#30 tag 24jam
Pemerkosaan Pria dan Perempuan Palestina, Hal Biasa untuk Zionis Israel? Ini Kata Pakar
Tentara Zionis Israel kerap melakukan pelecehan seksual [919] url asal
#tentara-israel #tahanan-palestina #tawanan-palestina #pemerkosaan-warga-palestina #perang-gaza #jalur-gaza #genosida-gaza #korban-genosida-israel #perang-hamas-israel
(Republika - Khazanah) 13/08/24 09:08
v/14350090/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -Skandal penyiksaan seksual oleh Israel, di mana sembilan tentara ditangkap pada tanggal 29 Juli atas tuduhan menyiksa pria Palestina secara fisik dan seksual, digambarkan oleh media Barat sebagai penyimpangan dari metode penyiksaan yang biasa dilakukan oleh Israel.
Mengapa skandal ini dilakukan militer Zionis Israel yang mengklaim dirinya militer paling bermoral? Joseph Massad adalah profesor politik Arab modern dan sejarah intelektual di Universitas Columbia, New York membeberkan logika kekerasan Zionis Israel dalam artikelnya bertajuk "Why raping Palestinians is legitimate Israeli military practice" yang dipublikasikan middleeasteye.
BACA JUGA: Tak Ada yang Bisa Jelaskan soal Ruh Selain Islam, Alexander Jadi Mualaf
Idenya adalah bahwa para penyiksa Israel terhadap para tahanan Palestina biasanya tidak melakukan pemerkosaan terhadap mereka. Empat tentara yang ditangkap kemudian dibebaskan setelah kerusuhan meluas.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, yang mungkin terkejut dengan penyiksaan semacam itu, menggambarkan sebuah video yang dilaporkan menunjukkan dugaan pemerkosaan sebagai "mengerikan" dan bersikeras bahwa "tidak boleh ada toleransi terhadap pelecehan seksual, pemerkosaan terhadap tahanan mana pun, titik... Jika ada tahanan yang mengalami pelecehan seksual atau pemerkosaan, pemerintah Israel, IDF (tentara Israel) harus menyelidiki secara penuh tindakan tersebut dan meminta pertanggungjawaban siapa pun yang bertanggung jawab sesuai dengan hukum yang berlaku."
Gedung Putih, yang mungkin juga tidak asing dengan praktik penyiksaan tahanan politik yang ditahan di penjara-penjara bawah tanah AS, tetap tenang tetapi menemukan laporan penyiksaan seksual Israel "sangat memprihatinkan".
Uni Eropa pun mengikutinya dan mengaku "sangat prihatin".
Namun, ini bukanlah perkembangan baru dalam kekejaman rezim pemukim penjajah Israel. Tentara Israel telah secara sistematis melakukan penyiksaan fisik dan seksual terhadap warga Palestina setidaknya sejak1967, seperti yang diungkapkan oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia beberapa tahun yang lalu.
Memang, kesadisan telah menjadi ciri khas perlakuan penjajah Zionis terhadap warga Palestina sejak 1880-an, seperti yang dikeluhkan oleh para pemimpin Zionis pada saat itu.
Kesadisan dan penyiksaan seksual yang sering menyertainya tidak hanya berakar pada keangkuhan kolonial Eropa, tetapi juga pada pandangan orientalis bahwa orang Arab hanya "memahami kekerasan" dan diduga lebih rentan terhadap penyiksaan seksual daripada orang Eropa berkulit putih.
Baca juga: 11 Kondisi Sebenarnya Perekonomian Israel Akibat Perangi Gaza yang Ditutup-tutupi
Praktik biasa
Penangkapan tentara Israel terhadap para prajurit yang diduga memperkosa tahanan Palestina telah memicu kemarahan di kalangan warga Israel sayap kanan, yang merupakan mayoritas pemilih.
Israel telah menjalankan kebijakan penyiksaan dan penyiksaan tahanan secara sistematis sejak Oktober lalu.
Puluhan pengunjuk rasa..
Laporan ini menggambarkan, dengan istilah yang hampir sama, apa yang dialami para tahanan Irak pada 2003 di tangan Amerika dan apa yang dialami para tahanan Palestina sejak 1967 di bawah tahanan Israel.
Ditulis pada Agustus 1938, laporan ini merinci bagaimana tentara Inggris dan Zionis Yahudi memperlakukan para revolusioner Palestina selama pemberontakan anti-kolonial Palestina pada tahun 1930-an.
Penulis laporan tersebut, Subhi al-Khadra, adalah seorang tahanan politik Palestina yang ditahan di Penjara Acre. Dia mengetahui tentang penyiksaan para tahanan ini, yang terjadi di Yerusalem, setelah mereka dipindahkan ke Acre. Para tahanan menceritakan pengalaman mereka kepadanya dan menunjukkan tanda-tanda fisik penyiksaan pada tubuh mereka.
Terkait motif para penyiksa dari Inggris, Khadra menyimpulkan:
"Ini bukanlah investigasi yang menggunakan metode kekerasan.Ini adalah pembalasan dendam dan pelepasan naluri yang paling biadab dan biadab serta semangat kebencian yang terkonsentrasi yang dirasakan oleh orang-orang Inggris terhadap Muslim dan Arab. Mereka bermaksud menyiksa demi penyiksaan dan untuk memuaskan nafsu balas dendam mereka, bukan untuk kepentingan investigasi atau mengungkap kejahatan."
Laporan tersebut dipublikasikan di media Arab dan dikirim ke anggota parlemen Inggris.
Sebuah 'kejadian yang seragam'
Perpaduan antara seks dan kekerasan dalam lingkungan kekaisaran Amerika (atau Eropa atau Israel) yang dicirikan oleh rasisme dan kekuasaan absolut adalah kejadian yang seragam.
Pemerkosaan Israel terhadap perempuan Palestina dipersenjatai selama perang 1948 dan setelahnya, didorong oleh rasisme sadis yang serupa
Selama Perang Teluk "pertama", dari tahun 1990 hingga 1991, pilot pesawat tempur dan pembom Amerika menghabiskan waktu berjam-jam menonton film porno untuk mendapatkan suasana hati yang tepat untuk pemboman besar-besaran yang akan mereka lakukan di Irak.
Di Vietnam, pemerkosaan tentara Amerika Serikat terhadap gerilyawan perempuan Vietnam tidak hanya dinormalisasi selama invasi dan pendudukan Amerika Serikat di negara itu, tetapi bahkan menjadi bagian dari instruksi latihan tentara Amerika Serikat .
Paradigma orientalis dan seksis yang sama yang mendasari sikap Israel terhadap para tahanan Palestina juga berlaku di Vietnam.
Memang, pemerkosaan Israel terhadap perempuan Palestina menjadi senjata selama perang 1948 dan setelahnya, didorong oleh rasisme sadis yang sama.
Penyiksaan dan pelecehan seksual Israel terhadap pria dan wanita Palestina juga merajalela di Tepi Barat dan Gaza selama 10 bulan terakhir, seperti yang dilaporkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kelompok-kelompok hak asasi manusia.
Pembunuhan massal Israel terhadap warga Palestina di Gaza dimulai sejak tujuh dekade yang lalu
Dalih bahwa tentara Israel adalah "tentara yang bermoral", apalagi "tentara yang paling bermoral di dunia", seperti yang sering diklaim oleh kaum rasis Israel, tidak lebih dari sebuah upaya humas untuk menutupi kejahatan genosida Israel terhadap rakyat Palestina.
Baca juga:Jubir Al-Qassam Abu Ubaidah: Yahya Sinwar Resmi Dibaiat, Bukti Hamas Kuat Semakin Solid
Karena membunuh dan memperkosa warga Palestina serta mencuri tanah dan negara mereka telah menjadi strategi Zionis yang terus berlangsung sejak tahun 1948, hanya sedikit sekali yang dapat dilakukan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang meminta Israel untuk "menyelidiki" dirinya sendiri.
