#30 tag 24jam
Eropa Sebut 2024 Sebagai Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah Umat Manusia, Setuju?
Uni Eropa menyebut tahun 2024 sebagai tahun terpanas dalam sejarah. Manusia diklaim terlibat dalam membakar bumi sehingga makin panas. [458] url asal
#suhu-panas #suhu-terpanas #eropa #2024-tahun-terpanas-sepanjang-sejarah-manusia #tahun-terpanas-sepanjang-umat-manusia
(Bisnis.Com - Teknologi) 09/11/24 12:54
v/17872961/
Bisnis.com, JAKARTA - Layanan Perubahan Iklim Copernicus dari Uni Eropa mengeluarkan peringatan serius bahwa 2024 akan tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah dibandingkan rerata suhu panas global sebelumnya.
Setelah musim panas yang menyengat dan kemajuan lambat negara-negara dalam menangani perubahan iklim, tidak heran jika tahun 2024 akan tercatat sebagai tahun terpanas.
Emisi dari bahan bakar fosil meningkatkan suhu global, memaksa masyarakat di seluruh dunia untuk beradaptasi dengan kondisi ini.
“Umat manusia sedang membakar planet ini dan membayar dengan harga yang mahal,” ujar Sekretaris Jenderal PBB António Guterres yang dikutip dari The Verge pada Sabtu (9/11/2024).
Lebih lanjut, Copernicus maupun Organisasi Meteorologi Dunia merilis analisis terbaru menunjukkan bahwa tahun 2024 berada di jalur untuk menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat, melampaui rekor tahun 2023.
Rata-rata anomali suhu untuk sisa tahun ini harus turun mendekati nol agar tahun 2024 tidak memecahkan rekor.
Tercatat, tahun ini menjadi tahun yang penuh dengan anomali. Lebih dari 1.300 orang meninggal di Arab Saudi akibat suhu yang sangat tinggi saat ibadah haji di Mekkah pada bulan Juni. Pada waktu itu, Belahan Bumi Utara sedang mengalami musim panas terpanas dalam sejarah, melampaui rekor pada tahun 2023.
Meskipun hal itu berdasarkan analisis data dari Copernicus, yang mengumpulkan informasi cuaca sejak 1940. Namun, penelitian lain yang menggunakan penanda di lingkaran pohon kuno menemukan bahwa musim panas tahun 2023 di Belahan Bumi Utara kemungkinan adalah yang terpanas dalam setidaknya 2.000 tahun terakhir.
Sayangnya, data dari wilayah yang lebih kering dan tropis di Belahan Bumi Selatan lebih sedikit tersedia, sehingga sulit untuk membuat perbandingan serupa di sana.
Dilaporkan juga, bahwa kemungkinan tahun ini menjadi pertama kalinya suhu rata-rata global naik lebih dari 1,5 derajat Celsius dibandingkan era pra-industri, melewati target ambisius dalam Kesepakatan Paris yang bertujuan membatasi pemanasan antara 1,5 hingga 2 derajat Celsius dalam jangka panjang.
Perlu diketahui, selama sekitar 11.000 tahun terakhir, iklim Bumi cenderung stabil. Kondisi ini mendukung perkembangan pertanian dan peradaban manusia.
Namun, sejak revolusi industri, penggunaan bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas mulai menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar. Emisi ini membuat suhu terus meningkat.
“Tetapi tanpa transisi ke energi yang lebih bersih untuk menghilangkan emisi gas rumah kaca dari bahan bakar fosil, suhu global akan terus meningkat,” demikian isi laporan tersebut.
Negara-negara memiliki tenggat waktu tahun depan untuk mengajukan rencana iklim nasional yang telah diperbarui sebagai bagian dari Kesepakatan Paris.
Minggu depan, mereka akan mengirim delegasi untuk bertemu di Baku, Azerbaijan, dalam pertemuan tahunan PBB tentang perubahan iklim. Namun, hasil pemilu AS minggu ini diperkirakan akan mempersulit kemajuan perjanjian ini.
Pasalnya, AS adalah penghasil emisi karbon dioksida pemanas planet terbesar di dunia, dan presiden terpilih Donald Trump telah mengatakan dia akan mengeluarkan AS dari perjanjian Paris.
