JAKARTA, KOMPAS.com - Selain patroli dan memasang kamera pengawas, cara lain juga bisa dilakukan masyarakat untuk mencegah aksi pencurian di lingkungan rumah hingga perkampungan.
Upaya yang dilakukan Ketua RW 01 Jembatan Besi, Nurdin (55), misalnya. Ia membuat sayembara menangkap maling untuk mengatasi permasalahan kehilangan benda berharga di lingkungannya.
Nurdin membagikan spanduk sayembara tangkap maling itu ke 13 RT yang ada di wilayahnya. Spanduk itu bertuliskan "Tangkap Maling Berhadiah. Barangsiapa yangmenangkap maling di Wilayah RW 01 Jembatan Besi Diberikan Hadiah Uang Tunai".
Bagi warga yang menangkap maling mobil atau motor pada malam hari akan diberikan uang tunai sebesar Rp 1.000.000 dan Rp 500.000 untuk menangkap maling di siang hari.
Kotak amal tak lagi dicuri
Cara Nurdin mengantisipasi aksi pencurian di lingkungannya bisa dibilang berhasil. Saat ini tak pernah ada lagi kasus pencurian kotak amal semenjak adanya sayembara menangkap maling di wilayahnya.
"Mungkin mereka (maling) takut karena adanya sayembara ini," ujar Nurdin ketika ditemui di dekat kediamannya, Jumat (26/7/2024).
Padahal, aksi pencurian kotak amal sebelumnya kerap terjadi di wilayahnya. Aksi kejahatan itu pernah terjadi di empat musala dan dua masjid yang ada di RW 01 Jembatan Besi, Tambora.
"(Padahal sebelumnya) semua tempat ibadah ada saja yang ambil kotak amal. Yang paling buat saya sakit hati itu kotak amal yang kerap dicuri. Pas dibuka isinya kosong, di situ saya sakit hati karena Infaq warga ya. Pecahan uang receh saja diambil," kata Nurdin.
Selain pencurian kotak amal, Nurdin mengatakan, wilayahnya juga sering kali dijadikan tempat pelarian jambret yang beraksi di dekat Mall Season City.
Keadaan inilah yang mendorong Nurdin untuk membuat sayembara tangkap jambret berhadiah uang tunai.
Nurdin berjanji akan mengganjar hadiah sebesar Rp 500.000 bagi warga yang menangkap jambret pada malam hari. Sedangkan, Rp 250.000 untuk warga yang menangkap pada siang hari.
"Malam hari lebih rawan kan. Apalagi malam minggu. Makanya hadiahnya lebih besar," ucap dia.
Dianggap saling membantu
Sementara itu, Kapolsek Tambora Kompol Donny Agung Harvida mengapresiasi cara Nurdin membuat sayembara tangkap maling berhadiah yang dianggap sangat kreatif.
Donny mengatakan, cara Nurdin adalah contoh pengawasan keamanan dan ketertiban yang kolaboratif antara aparat polisi dan masyarakat.
"Ya itu bentuk kolaborasi antara kepolisian dengan masyarakat," ucap Donny saat dihubungi, Jumat (26/7/2024). "Tanpa partisipasi masyarakat secara langsung mungkin tidak mudah menjaga lingkungan," tambah dia.
Di sisi lain, Lurah Jembatan Besi, M. Arief Budiman menilai sayembara tangkap maling berhadiah di RW 01 bisa membuat kasus pencurian di wilayah itu lebih terkendali.
Sebab, masyarakat jadi bersemangat untuk ikut menjaga keamanan lingkungan.
"Warga jadi semangat dan alhamdulillah bisa terkendali. Pencurian-pencurian yang selama ini sering terjadi sekarang berkurang," tutur Arief saat dihubungi, Minggu (28/7/2024).
Arief pun melihat ini sebagai fenomena keresahan masyarakat akibat kondisi rawan maling di lingkungan. Kondisi itu pun tak lepas dari padatnya permukiman di Jakarta.
