Bisakah Bakteri di Mumi Mesir Kuno Timbulkan Wabah Penyakit?
Sejumlah penyakit menular ada di zaman Mesir kuno, adakah kemungkinan bakteri ini menjadi wabah ribuan tahun kemudian? Halaman all
(Kompas.com) 12/07/24 12:35 10524033
KOMPAS.com - Masyarakat Mesir kuno tidak asing dengan penyakit, dan penelitian menunjukkan bahwa mereka terkena sejumlah penyakit menular, termasuk cacar, tuberkulosis, dan kusta.
Misalnya Ramses V, firaun keempat dari dinasti ke-20 Mesir yang terjangkit penyakit cacar.
Ini dibuktikan dengan bekas luka cacar yang membekas di tubuhnya yang menjadi mumi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memang secara resmi mendeklarasikan penyakit cacar diberantas di seluruh dunia pada tahun 1980 tapi mungkinkah ribuan tahun kemudian mumi yang baru ditemukan dapat mengeluarkan penyakit cacar atau penyakit lain dari tubuh mereka?
Mengutip Live Science, Selasa (9/7/2024) Piers Mitchell, direktur Laboratorium Parasit Kuno Universitas Cambridge dan peneliti senior di Departemen Arkeologi mengatakan hal itu tidak mungkin terjadi.
“Sebagian besar spesies parasit mati dalam satu atau dua tahun tanpa adanya inang hidup. Sehingga jika lebih dari 10 tahun semuanya akan mati," kata Mitchell.
Contohnya saja, menurut Pusat Informasi Bioteknologi Nasional di Perpustakaan Kedokteran Nasional di Institut Kesehatan Nasional (NIH) virus cacar hanya dapat berkembang biak di dalam sel inang yang hidup.
Bakteri penyebab tuberkulosis dan kusta juga membutuhkan inang hidup untuk bertahan hidup.
Cacar juga menyebar melalui sentuhan dari kontak orang ke orang, sedangkan tuberkulosis dan kusta biasanya menyebar melalui tetesan dari hidung dan mulut, biasanya melalui bersin atau batuk.
Dalam kasus kusta, dibutuhkan kontak yang lebih lama dengan penderita agar penyakitnya dapat menyebar.
Hal ini karena dua spesies bakteri penyebab penyakit ini, yang dikenal sebagai Mycobacterium leprae dan Mycobacterium lepromatosis bereplikasi secara lambat.
Faktor lain yang mengurangi kemungkinan seseorang tertular penyakit dari mumi adalah degradasi DNA seiring berjalannya waktu.
“Dengan analisis, Anda dapat menemukan bahwa semua potongan DNA parasit ini agak pendek,” kata Mitchell.
Alih-alih menjadi rantai DNA yang bagus, panjang, dan sehat, mereka hanya memiliki sekitar 50 hingga 100 pasangan basa.
"Sepertinya semua terpotong-potong dan itu karena DNA mengalami degradasi dan penguraian. Tidak ada yang dapat bertahan setelah DNA-nya hancur sehingga tidak ada bakteri yang berkembang," terang Mitchell.
Namun, beberapa cacing usus parasit yang didistribusikan melalui tinja hidup lebih lama dibandingkan organisme lain dan tidak semuanya memerlukan inang hidup untuk bertahan hidup.
Meski begitu, hal tersebut juga bukan kekhawatiran besar.
“Mungkin bisa bertahan selama beberapa bulan atau terkadang beberapa tahun, namun tidak ada satupun yang dapat bertahan hingga ribuan tahun. Sebagian besar parasit mati ketika inangnya mati karena mereka tidak punya cara untuk bertahan hidup,” tambah Mitchell.
#bakteri #mumi #mesir-kuno #bakteri-di-mumi-mesir-kuno-timbulkan-wabah-penyakit