Bumi Cetak Rekor Hari Terpanas Dua Hari Berturut-turut 21 dan 22 Juli 2024
21 dan 22 Juli cetak rekor hari terpanas sepanjang sejarah, simak lengkapnya [550] url asal
#rekor-hari-terpanas #hari-terpanas #cuaca-panas #suhu-panas
(Bisnis.Com - Teknologi) 25/07/24 08:46
v/12029304/
Bisnis.com, JAKARTA - Minggu, 21 Juli adalah rekor hari terpanas di bumi yang pernah tercatat, menurut data awal dari Copernicus Climate Change Service Uni Eropa. Badan ini telah melacak pola cuaca global sejak tahun 1940.
Suhu udara permukaan rata-rata global pada hari Minggu mencapai 17,09 derajat Celcius (62,76 derajat Fahrenheit), sedikit lebih tinggi dari rekor sebelumnya yang dicatat pada bulan Juli lalu sebesar 17,08 C (62,74 F), karena gelombang panas menghanguskan sebagian besar Amerika Serikat, Eropa dan Rusia.
Rekor kedua kembali tercatat pada Senin 22 Juli 2024 atau hanya berselang 24 jam setelah 21 Juli.
Suhu udara permukaan rata-rata global naik menjadi 17,15 derajat Celcius (62,87 derajat Fahrenheit) pada hari Senin, 22 Juli. Suhu tersebut 0,06 C (0,11 F) lebih tinggi dari suhu rata-rata global. Rekor hari Minggu menurut Copernicus Climate Change Service Uni Eropa, yang melacak data tersebut sejak tahun 1940.
Hal ini termasuk suhu di Belahan Bumi Selatan, yang saat ini sedang memasuki musim dingin, sehingga menurunkan rata-rata suhu global.
Para ilmuwan mengatakan ada kemungkinan bahwa hari Selasa atau Rabu minggu ini dapat kembali melampaui rekor hari Senin, karena puncak suhu umumnya terjadi secara berkelompok.
Rekor hari panas terakhir terjadi pada Juli 2023, rekor tersebut berulang kali dipecahkan selama empat hari berturut-turut dari tanggal 3 hingga 6 Juli. Sebelumnya, rekor tersebut terjadi pada Agustus 2016.
Hal yang membuat rekor tahun ini tidak biasa adalah tidak seperti tahun 2023 dan 2016 dunia pada bulan April beralih dari pola iklim El Nino, yang secara umum meningkatkan suhu global karena perairan yang lebih hangat dari biasanya di Pasifik Timur.
Dilansir dari Reuters, Karsten Haustein, seorang ilmuwan iklim di Universitas Leipzig di Jerman, mengatakan bahwa “luar biasa” bahwa rekor tersebut telah dipecahkan lagi saat dunia sudah memasuki fase netral dari El Nino-Southern Oscillation.
Hal ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh perubahan iklim, yang didorong oleh pembakaran bahan bakar fosil, dalam meningkatkan suhu global, kata para ilmuwan.
Dia mengatakan La Nina akan menyebabkan pendinginan global yang signifikan dan menutupi sebagian pemanasan akibat perubahan iklim.
Carlo Buontempo, direktur layanan Copernicus, mengatakan awal minggu ini mungkin bisa melampaui rekor hari Minggu karena gelombang panas terus melanda seluruh dunia.
Tahun lalu, empat hari berturut-turut memecahkan rekor, dari 3 Juli hingga 6 Juli, ketika perubahan iklim, yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, menyebabkan panas ekstrem di belahan bumi utara.
Meskipun rekor suhu pada hari Minggu hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan angka tahun lalu.
“Yang luar biasa adalah betapa berbedanya suhu dalam 13 bulan terakhir dibandingkan dengan rekor sebelumnya,” kata Buontempo dilansir dari Reuters.
Setiap bulan sejak Juni 2023 kini menduduki peringkat terpanas di planet ini sejak pencatatan dimulai, dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Beberapa ilmuwan memperkirakan tahun 2024 bisa melampaui tahun 2023 sebagai tahun terpanas sejak pencatatan dimulai, karena perubahan iklim dan fenomena cuaca alami El Nino – yang berakhir pada bulan April – telah mendorong suhu semakin tinggi tahun ini.
“Sebagai konsekuensi dari meningkatnya gas rumah kaca di atmosfer – kita akan melihat rekor baru dipecahkan dalam beberapa bulan ke depan, dalam beberapa tahun ke depan,” kata Buontempo.
