#30 tag 24jam
3 Alasan Tren Thrifting Digemari Anak Muda
Thrifting atau belanja baju bekas, menjadi gaya hidup yang digemari para anak muda. Yuk, simak alasannya. [490] url asal
#mahasiswa #remaja #anak-muda #thrift #thrifting #alasan-anak-muda-suka-thrifting #tren-thrifting
(Kompas.com) 07/10/24 22:13
v/16126213/
KOMPAS.com - Belanja barang bekas, terutama baju bekas selalu menarik dilakukan, malah kini menjadi gaya hidup yang digemari para jiwa muda.
Bukan hanya soal harga yang lebih terjangkau, ada banyak alasan mengapa thrifting menjadi salah satu pilihan.
Mulai dari pilihan yang unik, hingga sensasi menemukan "harta karun", membuat thrifting semakin digandrungi oleh anak muda.
Beberapa anak muda yang ditemui Kompas.com di berbagai toko thrift di Blok M, mengungkapkan alasan mereka tertarik dengan thrifting.
1. Harga yang relatif murah
Salah satu daya tarik terbesar thrifting adalah barang berkualitas, dengan harga yang terjangkau.
Dengan barang-barang berkualitas yang dijual lebih murah dibanding toko fast fashion, membuat para anak muda merasa bahwa thrifting memberikan kebebasan bergaya tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.
“Banyak baju yang masih bagus banget, tapi harganya murah,” ucap Gerald, seorang mahasiswa yang sedang thrifting di Blok M Square, Jakarta Selatan, pada Senin (7/10/2024).
Tak hanya mahasiswa, harga thrifting yang sangat terjangkau, juga membuatnya banyak dilakukan anak SMA, seperti Azizah, Naya, Azahra, dan Sabrina.
“Harganya lebih terjangkau, kaya ini aja rok (di toko retail) harusnya Rp 150.000 tapi disini harganya cuma Rp 35.000,” ucap Naya yang sedang melihat-lihat bersama tiga temannya di toko Blok M Thrift, Jakarta Selatan, pada Senin (7/10/2024).
2. Pengalaman seru
Berburu pakaian di thrift store memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Pengunjung sering kali merasa seperti sedang berburu harta karun, di mana setiap rak baju menawarkan kejutan.
Suasana mencari dan menemukan sesuatu yang istimewa, membuat kegiatan thrifting menjadi lebih menyenangkan dibandingkan belanja di mal.
“Saat cari-cari baju itu seru, apalagi kalo tempatnya juga nyaman untuk thrifting, jadi makin betah,” ungkap Gerald.
3. Anti Mainstream
Tujuan lain banyak pemuda tertarik untuk thrifting, karena ingin tampil beda. Toko thrift menjadi tempat bagi mereka yang ingin mengekspresikan gaya personal yang anti-mainstream.
Di sini, pengunjung bisa menemukan pakaian dengan desain unik yang tidak bisa ditemukan di pusat perbelanjaan modern.
“Kita bisa nemuin baju-baju dari zaman dulu di toko thrift,” lontar Azizah.
Menggabungkan baju thrifted yang mereka temukan ke dalam outfit sehari-hari, akan memberikan kesan autentik dan kreatif.
“Untuk outfit kuliah, aku biasanya gabungin baju bloke core yang aku dapat dari thrift dengan celana matching yang aku punya, jadi outfit tetap trendi namun formal,” jelas Gerald.
Naik Gunung, dari Hobi Jadi Bisnis hingga Persaingan Ketat Thrifting China - kumparan.com
Naik gunung jadi tren anak muda mencari pengalaman baru. Hobi ini juga jadi ceruk bisnis yang tak pernah mati. Seperti apa peluangnya? [845] url asal
#naik-gunung #thrifting #china #bisnis #outdoor
(Kumparan.com - Bisnis) 25/08/24 09:16
v/14688108/
Naik gunung seperti candu. Meski aktivitas ini melelahkan, menghabiskan banyak waktu dan uang, tapi tak pernah sepi peminat. Selalu ada alasan untuk kembali.