Temuan tentara Israel mengenai pemerkosaan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap seorang tahanan Palestina yang baru-baru ini terungkap, kemungkinan besar akan menegaskan kembali hak Israel untuk mempertahankan diri sambil menegakkan prinsip-prinsip moral dan hukum yang paling mulia, prinsip-prinsip moral dan hukum yang sama yang telah memungkinkan Israel sejak tahun 1948 untuk mencabut dan menindas seluruh rakyat dengan impunitas.
Kejam! Begini Cara Tentara Wanita Israel 'Perkosa' Tahanan Pria Palestina
Sudah menjadi praktik umum tentara menelanjangi tahanan Palestina. [365] url asal
#tentara-wanita-israel #penyiksaan-tahanan-palestina #tahanan-palestina-disiksa #tentara-israel #tahanan-palestina #penjara-israel #tahanan-palestina-diperkosa
(Republika - News) 09/08/24 11:58
v/13904832/
REPUBLIKA.CO.ID, JALUR GAZA -- Beragam kasus pelecehan seksual terhadap tahanan Palestina di Penjara Israel terungkap ke publik. Pelecehan tidak hanya dilakukan oleh tantara pria, tapi juga wanita.
Salah satu yang mengetahui perihal pelecehan tersebut adalah Salem. "Meskipun hal itu merajalela, para narapidana jarang membicarakannya satu sama lain," kata Saleem dilansir dari laman MEE.
Menurut Saleem banyak yang malu mengaku pelecehan tersebut.
Terutama ketika mereka diperkosa oleh tentara wanita, yang terkadang berusia remaja.
Menurutya sudah menjadi praktik umum bagi tentara untuk menelanjangi tahanan, memasukkan benda ke dalam rektum mereka, dan memegang alat kelamin secara agresif saat berganti pakaian.
Ketika tersiar kabar bahwa seorang tahanan berusia 40-an diperkosa, Salem terus mendekatinya hingga dia menceritakan apa yang terjadi padanya.
"Dia memberi tahu saya bahwa dia 'diperkosa' oleh seorang tentara wanita," kata Salem kepada MEE.
Ketika dia bertanya kepadanya bagaimana hal itu terjadi? tahanan itu menjelaskan bahwa itu akan terjadi di hadapan tentara lain di ruangan.
Menteri Israel dikecam
Sementara itu Swiss tidak dapat menerima pernyataan Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, yang menyatakan bahwa kematian jutaan warga Palestina di Gaza bisa dibenarkan.
Pada Senin, Smotrich mengatakan bahwa, dalam konteks perjuangan untuk membebaskan sandera Israel, dia menganggap secara moral dapat dibenarkan untuk memblokir bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, meskipun itu dapat menyebabkan kelaparan dan kematian dua juta warga Palestina.
Dia juga menyayangkan fakta bahwa komunitas internasional tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Pemusnahan warga sipil dengan sengaja melalui kelaparan adalah kejahatan perang. Pernyataan terbaru Menteri Smotrich tidak dapat diterima. Kami mengharapkan Pemerintah Israel menghormati hukum humaniter internasional," kata Nicolas Bideau, kepala komunikasi di Kementerian Luar Negeri Swiss.
Sebelumnya, kantor berita Turki, Anadolu memberitakan, Prancis menyatakan kemarahan dan mengecam pernyataan Smotrich yang mengatakan tindakan untuk membuat warga Palestina di Gaza kelaparan sampai mati merupakan hal yang bisa dibenarkan.
"Prancis meminta Pemerintah Israel untuk mengutuk keras pernyataan yang tidak dapat diterima ini," kata pernyataan kementerian tersebut.
Kementerian Luar Negeri Prancis menekankan bahwa Israel harus mematuhi putusan Mahkamah Internasional (ICJ) tertanggal 26 Januari untuk melakukan segala yang mungkin guna mencegah tindakan genosida selama melangsungkan operasi militer di Gaza.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada 2 juta warga sipil dalam kondisi darurat di Gaza merupakan kewajiban berdasarkan hukum humaniter internasional.
'Selamat Datang di Neraka', Laporan Tentang Kamp Penyiksaan untuk Tahanan Palestina
Sebanyak 60 orang tahanan Palestina meninggal sejak 7 Oktober [418] url asal
#tahanan-palestina #kamp-penyiksaan-israel #kamp-kamp-penyiksaan-israel #warga-palestina-disiksa #israel-siksa-warga-palestina #penyiksaan-terhadap-warga-palestina #penjara-tempat-siksa-warga-palestina
(Republika - Khazanah) 07/08/24 08:33
v/13619273/
REPUBLIKA.CO.ID, DOHA — Kelompok hak asasi manusia Israel, B'Tselem, telah mengumpulkan kesaksian dari 55 warga Palestina, termasuk 21 orang dari jalur Gaza, yang pernah ditahan di penjara-penjara Israel. Para tahanan ini merinci penyiksaan yang mereka alami.
Laporan B'Tselem, yang berjudul 'Selamat Datang di Neraka', yang dirilis pada Selasa (6/8/2024), mengungkapkan, lebih dari selusin fasilitas penjara Israel telah diubah menjadi jaringan kamp yang "didedikasikan untuk penyiksaan narapidana" sejak dimulainya perang Israel di Gaza.
"Tempat-tempat seperti itu, di mana setiap narapidana dengan sengaja dihukum dengan rasa sakit dan penderitaan yang parah dan tanpa henti, pada kenyataannya beroperasi sebagai kamp-kamp penyiksaan," kata laporan itu yang dikutip Aljazirah, Rabu (7/8/2024).
Pelanggaran-pelanggaran tersebut termasuk tindakan kekerasan dan sewenang-wenang; kekerasan seksual; penghinaan dan degradasi; kelaparan yang disengaja; kondisi yang tidak higienis secara paksa; kurang tidur; pelarangan, dan tindakan hukuman untuk ibadah keagamaan; penyitaan semua barang komunal dan pribadi; dan penolakan perawatan medis yang memadai."
B'Tselem mengatakan setidaknya 60 orang Palestina telah meninggal dalam tahanan Israel sejak 7 Oktober, termasuk sekitar 48 orang dari Gaza. Laporan tersebut mengatakan bahwa kesaksian para tahanan menunjukkan kebijakan institusional yang sistemik dan terfokus pada pelecehan dan penyiksaan yang terus-menerus terhadap semua tahanan Palestina.
Kebijakan ini, katanya, dilaksanakan di bawah arahan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, dengan dukungan penuh dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Mengingat beratnya tindakan tersebut, sejauh mana ketentuan hukum internasional dilanggar, dan fakta bahwa pelanggaran ini ditujukan kepada seluruh populasi tahanan Palestina setiap hari dan dari waktu ke waktu, laporan tersebut mengungkapkan, satu-satunya kesimpulan yang mungkin adalah bahwa dalam melakukan tindakan ini, Israel melakukan penyiksaan yang merupakan kejahatan perang bahkan kejahatan terhadap kemanusiaan, kata laporan itu dalam kesimpulannya.
Seruan penyelidikan ICC..
Laporan tersebut meminta Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk menyelidiki individu-individu yang dicurigai merencanakan, mengarahkan, dan melakukan kejahatan-kejahatan tersebut. Menurut B' Tselem penyelidikan tidak mungkin dilakukan di dalam Israel mengingat seluruh sistem negara, termasuk peradilan, telah dimobilisasi untuk mendukung kamp-kamp penyiksaan tersebut.
B'Tselem juga mencatat bahwa jumlah warga Palestina yang ditahan di penjara Israel telah meningkat dua kali lipat menjadi 9.623 orang sejak perang di Gaza dimulai.
"Kami mengimbau semua negara dan semua lembaga dan badan internasional untuk melakukan segala cara untuk mengakhiri kekejaman yang dilakukan terhadap warga Palestina oleh sistem penjara Israel, dan mengakui bahwa rezim Israel yang menjalankan sistem ini adalah rezim apartheid yang harus diakhiri," demikian kesimpulan dari kelompok tersebut.
Tidak ada reaksi langsung terhadap laporan tersebut dari pihak berwenang Israel.
