#30 tag 24jam
Sandera Hamas Dibawakan Pizza, Tahanan Israel Dipukuli Hingga Meninggal
Muncul kesaksian soal perlakuan manusiawi terhadap tawanan di Gaza. [1,104] url asal
#tahanan-palestina #tentara-israel-perkosa-tahanan #pemerkosaan-tahanan-palestina #tahanan-palestina-meninggal #sandera-hamas #tawanan-di-gaza
(Republika - News) 31/07/24 08:20
v/12714463/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Di tengah laporan soal penganiayaan brutal tentara Israel terhadap tahanan dari Gaza, muncul juga kesaksian dari tawanan pejuang Palestina. Yang mereka gambarkan soal masa saat disandera di Gaza berbanding terbalik dengan kekejaman Israel.
Hal ini dituturkan mantan tawanan di Gaza Liat Atzili kepada surat kabar Israel Haaretz. Dalam penjelasannya, Atzili mengatakan bahwa rumah warga sipil tempat dia ditahan tidak memiliki kendali atas penahanan atau pembebasan mereka. Warga Amerika-Israel yang itu mengatakan kepada Haaretz bahwa dia diperlakukan secara manusiawi – yang sangat kontras dengan perlakuan terhadap tahanan Palestina oleh otoritas Israel.
Liat Atzili dibebaskan pada 29 November, saat gencatan senjata satu pekan antara Hamas dan pemerintah Israel. Dia menghabiskan total 54 hari di Gaza di mana dia dilaporkan ditahan di sebuah apartemen di kota Khan Younis, di selatan Jalur Gaza.
Menurut Haaretz, Atzili ditangkap sekitar pukul 11.00 pagi pada 7 Oktober, ketika “dua pria bersenjata berseragam menyerbu masuk ke kamar yang tidak terkunci” tempat dia menginap. Ketika wartawan bertanya apakah para penculiknya “menakutkan”, dia menjawab: “Tidak terlalu.”
“Mereka punya senjata tapi mereka tidak mengancam saya. Mereka mengatakan kepada saya, 'Kamu tidak perlu takut, kami tidak akan menyakitimu, ikutlah dengan kami.' Mereka memberi saya waktu untuk berpakaian dan mengatur diri, tetapi saya tidak mampu melakukan itu karena saya shock ,” lanjutnya, menurut Haaretz.
Atzili mengatakan bahwa para pria tersebut tidak menyentuhnya dan berbicara kepadanya dalam bahasa Inggris, mengatakan “sepanjang waktu” untuk tidak perlu khawatir. “Mereka nampaknya sangat mengkhawatirkan saya dan ingin saya makan dan minum. Mereka berkata, ‘Kami akan melindungimu, kamu aman di sini, tidak terjadi apa-apa padamu.’ Mereka membiarkan saya mandi, berganti pakaian. Mereka mencuci pakaian saya,” kata Atzili.
Meskipun Israel memberlakukan blokade penuh terhadap Gaza mulai 9 Oktober, yang menyebabkan kelaparan yang meluas di seluruh penduduk Palestina di Jalur Gaza, para tawanan Israel tidak dibiarkan kelaparan. Sebaliknya, Atzili yang menjalani diet vegetarian mendapat perlakuan khusus.
“Mereka terkejut karena saya seorang vegetarian. ’Jadi, apa yang kamu makan?’ mereka bertanya. Sudah kubilang pada mereka aku sangat suka pizza. Jadi salah satu dari mereka naik sepeda dan membawa pizza dari Crispy Pizza di Khan Yunis,” ujarnya.
Menurut mantan tawanan Israel, mereka mendapat buah dan sayur ketika diminta. “Kami tidak menderita kelaparan. Mereka berusaha memastikan bahwa kami mempunyai cukup makanan,” katanya. Atzili dilaporkan dipindahkan ke sebuah apartemen tempat dia tinggal bersama tawanan lainnya, Ilana Gritzewsky yang berusia 30 tahun, yang juga dibebaskan pada 30 November, sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan.
“Ilana dan saya tetap bersama mereka selama periode tersebut. Mereka berusia sekitar 30 tahun. Mereka tidak bersenjata atau berseragam. Kami tinggal di apartemen itu selama sekitar 10 hari dan kemudian dipindahkan ke apartemen lain. Dan itu saja,” kata Atzili.