"Ide itu berawal karena masyarakat melihat kondisi warga padat dan rawan maling," kata Arief.
Sayembara tangkap maling berhadiah di RW 01 Jembatan Besi, Jakarta Barat, membuat warga semangat berpartisipasi untuk menjaga keamanan. Halaman all [363] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Lurah Jembatan Besi M Arief Budiman mengatakan, sayembara tangkap maling berhadiah di RW 01 di Tambora, Jakarta Barat, membuat warga semangat berpartisipasi untuk menjaga keamanan.
"Saya melihat dengan adanya itu, masyarakat jadi semangat untuk ikut sayembara," ucap Arief ketika dihubungi, Senin (29/7/2024).
Arief mengatakan, ketua RT maupun RW ikut berpatroli malam hari bersama masyarakat.
"Semua berusaha untuk sama-sama menjaga. RT-RT di situ sama RW tidurnya tuh tengah malam bahkan sampe subuh," ucap Arief.
Arief mengatakan, kesadaran masyarakat sangat penting dalam terciptanya keamanan di daerahnya.
Petugas maupun siskamling pun tidak bisa sendiri memberantas pencurian.
"Menjaga keamanan itu tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya petugas, bukan hanya tanggung jawab RT dan RW," kata Arief.
"Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi," tambah ia.
Diberitakan sebelumnya, Nurdin (55), Ketua RW 01 Jembatan Besi, Jakarta Barat, membuat sayembara tangkap maling berhadiah uang tunai.
Nurdin memasang beberapa spanduk di wilayahnya soal sayembara tangkap maling berhadiah.
Spanduk itu bertuliskan "Tangkap Maling Berhadiah. Barangsiapa yang menangkap maling di Wilayah RW 01 Jembatan Besi Diberikan Hadiah Uang Tunai".
Bahkan, spanduk tersebut juga tertulis besaran hadiah sayembara sebesar Rp 1 juta untuk yang berhasil menangkap maling pada malam hari dan Rp 500.000 untuk siang hari.
Nurdin juga memberikan hadiah bagi warga yang menangkap jambret dan maling kotak amal.
Keduanya akan diganjar hadiah Rp 500.000 untuk penangkapan malam hari dan Rp 250.000 di siang hari.
"Kalau malam hari itu lebih rawan daripada siang hari. Apalagi kalau maling motor dan mobil itu sering terjadi," jelas Nurdin.
Ketua RW 01 Jembatan Besi, Tambora, adakan sayembara menangkap maling karena banyak warganya yang kemalingan. Polsek Tambora mendukung ide tersebut. Halaman all [930] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Nurdin (55), Ketua RW 01, Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat, berinisiatif mengadakan sayembara menangkap maling di lingkungannya dengan hadiah uang tunai hingga jutaan rupiah.
Sayembara itu ia adakan untuk mengatasi kasus pencurian yang sering terjadi di lingkungannya.
"Saya berpikir dan ajak berembuk semua pihak baik kepolisian, TNI, kelurahan, dan para RT. Akhirnya saya buatlah sayembara tangkap maling tahun 2021," kata Nurdin kepada Kompas.com, Kamis (25/7/2024).
Nurdin mengungkapkan, ide tentang sayembara menangkap maling muncul usai banyak warganya yang menjadi korban pencurian.
Dalam satu bulan, warga di Tambora bisa empat kali kemalingan. Objek yang dicuri juga beragam, di antaranya motor dan kotak amal.
Nurdin menyebut, persoalan maling selalu menjadi keluhan warga selama ia menjabat sebagai Ketua RW 01 sejak 2007.
Maklum, daerah Jembatan Besi adalah salah satu wilayah terpadat di Jakarta sehingga warga tidak bisa leluasa memasukkan kendaraan ke dalam rumah. Jalan kecil yang tersisa jadi tempat parkir mereka.