Para ilmuwan dan aktivis lingkungan telah lama menyerukan para pemimpin global dan negara-negara kaya untuk menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil untuk mencegah dampak bencana perubahan iklim, termasuk meningkatnya gelombang panas.
Ini 10 Tempat Terpanas di Dunia 2024
Ada beberapa daerah yang memiliki suhu panas hingga 52 derajat celcius. [864] url asal
#bumi #kota-suhu-tertinggi #suhu-panas #suhu-terpanas #mekkah #mexicali
(Bisnis.Com) 10/07/24 08:00
v/10282805/
Bisnis.com, JAKARTA - Bumi adalah tempat dibekali dengan hal ekstrem, mulai dari kota dengan penduduk teramai, kota dengan tingkat pendidikan terbaik, sampai kota dengan tingkat kebersihan terbaik. Serupa dengan hal tersebut, bumi juga memiliki kota dengan cuaca yang ekstrem.
Dilansir dari laman sciencefocus.com, Selasa (9/7/2024) berikut adalah 10 kota dengan suhu tertinggi yang tercatat di bumi pada tahun 2024. Meskipun kota-kota ini tidak selalu dalam suhu tertinggi, suhu yang tercantum dalam daftar merupakan tingkat panas rata-rata yang yang dimiliki kota tersebut.
1. Jeddah dengan suhu 52°C atau 125.6°F (Arab Saudi)
Suhunya mencapai 52°C atau 125.6°F pada tanggal 22 Juni 2010. Suhu panas tersebut mencapai rekor tertinggi untuk wilayah tersebut, melampaui 51°C yang tercatat di oasis Al-Ahsa tiga hari sebelumnya.
Kota pelabuhan kuno ini terletak di negara Arab Saudi bagian barat dan berfungsi sebagai pintu gerbang utama ke Mekah dan memiliki jumlah populasi lebih dari 4,6 juta orang.
2. Mexicali dengan suhu 52°C atau 125.6°F (Meksiko)
Suhu 52°C atau 125,6°F tercatat di lembah Mexicali, Meksiko, pada 28 Juli 1995. Ini menjadikannya salah satu kota dengan suhu terpanas yang pernah tercatat di Bumi, bahkan kota ini dijuluki sebagai ‘The city that captured the Sun'.
Uniknya, lembah yang terletak di kota Mexicali ini juga mencatat suhu lembah terendah sepanjang sejarah, yaitu -7,0ºC atau 19,4°F. Daerah ini memiliki salah satu iklim paling ekstrem di Meksiko, dengan suhu tertinggi rata-rata sebesar 42,2ºC atau 108°F di bulan juli, dan suhu tertinggi rata-rata sebesar 21,1ºC atau 70°F di bulan Januari.
3. Al Jazeera dengan suhu 52,1°C atau 125,8°F (UEA)
Suhu 52,1°C atau 125,8°F tercatat di Gerbang Perbatasan Al Jazeera pada bulan Juli 2002. Suhu seperti ini umumnya hanya berlangsung sebentar, yaitu selama 15 menit. Bahkan suhu diatas 50°C di kota tersebut dinilai hampir tak tertahankan.
Suhu tertinggi tersebut 10 derajat lebih tinggi dibanding suhu yang ada di kota Coningsby negara Inggris yang mencapai 40,3°C pada bulan Juli 2022.
4. Turbat dengan suhu 53,7°C atau 128,7°F (Pakistan)
Suhu 53,7°C atau 128,7°F tercatat di Turbat, Pakistan pada tanggal 28 Mei 2017. World Meteorological Organization (WMO) mengonfirmasi bahwa suhu 53,7°C yang tercatat di Turbat adalah kota dengan suhu terpanas ke 4 di dunia yang pada saat itu.
Turbat dikenal sebagai salah satu kota terpanas di Asia dan terletak di barat daya wilayah Balochistan di negara tersebut, tepatnya pada Sungai Kech.
5. Basra dengan suhu 53,9°C atau 129°F (Irak)
Timur Tengah populer dengan banyaknya negara dengan kota bersuhu tinggi, Basra adalah salah satu kota tersebut. Basra, Irak, merupakan tempat terjadinya salah satu suhu tertinggi, yaitu yang mencatat suhu sebesar 53,9°C atau 129°F pada tanggal 22 Juli 2016.
Suhu ini sama panasnya dengan yang tercatat di Kuwait sehari sebelumnya. Dengan populasi sekitar 1,5 juta orang, Basra terletak di Sungai Shatt al-Arab Jazirah Arab.
