JAKARTA, Investor.id – Saham PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance/TUGU) bisa menjadi saham pilihan investor di sektor keuangan. Sebab, harganya masih murah dengan PBV 0,4 kali dan yield dividen 13%.
“EPS perseroan senantiasa tumbuh signifikan, didorong pendapatan perusahaan yang signifikan terutama dalam dua tahun terakhir,” ujar Yazid Muammar, pengamat pasar modal, dikutip Kamis (29/8/2024).
Secara bisnis, dia menuturkan, TUGU juga solid. Pertumbuhan bisnis perseroan sepanjang semester I-2024 terdorong premi asuransi yang naik signifikan. Margin underwriting perseroan pun semakin tebal, sehingga mendongkrak profitabilitas.
TUGU mencatatkan premi bruto konsolidasian semester I-2024 senilai Rp 5,2 triliun atau tumbuh 39% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, premi neto TUGU naik 34% menjadi Rp 2 triliun, sejalan dengan kenaikan premi bruto.
Apabila dibedah, kontributor terbesar premi neto tersebut berasal dari segmen kebakaran yang naik 59% dan menyumbang 40%. Selain segmen kebakaran, segmen lainnya juga naik 44% menjadi Rp 707 miliar dan menyumbang 35% dari total.
“Asuransi kebakaran yang termasuk di dalamnya asuransi properti naik signifikan, sejalan dengan size segmen tersebut yang paling besar untuk industri asuransi umum. Adapun segmen lainnya meningkat pesat sejalan dengan strategi perseroan untuk merambah ke segmen ritel dan non-captive” kata dia.
Selain dua segmen di atas, dia menerangkan, premi neto asuransi rekayasa perseroan tumbuh 51% menjadi Rp 111 miliar. Kemudian, segmen rangka kapal juga menyumbang premi neto senilai Rp 143 miliar atau naik 43%, sedangkan segmen penerbangan mencetak pertumbuhan tertinggi hingga 110% menjadi Rp 32 miliar.
Pemimpin Pasar
Yazid mengungkapkan, kenaikan signifikan premi neto dari segmen-segmen tersebut menunjukkan penguatan pangsa pasar TUGU, mengingat posisi perseroan yang menjadi market leader. TUGU mempertahankan posisinya menjadi top 5general insurance di segmen-segmen tersebut.
Dia menyatakan, beban komisi neto memang naik 54% menjadi Rp 366 miliar. Namun, hal ini dinilai wajar, seiring pertumbuhan premi signifikan. Selain itu, rasionya masih terjaga di bawah 20%.
Selain pertumbuhan premi neto yang melonjak, dia melanjutkan, TUGU juga mampu menurunkan loss ratio, sehingga dapat mempertebal underwriting profit dan margin. Usut punya usut, loss ratio TUGU pada semester I-2024 mencapai 52,9% atau turun jauh dari 60,6% di semester I-2023.
Hal tersebut tercermin pada beban klaim neto yang hanya tumbuh 17% sepanjang semester I-2024 senilai Rp 1,08 triliun. Ini jauh lebih rendah dibandingkan beban pertumbuhan premi neto.
Setelah mengurangkan pendapatan premi neto dari beban komisi dan klaim, laba underwriting TUGU mencapai Rp 593 miliar pada paruh pertama tahun 2024, naik 64% dibandingkan kurun waktu sama tahun sebelumnya.
“Peningkatan laba underwriting tersebut didongkrak oleh empat segmen utama, yaitu kebakaran, rekayasa, rangka kapal dan penerbangan. Ada improvement signifikan dari segmen tersebut yang menunjukkan kemampuan TUGU memanfaatkan momentum pertumbuhan sekaligus manajemen risiko yang baik, meski ada peningkatan beban komisi yang masih sangat wajar” ungkap Yazid.
Yazid memperkirakan kinerja TUGU pada semester II tahun ini juga masih sejalan dan tetap solid. Kemampuan perseroan mempertebal margin underwriting diyakini menjadi modal kuat untuk mendongkrak kinerja operasional.
Editor: Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News