Menurut wanita tersebut, penjaganya adalah seorang guru dan pengacara. “Keduanya sudah menikah dan masing-masing punya anak. Istri salah satu dari mereka suatu hari datang ke apartemen bersama bayi mereka yang baru lahir,” katanya.
Ketika ditanya apakah mereka berafiliasi dengan Hamas, dia berkata: “Saya bisa memahami sedikit tentang posisi Hamas dalam kehidupan mereka. Mereka berbicara banyak tentang kemiskinan di Jalur Gaza, tentang betapa sulitnya untuk meninggalkannya.”
Atzili mengatakan, mereka sempat ngobrol panjang lebar dengan pengawalnya. “Mereka ingin kami melihat mereka sebagai manusia, dan kami ingin mereka melihat kami sebagai manusia. Dengan sangat cepat percakapan dimulai tentang keluarga, tentang kehidupan kami, dan itu berhasil,” jelasnya.
Wanita tersebut juga mengatakan bahwa ketakutan awal bahwa mereka mungkin akan diserang secara seksual dengan cepat hilang. “Awalnya kami sangat khawatir akan terjadi sesuatu, kami akan diserang secara seksual. Tapi setelahnya kami paham bahwa tidak apa-apa, mereka tetap dalam batas,” katanya.
Ketika ditanya tentang momen pembebasan mereka, dia berkata: “Sebelum dia (penjaga) meninggalkan kami, dia berkata, ‘Semoga berhasil, semoga Tuhan memberkati Anda.’ Kami berterima kasih padanya dan saling menepuk bahu."
Sebaliknya, tahanan Palestina menjadi sasaran kekerasan yang merajalela dan “perampasan dalam sistem penjara Israel”, tulis the Washington Post dalam sebuah laporan pada Senin.
Surat kabar tersebut dilaporkan berbicara dengan 11 mantan tahanan dan enam pengacara. Mereka memeriksa catatan pengadilan dan meninjau laporan otopsi, mengungkapkan kekerasan dan kebrutalan yang merajalela, terkadang mematikan, dan dilakukan oleh otoritas penjara Israel.”
Menurut laporan tersebut, rincian kematian para tahanan diceritakan oleh para saksi mata dan dikuatkan oleh dokter dari Dokter untuk Hak Asasi Manusia Israel (PHRI).
Laporan tersebut mengutip Jessica Montell, direktur eksekutif kelompok hak asasi manusia Israel HaMoked, yang mengatakan bahwa sistem penjara Israel “sangat penuh sesak” dan “kekerasan merajalela.”
Bahkan kepala intelijen Israel Ronen Bar memperingatkan dalam suratnya kepada otoritas penjara pada 26 Juni bahwa “kondisi di penjara negara tersebut dapat menyebabkan lebih banyak tindakan hukum internasional”, karena “sistem penjara, yang dibangun untuk 14.500 narapidana, tidak bisa menampung 21.000 orang termasuk sekitar 2.500 tahanan dari Gaza”.
Salah satu tahanan yang diwawancarai oleh the Washington Post melaporkan bahwa Abdulrahman Bahash, seorang tahanan Palestina berusia 23 tahun, dipukuli sampai mati oleh penjaga Israel di penjara Megiddo.
“Penjaga menyerang mereka ‘dengan cara yang gila’,” kata tahanan tersebut. ‘Mereka menggunakan tongkat mereka, mereka menendang kami… ke seluruh tubuh kami’,” kata tahanan tersebut.
“Bahash kembali dengan luka memar yang dalam, mengeluh tulang rusuknya mungkin patah. Ketika dia mencari bantuan medis, kata teman satu tahanannya, dia dikirim kembali dengan Acemol, obat penghilang rasa sakit yang sederhana,” lanjut laporan itu. Bahash meninggal sekitar tiga minggu kemudian, pada 1 Januari.
Menurut Post, laporan dari dokter PHRI Daniel Solomon mengungkapkan tanda-tanda cedera traumatis pada dada kanan dan perut kiri, menyebabkan banyak patah tulang rusuk dan cedera limpa, yang mungkin disebabkan oleh penyerangan.
Menurut laporan tersebut, setiap mantan narapidana mengatakan bahwa berat badan mereka turun secara signifikan di penjara, yaitu antara 15 sampai 20 kilogram.