Akhir pekan, apalagi saat libur panjang, biasanya menjadi waktu favorit mendaki. Bersama teman, pasangan, atau keluarga.
Tren ini menjadi peluang usaha di bidang peralatan kegiatan luar ruang atau outdoor. Alasannya, karena setiap mendaki pasti membutuhkan banyak alat mulai dari tenda, sepatu, jaket, alat masak, tas carrier, dan lainnya.
Seperti tak pernah mati, bisnis peralatan outdoor baru selalu bermunculan. Salah satunya Big Adventure yang didirikan Biga Muhammad pada 2017 di Bekasi, Jawa Barat.
Biga mengatakan, tren bisnis peralatan outdoor cenderung meningkat. Setelah pandemi, ada perubahan gaya hidup di masyarakat yang jadi lebih menyukai kegiatan di luar ruang. Barang-barang yang dijual pun laris manis.
"Saat ini, semakin banyak yang mencoba untuk naik gunung dan berakhir jadi hobi. Apalagi sekarang mulai banyak figur-figur yang mencoba untuk naik gunung, pastinya banyak yang terinspirasi untuk mencoba juga kegiatan ini juga," ujarnya kepada kumparan, dikutip Sabtu (24/8).
Transaksi penjualan Big Adventure meningkat hingga 3 kali lipat saat libur hari raya, akhir pekan, dan libur akhir tahun. Terutama di bulan-bulan musim kemarau karena jadi momen favorit mendaki.
"Biasanya di musim ini adalah momen para pelaku kegiatan outdoor meng-upgrade produk-produknya untuk digunakan di pendakian yang akan datang," lanjutnya.
Apalagi saat ada pemeran outdoor seperti Indonesia Outdoor Festival atau Indofest di JCC, Jakarta, tiap tahun, jadi momen industri peralatan outdoor, termasuk Biga, mengerek penjualan mereka.
"Biasanya di awal musim kemarau banyak pameran-pameran outdoor yang diselenggarakan. Ini adalah sumber pendapatan yang paling besar untuk industri outdoor karena pengunjung bisa mencapai puluhan ribu," ujarnya.
Selain Big Adventure, ada Merapi Mountain. Toko outdoor ini lebih dulu lahir. Dirikan oleh Hendri Agustin sejak Desember 2012 di bawah bendera CV Pijar Merapi Indonesia di Jakarta. Mereka fokus produksi kami pada tenda, sleeping bag dan aksesoris-aksesoris peralatan alam bebas lainnya.
Hendri mengungkapkan saat ini tren kegiatan mendaki gunung semakin meningkat, sehingga jumlah pelaku bisnis peralatan pendakian juga semakin bertambah. Terkait dengan pendapatan, dia tidak ingin merincikan berapa banyak yang berhasil dikantongi. Namun, dia mengakui ketika momen tertentu seperti libur panjang, penjualan produk di Merapi Mountain store meningkat.
"Mau libur panjang tuh kan pasti kenaikan. Pokoknya yang mau libur-libur panjang tuh biasanya naik ya," ungkapnya.
Wisata gunung bukan cuma memuaskan si pendaki dan jadi cuan buat pemilik toko outdoor. Tapi juga jadi sumber devisa negara. Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Vinsensius Jemadu mengatakan potensi wisata gunung di Indonesia sangat besar, terlihat dari banyaknya wisatawan yang mendaki gunung dan devisa yang dihasilkan.
"Kita lihat bahwa salah satu tren pariwisata global adalah adanya perubahan perilaku wisatawan yang berusaha mencari destinasi yang sehat, bersih, termasuk ecotourism dan gunung," kata Vinsensius, dalam acara Indonesia Mountain Tourism Conference (IMTC) yang digelar di Jakarta, Rabu (27/9/2023).
Secara value atau pergerakan ekonomi dari data tahun 2020 ada sekitar USD 150 juta dolar secara keseluruhan, berasal dari pemasukan 150 ribu pendaki mancanegara dan 1,5 juta hingga 3 juta pendaki nusantara.
