Tak Perlu Mom-Shaming, Ini Cara Memberi Tahu Ibu Bahaya Makanan Full Karbohidrat untuk Anak
Cara memberi tahu ibu yang masih memberikan makanan full karbohidrat kepada anaknya tidak perlu dengan menghakiminya. Begini caranya.
(Kompas.com) 11/07/24 16:31 10431395
JAKARTA, KOMPAS.com – Pengetahuan masyarakat Indonesia tentang gizi keluarga dianggap masih kurang memadai.
Tidak heran, masih ada ibu di Indonesia yang memberikan makanan yang hanya berisi karbohidrat pada anaknya, baik untuk sarapan maupun bekal sekolah.
Padahal, anak memerlukan asupan gizi lainnya agar pertumbuhannya lebih optimal, seperti protein, lemak sehat, vitamin, mineral, dan serat.
Namun, ibu yang masih belum paham akan pentingnya asupan bergizi lengkap bagi anak tidak perlu dipernalukan atau mom-shaming.
Mom-shaming adalah tindakan mengkritik atau mempermalukan seorang ibu terkait cara dia membesarkan anaknya.
Biasanya, kritik yang dituturkan tidak membangun dan justru berdampak pada kesehatan fisik dan mental ibu.
Ahli gizi masyarakat DR.dr. Tan Shot Yen, M.hum mengatakan, lingkungan sekitar seperti keluarga inti atau tetangga bisa membantu mengedukasi ibu terkait asupan gizi yang tepat bagi anak.
“Kita harus membuat posyandu remaja dan posyandu balita yang betul-betul berfungsi,” ujar dia kepada Kompas.com, Selasa (9/7/2024).
Posyandu tidak akan berfungsi jika warga setempat tidak aktif berkunjung. Padahal, posyandu memiliki banyak informasi seputar kehamilan dan pengurusan anak.
Untuk mengetahui apakah anak terindikasi stunting, serta memperbaiki asupna gizinya, para ibu bahkan bisa mengunjungi posyandu.
“Karena dari situ (posyandu), para ibu mendapatkan pendidikan awal tentang apa yang seharusnya diberikan kepada anaknya. Betul, tinggal si ibu ada kesadaran dan kemauan untuk edukasi diri sendiri,” kata d. Tan.
Belajar bersama
Dok. Shutterstock/Auttapol Tatiyarat Ilustrasi ibu dan anak.Sebab, Tan menuturkan, saat ini sudah banyak ibu yang enggan belajar melalui buku atau informasi resmi yang diperoleh dari tenaga profesional terkait.
“Orangtua zaman sekarang itu tidak belajar dari, misalnya, buku-buku yang bermutu. Tidak belajar dari informasi yang official. Belajarnya dari TikTok, Google, dan YouTube yang isinya adalah iklan (produk ultra-processed food), yang dipasarkan secara gila-gilaan di Indonesia,” ungkap dia.
Kurangnya edukasi tentang asupan gizi lengkap membuat beberapa ibu di Indonesia menganggap bahwa makanan berprotein, yang mana sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang anak, lebih mahal daripada makanan berkarbohidrat.
Padahal, hanya mengonsumsi karbohidrat hanya membuat anak merasa kenyang dan penuh energi. Namun, asupan gizi lainnya yang diperlukan untuk tumbuh dan berkembang tidak terpenuhi.
“Makanya (ada peran) kewajiban pemerintah dalam membuat makanan sehat itu, bahan pangan itu, affordable dan available. Bisa terjangkau,” tegas dr. Tan.
#karbohidrat #wellness #bekal-anak #bekal-anak-sekolah #mom-shaming #bekal-mie-dan-nasi