“Jurnalis Moath Amarneh, 37, dipenjara selama enam bulan di Megiddo setelah merekam demonstrasi di Tepi Barat, mengatakan bahwa selnya yang beranggotakan enam orang menahan hingga 15 orang selama dia berada di sana,” lapor Post.
Menurut Amarneh, “para narapidana berbagi sepiring sayuran dan yogurt untuk sarapan. Untuk makan siang, setiap tahanan menerima setengah cangkir nasi, dan sel – berapapun jumlah pria di dalamnya – akan membagi sepiring irisan tomat atau kubis.”
Muazzat Obayat (37) seorang binaragawan amatir menceritakan bahwa berat badannya telah turun “lebih dari 45 kilogram dalam sembilan bulan” di tahanan Israel. “Dia berbisik ketika dia menggambarkan seorang penjaga melakukan pelecehan seksual terhadapnya dengan sapu,” kata laporan itu, menambahkan bahwa Obayat mengatakan: “Ini seperti di Guantánamo”.
Warga Palestina dan kelompok hak asasi manusia telah mendokumentasikan pelecehan yang meluas di dalam penjara Israel bahkan sebelum Israel melancarkan perang genosida di Gaza hampir 10 bulan lalu. Penahanan semena-mena terhadap ribuan warga Palestina dan penyiksaan yang mereka alami tersebut jadi salah satu alasan pejuang Palestina menyandera tentara dan warga sipil dari Israel untuk ditukarkan dengan kebebasan warga Palestina yang ditahan Israel tanpa proses hukum.
Lebih Kejam dari Guantanamo, Begini Kondisi Kamp Paling Brutal Israel
Sejumlah tahanan diborgol terus menerus sehingga harus diamputasi. [1,034] url asal
#tahanan-palestina #tahanan-palestina-meninggal #kamp-konsentrasi-israel #kamp-sde-teiman #kejahatan-israel #kekejaman-israel
(Republika - News) 30/07/24 09:34
v/12625497/
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Ratusan ekstremis Israel dari gerakan sayap kanan menyerbu kamp penahanan di pangkalan militer Sde Teiman di gurun Negev, tempat tentara dan dinas keamanan Israel menahan tahanan dari Jalur Gaza sejak awal perang. Hal ini terjadi setelah polisi militer menangkap sembilan tentara cadangan untuk menyelidiki mereka atas dugaan pelecehan seksual, penyiksaan dan penganiayaan terhadap tahanan. Apa yang terjadi di kamp paling brutal Israel tersebut.
Sejumlah tahanan yang dibebaskan bersaksi atas kekejaman tentara Israel di kamp tersebut. Sementara lembaga pegiat HAM menyatakan bahwa kondisi di kamp itu jauh lebih sadis dari yang terungkap di penjara Guantanamo milik AS.
Pusat penahanan ini, yang kemudian dikenal sebagai "Guantanamo Israel", terletak di dalam pangkalan militer Sde Teiman di Komando Selatan tentara Israel. Kamp itu dibuka kembali seiring dimulainya agresi ke Gaza pada 7 Oktober 2023, untuk menahan warga Palestina yang ditangkap dari Jalur Gaza dan para pejuang Palestina.
Menurut Aljazirah Arabia, pangkalan militer tersebut, didirikan pada awal 1940-an selama masa Mandat Inggris dan terletak sekitar 10 kilometer barat laut Beersheba, juga mencakup markas alternatif untuk Direktorat Koordinasi dan Penghubung Gaza, yang seharusnya beroperasi dalam situasi darurat di Gaza. Ia juga berfungsi sebagai fasilitas penahanan yang juga digunakan selama operasi militer sebelumnya di Gaza.
Selama Pertempuran Al-Furqan, yang dikenal di Israel sebagai “Cast Lead” pada 2008, dan selama Pertempuran Al-Bunyan Al-Marsous, yang dikenal di Israel sebagai “Protective Edge” pada 2014, tentara Israel menahan ratusan tahanan dari Gaza. Setelah Intifada al-Aqsa belakangan, sekitar 1.500 warga Gaza ditahan, berdasarkan perintah militer yang dikeluarkan oleh Menteri Pertahanan Yoav Gallant.