Perilaku Bejat dan Menyimpang Tentara Israel: Tukang Sodomi
Salah satu perilaku bejat tentara Israel adalah sodomi. [388] url asal
#israel #zionis #tentara-israel-sodomi-tahanan-palestina #lgbt #zionis-israel #tentara-israel-gay
(Republika - Khazanah) 31/07/24 14:18
v/12746372/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Agama Islam menyebut perbuatan sodomi adalah perbuatan keji dan fasik. Belum lama ini, diberitakan tara tentara Israel memperkosa tahanan di Penjara Sde Teiman di gurun Negev Israel selatan. Natti Rom, seorang pengacara yang mewakili beberapa tentara pelaku perkosaan mengatakan bahwa kliennya menghadapi dakwaan atas tindakan sodomi.
Dalam ajaran agama Islam, sodomi adalah perbuatan jahat, keji dan fasik yang sangat dilarang. Alquran menyebut perilaku kaum sodom dengan menyebutnya keji dan fasik.
Berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 57 Tahun 2014 tentang Lesbian, Gay, Sodomi dan Pencabulan.
Ditegaskan ketentuan hukum dari Fatwa MUI tersebut bahwa sodomi hukumnya haram dan merupakan perbuatan keji yang mendatangkan dosa besar (fahisyah).
Pelaku sodomi dikenakan hukuman ta’zir yang tingkat hukumannya maksimal hukuman mati.
Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Miftahul Huda pernah menjelaskan bahwa dalam Islam, perilaku seks menyimpang seperti homoseksual (liwath), lesbian (sihaq), sodomi (ityan al-bahaim), dan semacamnya dilarang dengan tegas.
Bahkan, belajar dari sejarah, Allah SWT membinasakan kaum Nabi Luth karena perilaku seks menyimpang mereka. Sebab, selain membawa kerusakan biologis, juga mendatangkan bencana dalam masyarakat. Oleh karena itu, Islam mencela tingkah laku seksual yang menyimpang, baik menyimpang dari norma maupun dari kelaziman.
Kiai Huda menegaskan bahwa sodomi haram hukumnya dan merupakan perbuatan keji yang mendatangkan dosa besar (fahisyah). Menurut dia, pelaku sodomi dikenakan hukuman ta'zir yang tingkat hukumannya maksimal hukuman mati.
Begitu pula dengan pemerkosaan, dalam pandangan Islam tindakan ini disebut dengan istilah hirobah (perampokan). Dalam hal ini, hirobah bermakna orang yang melakukan kerusakan di muka bumi. Bagi orang yang berbuat demikian, hukumannya sungguh berat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّمَا جَزٰۤؤُا الَّذِيْنَ يُحَارِبُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَسْعَوْنَ فِى الْاَرْضِ فَسَادًا اَنْ يُّقَتَّلُوْٓا اَوْ يُصَلَّبُوْٓا اَوْ تُقَطَّعَ اَيْدِيْهِمْ وَاَرْجُلُهُمْ مِّنْ خِلَافٍ اَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْاَرْضِۗ ذٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِى الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
Balasan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta membuat kerusakan di bumi hanyalah dibunuh, disalib, dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu merupakan kehinaan bagi mereka di dunia dan di akhirat (kelak) mereka mendapat azab yang sangat berat) (QS Al-Ma'idah Ayat 33)
Di dalam Alquran Surat Al-Ma'idah Ayat 33 dijelaskan soal hukuman bagi orang yang berbuat kerusakan di muka bumi, seperti merampok atau merampas harta benda manusia, dan membunuh.
Dari ayat tersebut, Kiai Huda menjelaskan bahwa ada empat pilihan hukuman untuk perampok. Hal itu di antaranya, dibunuh, disalib, dipotong kaki, dan tangannya dengan bersilang (misalnya, dipotong tangan kiri dan kaki kanan), dan diasingkan atau dibuang (penjara).
Kemiripan Kaum Nabi Luth dan Tentara Israel yang Sodomi Tahanan Palestina
Alquran menyebut perilaku kaum sodom dengan menyebutnya keji dan fasik. [618] url asal
#tentara-israel #tentara-israel-sodomi-tahanan-palestina #tentara-israel-kaum-nabi-luth #tentara-israel-gay #tentara-israel-lgbt #tentara-israel-kalah #kebiadaban-tentara-israel-di-gaza #pemerkosaan-te
(Republika - Khazanah) 31/07/24 10:20
v/12726489/
REPUBLIKA.CO.ID, Para tentara Israel dilaporkan memperkosa tahanan Palestina di Penjara Sde Teiman di gurun Negev Israel selatan. Natti Rom, seorang pengacara yang mewakili beberapa tentara pelaku perkosaan mengatakan bahwa kliennya menghadapi dakwaan atas tindakan sodomi.
Sebagaimana diketahui, sodomi adalah perbuatan jahat, keji dan fasik yang dilarang agama. Perilaku tentara Israel ini mirip dengan apa yang dilakukan kaum Nabi Luth yang disebut dengan kaum sodom. Alquran menyebut perilaku kaum sodom dengan menyebutnya keji dan fasik.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلُوْطًااٰتَيْنٰهُحُكْمًاوَّعِلْمًاوَّنَجَّيْنٰهُمِنَالْقَرْيَةِالَّتِيْكَانَتْتَّعْمَلُالْخَبٰۤىِٕثَۗاِنَّهُمْكَانُوْاقَوْمَسَوْءٍفٰسِقِيْنَۙ
Kepada Luth, Kami menganugerahkan hikmah serta ilmu dan Kami menyelamatkannya dari (azab yang telah menimpa penduduk) negeri (Sodom) yang melakukan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.(QS Al-Anbiya' Ayat 74)
Nabi Luth telah diselamatkan Allah ketika negeri tempat tinggalnya, yaitu Sodom yang ditimpa azab Allah, karena penduduknya banyak berbuat kejahatan dan kekejian secara terang-terangan. Perbuatan-perbuatan keji yang mereka kerjakan di antaranya melakukan hubungan kelamin antara sesama lelaki (homoseksual), mengganggu lalu lintas perniagaan dengan merampok barang-barang perniagaan itu, mendurhakai Nabi Luth dan tidak mengindahkan ancaman Allah dan lain-lain. Maka kota Sodom itu dimusnahkan Allah. (Tafsir Kementerian Agama)
Kisah kaum sodom diabadikan dalam Alquran. Mereka adalah umat Nabi Luth di kota Sodom. Kaum sodom adalah orang-orang yang keras sikap kekafirannya dan keras kepalanya. Mereka tega mengusir Rasul utusan Allah yakni Nabi Luth, bahkan kaum sodom menantang azab Allah.
Hal ini dikisahkan dalam QS Al-'Ankabut Ayat 29. Kaum Sodom menantang dan meminta azab Allah segera didatangkan kepada mereka. Pada akhirnya, azab pun menimpa kaum Sodom yang telah berbuat keji dan dosa yang melampaui batas.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اَىِٕنَّكُمْلَتَأْتُوْنَالرِّجَالَوَتَقْطَعُوْنَالسَّبِيْلَەۙوَتَأْتُوْنَفِيْنَادِيْكُمُالْمُنْكَرَۗفَمَاكَانَجَوَابَقَوْمِهٖٓاِلَّآاَنْقَالُواائْتِنَابِعَذَابِاللّٰهِاِنْكُنْتَمِنَالصّٰدِقِيْنَ
Pantaskah kamu mendatangi laki-laki (untuk melampiaskan syahwat), menyamun, dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka, jawaban kaumnya tidak lain hanyalah mengatakan, “Datangkanlah kepada kami azab Allah jika engkau termasuk orang-orang benar!” (QS Al-'Ankabut: 29)
Tafsir Kementerian Agama menerangkan, pada ayat ini diterangkan bahwa kaum Nabi Luth senang melampiaskan syahwatnya kepada sesama pria. Kebiasaan ini jelas bertentangan dengan tujuan kebutuhan biologis manusia biasa. Nafsu seksual yang normal bagi pria adalah melampiaskan nafsu syahwatnya kepada wanita.