6. Mitribah dengan suhu 53,9°C atau 129°F (Kuwait)
Suhu sebesar 53,9°C atau 129°F tercatat di Kota Mitribah negara Kuwait, tepatnya di stasiun cuaca Mitribah. Suhu tinggi tersebut tercatat pada tanggal 21 Juli 2016 dan merupakan pemegang rekor tempat terpanas di Asia. Suhu ini juga merupakan suhu terpanas yang diakui secara resmi (pada saat itu) selama 76 tahun.
7. Tirat Tsvi dengan suhu 54°C atau 129°F (Israel)
Tirat Tsvi yang terletak di dekat perbatasan Israel-Yordania mencatat rekor suhu tertinggi sebesar 54°C atau 129°F pada tanggal 21 Juni 1942 silam. Digolongkannya Israel sebagai negara Eropa, meresmikan tempat dengan jumlah penduduk 975 orang tersebut sebagai kota dengan suhu tertinggi di benua Eropa.
8. Ahvaz dengan suhu 54°C atau 129.2°F (Iran)
Kota Ahvaz mencatat rekor di benuanya dengan suhu sebesar 54°C atau 129.2°F di sekitar pukul 5 sore waktu setempat pada tanggal 29 Juni 2017. Kota Ahvaz berpenduduk sekitar 1,3 juta orang dan dibangun pada masa Achaemenid. Kota ini terkenal dengan sembilan jembatannya, khususnya Jembatan Hitam dan Jembatan Putih.
9. Kebili dengan suhu 55°C atau 131°F (Tunisia)
Kota Kebili mencatat suhu terpanas di benua Afrika pada tanggal 7 Juli 1931 dengan suhu 55°C atau 131°F. Ini adalah suhu tertinggi kedua yang pernah tercatat di Bumi. Selain rekor suhu terpanas, Kebeli juga terkenal dengan penduduk awalnya yang sudah ada sekitar 200.000 tahun yang lalu di era Paleolitik awal. Fakta tersebut didukung dengan perkakas batu kuno yang ditemukan di dekat kota ini.
10. Death Valley, California dengan suhu 56,7°C atau 134°F (AS)
Tempat terpanas di Bumi jatuh kepada Death Valley di California, yang suhunya mencapai 56,7°C atau 134°F pada 10 Juli 1913. Pada bulan musim panas, suhu tertinggi harian rata-rata di Death Valley adalah 45°C atau 113°F.
Suhu tersebut hanyalah suhu udara, dengan panas permukaan yang jauh lebih tinggi. Pada tanggal 15 Juli 1972, suhu tanahnya tercatat mencapai 93,9 °C atau 201 °F, hanya beberapa derajat di bawah suhu air mendidih. (Yoga Al Kemal)
Ini 10 Tempat Terpanas di Dunia 2024, Ada Bekasi?
Ada beberapa daerah yang memiliki suhu panas hingga 52 derajat celcius. [864] url asal
#bumi #kota-suhu-tertinggi #suhu-panas #suhu-terpanas #mekkah #mexicali
(Bisnis.Com) 10/07/24 08:00
v/10278043/
Bisnis.com, JAKARTA - Bumi adalah tempat dibekali dengan hal ekstrem, mulai dari kota dengan penduduk teramai, kota dengan tingkat pendidikan terbaik, sampai kota dengan tingkat kebersihan terbaik. Serupa dengan hal tersebut, bumi juga memiliki kota dengan cuaca yang ekstrem.
Dilansir dari laman sciencefocus.com, Selasa (9/7/2024) berikut adalah 10 kota dengan suhu tertinggi yang tercatat di bumi pada tahun 2024. Meskipun kota-kota ini tidak selalu dalam suhu tertinggi, suhu yang tercantum dalam daftar merupakan tingkat panas rata-rata yang yang dimiliki kota tersebut.
1. Jeddah dengan suhu 52°C atau 125.6°F (Arab Saudi)
Suhunya mencapai 52°C atau 125.6°F pada tanggal 22 Juni 2010. Suhu panas tersebut mencapai rekor tertinggi untuk wilayah tersebut, melampaui 51°C yang tercatat di oasis Al-Ahsa tiga hari sebelumnya.
