengetuk tiap rumah istri-istrinya, tetapi jawaban yang diperolehnya selalu sama. Setelah itu, Nabi SAW kembali ke masjid dan menjumpai di sana sang musafir masih merintih akibat menahan lapar. Sementara itu, matahari sudah kembali ke peraduannya.
Beliau pun mengumumkan kepada khalayak sekalian, “Siapakah yang hendak menjamu musafir ini pada malam ini? Semoga Allah merahmati orang yang menerimanya sebagai tamu.”
Di antara jamaah masjid tersebut, Abu Thalhah al-Anshari mendengar seruan Nabi SAW itu. Ia pun bangkit berdiri untuk menyatakan kesediaannya. “Wahai Utusan Allah, aku dapat menjamunya di rumahku. Biarlah ia menjadi tamuku malam ini,” kata sahabat dari golongan Anshar itu.
Rasulullah SAW tersenyum senang. Beliau mengarahkan sang musafir untuk mengikuti Abu Thalhah. Sahabat Nabi SAW itu menuntun tamunya itu dengan cermat. Ia pun beranjak pergi bersama sang tamu dengan hewan tunggangannya. Sesampainya di rumah, Abu Thalhah menjumpai istrinya, Ummu Sulaim.
“Apakah kita memiliki makanan di rumah?” katanya sembari berbisik.
“Tidak ada kecuali yang bisa dimakan anak-anak kita malam ini,” jawab Ummu Sulaim.
Selanjutnya...
Kepada istrinya itu, Abu Thalhah menjelaskan keadaan musafir yang datang kepada Rasulullah SAW sore itu dan kini menjadi tamunya. Pengelana ini sudah berhari-hari tak makan, sedangkan dirinya sudah menyatakan bersedia untuk menerimanya sebagai tamu.
“Kalau begitu,” ujar Abu Thalhah, “Sibukkanlah anak-anak kita dengan sesuatu, kemudian tidurkanlah mereka. Dengan begitu, mereka tak akan merasa lapar untuk malam ini. Kemudian, kita dapat menerima tamu.”
Ummu Sulaim melaksanakan perintah suaminya. Sementara itu, Abu Thalhah mempersilakan sang musafir untuk masuk ke rumahnya.
Sesudah berhasil menidurkan anak-anaknya lebih awal, Ummu Sulaim pergi untuk menyiapkan makanan. Abu Thalhah pun permisi sebentar dari tamunya itu untuk berbicara kepada istrinya di dalam dapur.
“Setelah kamu menyajikan makanan ini kepada tamu kita, hidangkanlah piring kosong untukku. Aku akan pura-pura ikut makan bersamanya agar dia tak merasa canggung,” katanya.
Abu Thalhah lalu kembali ke tamunya sembari membawa hidangan. Ia juga mengatakan, rumahnya sedang kehabisan minyak sehingga lampu di ruangan tidak dinyalakan.
Maka, Abu Thalhah pun menemani tamunya itu makan malam dalam keadaan gelap. Sebuah piring berisi makanan yang tadinya diperuntukkan bagi anak-anaknya sendiri kini dihidangkan untuk sang tamu. Sementara itu, ia mengerik piring kosong di hadapannya sampai tamu itu selesai makan dan kenyang.
Ya, musafir itu tidak menyadari, sang tuan rumah dan keluarganya tidak makan malam ini.
Keesokan paginya, Abu Thalhah dan Ummu Sulaim menemui Rasulullah SAW.
“Allah takjub kepada apa yang kalian lakukan tadi malam,” kata beliau dengan wajah berseri-seri.
Inilah asbabun nuzul surah al-Hasyr ayat sembilan. Artinya, “Dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Apa yang dilakukan Abu Thalhah ialah itsar. Maknanya, mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri. Allah Ta’ala menyukai orang-orang yang melakukan itsar.