Perbuatan pria melampiaskan syahwatnya kepada sesama pria sangat dicela Nabi Luth. Nabi Luth menasihati kaumnya agar perbuatan terkutuk tersebut ditinggalkan.
Penduduk kota Sodom juga dikisahkan senang melakukan perampokan dan pembunuhan di jalan yang dilalui oleh kafilah yang membawa barang dagangan. Barang-barang mereka dirampas, kemudian pemiliknya dibunuh.
Perkataan menjijikan dan berani menentang Tuhan..
Di samping itu, perkataan dan perbuatan penduduk kota Sodom di tempat-tempat perkumpulan sangat menjijikkan, merusak sendi-sendi akhlak dan moral yang mulia dan pikiran yang sehat.
Nabi Luth tidak tinggal diam melihat kepincangan-kepincangan yang terjadi dalam masyarakat kaumnya. Ia berusaha mencegahnya dengan memberikan nasihat dan pengajaran yang berharga. Akan tetapi, semua yang dilakukan Nabi Luth dipandang remeh dan tidak pernah didengar oleh kaum Sodom.
Ketika Nabi Luth mengancam kaumnya bahwa Allah akan menurunkan azab kalau mereka tidak juga mau mengubah kelakuannya yang keji itu, kaum Sodom malah menantang azab Allah. Kaum Sodom menantang agar Nabi Luth mohon kepada Tuhan supaya diturunkan siksaan yang dijanjikan itu sekarang juga.
“Kami akan membuktikan sampai dimana kebenaran ucapanmu, hai Luth," kata kaum Sodom.
Karena kebencian yang mendalam, kaum Sodom mengusir Nabi Luth dari negeri mereka. Sebab tak ada gunanya orang-orang suci seperti Nabi Luth tinggal bersama mereka.
Allah menjelaskan: Jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, “Usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci.” (QS al-A‘raf: 82)
Umat Nabi Luth atau kaum Sodom menantang supaya didatangkan azab. Nabi Luth akhirnya memohon agar Allah menolongnya. Ayat di atas menggambarkan betapa keras sikap kekafiran dan keras kepala kaum Sodom, sampai-sampai mereka tega mengusir Rasul utusan Tuhan itu dari negerinya sendiri.
Sandera Hamas Dibawakan Pizza, Tahanan Israel Dipukuli Hingga Meninggal
Muncul kesaksian soal perlakuan manusiawi terhadap tawanan di Gaza. [1,104] url asal
#tahanan-palestina #tentara-israel-perkosa-tahanan #pemerkosaan-tahanan-palestina #tahanan-palestina-meninggal #sandera-hamas #tawanan-di-gaza
(Republika - News) 31/07/24 08:20
v/12714463/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Di tengah laporan soal penganiayaan brutal tentara Israel terhadap tahanan dari Gaza, muncul juga kesaksian dari tawanan pejuang Palestina. Yang mereka gambarkan soal masa saat disandera di Gaza berbanding terbalik dengan kekejaman Israel.
Hal ini dituturkan mantan tawanan di Gaza Liat Atzili kepada surat kabar Israel Haaretz. Dalam penjelasannya, Atzili mengatakan bahwa rumah warga sipil tempat dia ditahan tidak memiliki kendali atas penahanan atau pembebasan mereka. Warga Amerika-Israel yang itu mengatakan kepada Haaretz bahwa dia diperlakukan secara manusiawi – yang sangat kontras dengan perlakuan terhadap tahanan Palestina oleh otoritas Israel.
Liat Atzili dibebaskan pada 29 November, saat gencatan senjata satu pekan antara Hamas dan pemerintah Israel. Dia menghabiskan total 54 hari di Gaza di mana dia dilaporkan ditahan di sebuah apartemen di kota Khan Younis, di selatan Jalur Gaza.
Menurut Haaretz, Atzili ditangkap sekitar pukul 11.00 pagi pada 7 Oktober, ketika “dua pria bersenjata berseragam menyerbu masuk ke kamar yang tidak terkunci” tempat dia menginap. Ketika wartawan bertanya apakah para penculiknya “menakutkan”, dia menjawab: “Tidak terlalu.”
“Mereka punya senjata tapi mereka tidak mengancam saya. Mereka mengatakan kepada saya, 'Kamu tidak perlu takut, kami tidak akan menyakitimu, ikutlah dengan kami.' Mereka memberi saya waktu untuk berpakaian dan mengatur diri, tetapi saya tidak mampu melakukan itu karena saya shock ,” lanjutnya, menurut Haaretz.
Atzili mengatakan bahwa para pria tersebut tidak menyentuhnya dan berbicara kepadanya dalam bahasa Inggris, mengatakan “sepanjang waktu” untuk tidak perlu khawatir. “Mereka nampaknya sangat mengkhawatirkan saya dan ingin saya makan dan minum. Mereka berkata, ‘Kami akan melindungimu, kamu aman di sini, tidak terjadi apa-apa padamu.’ Mereka membiarkan saya mandi, berganti pakaian. Mereka mencuci pakaian saya,” kata Atzili.
Meskipun Israel memberlakukan blokade penuh terhadap Gaza mulai 9 Oktober, yang menyebabkan kelaparan yang meluas di seluruh penduduk Palestina di Jalur Gaza, para tawanan Israel tidak dibiarkan kelaparan. Sebaliknya, Atzili yang menjalani diet vegetarian mendapat perlakuan khusus.
“Mereka terkejut karena saya seorang vegetarian. ’Jadi, apa yang kamu makan?’ mereka bertanya. Sudah kubilang pada mereka aku sangat suka pizza. Jadi salah satu dari mereka naik sepeda dan membawa pizza dari Crispy Pizza di Khan Yunis,” ujarnya.
Menurut mantan tawanan Israel, mereka mendapat buah dan sayur ketika diminta. “Kami tidak menderita kelaparan. Mereka berusaha memastikan bahwa kami mempunyai cukup makanan,” katanya. Atzili dilaporkan dipindahkan ke sebuah apartemen tempat dia tinggal bersama tawanan lainnya, Ilana Gritzewsky yang berusia 30 tahun, yang juga dibebaskan pada 30 November, sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan.
“Ilana dan saya tetap bersama mereka selama periode tersebut. Mereka berusia sekitar 30 tahun. Mereka tidak bersenjata atau berseragam. Kami tinggal di apartemen itu selama sekitar 10 hari dan kemudian dipindahkan ke apartemen lain. Dan itu saja,” kata Atzili.
Menurut wanita tersebut, penjaganya adalah seorang guru dan pengacara. “Keduanya sudah menikah dan masing-masing punya anak. Istri salah satu dari mereka suatu hari datang ke apartemen bersama bayi mereka yang baru lahir,” katanya.
Ketika ditanya apakah mereka berafiliasi dengan Hamas, dia berkata: “Saya bisa memahami sedikit tentang posisi Hamas dalam kehidupan mereka. Mereka berbicara banyak tentang kemiskinan di Jalur Gaza, tentang betapa sulitnya untuk meninggalkannya.”
Atzili mengatakan, mereka sempat ngobrol panjang lebar dengan pengawalnya. “Mereka ingin kami melihat mereka sebagai manusia, dan kami ingin mereka melihat kami sebagai manusia. Dengan sangat cepat percakapan dimulai tentang keluarga, tentang kehidupan kami, dan itu berhasil,” jelasnya.
Wanita tersebut juga mengatakan bahwa ketakutan awal bahwa mereka mungkin akan diserang secara seksual dengan cepat hilang. “Awalnya kami sangat khawatir akan terjadi sesuatu, kami akan diserang secara seksual. Tapi setelahnya kami paham bahwa tidak apa-apa, mereka tetap dalam batas,” katanya.
Ketika ditanya tentang momen pembebasan mereka, dia berkata: “Sebelum dia (penjaga) meninggalkan kami, dia berkata, ‘Semoga berhasil, semoga Tuhan memberkati Anda.’ Kami berterima kasih padanya dan saling menepuk bahu."