"Ya kan perkampungan padat. Warga tidak bisa memasukkan motor ke dalam rumah. Jadi berjejer di luar," kata Nurdin.
Banyaknya kasus pencurian membuat Nurdin dan jajaran disalahkan warga karena tak bisa menjaga keamanan lingkungan.
Hal itulah yang membuat Nurdin mencetuskan ide sayembara ini. Semua pihak pun setuju dengan ide Nurdin.
Kemudian, ia menginformasikan ke warga soal sayembara tangkap maling berhadiah dengan memasang beberapa spanduk.
Spanduk itu bertuliskan "Tangkap Maling Berhadiah. Barangsiapa yang menangkap maling di Wilayah RW 01 Jembatan Besi Diberikan Hadiah Uang Tunai".
Di spanduk juga tertulis bagi warga yang menangkap maling mobil atau motor diberikan uang sebesar Rp 1.000.000 pada malam hari dan Rp 500.000 untuk siang hari.
Nurdin juga memberikan hadiah bagi warga yang menangkap jambret dan maling kotak amal. Hadiahnya berupa uang tunai Rp 500.000 apabila pelaku ditangkap malam hari dan Rp 250.000 pada siang hari.
Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi
Nurdin mengungkapkan, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi warga saat mengikuti sayembara menangkap maling.
Para peserta wajib menangkap tangan pelaku saat mencuri. Dia tidak akan menerima maling yang ditangkap setelah kejadian atau sedang dalam pengembangan polisi.
"Ya mau dia kejar sampai 100 meter sampai dapat, bukan yang sedang pengembangan itu tidak bisa," kata Nurdin.
Ketentuan ini harus dipenuhi saat warga menangkap maling agar hadiah bisa dicairkan.
Selain itu, ada empat syarat lain yang harus dipenuhi dalam sayembara ini.
"Ada empat kategori yang diutamakan, jadi saat dibawa ada pelaku, saksi, barang bukti, dan korban," ucap Nurdin.
Nurdi menuturkan, pernah ada masyarakat yang menangkap pelaku pencurian, tetapi tidak tangkap tangan.
"Ada dua orang yang pernah datang ke saya. Tetapi tidak sesuai kategori itu. Jadi tidak saya cairkan (hadiah uang)," ungkap dia.
Nurdin mengatakan, empat kategori yang dia buat sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.
"Jadi kategori itu saya minta saran ke polisi lah, bagaimana peraturan hukumnya. Tidak asal menangkap terus pelaku babak belur," ungkap Nurdin.
Nurdin juga mengingatkan masyarakat agar tidak menghabisi maling hingga babak belur.
"Saya menyarankan masyarakat agar tidak main hakim sendiri. Itu melanggar hukum," ucap Nurdin.
Pakai uang pribadi untuk hadiah
Nurdin mengatakan, hadiah uang tunai dari sayembara yang ia adakan berasal dari dana pribadinya.
"Pakai uang pribadi saya ini semua," ucap Nurdin.
Nurdin mengaku tak ingin program sayembara yang ia gagas disponsori pihak kelurahan, polisi, maupun TNI.
Beberapa ketua RT sempat mempertanyakan keputusannya memakai uang pribadi sebagai hadiah sayembara.
Namun, Nurdin tegas menyatakan siap bertanggung jawab masalah biaya.
"Saya bilang enggak usah urunan. Saya yang adakan ya saya yang bayar," terang dia.
Dia hanya ingin semua RT mengerahkan anak muda untuk ikut sayembara ini. Sebab, banyak anak muda yang kerap nongkrong malam hari.
"Yang penting anak-anak muda jangan hanya nongkrong enggak jelas. Tetapi ikut kontribusi," terang dia.
Kapolsek beri dukungan
Kapolsek Tambora Kompol Donny Agung Harvida mengapresiasi sayembara menangkap maling yang digagas Nurdin.
Donny menyampaikan, langkah itu adalah contoh pengawasan keamanan dan ketertiban yang kolaboratif.