Kota pelabuhan kuno ini terletak di negara Arab Saudi bagian barat dan berfungsi sebagai pintu gerbang utama ke Mekah dan memiliki jumlah populasi lebih dari 4,6 juta orang.
2. Mexicali dengan suhu 52°C atau 125.6°F (Meksiko)
Suhu 52°C atau 125,6°F tercatat di lembah Mexicali, Meksiko, pada 28 Juli 1995. Ini menjadikannya salah satu kota dengan suhu terpanas yang pernah tercatat di Bumi, bahkan kota ini dijuluki sebagai ‘The city that captured the Sun'.
Uniknya, lembah yang terletak di kota Mexicali ini juga mencatat suhu lembah terendah sepanjang sejarah, yaitu -7,0ºC atau 19,4°F. Daerah ini memiliki salah satu iklim paling ekstrem di Meksiko, dengan suhu tertinggi rata-rata sebesar 42,2ºC atau 108°F di bulan juli, dan suhu tertinggi rata-rata sebesar 21,1ºC atau 70°F di bulan Januari.
3. Al Jazeera dengan suhu 52,1°C atau 125,8°F (UEA)
Suhu 52,1°C atau 125,8°F tercatat di Gerbang Perbatasan Al Jazeera pada bulan Juli 2002. Suhu seperti ini umumnya hanya berlangsung sebentar, yaitu selama 15 menit. Bahkan suhu diatas 50°C di kota tersebut dinilai hampir tak tertahankan.
Suhu tertinggi tersebut 10 derajat lebih tinggi dibanding suhu yang ada di kota Coningsby negara Inggris yang mencapai 40,3°C pada bulan Juli 2022.
4. Turbat dengan suhu 53,7°C atau 128,7°F (Pakistan)
Suhu 53,7°C atau 128,7°F tercatat di Turbat, Pakistan pada tanggal 28 Mei 2017. World Meteorological Organization (WMO) mengonfirmasi bahwa suhu 53,7°C yang tercatat di Turbat adalah kota dengan suhu terpanas ke 4 di dunia yang pada saat itu.
Turbat dikenal sebagai salah satu kota terpanas di Asia dan terletak di barat daya wilayah Balochistan di negara tersebut, tepatnya pada Sungai Kech.
5. Basra dengan suhu 53,9°C atau 129°F (Irak)
Timur Tengah populer dengan banyaknya negara dengan kota bersuhu tinggi, Basra adalah salah satu kota tersebut. Basra, Irak, merupakan tempat terjadinya salah satu suhu tertinggi, yaitu yang mencatat suhu sebesar 53,9°C atau 129°F pada tanggal 22 Juli 2016.
Suhu ini sama panasnya dengan yang tercatat di Kuwait sehari sebelumnya. Dengan populasi sekitar 1,5 juta orang, Basra terletak di Sungai Shatt al-Arab Jazirah Arab.
6. Mitribah dengan suhu 53,9°C atau 129°F (Kuwait)
Suhu sebesar 53,9°C atau 129°F tercatat di Kota Mitribah negara Kuwait, tepatnya di stasiun cuaca Mitribah. Suhu tinggi tersebut tercatat pada tanggal 21 Juli 2016 dan merupakan pemegang rekor tempat terpanas di Asia. Suhu ini juga merupakan suhu terpanas yang diakui secara resmi (pada saat itu) selama 76 tahun.
7. Tirat Tsvi dengan suhu 54°C atau 129°F (Israel)
Tirat Tsvi yang terletak di dekat perbatasan Israel-Yordania mencatat rekor suhu tertinggi sebesar 54°C atau 129°F pada tanggal 21 Juni 1942 silam. Digolongkannya Israel sebagai negara Eropa, meresmikan tempat dengan jumlah penduduk 975 orang tersebut sebagai kota dengan suhu tertinggi di benua Eropa.
8. Ahvaz dengan suhu 54°C atau 129.2°F (Iran)
Kota Ahvaz mencatat rekor di benuanya dengan suhu sebesar 54°C atau 129.2°F di sekitar pukul 5 sore waktu setempat pada tanggal 29 Juni 2017. Kota Ahvaz berpenduduk sekitar 1,3 juta orang dan dibangun pada masa Achaemenid. Kota ini terkenal dengan sembilan jembatannya, khususnya Jembatan Hitam dan Jembatan Putih.