Sebaliknya, tahanan Palestina menjadi sasaran kekerasan yang merajalela dan “perampasan dalam sistem penjara Israel”, tulis the Washington Post dalam sebuah laporan pada Senin.
Surat kabar tersebut dilaporkan berbicara dengan 11 mantan tahanan dan enam pengacara. Mereka memeriksa catatan pengadilan dan meninjau laporan otopsi, mengungkapkan kekerasan dan kebrutalan yang merajalela, terkadang mematikan, dan dilakukan oleh otoritas penjara Israel.”
Menurut laporan tersebut, rincian kematian para tahanan diceritakan oleh para saksi mata dan dikuatkan oleh dokter dari Dokter untuk Hak Asasi Manusia Israel (PHRI).
Laporan tersebut mengutip Jessica Montell, direktur eksekutif kelompok hak asasi manusia Israel HaMoked, yang mengatakan bahwa sistem penjara Israel “sangat penuh sesak” dan “kekerasan merajalela.”
Bahkan kepala intelijen Israel Ronen Bar memperingatkan dalam suratnya kepada otoritas penjara pada 26 Juni bahwa “kondisi di penjara negara tersebut dapat menyebabkan lebih banyak tindakan hukum internasional”, karena “sistem penjara, yang dibangun untuk 14.500 narapidana, tidak bisa menampung 21.000 orang termasuk sekitar 2.500 tahanan dari Gaza”.
Salah satu tahanan yang diwawancarai oleh the Washington Post melaporkan bahwa Abdulrahman Bahash, seorang tahanan Palestina berusia 23 tahun, dipukuli sampai mati oleh penjaga Israel di penjara Megiddo.
“Penjaga menyerang mereka ‘dengan cara yang gila’,” kata tahanan tersebut. ‘Mereka menggunakan tongkat mereka, mereka menendang kami… ke seluruh tubuh kami’,” kata tahanan tersebut.
“Bahash kembali dengan luka memar yang dalam, mengeluh tulang rusuknya mungkin patah. Ketika dia mencari bantuan medis, kata teman satu tahanannya, dia dikirim kembali dengan Acemol, obat penghilang rasa sakit yang sederhana,” lanjut laporan itu. Bahash meninggal sekitar tiga minggu kemudian, pada 1 Januari.
Menurut Post, laporan dari dokter PHRI Daniel Solomon mengungkapkan tanda-tanda cedera traumatis pada dada kanan dan perut kiri, menyebabkan banyak patah tulang rusuk dan cedera limpa, yang mungkin disebabkan oleh penyerangan.
Menurut laporan tersebut, setiap mantan narapidana mengatakan bahwa berat badan mereka turun secara signifikan di penjara, yaitu antara 15 sampai 20 kilogram.
“Jurnalis Moath Amarneh, 37, dipenjara selama enam bulan di Megiddo setelah merekam demonstrasi di Tepi Barat, mengatakan bahwa selnya yang beranggotakan enam orang menahan hingga 15 orang selama dia berada di sana,” lapor Post.
Menurut Amarneh, “para narapidana berbagi sepiring sayuran dan yogurt untuk sarapan. Untuk makan siang, setiap tahanan menerima setengah cangkir nasi, dan sel – berapapun jumlah pria di dalamnya – akan membagi sepiring irisan tomat atau kubis.”
Muazzat Obayat (37) seorang binaragawan amatir menceritakan bahwa berat badannya telah turun “lebih dari 45 kilogram dalam sembilan bulan” di tahanan Israel. “Dia berbisik ketika dia menggambarkan seorang penjaga melakukan pelecehan seksual terhadapnya dengan sapu,” kata laporan itu, menambahkan bahwa Obayat mengatakan: “Ini seperti di Guantánamo”.
Warga Palestina dan kelompok hak asasi manusia telah mendokumentasikan pelecehan yang meluas di dalam penjara Israel bahkan sebelum Israel melancarkan perang genosida di Gaza hampir 10 bulan lalu. Penahanan semena-mena terhadap ribuan warga Palestina dan penyiksaan yang mereka alami tersebut jadi salah satu alasan pejuang Palestina menyandera tentara dan warga sipil dari Israel untuk ditukarkan dengan kebebasan warga Palestina yang ditahan Israel tanpa proses hukum.
Parah! Seorang Tahanan Palestina Diduga Diperkosa 9 Tentara Israel
Tiga dari sembilan tentara Israel yang ditangkap telah didakwa atas tindakan sodomi terhadap tahanan Palestina. [253] url asal
#israel #tentara-israel #idf #tahanan-palestina #dugaan-pemerkosaan
(MedCom - Internasional) 31/07/24 07:36
v/12714664/
Tel Aviv: Seorang tahanan Palestina yang mendekam di pusat penahanan Sde Taiman di gurun Negrev diduga telah mengalami pemerkosaan dan pelecehan oleh sembilan tentara Israel. Kesembilan tentara itu, dengan tiga di antaranya adalah personel Pasukan Pertahanan Israel (IDF), telah ditahan pada Senin kemarin.Mengutip dari Telegraph, Rabu, 31 Juli 2024, surat kabar Haaretz melaporkan bahwa tahanan Palestina itu mengalami luka di organ bagian bawah "yang membuatnya tidak dapat berjalan." Terdapat juga laporan dari Arab48 yang menyebutkan lukanya berada di bagian dubur.
Natti Rom, pengacara tiga dari sembilan terdakwa, mengatakan kepada Associated Press bahwa tahanan Palestina yang dimaksud adalah anggota kelompok pejuang Palestina Hamas yang telah menyerang beberapa perwira. Ia membantah bahwa mereka telah melakukan "sesuatu yang bersifat seksual" kepadanya.
Orit Sulitzeanu, kepala Asosiasi Pusat Krisis Pemerkosaan di Israel, mengatakan bahwa ia "terkejut" mendengar tuduhan tersebut.
"Tidak pernah ada keadaan yang dapat membenarkan penggunaan praktik memuakkan ini, bahkan terhadap musuh terburuk kita. Kekerasan seksual dan pelecehan seksual adalah kejahatan serius dan kita tidak boleh tinggal diam ketika hal itu terjadi," katanya kepada Haaretz.
Sembilan tentara menghadiri sidang di pengadilan militer pada Selasa kemarin.
Sementara itu, puluhan aktivis sayap kanan garis keras menyerbu pangkalan IDF sebagai bentuk protes atas penangkapan kesembilan tentara. Penangkapan ini memicu pertikaian politik dan kritik dari kepala staf IDF.
Pada Senin malam, ratusan ultranasionalis menyerbu pangkalan militer Beit Lid tempat para tentara yang ditahan dipindahkan. Satu hari setelahnya, Natti Rom mengatakan bahwa kliennya menghadapi dakwaan atas "tindakan sodomi."
Baca juga: Israel Bebaskan 55 Tahanan Palestina, Termasuk Direktur RS Al Shifa
(WIL)
Biadab! Tentara Israel Perkosa Massal Tahanan Palestina, 10 Tentara Ditahan
Tahanan tersebut dibawa ke rumah sakit dengan luka parah. [307] url asal
#tahanan-palestina #tentara-israel-perkosa-tahanan #pemerkosaan-tentara-israel #genosida-israel #operasi-badai-al-aqsa #penjara-sde-teiman #tentara-israel #pemerkosaan-tahanan-palestina
(Republika - Khazanah) 30/07/24 21:22
v/12688746/
REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Media penyiaran publik Israel KAN melaporkan seorang tahanan Palestina diperkosa beramai-ramai oleh tentara Israel di Penjara Sde Teiman di gurun Negev Israel selatan.
Menurut laporan KAN mengutip sumber keamanan pada Senin (29/7/2024), tahanan tersebut dibawa ke rumah sakit dengan luka parah di bagian organ intimnya yang membuatnya tidak dapat berjalan.