Fasilitas penahanan didirikan di dalam pangkalan militer, sehingga pengawasan terhadap para tahanan akan dilakukan oleh tentara dan dinas keamanan Israel, Dinas Penjara Israel memiliki wewenang apa pun atas mereka. Hal ini untuk menyembunyikan tindakan yang diterapkan terhadap para tahanan.
Dengan dimulainya perang di Gaza, Gallant mengeluarkan perintah menjadikan pangkalan itu sebagai tempat penahanan dan penahanan administratif. Lima fasilitas didirikan di kamp yang berisi kandang besi dan barak untuk menahan mereka yang ditangkap dari Gaza. Lima tenda juga didirikan dan dianggap sebagai rumah sakit lapangan untuk merawat para tahanan yang terluka.
Perintah Galant tersebut berdasarkan “Undang-Undang Kombatan yang Melanggar Hukum,” yang memungkinkan Kepala Staf IDF memerintahkan penahanan administratif secara luas tanpa hak untuk mengajukan banding atau perwakilan hukum. Knesset, alias parlemen Israel), pekan ini menyetujui perpanjangan undang-undang tersebut hingga 30 November 2024.
Polisi militer menggerebek kamp penahanan Sde Teiman dan menangkap sembilan tentara cadangan karena dicurigai melakukan pelecehan seksual dan pelecehan serius terhadap seorang tahanan Palestina. Di antara mereka yang ditangkap adalah seorang mayor, komandan unit militer Israel yang menjaga tahanan di fasilitas tersebut.
Tahanan lainnya juga merupakan anggota pasukan ini, yang dibentuk kembali pada awal perang di Gaza untuk menjaga tahanan Gaza. Bukti yang diperoleh surat kabar Israel Haaretz menunjukkan bahwa tentara dari unit tersebut terlibat dalam beberapa insiden kekerasan dalam beberapa bulan terakhir.
Misalnya, seorang tentara yang bertugas di Sde Teiman mengatakan bahwa anggota unit tersebut melakukan kekerasan terhadap tahanan selama penggeledahan. "Sekali waktu mereka meminta semua orang untuk berbaring di tanah, dan segera melemparkan granat kejut ke arah mereka, dan kemudian menendang mereka dengan keras."
Menyusul petisi yang diajukan oleh lima asosiasi dan organisasi hak asasi manusia Israel – dipimpin oleh Asosiasi Hak Sipil – ke Mahkamah Agung yang menuntut penutupan pusat penahanan Sde Teiman dan mengungkap nasib ratusan tahanan Gaza yang dihilangkan secara paksa, pihak Israel mengakui bahwa puluhan tahanan dari Gaza meninggal akibat penyiksaan, namun tanpa mengungkapkan keadaannya.
Menurut data yang diterbitkan oleh tentara Israel, mereka sedang melakukan penyelidikan kriminal terhadap tentara dalam pembunuhan 48 warga Palestina, yang sebagian besar adalah tahanan yang ditangkap dari Jalur Gaza, termasuk 36 orang yang ditahan di Sde Teiman. Sementara organisasi dan badan hak asasi manusia yang peduli dengan urusan para tahanan menuntut agar nasib ribuan warga Gaza yang berada di wilayah Jalur Hijau sebelum tanggal 7 Oktober diungkapkan berdasarkan izin kerja, namun kemudian dihilangkan secara paksa.
Hal ini terbukti dari pertimbangan Mahkamah Agung Israel, dan menurut kesaksian yang diberikan oleh organisasi hak asasi manusia, bahwa sebagian besar dari mereka yang ditahan di penjara Sde Teiman adalah warga sipil dari Jalur Gaza dan dari berbagai kelas sosial dan kelompok usia, laki-laki dan perempuan. Mereka ditahan di bawah ancaman pemukulan, pelanggaran dan penyiksaan untuk mendapatkan informasi tentang gerakan Hamas dan tentang tahanan Israel yang ditahan oleh perlawanan Palestina.
Apa saja pelanggaran yang pernah dilakukan terhadap narapidana di Sde Teiman?
Dalam beberapa bulan terakhir, bukti dan kesaksian telah terkumpul tentang apa yang terjadi di pusat penahanan Sde Teiman, yang dikumpulkan oleh organisasi hak asasi manusia dan kesaksian para tahanan yang ditahan selama berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan di pusat penahanan militer, mengungkapkan gambaran yang mengerikan. Terjadi penyiksaan dan penganiayaan terhadap tahanan oleh tentara, sampai pada titik penyerangan seksual terhadap beberapa dari mereka.
