KOMPAS.com -Buayasungai Nil ternyata menjadi salah satu hewan yang dipuja di zaman Mesir kuno.
Tapi bagaimana binatang bersisik yang jadi predator paling ikonis di sungai Nil ini dipuja dan juga dikorbankan oleh bangsa Mesir kuno?
Kini peneliti sudah mengetahui misteri praktik tersebut.
Seperti dikutip dari IFL Science, Selasa (9/7/2024) praktik kuno ini terpecahkan berkat analisis baru terhadap mumi buaya Mesir yang selama ini disimpan di museum di Inggris.
“Orang Mesir kuno memuja buaya sebagai Sobek, penguasa Sungai Nil dan rawa purba yang mereka yakini sebagai tempat terciptanya Bumi,” tulis penulis studi baru yang menggambarkan hewan mumi tersebut.
Peneliti juga menjelaskan bahwa pusat kegiatan suci yang didedikasikan untuk buaya telah ditemukan di seluruh Mesir.
Hal tersebut dibuktikan dengan adanya sejumlah besar mumi buaya, beberapa di antaranya memiliki panjang hingga 6 meter.
Namun, meskipun banyak buaya yang tampaknya telah dikorbankan, beberapa juga tampaknya dibiarkan mati secara wajar.
Yang paling terkenal bernama Suchus dan tinggal di pusat pemujaan Crocodilopolis.
“Diyakini sebagai inkarnasi hidup Sobek, Suchus diberikan kolam khusus di dalam kompleks kuil tempat ia menerima makanan berlimpah berupa roti, daging, dan anggur yang diantarkan oleh para pendeta, serta perhiasan dari logam mulia dan permata,” tulis penelitian tersebut.
"Sebagai hewan pemujaan, Suchus menerima tingkat perawatan yang sesuai dengan dewa di bumi,” tambah mereka.
Namun yang membingungkan para peneliti adalah bagaimana orang Mesir kuno berhasil memperoleh begitu banyak buaya raksasa untuk praktik keagamaan mereka.
Berdasarkan penemuan tempat penetasan kuno di situs arkeologi Medinet Madi, beberapa pihak berpendapat bahwa hewan-hewan tersebut mungkin dibesarkan di penangkaran, meskipun tidak jelas bagaimana makhluk ganas ini dapat dipelihara dan dirawat setelah mereka mencapai ukuran dewasa.
Sumber lain, termasuk tulisan sejarawan Yunani Herodotus menunjukkan bahwa buaya tersebut ditangkap dari alam liar setelah dibujuk ke tepian Sungai Nil dengan suara babi yang dipukul.
Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sepanjang tepian air, penulis penelitian memindai mumi buaya sepanjang 2,2 meter dari Museum dan Galeri Seni Birmingham.
Yang mengejutkan mereka, mereka menemukan kail ikan perunggu di dalam perut hewan tersebut, yang menunjukkan bahwa hewan tersebut tidak dibesarkan di penangkaran tetapi merupakan hewan liar yang diburu untuk tujuan mumifikasi.
Di dalam saluran pencernaannya, para peneliti juga menemukan seekor ikan kecil yang belum terurai oleh cairan pencernaan buaya.
Temuan ini menunjukkan bahwa makhluk tersebut memakan makanan terakhirnya dalam waktu yang sangat singkat sebelum mati, yang berarti ia pasti dibunuh dan dijadikan mumi segera setelah ditangkap.
“Rentang waktu yang sangat singkat antara konsumsi ikan dan kematian hewan tersebut menunjukkan bahwa buaya tersebut ditangkap di alam liar dan bangkainya segera diproses untuk dijadikan mumi,” jelas para penulis.
Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan fakta bahwa buaya ditangkap dan dimumikan oleh orang Mesir kuno sebagai persembahan kepada dewa Sobek.
Studi dipublikasikan di jurnal Digital Applications in Archaeology and Cultural Heritage.