Penyidik Kepolisian Israel pun tiba di fasilitas penahanan tersebut untuk menahan para tentara yang terlibat dalam pemerkosaan tersebut. Menurut Radio Angkatan Darat Israel, 10 tentara ditahan untuk diinterogasi sebagai bagian dari penyelidikan atas penyiksaan yang mengerikan tersebut.
Sebelumnya, beberapa laporan muncul mengenai pelanggaran berat terhadap tahanan Palestina di fasilitas terkenal itu sejak dimulainya serangan Israel ke Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023.
Saat ini, Mahkamah Agung Israel sedang mempertimbangkan petisi yang diajukan oleh organisasi hak asasi manusia Israel untuk menutup penjara Sde Teiman, tempat para tahanan Palestina dari Gaza menghadapi penyiksaan dan pengabaian medis.
Tentara Israel diyakini telah menahan ribuan warga Palestina, termasuk wanita, anak-anak, dan petugas medis sejak 7 Oktober 2023. Dalam beberapa bulan terakhir, tentara Israel telah membebaskan puluhan tahanan Palestina dari Gaza dalam kondisi kesehatan yang memburuk dengan tubuh dipenuhi bekas luka penyiksaan.
Melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera, Israel telah menghadapi kecaman internasional di tengah serangan brutalnya yang berkelanjutan di Gaza. Lebih dari 39.360 warga Palestina telah terbunuh sejak saat itu, sebagian besar wanita dan anak-anak, dan lebih dari 90.900 orang terluka, lapor otoritas kesehatan setempat.
Selama sembilan bulan lebih genosida Israel, sebagian besar wilayah Jalur Gaza hancur di tengah blokade yang melumpuhkan akses terhadap makanan, air bersih, dan obat-obatan.
Israel dituduh melakukan genosida di Mahkamah Internasional. Putusan terakhirnya memerintahkan Tel Aviv untuk segera menghentikan operasi militernya di kota selatan Rafah, tempat lebih dari satu juta warga Palestina mencari perlindungan dari perang sebelum diserang pada 6 Mei.
Lebih Kejam dari Guantanamo, Begini Kondisi Kamp Paling Brutal Israel
Sejumlah tahanan diborgol terus menerus sehingga harus diamputasi. [1,034] url asal
#tahanan-palestina #tahanan-palestina-meninggal #kamp-konsentrasi-israel #kamp-sde-teiman #kejahatan-israel #kekejaman-israel
(Republika - News) 30/07/24 09:34
v/12625497/
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Ratusan ekstremis Israel dari gerakan sayap kanan menyerbu kamp penahanan di pangkalan militer Sde Teiman di gurun Negev, tempat tentara dan dinas keamanan Israel menahan tahanan dari Jalur Gaza sejak awal perang. Hal ini terjadi setelah polisi militer menangkap sembilan tentara cadangan untuk menyelidiki mereka atas dugaan pelecehan seksual, penyiksaan dan penganiayaan terhadap tahanan. Apa yang terjadi di kamp paling brutal Israel tersebut.
Sejumlah tahanan yang dibebaskan bersaksi atas kekejaman tentara Israel di kamp tersebut. Sementara lembaga pegiat HAM menyatakan bahwa kondisi di kamp itu jauh lebih sadis dari yang terungkap di penjara Guantanamo milik AS.
Pusat penahanan ini, yang kemudian dikenal sebagai "Guantanamo Israel", terletak di dalam pangkalan militer Sde Teiman di Komando Selatan tentara Israel. Kamp itu dibuka kembali seiring dimulainya agresi ke Gaza pada 7 Oktober 2023, untuk menahan warga Palestina yang ditangkap dari Jalur Gaza dan para pejuang Palestina.
Menurut Aljazirah Arabia, pangkalan militer tersebut, didirikan pada awal 1940-an selama masa Mandat Inggris dan terletak sekitar 10 kilometer barat laut Beersheba, juga mencakup markas alternatif untuk Direktorat Koordinasi dan Penghubung Gaza, yang seharusnya beroperasi dalam situasi darurat di Gaza. Ia juga berfungsi sebagai fasilitas penahanan yang juga digunakan selama operasi militer sebelumnya di Gaza.
Selama Pertempuran Al-Furqan, yang dikenal di Israel sebagai “Cast Lead” pada 2008, dan selama Pertempuran Al-Bunyan Al-Marsous, yang dikenal di Israel sebagai “Protective Edge” pada 2014, tentara Israel menahan ratusan tahanan dari Gaza. Setelah Intifada al-Aqsa belakangan, sekitar 1.500 warga Gaza ditahan, berdasarkan perintah militer yang dikeluarkan oleh Menteri Pertahanan Yoav Gallant.
Fasilitas penahanan didirikan di dalam pangkalan militer, sehingga pengawasan terhadap para tahanan akan dilakukan oleh tentara dan dinas keamanan Israel, Dinas Penjara Israel memiliki wewenang apa pun atas mereka. Hal ini untuk menyembunyikan tindakan yang diterapkan terhadap para tahanan.
Dengan dimulainya perang di Gaza, Gallant mengeluarkan perintah menjadikan pangkalan itu sebagai tempat penahanan dan penahanan administratif. Lima fasilitas didirikan di kamp yang berisi kandang besi dan barak untuk menahan mereka yang ditangkap dari Gaza. Lima tenda juga didirikan dan dianggap sebagai rumah sakit lapangan untuk merawat para tahanan yang terluka.
Perintah Galant tersebut berdasarkan “Undang-Undang Kombatan yang Melanggar Hukum,” yang memungkinkan Kepala Staf IDF memerintahkan penahanan administratif secara luas tanpa hak untuk mengajukan banding atau perwakilan hukum. Knesset, alias parlemen Israel), pekan ini menyetujui perpanjangan undang-undang tersebut hingga 30 November 2024.
Polisi militer menggerebek kamp penahanan Sde Teiman dan menangkap sembilan tentara cadangan karena dicurigai melakukan pelecehan seksual dan pelecehan serius terhadap seorang tahanan Palestina. Di antara mereka yang ditangkap adalah seorang mayor, komandan unit militer Israel yang menjaga tahanan di fasilitas tersebut.
Tahanan lainnya juga merupakan anggota pasukan ini, yang dibentuk kembali pada awal perang di Gaza untuk menjaga tahanan Gaza. Bukti yang diperoleh surat kabar Israel Haaretz menunjukkan bahwa tentara dari unit tersebut terlibat dalam beberapa insiden kekerasan dalam beberapa bulan terakhir.
Misalnya, seorang tentara yang bertugas di Sde Teiman mengatakan bahwa anggota unit tersebut melakukan kekerasan terhadap tahanan selama penggeledahan. "Sekali waktu mereka meminta semua orang untuk berbaring di tanah, dan segera melemparkan granat kejut ke arah mereka, dan kemudian menendang mereka dengan keras."
Menyusul petisi yang diajukan oleh lima asosiasi dan organisasi hak asasi manusia Israel – dipimpin oleh Asosiasi Hak Sipil – ke Mahkamah Agung yang menuntut penutupan pusat penahanan Sde Teiman dan mengungkap nasib ratusan tahanan Gaza yang dihilangkan secara paksa, pihak Israel mengakui bahwa puluhan tahanan dari Gaza meninggal akibat penyiksaan, namun tanpa mengungkapkan keadaannya.
Menurut data yang diterbitkan oleh tentara Israel, mereka sedang melakukan penyelidikan kriminal terhadap tentara dalam pembunuhan 48 warga Palestina, yang sebagian besar adalah tahanan yang ditangkap dari Jalur Gaza, termasuk 36 orang yang ditahan di Sde Teiman. Sementara organisasi dan badan hak asasi manusia yang peduli dengan urusan para tahanan menuntut agar nasib ribuan warga Gaza yang berada di wilayah Jalur Hijau sebelum tanggal 7 Oktober diungkapkan berdasarkan izin kerja, namun kemudian dihilangkan secara paksa.