Kesaksian dan bukti menunjukkan pelanggaran serius terhadap hak-hak para tahanan, kegagalan untuk memastikan kondisi minimum yang manusiawi, dan penahanan mereka di bawah penyiksaan dan penganiayaan di dalam kurungan besi dan dalam kondisi yang brutal.
Para prajurit di kamp penahanan biasa menahan semua tahanan Gaza di tempat terbuka yang dikelilingi pagar besi atau di dalam barak tanpa tempat tidur dan tanpa kebutuhan hidup mendasar. Tentara memborgol tangan dan kaki mereka sepanjang waktu, yang menyebabkan beberapa orang diamputasi. Tentara penjajah juga menutup mata mereka dalam jangka waktu lama, bahkan selama perawatan medis bagi yang terluka di antara mereka atau saat buang air, dengan kondisi penahanan yang mempengaruhi martabat dan kesehatan mereka.
Informasi juga terungkap bahwa Kementerian Kesehatan Israel mengizinkan staf medis di penjara untuk melakukan operasi tanpa anestesi, dan perawatan diberikan kepada korban luka dalam keadaan diborgol dan ditutup matanya.
Menyusul petisi dari organisasi hak asasi manusia, pemerintah Israel memberi tahu Mahkamah Agung pada tanggal 19 Juli bahwa mereka secara bertahap menutup pusat penahanan Sde Teiman, dan bahwa tahanan Jalur Gaza yang ditahan di sana akan dipindahkan ke bagian tenda baru di penjara Negev.
Selama bulan-bulan pertama perang, ketika bukti ini mulai muncul, Kantor Advokat Jenderal Militer Israel melakukan upaya besar untuk menunda penyelidikan. Namun dengan meningkatnya tekanan internasional, penyelidikan oleh pers asing dan langkah-langkah yang diambil terhadap Israel di Mahkamah Internasional, diputuskan untuk membuka penyelidikan terhadap puluhan kasus yang menimbulkan kecurigaan tersebut, dalam upaya untuk menghindari proses peradilan internasional.
PM dan Tentara IDF Baku Hantam di Kamp Paling Brutal Israel
Kericuhan dipicu penangkapan tentara Israel yang menganiaya tahanan dari Gaza. [870] url asal
#tahanan-palestina #tahanan-palestina-meninggal #hari-dukungan-tahanan-palestina #kekejaman-israel #kejahatan-perang-israel #kamp-sde-teiman #kamp-konsentrasi-israel
(Republika - News) 30/07/24 08:08
v/12620195/
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Kericuhan terjadi antara polisi militer Israel dan sejumlah tentara pasukan penjajahan Israel di kamp tahanan Sde Teiman di Gurun Negev, wilayah yang diduduki Israel, Senin (39/7/2024). Para polisi hendak menangkap tentara yang melakukan penganiayaan sadis terhadap para tahanan Palestina.
Insiden itu menyusul investigasi yang dilakukan militer Israel terhadap dugaan pelecehan terhadap seorang tahanan Palestina di kamp penahanan militer yang terkenal kejam tersebut. Oleh para pegiat HAM, kamp itu disebut lebih brutal ketimbang Guantanamo dan Abu Ghraib, kamp tahanan AS yang terkenal.
Militer Israel mengatakan pada Senin bahwa kantor advokat jenderalnya memerintahkan penyelidikan “menyusul dugaan pelecehan substansial terhadap seorang tahanan” di fasilitas Sde Teiman, yang menampung tahanan Palestina, termasuk tersangka anggota pasukan elit Nukhba Hamas yang terlibat dalam serangan 7 Oktober.
Radio tentara Israel mengatakan polisi militer tiba di Sde Teiman sebagai bagian dari penyelidikan mereka terhadap 10 tentara cadangan IDF yang dicurigai melakukan pelecehan berat terhadap tahanan. Middle East Eye melansir, salah satu bentuk pelecehan itu adalah pemerkosaan dengan benda tumpul yang menyebabkan tahanan meninggal.
