Manusia Menerima Amanat dari Allah, Bagaimana dengan Gunung?

Manusia Menerima Amanat dari Allah, Bagaimana dengan Gunung?

Allah menawarkan amanat kepada manusia dan gunung.

(Republika) 21/07/24 15:21 11556096

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Dikisahkan awalnya Allah SWT menawarkan amanat atau tugas keagamaan kepada bumi, langit dan gunung-gunung. Akan tetapi mereka tidak mau memikul amanat tersebut karena tidak siap menanggung risikonya. Kemudian, Allah SWT tawarkanlah amanat tersebut kepada manusia yang berpotensi dan mau menerimanya.

Maka Alquran telah memberikan dorongan kepada manusia untuk menunaikan amanah. Nabi Muhammad SAW menyampaikan kepada umatnya bahwa tunaikanlah amanah kepada orang yang menaruh kepercayaan kepada kamu dan jangan berkhianat.

Hal ini dijelaskan dalam Surat Al-Ahzab Ayat 72 yang menjelaskan bahwa gunung-gunung yang kokoh pun khawatir tidak sanggup menunaikan amanat dari Allah SWT, tapi manusia karena kebodohannya mau menanggung amanat tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta\'ala berfirman:

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ

Innā ‘araḍnal-amānata ‘alas-samāwāti wal-arḍi fa abaina ay yaḥmilnahā wa asyfaqna minhā wa ḥamalahal-insān(u), innahū kāna ẓalūman jahūlā(n).

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh. (QS Al-Ahzab Ayat 72)

Penjelasan tafsir ayat tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah telah menawarkan tugas-tugas keagamaan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Karena ketiganya tidak mempunyai persiapan untuk menerima amanat yang berat itu, maka semuanya enggan untuk memikul amanat yang ditawarkan Allah SWT itu.

Kemudian amanat untuk melaksanakan tugas-tugas keagamaan itu ditawarkan kepada manusia dan mereka menerimanya dengan konsekuensi barang siapa yang melaksanakan itu akan diberi pahala dan dimasukkan ke dalam surga. Sebaliknya, barang siapa yang mengkhianatinya akan disiksa dan dimasukkan ke dalam api neraka.

Walaupun bentuk badannya lebih kecil dibandingkan dengan ketiga makhluk yang lain (langit, bumi, dan gunung-gunung), manusia berani menerima amanat tersebut karena manusia mempunyai potensi. Tetapi, karena pada diri manusia terdapat ambisi dan syahwat yang sering mengelabui mata dan menutup pandangan hatinya, Allah menyifatinya dengan amat zalim dan bodoh karena kurang memikirkan akibat-akibat dari penerimaan amanat itu. (Tafsir Kementerian Agama)

Tiga Jenis Amanah

Imam Ar-Razy berkata, “Ketahuilah, bahwasanya muamalah seseorang ada tiga. Muamalah dengan Rabb-nya, dengan sesama hamba (manusia), ataupun dengan dirinya sendiri. Sikap amanah harus tetap dilakukan dalam ketiga bagian tersebut.”

1. Amanah Kepada Allah SWT

Amanah kepada Allah SWT dilakukan dengan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Manusia itu tidak diciptakan, kecuali untuk beribadah kepada Allah serta mentauhidkan-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta\'ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya‘budūn(i).

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (QS Az-Zariyat Ayat 56)

2. Amanah Kepada Sesama Manusia

Amanah kepada sesama hamba (manusia) adalah mengakui semua hak orang-orang yang memilikinya, menjaga hak-hak tersebut untuk mereka, dan menyampaikan hak-hak tersebut kepada mereka tanpa dikurangi. Pada kehidupan manusia, hak-hak ini memiliki bentuk yang bermacam-macam dan setiap bentuk memiliki amanah yang sesuai dengannya.

Contohnya, amanah dalam bentuk harta yang berupa titipan. Bentuk amanahnya, menjaganya dan menyampaikannya kepada pemiliknya. Contoh lain, meninggalkan perilaku curang dalam timbangan dan takaran. Bentuk amanahnya, meniadakan kecurangan dalam timbangan dan takaran.

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Siapapun yang menjual suatu barang yang ada aibnya (cacatnya) namun ia tidak menjelaskannya, maka ia selalu berada dalam kemurkaan Allah dan malaikat selalu melaknatnya.” (HR Ibnu Majah)

3. Amanah Kepada Diri Sendiri

Seluruh anggota badan kita merupakan amanah. Mata, telinga, mulut, perut, hidung, tangan, kaki berikut apa yang ada di antara keduanya, seluruh anggota badan yang nampak, serta apa yang telah kita kerjakan, semuanya adalah amanah yang ada dipundak kita.

Apabila kita menyibukkan anggota badan tersebut dengan menaati Allah SWT, berarti kita telah menunaikan amanah.

Namun, jika kita tercebur dalam kemaksiatan dan berjalan tanpa petunjuk dalam kegelapan, ketahuilah kita telah berkhianat pada diri kita sendiri.

Diri kita adalah kepunyaan Pencipta kita yakni Allah SWT. Sehingga, kita tidak punya hak untuk mengarahkan diri kita kepada apa saja yang kita inginkan, juga tidak punya hak membunuh diri atau memutus salah satu anggota tubuh. Di samping itu, kita juga tidak punya hak memakan makanan atau minuman yang bisa membahayakan badan.

Allah Subhanahu wa Ta\'ala berfirman:

يَّوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ اَلْسِنَتُهُمْ وَاَيْدِيْهِمْ وَاَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Yauma tasyhadu ‘alaihim alsinatuhum wa aidīhim wa arjuluhum bimā kānū ya‘malūn(a).

pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS An-Nur Ayat 24)

#gunung-dalam-alquran #gunung-gede #amanat #allah #manusia #tafsir-alquran #islam

https://iqra.republika.co.id/berita/sgyskk430/manusia-menerima-amanat-dari-allah-bagaimana-dengan-gunung