Hal ini terbukti dari pertimbangan Mahkamah Agung Israel, dan menurut kesaksian yang diberikan oleh organisasi hak asasi manusia, bahwa sebagian besar dari mereka yang ditahan di penjara Sde Teiman adalah warga sipil dari Jalur Gaza dan dari berbagai kelas sosial dan kelompok usia, laki-laki dan perempuan. Mereka ditahan di bawah ancaman pemukulan, pelanggaran dan penyiksaan untuk mendapatkan informasi tentang gerakan Hamas dan tentang tahanan Israel yang ditahan oleh perlawanan Palestina.
Apa saja pelanggaran yang pernah dilakukan terhadap narapidana di Sde Teiman?
Dalam beberapa bulan terakhir, bukti dan kesaksian telah terkumpul tentang apa yang terjadi di pusat penahanan Sde Teiman, yang dikumpulkan oleh organisasi hak asasi manusia dan kesaksian para tahanan yang ditahan selama berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan di pusat penahanan militer, mengungkapkan gambaran yang mengerikan. Terjadi penyiksaan dan penganiayaan terhadap tahanan oleh tentara, sampai pada titik penyerangan seksual terhadap beberapa dari mereka.
Kesaksian dan bukti menunjukkan pelanggaran serius terhadap hak-hak para tahanan, kegagalan untuk memastikan kondisi minimum yang manusiawi, dan penahanan mereka di bawah penyiksaan dan penganiayaan di dalam kurungan besi dan dalam kondisi yang brutal.
Para prajurit di kamp penahanan biasa menahan semua tahanan Gaza di tempat terbuka yang dikelilingi pagar besi atau di dalam barak tanpa tempat tidur dan tanpa kebutuhan hidup mendasar. Tentara memborgol tangan dan kaki mereka sepanjang waktu, yang menyebabkan beberapa orang diamputasi. Tentara penjajah juga menutup mata mereka dalam jangka waktu lama, bahkan selama perawatan medis bagi yang terluka di antara mereka atau saat buang air, dengan kondisi penahanan yang mempengaruhi martabat dan kesehatan mereka.
Informasi juga terungkap bahwa Kementerian Kesehatan Israel mengizinkan staf medis di penjara untuk melakukan operasi tanpa anestesi, dan perawatan diberikan kepada korban luka dalam keadaan diborgol dan ditutup matanya.
Menyusul petisi dari organisasi hak asasi manusia, pemerintah Israel memberi tahu Mahkamah Agung pada tanggal 19 Juli bahwa mereka secara bertahap menutup pusat penahanan Sde Teiman, dan bahwa tahanan Jalur Gaza yang ditahan di sana akan dipindahkan ke bagian tenda baru di penjara Negev.
Selama bulan-bulan pertama perang, ketika bukti ini mulai muncul, Kantor Advokat Jenderal Militer Israel melakukan upaya besar untuk menunda penyelidikan. Namun dengan meningkatnya tekanan internasional, penyelidikan oleh pers asing dan langkah-langkah yang diambil terhadap Israel di Mahkamah Internasional, diputuskan untuk membuka penyelidikan terhadap puluhan kasus yang menimbulkan kecurigaan tersebut, dalam upaya untuk menghindari proses peradilan internasional.
PM dan Tentara IDF Baku Hantam di Kamp Paling Brutal Israel
Kericuhan dipicu penangkapan tentara Israel yang menganiaya tahanan dari Gaza. [870] url asal
#tahanan-palestina #tahanan-palestina-meninggal #hari-dukungan-tahanan-palestina #kekejaman-israel #kejahatan-perang-israel #kamp-sde-teiman #kamp-konsentrasi-israel
(Republika - News) 30/07/24 08:08
v/12620195/
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Kericuhan terjadi antara polisi militer Israel dan sejumlah tentara pasukan penjajahan Israel di kamp tahanan Sde Teiman di Gurun Negev, wilayah yang diduduki Israel, Senin (39/7/2024). Para polisi hendak menangkap tentara yang melakukan penganiayaan sadis terhadap para tahanan Palestina.
Insiden itu menyusul investigasi yang dilakukan militer Israel terhadap dugaan pelecehan terhadap seorang tahanan Palestina di kamp penahanan militer yang terkenal kejam tersebut. Oleh para pegiat HAM, kamp itu disebut lebih brutal ketimbang Guantanamo dan Abu Ghraib, kamp tahanan AS yang terkenal.
Militer Israel mengatakan pada Senin bahwa kantor advokat jenderalnya memerintahkan penyelidikan “menyusul dugaan pelecehan substansial terhadap seorang tahanan” di fasilitas Sde Teiman, yang menampung tahanan Palestina, termasuk tersangka anggota pasukan elit Nukhba Hamas yang terlibat dalam serangan 7 Oktober.
Radio tentara Israel mengatakan polisi militer tiba di Sde Teiman sebagai bagian dari penyelidikan mereka terhadap 10 tentara cadangan IDF yang dicurigai melakukan pelecehan berat terhadap tahanan. Middle East Eye melansir, salah satu bentuk pelecehan itu adalah pemerkosaan dengan benda tumpul yang menyebabkan tahanan meninggal.
Dugaan pelecehan itu terjadi tiga minggu lalu, tambah mereka. Tahanan tersebut ditemukan “dalam kondisi yang sangat serius”, sehingga memerlukan evakuasi ke rumah sakit terdekat tempat dia menjalani operasi. Sembilan tentara ditahan, dituduh melakukan “penganiayaan serius terhadap seorang tahanan”, menurut radio tentara Israel. Sementara tentara ke-10 diperkirakan akan ditangkap kemudian karena dia tidak berada di pangkalan ketika polisi tiba.
Operasi penangkapan terrsebut memicu konfrontasi penuh kemarahan antara polisi militer dan tentara IDF di Sde Teiman, yang terekam dalam video oleh seorang reporter dari lembaga penyiaran publik Israel, Kann News. Penahanan tersebut juga memicu kecaman dari anggota sayap kanan Israel, termasuk koalisi anggota parlemen sayap kanan ekstrem dan pendukung mereka yang berusaha menyerbu pangkalan militer sebagai bentuk protes. Pada Senin malam, pengunjuk rasa juga menargetkan pangkalan kedua tempat para tentara diinterogasi, dan konfrontasi dengan kekerasan terus berlanjut hingga malam hari. Upaya penangkapan juga memicu serbuan pemukim ilegal ke kamp tahanan. Mereka mendesak semua tahanan dari Gaza dibunuh.
Sebuah laporan baru-baru ini yang diterbitkan oleh badan urusan Palestina PBB, UNRWA, merinci pelecehan yang luas di Sde Teiman, di mana para tahanan “menjadi sasaran pemukulan sambil disuruh berbaring di kasur tipis di atas puing-puing selama berjam-jam tanpa makanan, air atau akses ke toilet dengan kaki dan tangan terikat dengan ikatan plastik”.
Para tahanan termasuk anak-anak “dilaporkan dipaksa masuk ke dalam kandang dan diserang oleh anjing”, kata mereka, sementara yang lain mengalami luka parah akibat pemukulan, termasuk dengan batang logam.
Para tahanan juga menggambarkan pelecehan yang mencakup “penghinaan dan penghinaan seperti dibuat bertindak seperti binatang atau dikencingi, penggunaan musik keras dan kebisingan, perampasan air, makanan, tidur dan toilet, penolakan hak untuk shalat dan penggunaan alat-alat ibadah dalam waktu lama. Sedangkan borgol yang terkunci rapat menyebabkan luka terbuka dan luka gesekan”, kata laporan itu.
PBB mengatakan pada bulan Juni bahwa sekitar 27 tahanan meninggal dalam tahanan di pangkalan militer Israel, termasuk Sde Teiman, sementara setidaknya empat lainnya meninggal di sistem penjara Israel karena pemukulan atau penolakan perawatan medis.
The Guardian melansir, Natan Sachs, kepala pusat kebijakan Timur Tengah di Brookings Institution di Washington, menyebut protes tersebut “sebuah tanda dari masa yang sangat, sangat sulit”. “Saya sangat khawatir dengan ketegangan yang terjadi di masyarakat,” katanya.