"Ya itu bentuk kolaborasi antara kepolisian dengan masyarakat," ucap Donny saat dihubungi, Jumat.
"Tanpa partisipasi masyarakat secara langsung mungkin tidak mudah menjaga lingkungan," tambah dia.
Donny pun mempersilahkan warga untuk membuat program apa pun untuk menangkap maling.
"Asal tidak melanggar undang-undang yang ada. Tetapi setelah mereka berhasil menangkap, silahkan diserahkan ke pihak berwajib biar kami proses," tutur Donny.
Perlu kehati-hatian
Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala menilai bahwa perlu ada kehati-hatian dalam pelaksanaan sayembara menangkap maling.
Sebab, langkah yang memilik maksud positif itu bukan tak mungkin bisa menjadi bumerang bagi warga yang melakukan sayembara.
"Dalam setiap kebijakan yang terkait dengan masalah kejahatan selalu ada kemungkinan menjadi kebijakan yang bermata ganda alias kontra produktif," jelas Adrianus kepada Kompas.com, Senin (29/7/2024).
"Maksudnya, bisa berhasil sesuai rencana, namun ada efek lain berupa munculnya gejala main hakim sendiri, vigilantisme, kekerasan yang eksesif yang menyebabkan maling mati dan lain-lain," tambahnya.
Meski begitu, Adrianus mengapresiasi sayembara menangkap maling selama proses pelaksanaannya bisa sesuai dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi.
"Sepanjang sudah diwaspadai dan dimitigasi, oke. Walau saya tidak tahu caranya, mengingat perilaku massa susah dikendalikan," tuturnya.
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua RW 01 Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat, Nurdin (55) meminta 13 RT di wilayahnya mengerahkan para pemuda setempat agar mengikut sayembara tangkap maling.
"Daripada nongkrong enggak jelas, saya minta RT kerahkan anak muda," ucap Nurdin saat diwawancarai, Kamis (25/7/2024).
Nurdin menjelaskan, wilayahnya terbilang padat penduduk. Biasanya, banyak remaja yang tidur bergantian dengan orangtua mereka.
Apalagi, banyak motor yang terparkir di tepi gang karena tidak karena rumah mereka tidak muat untuk kendaraan roda dua itu.
KOMPAS.com/RIZKY SYAHRIAL Spanduk sayembara tangkap maling berhadiah yang dicetuskan Nurdin sudah ditempel di mana-mana. Lokasi spanduk juga dipasang di tempat khusus agar bisa terlihat warga
"Ya makanya saya minta semua, apalagi warga yang masih remaja untuk bergerak," kata Nurdin.
Menurut Nurdin, warganya tidak perlu memikirkan uang tunai yang akan diberikan sebagai hadiah kepada pemenang asalkan mampu memenuhi empat syarat utama, yakni pelaku, saksi, barang bukti, dan korban dibawa kepadanya.
"Dan dalam kondisi tidak bonyok ya," jelas dia.
Sebagai langkah konkretnya, Nurdin menyebar spanduk sayembara di 13 RT yang ada di wilayahnya. Spanduk itu bertuliskan, "Tangkap maling berhadiah. Barangsiapa yang menangkap maling di Wilayah RW 01 Jembatan Besi akan diberikan hadiah uang tunai".
Bahkan, spanduk tersebut juga tertulis besaran hadiah sayembara sebesar Rp 1.000.000 untuk yang berhasil menangkap maling pada malam hari dan Rp 500.000 untuk siang hari.
Nurdin juga memberikan hadiah bagi warga yang menangkap jambret dan maling kotak amal. Keduanya akan diganjar hadiah Rp 500.000 untuk penangkapan malam hari, dan Rp 250.000 di siang hari.
"Kalau malam hari itu lebih rawan daripada siang hari. Apalagi kalau maling motor dan mobil itu sering terjadi," jelas Nurdin.