Agroforestri-Paludikultur: Masa Depan Lahan Gambut dan Ketahanan Pangan - kumparan.com

Agroforestri-Paludikultur: Masa Depan Lahan Gambut dan Ketahanan Pangan - kumparan.com

Praktik paludikultur dan agroforestri di lahan gambut berpotensi menjawab tantangan di sektor pertanian dan dapat mewujudkan ketahanan pangan. #userstory

(Kumparan.com) 09/07/24 16:22 10214423

Pertumbuhan jumlah penduduk dan berkurangnya lahan subur mengancam ketahanan pangan global. Perubahan iklim memperburuk keadaan ini, dengan sektor pertanian menjadi yang paling terdampak. Hal ini juga mengancam mata pencaharian masyarakat pedesaan yang bergantung pada pertanian.

Produksi pangan Indonesia tahun 2020 belum mampu memenuhi kebutuhan 270 juta penduduk. Populasi penduduk dunia akan terus bertambah dan diperkirakan mencapai 311 juta pada tahun 2050, sehingga sangat penting mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan untuk mewujudkan ketahanan pangan. Di tengah kelangkaan lahan subur, lahan gambut menjadi alternatif pilihan yang menjanjikan untuk meningkatkan produksi pangan.

Lahan gambut merupakan solusi potensial untuk meningkatkan produksi pangan dan telah lama dimanfaatkan untuk perluasan areal pertanian. Masyarakat adat seperti suku Dayak dan suku Melayu telah lama mempraktikkan pertanian di lahan gambut dalam skala kecil. Namun, tantangan kondisi fisik lahan seperti tanah yang masam, terbatasnya unsur hara, dan lahan yang basah membuat pengelolaan air yang baik menjadi kunci agar lahan ini layak untuk pertanian.

Secara alami, lahan gambut rentan akan kerusakan. Praktik pengelolaan lahan yang tidak tepat seperti pengeringan lahan gambut yang berlebihan dapat mengakibatkan berbagai masalah seperti kebakaran hutan, kekeringan, banjir, penurunan tanah, konflik sosial, dan emisi gas rumah kaca. Hal ini pada akhirnya dapat menyebabkan degradasi lahan gambut.

Untuk mengatasi tantangan ini, praktik inovatif seperti agroforestridan paludikultur mulai dikembangkan di lahan gambut.

Agroforestri adalah sistem pengelolaan lahan yang mengintegrasikan tanaman pohon atau berkayu, tanaman pertanian, dan/atau peternakan dalam satu area. Sistem ini meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Selain itu, agroforestri juga mendukung restorasi lahan gambut dan meningkatkan keanekaragaman hayati.

Paludikultur, yang berarti pertanian di lahan basah, melibatkan penggunaan lahan gambut yang basah. Pendekatan ini menjaga kondisi alami lahan gambut dengan mengelola air secara terkontrol untuk mencegah kerusakan. Tanaman yang cocok untuk ditanam pada kondisi lahan yang basah dipilih agar lahan tetap produktif dan ekonomis.

Di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, kelapa merupakan komoditas penting di lahan gambut. Kabupaten Indragiri Hilir terkenal sebagai pusat utama produksi kelapa dengan luas perkebunan kelapa mencapai 351.526 hektar pada tahun 2019.

Produksi kelapa mencapai 310 ton per tahun, menjadikan daerah tersebut sebagai produsen kelapa terbesar di Indonesia dan dunia dengan nilai ekspor mencapai lebih dari USD 1,3 miliar pada tahun 2018. Selain berperan penting dalam ekonomi lokal, kelapa juga memiliki nilai kultural yang kuat bagi masyarakat setempat.

Kelapa tumbuh baik di lahan gambut yang basah, seperti yang terdapat di Indragiri Hilir. Tidak seperti pertanian di lahan gambut pada umumnya yang membutuhkan pengeringan lahan agar tanaman dapat hidup di lahan basah, pertanian kelapa di Pulau Burung, Indragiri Hilir, menggunakan sistem \'Trio Tata Air\'. Sistem ini melibatkan kanal untuk mengatur air, sebagai tempat cadangan air, mendukung kegiatan pertanian, dan mencegah kebakaran. Tujuannya untuk menjaga air tetap dekat dengan permukaan tanah. Pendekatan ini sejalan dengan konsep paludikultur, yang menanam tanaman di lahan gambut tanpa mengeringkan lahan gambut.

Selain kelapa sebagai komoditas utama, praktik agroforestri kelapa di lahan gambut sudah lama diterapkan oleh masyarakat setempat. Petani menggabungkan budidaya kelapa dengan tanaman lain seperti pisang, nanas, pinang, singkong, kopi liberika, dan tanaman hortikultura. Pemilihan penanaman komoditas tanaman selain kelapa didasarkan dengan permintaan pasar lokal terhadap komoditas tertentu.

Dengan memanfaatkan jarak tanam yang lebar antara pohon kelapa, petani dapat menanam tanaman lain yang lebih cepat panen dan menghasilkan pendapatan tambahan selagi menunggu panen kelapa. Praktik agroforestri meningkatkan produktivitas lahan, stabilitas pendapatan, dan ketahanan pangan.

Mengadopsi sistem agroforestri-paludikultur di perkebunan kelapa dapat meningkatkan ketahanan pangan masyarakat di sekitar lahan gambut. Meski menjanjikan, penggabungan paludikultur dan agroforestri menghadapi tantangan sosial dan lingkungan pada masyarakata setempat. Investasi awal untuk bibit, pupuk, dan sumber daya lainnya dapat menjadi hambatan bagi petani skala kecil.

Program pendidikan, pelatihan, dan pendampingan bagi petani sangat penting untuk menginformasikan lebih luas mengenai manfaat dari agroforestri kelapa. Dukungan finansial dan subsidi sarana produksi pertanian (saprotan) dapat memberdayakan petani untuk mengadopsi praktik ini. Dengan mengatasi tantangan ini, Indonesia dapat memanfaatkan sumber daya lahan gambutnya yang luas untuk memastikan masa depan pertanian yang berkelanjutan dan mewujudkan ketahanan pangan.

Pemanfaatan inovatif lahan gambut melalui paludikultur dan agroforestri dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk tantangan ketahanan pangan global. Dengan merestorasi dan memanfaatkan lahan gambut secara produktif, Indonesia dapat meningkatkan produksi pangan, mendukung komunitas lokal, dan menjaga kelestarian ekologi. Perjalanan menuju pertanian berkelanjutan di lahan gambut tidak hanya tentang memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga tentang memastikan masa depan keberlanjutan lahan gambut bagi generasi mendatang.

#pertanian #lingkungan #kelapa #perkebunan #petani

https://kumparan.com/safira-1720332971114348804/agroforestri-paludikultur-masa-depan-lahan-gambut-dan-ketahanan-pangan-235bLPjmUt0