Para pejabat dari lembaga militer dan politik Israel dengan cepat mengutuk penyusupan terhadap pangkalan militer tersebut, namun beberapa pejabat membatasi komentar mereka mengenai dugaan pelanggaran tersebut – dan potensi dampaknya terhadap serangan Israel di Gaza.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang telah menjanjikan “kemenangan total” di Gaza, “mengecam keras” upaya pembobolan di Sde Teiman, namun tidak memberikan komentar atas tuduhan penganiayaan terhadap tahanan tersebut. Menteri Pertahanan, Yoav Gallant, mengatakan bahwa “bahkan di masa-masa sulit, hukum berlaku untuk semua orang – tidak ada yang boleh masuk tanpa izin ke pangkalan IDF atau melanggar hukum negara Israel”.
Presiden Israel, Isaac Herzog, menyerukan ketenangan, namun mengatakan bahwa kebencian terhadap beberapa orang yang dituduh melakukan aksi teroris “pasti dapat dimengerti dan dibenarkan”.
Kepala staf IDF, Letjen Herzi Halevi, membela penyelidikan tersebut, dan berkata: “Insiden pembobolan pangkalan Sde Teiman sangat serius dan melanggar hukum… kita sedang berperang, dan tindakan semacam ini membahayakan keamanan negara. negara."
Namun Yariv Levin, menteri kehakiman Israel dan anggota partai politik Netanyahu, mengatakan dia “terkejut” melihat gambar tentara yang ditangkap di Sde Teiman, “dengan cara yang cocok untuk menangkap penjahat berbahaya”. Dia menambahkan: “Tidak mungkin menerima hal ini, bahkan jika tidak ada perdebatan mengenai kewajiban untuk mematuhi hukum dan perintah tentara.”
Kelompok hak asasi manusia termasuk Asosiasi Hak Sipil di Israel telah mengajukan petisi ke pengadilan tinggi Israel untuk menutup Sde Teiman karena meluasnya laporan pelecehan. Meskipun para pejabat telah berjanji untuk mengeluarkan sebagian besar tahanan dari fasilitas tersebut dan memindahkan mereka ke sistem penjara Israel, yang juga dituduh menganiaya warga Palestina yang ditahan, sifat penutupan atau pemindahan di Sde Teiman masih belum jelas.
Komite Publik Menentang Penyiksaan di Israel mengatakan “sejak awal perang, kami mengklaim bahwa Sde Teiman beroperasi sebagai 'wilayah tersendiri', dan tentara yang ditempatkan di sana bertindak di luar hukum apapun – pertama dalam perlakuan mereka terhadap tahanan, dan sekarang terhadap aparat penegak hukum militer.”
“Alih-alih mengecam secara mutlak, beberapa pemimpin sayap kanan Israel justru berunjuk rasa untuk mendukung tersangka pelecehan, yang merupakan simbol dari akar permasalahan yang memungkinkan terjadinya pelecehan tersebut.”
Hamas Tetapkan 3 Agustus Sebagai Hari Dukungan untuk Tahanan Palestina
Penetapan tersebut merespons tingginya jumlah tahanan yang tewas di penjara. [254] url asal
#hamas #tahanan-palestina #tahanan-palestina-meninggal #genosida-gaza #genosida-israel #hari-dukungan-tahanan-palestina
(Republika - Khazanah) 29/07/24 17:01
v/12543995/
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Kepala biro politik kelompok perjuangan Palestina, Hamas, Ismail Haniyeh menyerukan agar 3 Agustus ditetapkan sebagai hari dukungan internasional untuk tahanan Palestina dan Gaza.
Menurut laporan IRNA yang mengutip media Palestina, Senin pagi (29/7/2024), Haniyeh melalui pernyataan menyerukan partisipasi aktif dan luas dari masyarakat dalam membela para tahanan dan rakyat di Jalur Gaza.
Dia juga menyerukan masyarakat untuk mempermalukan kejahatan barbar penjajah terhadap rakyat Gaza serta membela hak-hak beserta isu mereka.
Haniyeh menjelaskan penetapan 3 Agustus sebagai hari solidaritas dengan Gaza dan para tahanan merupakan respons terhadap genosida yang dilakukan pendudukan Nazi-Zionis terhadap rakyat Gaza yang hingga kini masih terjadi dan memasuki bulan ke-10.
Penetapan tersebut sekaligus merespons tingginya jumlah tahanan yang tewas di penjara dan pusat penahanan Israel, yang belum pernah terjadi sebelumnya
"Seruan ini muncul karena dunia bungkam dan tidak mampu menghentikan perang yang agresif terhadap rakyat dan tahanan kami ini serta bias, dukungan dan kemitraan penuh dari pemerintah AS dalam agresi ini dan kegagalan lembaga HAM dan kemanusiaan untuk bertanggung jawab dalam memberikan dukungan dan pertolongan kepada rakyat kami di Gaza dan tahanan kami di penjara musuh Zionis," ucap Haniyeh.
Dia berharap agar 3 Agustus menjadi hari yang berpengaruh dan penting di seluruh Palestina dan dunia Arab. Haniyeh juga menekankan pentingnya dan perlunya partisipasi aktif warga Palestina, dunia Arab, kaum Muslim dan seluruh dunia untuk memaksa rezim pendudukan menghentikan genosida.
Sebelumnya, surat kabar berbahasa Ibrani menerbitkan sebuah dokumen yang dikirim oleh badan intelijen Israel yang menyebutkan jumlah tahanan Palestina mencapai 21.000 orang.
Israel Tangkap 30 Warga Palestina Lagi dalam Penggerebekan di Tepi Barat
Israel menargetkan Ramallah, Yerusalem, Hebron, Qalqilya, Tulkarm, Jenin, dan Jericho [226] url asal
#tahanan-palestina #israel-tahan-warga-palestina #israel-tangkap-warga-palestina #tepi-barat #agresi-israel #genosida-israel
(Republika - News) 15/07/24 11:51
v/10840712/
REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Komisi Urusan Tahanan dan Masyarakat Tahanan Palestina mengatakan setidaknya 30 lagi warga Palestina ditangkap oleh pasukan Israel dalam serangan militer di wilayah pendudukan Tepi Barat.
Melalui pernyataan bersama komisi tersebut yang dikutip Senin (15/7/2024), penggerebekan dilaporkan menargetkan Kota Ramallah, Yerusalem, Hebron, Qalqilya, Tulkarm, Jenin, dan Jericho.
“Para tahanan menjadi sasaran penganiayaan, pemukulan parah, dan ancaman terhadap keluarga mereka, selain tindakan sabotase dan penghancuran rumah warga yang meluas,” kata pernyataan itu.
Penangkapan warga terbaru tersebut menjadikan jumlah warga Palestina yang ditahan oleh tentara Israel di Tepi Barat yang diduduki sejak 7 Oktober 2023 menjadi 9.655 orang, menurut data Palestina.
Ketegangan meningkat di Tepi Barat yang diduduki sejak Israel melancarkan serangan militer mematikan terhadap Jalur Gaza yang telah menewaskan hampir 38.600 korban sejak 7 Oktober.
Kementerian Kesehatan mendata bahwa setidaknya 574 warga Palestina, termasuk 136 anak-anak telah tewas dan hampir 5.350 lainnya terluka akibat tembakan tentara Israel di wilayah pendudukan.
Sembilan bulan setelah perang Israel, sebagian besar wilayah Gaza hancur akibat blokade makanan, air bersih, dan obat-obatan yang melumpuhkan.
Israel didakwa melakukan genosida di Mahkamah Internasional yang keputusan terbarunya memerintahkan Tel Aviv untuk segera menghentikan operasi militernya di Rafah di Jalur Gaza Selatan, tempat lebih dari satu juta warga Palestina mencari perlindungan dari perang sebelum diserbu pada 6 Mei.
Namun Israel membangkang dengan terus melancarkan agresi militernya.