Dugaan pelecehan itu terjadi tiga minggu lalu, tambah mereka. Tahanan tersebut ditemukan “dalam kondisi yang sangat serius”, sehingga memerlukan evakuasi ke rumah sakit terdekat tempat dia menjalani operasi. Sembilan tentara ditahan, dituduh melakukan “penganiayaan serius terhadap seorang tahanan”, menurut radio tentara Israel. Sementara tentara ke-10 diperkirakan akan ditangkap kemudian karena dia tidak berada di pangkalan ketika polisi tiba.
Operasi penangkapan terrsebut memicu konfrontasi penuh kemarahan antara polisi militer dan tentara IDF di Sde Teiman, yang terekam dalam video oleh seorang reporter dari lembaga penyiaran publik Israel, Kann News. Penahanan tersebut juga memicu kecaman dari anggota sayap kanan Israel, termasuk koalisi anggota parlemen sayap kanan ekstrem dan pendukung mereka yang berusaha menyerbu pangkalan militer sebagai bentuk protes. Pada Senin malam, pengunjuk rasa juga menargetkan pangkalan kedua tempat para tentara diinterogasi, dan konfrontasi dengan kekerasan terus berlanjut hingga malam hari. Upaya penangkapan juga memicu serbuan pemukim ilegal ke kamp tahanan. Mereka mendesak semua tahanan dari Gaza dibunuh.
Sebuah laporan baru-baru ini yang diterbitkan oleh badan urusan Palestina PBB, UNRWA, merinci pelecehan yang luas di Sde Teiman, di mana para tahanan “menjadi sasaran pemukulan sambil disuruh berbaring di kasur tipis di atas puing-puing selama berjam-jam tanpa makanan, air atau akses ke toilet dengan kaki dan tangan terikat dengan ikatan plastik”.
Para tahanan termasuk anak-anak “dilaporkan dipaksa masuk ke dalam kandang dan diserang oleh anjing”, kata mereka, sementara yang lain mengalami luka parah akibat pemukulan, termasuk dengan batang logam.
Para tahanan juga menggambarkan pelecehan yang mencakup “penghinaan dan penghinaan seperti dibuat bertindak seperti binatang atau dikencingi, penggunaan musik keras dan kebisingan, perampasan air, makanan, tidur dan toilet, penolakan hak untuk shalat dan penggunaan alat-alat ibadah dalam waktu lama. Sedangkan borgol yang terkunci rapat menyebabkan luka terbuka dan luka gesekan”, kata laporan itu.
PBB mengatakan pada bulan Juni bahwa sekitar 27 tahanan meninggal dalam tahanan di pangkalan militer Israel, termasuk Sde Teiman, sementara setidaknya empat lainnya meninggal di sistem penjara Israel karena pemukulan atau penolakan perawatan medis.
The Guardian melansir, Natan Sachs, kepala pusat kebijakan Timur Tengah di Brookings Institution di Washington, menyebut protes tersebut “sebuah tanda dari masa yang sangat, sangat sulit”. “Saya sangat khawatir dengan ketegangan yang terjadi di masyarakat,” katanya.
Para pejabat dari lembaga militer dan politik Israel dengan cepat mengutuk penyusupan terhadap pangkalan militer tersebut, namun beberapa pejabat membatasi komentar mereka mengenai dugaan pelanggaran tersebut – dan potensi dampaknya terhadap serangan Israel di Gaza.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang telah menjanjikan “kemenangan total” di Gaza, “mengecam keras” upaya pembobolan di Sde Teiman, namun tidak memberikan komentar atas tuduhan penganiayaan terhadap tahanan tersebut. Menteri Pertahanan, Yoav Gallant, mengatakan bahwa “bahkan di masa-masa sulit, hukum berlaku untuk semua orang – tidak ada yang boleh masuk tanpa izin ke pangkalan IDF atau melanggar hukum negara Israel”.
Presiden Israel, Isaac Herzog, menyerukan ketenangan, namun mengatakan bahwa kebencian terhadap beberapa orang yang dituduh melakukan aksi teroris “pasti dapat dimengerti dan dibenarkan”.
Kepala staf IDF, Letjen Herzi Halevi, membela penyelidikan tersebut, dan berkata: “Insiden pembobolan pangkalan Sde Teiman sangat serius dan melanggar hukum… kita sedang berperang, dan tindakan semacam ini membahayakan keamanan negara. negara."