Angka ini sendiri merupakan pergerakan ekonomi per tahun untuk wisata gunung di tahun 2020, tepatnya sebelum pandemi COVID-19 melanda.
Meski jadi ceruk bisnis menguntungkan, penjualan barang perlengkapan naik gunung di Indonesia juga dibanjiri produk China. Mereka menjual produk perlengkapan pendakian dengan harga yang lebih murah, impor dari luar negeri, hingga thrifting.
Ketua Indonesia Adventure Store Association (IASA), Tongam Panggabean atau bisa dipanggil Tongam Leuser, mengatakan kehadiran produk impor dari China dan thrifting cukup berdampak pada bisnis toko resmi peralatan outdoor. Menurutnya daya beli masyarakat terhadap produk peralatan outdoor di toko resmi menjadi berkurang semenjak kehadiran produk impor dari China dan thrifting.
"Ya tren kalau di gunung-gunung kan orang hiking, camping, kan banyak tuh ya.Trennya meningkat tapi daya beli outdoor-nya jadi berkurang, banyak faktor juga sih. Pengurangan daya pembelian itu faktornya ya mungkin dari barang-barang China masuk barang-barang thrifting, ada juga jadi harganya lebih murah ya, sewa-sewa," ujarnya kepada kumparan.
Berdasarkan catatannya, saat ini tercatat ada lebih dari 500 toko bisnis yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun yang telah menjadi anggota asosiasi baru 200 toko.
Pemilik Leuser Adventure ini berharap agar bisnis outdoor dapat diperhatikan pemerintah, terutama dukungan kepada pelaku bisnis perlengkapan outdoor di Indonesia seperti memberikan pelatihan terkait dengan manajemen dan sumber daya manusia. Apalagi, bisnis perlengkapan outdoor terutama untuk pendaki gunung ini telah memberikan multiplier effect kepada masyarakat sekitar.
"Bagus sih untuk kita outdoor lah ya, masyarakat apa lagi ya banyak camping, banyak orang hiking kan mereka pada ngopi, makan siang dan sebagainya dari situ kan berarti kan pendapatan masyarakat akan lebih baguslah," ujar Tongam.
Sementara itu, Hendri menilai meski banyak produk thrifting outdoor dari China, barang di tokonya selalu punya daya tarik buat pelanggan seperti tenda frame aluminium alloy dengan bahan polyester.
"Sebelumnya kan kayak Eiger atau segala macam kan enggak bikin tuh, produk-produk pendaki itu. Tahun 2012, kita yang bikin menginisiasi, yang bikin secara banyak, akhirnya brand-brand lain bermunculan juga, pada ikut juga yang akhirnya sampai sekarang akhirnya kayak Consina juga mulai bikin," ujarnya.
Aprindo Ngeluh Sering Kalah Lawan Barang Ilegal: Masyarakat Belinya ke Thrifting - kumparan.com
Aprindo mengakui kini sering kalah lawan barang ilegal. [215] url asal
#pengusaha #ritel #thrifting #aprindo
(Kumparan.com - Bisnis) 14/08/24 14:05
v/14409084/
Pengusaha ritel mengeluhkan peralihan minat masyarakat yang memilih membeli produk impor bekas atau thrifting dibanding berbelanja di ritel modern. Padahal ritel modern menaati aturan pemerintah.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menuturkan peralihan minat masyarakat ini membuat pelaku usaha ritel kalah saing.
"Kita seringkali kalah karena barang ilegal, barang fake. Masyarakat belinya ke thrifting, tidak lagi beli ke ritel yang bayar pajak dan mempekerjakan tenaga kerja dan PPN, malah thrifting yang tidak pakai pajak," kata Roy dalam diskusi Gambir Trade Talk 15 di Jakarta Pusat (14/8).
Roy melihat persaingan antara produk thrifting dan barang yang dijajakan di ritel modern tidak seimbang. "Ini yang kita seringkali risau, kita kalah karena dengan ilegal," ujar Roy.
Roy menyebut barang ilegal tersebut tidak hanya dijual secara offline, tetapi banyak juga yang dijajakan secara online.