9. Kebili dengan suhu 55°C atau 131°F (Tunisia)
Kota Kebili mencatat suhu terpanas di benua Afrika pada tanggal 7 Juli 1931 dengan suhu 55°C atau 131°F. Ini adalah suhu tertinggi kedua yang pernah tercatat di Bumi. Selain rekor suhu terpanas, Kebeli juga terkenal dengan penduduk awalnya yang sudah ada sekitar 200.000 tahun yang lalu di era Paleolitik awal. Fakta tersebut didukung dengan perkakas batu kuno yang ditemukan di dekat kota ini.
10. Death Valley, California dengan suhu 56,7°C atau 134°F (AS)
Tempat terpanas di Bumi jatuh kepada Death Valley di California, yang suhunya mencapai 56,7°C atau 134°F pada 10 Juli 1913. Pada bulan musim panas, suhu tertinggi harian rata-rata di Death Valley adalah 45°C atau 113°F.
Suhu tersebut hanyalah suhu udara, dengan panas permukaan yang jauh lebih tinggi. Pada tanggal 15 Juli 1972, suhu tanahnya tercatat mencapai 93,9 °C atau 201 °F, hanya beberapa derajat di bawah suhu air mendidih. (Yoga Al Kemal)
2024 Diprediksi Pecahkan Rekor jadi Tahun dengan Suhu Terpanas
Ada sekitar 95% kemungkinan bahwa 2024 mengalahkan 2023 sebagai tahun terpanas sejak pencatatan suhu permukaan global dimulai pada pertengahan tahun 1800-an. [350] url asal
#suhu #terpanas #tahun-terpanas #pemanasan-global #ekonomi-karbon #katadata-green #update-me
(Katadata - EKONOMI HIJAU) 08/07/24 15:58
v/10085604/
Layanan pemantauan perubahan iklim Uni Eropa mencatat bulan lalu merupakan Juni terpanas yang pernah tercatat. Hal itu menambah catatan panjang pemecahan rekor suhu dunia dan semakin memperkuat prediksi bahwa 2024 bakal jadi tahun terpanas dunia.
Berdasarkan catatan Copernicus Climate Change Service (C3S) Uni Eropa, rata-rata suhu dunia terus mencetak rekor selama 13 bulan berturut-turut, sejak pencatatan dimulai.
Data terbaru menunjukkan tahun 2024 bisa mengungguli tahun 2023 sebagai tahun terpanas sejak pencatatan dimulai setelah perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia dan fenomena cuaca alam El Nino mendorong suhu mencapai rekor tertinggi pada tahun ini.
“Saya sekarang memperkirakan bahwa ada sekitar 95% kemungkinan bahwa 2024 mengalahkan 2023 sebagai tahun terpanas sejak pencatatan suhu permukaan global dimulai pada pertengahan tahun 1800-an,” kata Zeke Hausfather, seorang ilmuwan peneliti di Berkeley Earth, seperti dikutip dari Reuters, Senin (8/7).
Perubahan iklim telah menimbulkan konsekuensi bencana di seluruh dunia pada 2024. Lebih dari 1.000 orang tewas dalam panas terik selama ibadah haji bulan lalu. Kematian akibat panas tercatat di New Dehli, yang mengalami gelombang panas yang sangat panjang, dan di antara wisatawan Yunani.
Friederike Otto, ilmuwan iklim di Institut Grantham Imperial College London, mengatakan ada "kemungkinan besar" tahun 2024 akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat.
“El Nino merupakan fenomena alam yang selalu datang dan pergi. Kita tidak bisa menghentikan El Nino, tapi kita bisa menghentikan pembakaran minyak, gas, dan batu bara,” ujarnya.
Fenomena alam El Nino yang menghangatkan permukaan perairan di bagian timur Samudera Pasifik cenderung meningkatkan suhu rata-rata global.
Dampak tersebut mereda dalam beberapa bulan terakhir, dan dunia kini berada dalam kondisi netral sebelum kondisi La Nina yang lebih dingin diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun ini. Emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil merupakan penyebab utama perubahan iklim.
Meskipun ada janji untuk mengekang pemanasan global, banyak negara sejauh ini gagal mengurangi emisi tersebut, sehingga suhu terus meningkat selama beberapa dekade.
Dalam 12 bulan yang berakhir pada bulan Juni, suhu rata-rata dunia merupakan rekor tertinggi pada periode tersebut, yaitu 1,64 derajat Celcius di atas rata-rata pada periode pra-industri tahun 1850-1900, kata C3S.