Namun Yariv Levin, menteri kehakiman Israel dan anggota partai politik Netanyahu, mengatakan dia “terkejut” melihat gambar tentara yang ditangkap di Sde Teiman, “dengan cara yang cocok untuk menangkap penjahat berbahaya”. Dia menambahkan: “Tidak mungkin menerima hal ini, bahkan jika tidak ada perdebatan mengenai kewajiban untuk mematuhi hukum dan perintah tentara.”
Kelompok hak asasi manusia termasuk Asosiasi Hak Sipil di Israel telah mengajukan petisi ke pengadilan tinggi Israel untuk menutup Sde Teiman karena meluasnya laporan pelecehan. Meskipun para pejabat telah berjanji untuk mengeluarkan sebagian besar tahanan dari fasilitas tersebut dan memindahkan mereka ke sistem penjara Israel, yang juga dituduh menganiaya warga Palestina yang ditahan, sifat penutupan atau pemindahan di Sde Teiman masih belum jelas.
Komite Publik Menentang Penyiksaan di Israel mengatakan “sejak awal perang, kami mengklaim bahwa Sde Teiman beroperasi sebagai 'wilayah tersendiri', dan tentara yang ditempatkan di sana bertindak di luar hukum apapun – pertama dalam perlakuan mereka terhadap tahanan, dan sekarang terhadap aparat penegak hukum militer.”
“Alih-alih mengecam secara mutlak, beberapa pemimpin sayap kanan Israel justru berunjuk rasa untuk mendukung tersangka pelecehan, yang merupakan simbol dari akar permasalahan yang memungkinkan terjadinya pelecehan tersebut.”
Hamas Tetapkan 3 Agustus Sebagai Hari Dukungan untuk Tahanan Palestina
Penetapan tersebut merespons tingginya jumlah tahanan yang tewas di penjara. [254] url asal
#hamas #tahanan-palestina #tahanan-palestina-meninggal #genosida-gaza #genosida-israel #hari-dukungan-tahanan-palestina
(Republika - Khazanah) 29/07/24 17:01
v/12543995/
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Kepala biro politik kelompok perjuangan Palestina, Hamas, Ismail Haniyeh menyerukan agar 3 Agustus ditetapkan sebagai hari dukungan internasional untuk tahanan Palestina dan Gaza.
Menurut laporan IRNA yang mengutip media Palestina, Senin pagi (29/7/2024), Haniyeh melalui pernyataan menyerukan partisipasi aktif dan luas dari masyarakat dalam membela para tahanan dan rakyat di Jalur Gaza.
Dia juga menyerukan masyarakat untuk mempermalukan kejahatan barbar penjajah terhadap rakyat Gaza serta membela hak-hak beserta isu mereka.
Haniyeh menjelaskan penetapan 3 Agustus sebagai hari solidaritas dengan Gaza dan para tahanan merupakan respons terhadap genosida yang dilakukan pendudukan Nazi-Zionis terhadap rakyat Gaza yang hingga kini masih terjadi dan memasuki bulan ke-10.
Penetapan tersebut sekaligus merespons tingginya jumlah tahanan yang tewas di penjara dan pusat penahanan Israel, yang belum pernah terjadi sebelumnya
"Seruan ini muncul karena dunia bungkam dan tidak mampu menghentikan perang yang agresif terhadap rakyat dan tahanan kami ini serta bias, dukungan dan kemitraan penuh dari pemerintah AS dalam agresi ini dan kegagalan lembaga HAM dan kemanusiaan untuk bertanggung jawab dalam memberikan dukungan dan pertolongan kepada rakyat kami di Gaza dan tahanan kami di penjara musuh Zionis," ucap Haniyeh.
Dia berharap agar 3 Agustus menjadi hari yang berpengaruh dan penting di seluruh Palestina dan dunia Arab. Haniyeh juga menekankan pentingnya dan perlunya partisipasi aktif warga Palestina, dunia Arab, kaum Muslim dan seluruh dunia untuk memaksa rezim pendudukan menghentikan genosida.
Sebelumnya, surat kabar berbahasa Ibrani menerbitkan sebuah dokumen yang dikirim oleh badan intelijen Israel yang menyebutkan jumlah tahanan Palestina mencapai 21.000 orang.