"Ini tentunya kita berharap level of the same playing tidak terjadi di offline, tapi juga di online karena tentunya lebih mudah memasukkan yang ilegal dari online karena enggak keliatan orang yang jual dan tokonya," jelas Roy.
Roy menegaskan harus ada pengawasan barang-barang impor ilegal di pasar Tanah Air, baik yang masuk melalui pintu masuk resmi seperti pelabuhan besar, bandara, maupun pelabuhan tikus.
"Ini yang perlu diperdalam dikaji ketika kita masih menjadi negara konsumsi belum menjadi negara eksportir," tutur Roy.
Sempat Dilarang Pemerintah, Bisnis Baju Bekas Impor Menjamur Lagi di Pasar Senen - kumparan.com
Seakan tak pernah mati, bisnis baju bekas impor alias thrifting kembali menjamur. Jadi incaran konsumen yang mencari harga miring. [585] url asal
#pemerintah #impor #mendag #thrifting
(Kumparan.com - Bisnis) 07/07/24 16:26
v/9980197/
Pasar Senen, Jakarta Pusat, masih menjadi salah satu destinasi masyarakat setempat menghabiskan akhir pekannya untuk berbelanja. Padahal sejak awal tahun pemerintah melarang bisnis ini, bahkan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menghanguskan tumpukan baju bekas impor yang disita Bea Cukai.
Pantauan kumparan, Minggu (7/7), hiruk pikuk pembeli utamanya terpantau di lantai dasar Blok 1 dan 2, tempat kios-kios baju bekas impor atau thrifting menjajakan barang jualannya. Bisnis ini masih menjamur.
Gedung yang baru dibangun kurang lebih 1 tahun ke belakang ini menjadi tempat bagi 150 kios thrifting. Tidak hanya pengunjung berusia lanjut, namun juga pemuda-pemudi terlihat hilir mudik membawa kantong kresek berisi tumpukan baju bekas impor.
Salah satunya Rasyid, pemuda berumur 23 tahun asal Cempaka Putih Jakarta Pusat, perdana mencoba thrifting di Pasar Senen hari ini. Dia rutin membeli baju bekas sejak tahun 2020.
"Karena yang pasti buat ramah lingkungan juga, selain itu emang harganya pasti jauh lebih murah dan kita juga bisa lebih mengkreasikan outfit jadi lebih bisa mix and match lebih gampang," ujarnya saat ditemui kumparan.
Dwi, seorang ibu berusia 53 tahun, juga mengaku senang berbelanja thrifting di Pasar Senen. Selain untuk kebutuhan diri sendiri, dia juga membelikan baju buat anak-anaknya. Menurutnya, baju bekas di Pasar Senen lebih berkualitas daripada toko grosir asli lokal.
"Tetap layak tapi lebih fashionable, lebih murah juga, sudah pasti kalau lebih murah karena namanya juga thrifting. Tapi lebih bagus model-modelnya dibanding kita ke Tanah Abang," ungkapnya.
Pakaian bekas impor di Pasar Senen yang kumparan temukan umumnya berasal dari Jepang atau Korea Selatan. Salah satu penjual, Noah, menyebutkan dari seluruh 150 kios di Blok 1 & 2 Pasar Senen Jaya, mengimpor dari kedua negara tersebut.
"Ini luar semua sih kebanyakan Korea sama Jepang, memang dari situ produknya bukan dari Indonesia. Ini barang bukan sembarang barang, made in Korea!" tegasnya.
Noah yang sudah berjualan baju bekas impor di Pasar Senen sejak 6 tahun silam mengatakan, konsumennya lebih menyukai model pakaian dari kedua negara tersebut. Dia tidak menyebutkan negara lain yang memasok baju impor, tidak terkecuali Thailand atau China.
"Kalau Thailand ada cuma aku jarang bongkar, kebanyakan Jepang sama Korea. Stand di sini semuanya kebanyakan Korea-Jepang, 100 persen. Ada 150 kios kayaknya lebih," tutur Noah.
Senada, penjual baju bekas impor lain di Pasar Senen, Marpaung, mengatakan kegiatan thrifting utamanya diminati oleh masyarakat kelas menengah ke bawah, sebab harganya yang terlampau murah dari pusat perbelanjaan.
Berdasarkan pantauan, penjual baju bekas impor di Pasar Senen mayoritas menjual baju di bawah Rp 50.000 per buah. Bahkan, baju yang dijual merupakan merek terkenal dari luar negeri.
"Kita ini menciptakan wisata belanja. Kadang-kadang datang orang-orang dari Eropa melihat, dia senang. Ini wisata belanja yang kita ciptakan ini," ucapnya.
Marpaung berharap, pemerintah bisa semakin peduli dengan nasib penjual baju bekas impor. Salah satunya dengan melegalkan bisnis ini dan menciptakan payung hukumnya, sehingga kegiatan thrifting bisa terkendali dan terjamin keamanannya.
Setelah upaya menutup bisnis thrifting tak berhasil, pemerintah kini tengah menyusun komoditas yang akan kena bea masuk 200 persen. Rencananya ada 7 komoditas, antara lain produk tekstil, pakaian jadi, keramik, elektronik, kosmetik, barang tekstil sudah jadi lainnya, dan alas kaki.
“Rapat itu memutuskan ada tujuh komoditas yang harus mendapatkan perhatian khusus. Jadi tujuh itu, tentu kita Kemendag akan melakukan segala upaya sesuai dengan ketentuan dan aturan kita nasional maupun yang sudah disepakati lembaga dunia," kata Zulhas kepada wartawan di kantor Kemendag, Jumat (5/7).
Pihaknya masih mengkaji besaran biaya masuk yang akan dikenakan untuk produk asal China tersebut. “Nanti dihitung, bisa 50 persen, 100 persen sampai 200 persen, tergantung,” ujar Zulhas.
Ada Pusat Pakaian Impor Baru di Tanah Abang, Barangnya dari Negara Mana?
Ada tempat belanja thrifting di daerah tanah abang. [505] url asal
#tanah-abang #thrifting #pakaian-bekas
(detikFinance - Ekonomi dan Bisnis) 05/07/24 17:14
v/9766862/
Jakarta - Tanah Abang kembali menghadirkan konsep pusat perbelanjaan baru bernama Moiz Trade Center (MTC). Kawasan pusat belanja ini terletak di Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
MTC terdiri dari 7 lantai dan menawarkan fasilitas yang cukup komplit, seperti kamar mandi, mushola, eskalator dan lift hingga area food court. MTC diklaim menjadi pusat belanja pedagang thrifting, impor, hingga supplier pabrik besar China. Informasi tersebut tertulis jelas di area pintu masuk MTC.
"Selamat Datang Guangzhou Trading. Moiz Trade Center telah bergabung pedagang thrifting, impor, konfeksi, lokal, dan sisa bendungan ekspor. Telah bergabung supplier dan pabrik terbesar China," tulis informasi di pintu masuk.
Lantas dari mana saja produk-produk tekstil di pusat belanja tersebut? detikcom bertemu dengan salah satu karyawati di lantai 3 mengambil pasokan produk tekstil dari Bangkok, Thailand.
"Baru dari Bangkok. Harganya jauh lebih murah dibandingkan sebelah," ujarnya kepada detikcom, Jumat (5/7/2024).
Dia mengklaim pihaknya baru memulai buka kios di pusat belanja tersebut. Untuk itu, dia bilang produknya masih dijual secara grosiran. Di kios tersebut, dia menjual blouse-blouse wanita dengan hiasan bordiran. Adapun berbagai model dan warnanya, mulai dari cokelat, putih, hingga biru langit.
Senada, salah satu karyawan kios yang tak ingin disebutkan namanya menyebut pihaknya menjual berbagai macam produk mulai dari pakaian pria hingga pakaian wanita. Untuk pakaian pria, dia mengatakan pihaknya mengambil dari konveksi lokal dan dijual secara grosiran. Rata-rata harganya pun Rp 65.000-75.000 per potong.
Namun, untuk pakaian wanita pihaknya menjual dengan harga Rp 100.000 dapat 3 potong. Dia bilang semua produk pakaian wanita itu baru dan berasal dari luar.
"Ini lokal (pakaian pria), ada pakaian perempuan dari luar juga. Kalau luar dari China," ujarnya.
Dia bilang kios di sini lebih sering melakukan live streaming. Konsumen yang datang juga katanya datang dari online dan biasanya berasal dari daerah Jabodetabek.
"Kita live TikTok sih di sini. Biasanya yang datang cuma konsumen yang sudah lihat di live," jelasnya.
Selain produk impor, ada juga produk lokal yang dijual di sana. Salah satu pedagang di lantai 1 mengatakan produk yang dijualnya berasal dari produk-produk lokal. Dia menjual pakaian bawahan wanita, seperti rok dan celana panjang. Namun, untuk pembelian harus secara grosiran minimal 6-7 pcs.
"Kita ambil produk dalam sendiri. Kalau mau beli harus grosiran," ujarnya.
Dia mengklaim memang di lantai 1 ini rata-rata produknya dijual dengan secara grosiran. Namun, tak jarang juga dapat dijual secara satuan.
Di sisi lain, pusat belanja tersebut ternyata juga menyediakan dua lantai untuk pakaian impor bekas, yakni di lantai 6-7. Seorang pedagang di lantai 7 mengatakan pusat thrifting memang di lantai 6 dan 7. Sayangnya, belum banyak kios yang buka lantaran pusat belanja tersebut masih terbilang baru.
"Baru sebulan dari Juni kemarin, baru buka. Ini thrifting ya thrifting nggak bisa tahu dari mana, ada yang dari China, Jepang, Taiwan," ucapnya.
Saat ditemui di lokasi, ada karyawan yang juga sedang melakukan live TikTok. Selain berdagang secara offline, dia mengaku memang berjualan secara online. Dia menjual berbagai jenis produk pakaian, mulai dari blazer, blouse, celana pendek, rok, hingga jaket perempuan.
(kil/kil)
Di Tengah Heboh Impor Pakaian Bekas, Ternyata Ada Pusat Thrifting di Jakarta
Pasar Tanah Abang kembali menghadirkan pusat perbelanjaan baru bernama Moiz Trade Center (MTC). [729] url asal
#baju-bekas #thrifting #tanah-abang
(detikFinance - Perencanaan Keuangan) 05/07/24 14:00
v/9759543/
Jakarta - Pasar Tanah Abang kembali menghadirkan pusat perbelanjaan baru bernama Moiz Trade Center (MTC). Pusat belanja baru ini terletak di Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
MTC ini diklaim menjadi pusat belanja pedagang thrifting, impor, hingga supplier pabrik besar China. Berdasarkan pantauan detikcom, Jumat (5/7/2024), MTC terdiri dari 7 lantai. Sebelum memasuki gedung, tulisan Moiz Trade Center Pusat Grosir Fashion terpahat besar di dinding gedung.
"Selamat Datang Guangzhou Trading. Moiz Trade Center telah bergabung pedagang thrifting, impor, konveksi, lokal, dan sisa bendungan ekspor. Telah bergabung supplier dan pabrik terbesar China," tulis informasi di pintu masuk.
Memasuki lantai dasar, detikcom dilihat sejumlah karung pakaian yang masih terbungkus. Ada beberapa kios yang masih tutup, ada juga yang sudah buka. Sepanjang detikcom melihat, setidaknya lantai 1 ada 20 kios dari sekitar 100 kios yang tersedia.
Di lantai dasar, tersedia pakaian wanita dewasa, mulai dari aneka jenis rok, baju, sweater, hingga kemeja. Produk yang dijual bisa lusinan, bisa juga satuan. Di lantai ini ternyata tidak semua produk impor, ada juga yang jual dari produksi dalam negeri.
Berbeda dengan lantai dasar yang banyak karung pakaian, lantai 1 justru masih terlihat sepi. Hanya beberapa kios yang buka. Adapun pengumuman berisi informasi kios disewakan.
Lantai 1 ini diperuntukkan untuk pakaian remaja. Harganya pun beragam mulai dari Rp 35.000- Rp 100.000 per potongnya. Produk yang dijual ada berasal dari China, Taiwan, dan Korea.
Sama halnya dengan lantai 1, di lantai 2 makin sepi pedagang. Banyak kios yang belum buka, meskipun telah ada penyewanya. Berdasarkan papan informasinya, lantai 2 diperuntukkan untuk pakaian tidur, celana, jeans, legging. Namun, detikcom hanya melihat pakaian wanita dewasa, seperti sweater, blouse, dan kemeja.
Semakin ke atas, kios yang dibuka pun makin sepi. Meski begitu, setidaknya masih ada 5-10 kios yang buka. Rata-rata mereka menjual pakaian wanita dewasa, seperti outer, blouse, dan sweater. Ada yang menjual dengan harga Rp 100.000 dapat 5 pcs. Ada juga yang menjual seharga Rp 100.000 dapat 3 pcs. Harga tersebut tergantung bahan dan kualitas produk tersebut.
Lantai 6 dan 7 dikhususkan untuk barang-barang impor baju bekas alias thrifting. Hal ini dapat dilihat dari spanduk yang tertulis di pelataran parkiran MTC.
"Grand Opening Pusat Thrifting lantai 6 & 7," tulis pengumuman tersebut.
Hal ini juga dikonfirmasi dengan pedagang di sana. Salah satu pedagang yang ditemui di lantai 6 mengatakan lantai 6-7 memang akan dijual produk-produk baju bekas impor. Dia sendiri menjual produk bekas impor asal China dan Taiwan.
"Iya ini (baju bekas) dari China, Taiwan. Ada yang Rp 35.000, ada yang Rp 100.000, tergantung kualitasnya biasanya ada noda dan lain-lain," katanya pada detikcom.
Dia menjual produk-produk baju bekas, seperti kemeja, blouse, celana. Meski begitu, dia bilang tidak hanya menjual pakaian, tapi juga sepatu wanita. Khusus untuk wanita, dia menyebut produknya baru.
Senada, seorang pedagang di lantai 7 mengatakan pusat thrifting memang di lantai 6 dan 7. Sayangnya, belum banyak kios yang buka lantaran pusat belanja tersebut masih terbilang baru.
"Baru sebulan dari Juni kemarin, baru buka. Ini thrifting ya thrifting nggak bisa tahu dari mana, ada yang dari China, Jepang, Taiwan," katanya kepada detikcom.
Saat ditemui di lokasi, ada karyawan yang juga sedang melakukan live TikTok. Selain berdagang secara offline, dia mengaku memang berjualan secara online. Dia menjual berbagai jenis produk pakaian, mulai dari blazer, blouse, celana pendek, rok, hingga jaket perempuan.
Untuk jam operasionalnya sendiri, dia bilang mula dari jam 06.00 sampai jam 17.00 WIB. Namun, dia sendiri biasanya buka toko pukul 10.00 WIB atau 13.00 WIB.
Selain baju impor bekas, ada juga baju impor baru yang didatangkan dari luar. Salah satu karyawan kios yang tak ingin disebutkan namanya menyebut pihaknya menjual berbagai macam produk mulai dari pakaian pria hingga pakaian wanita.
Khusus pakaian pria, dia menyebut mengambil dari konveksi lokal dan dijual secara grosiran. Rata-rata harganya pun Rp 65.000- Rp 75.000 per potong.
Namun, untuk pakaian wanita pihaknya menjual dengan harga Rp 100.000 dapat 3 potong. Dia bilang semua produk pakaian wanita itu baru dan berasal dari luar.
"Ini lokal (pakaian pria), ada pakaian perempuan dari luar juga. Kalau luar dari China," katanya saat ditemui detikcom.
Senada, karyawati salah satu kios di lantai 3 menyebut dia menjual produk pakaian perempuan baru dari Bangkok. Namun, pihaknya baru dapat menjual secara grosiran.
"Baru, ini dari Bangkok. Harganya jauh lebih murah cuma Rp 80.000 aja," ujarnya.
(kil/kil)