Deflasi Pangan Berlanjut, Gubernur BI: Kan Tambah Sejahtera Rakyatnya..

Deflasi Pangan Berlanjut, Gubernur BI: Kan Tambah Sejahtera Rakyatnya..

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan, komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau terus mengalami deflasi secara bulanan (month to month. Halaman all

(Kompas.com) 02/08/24 15:44 13151059

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai, deflasi komoditas kelompok pangan yang terjadi dalam kurun waktu 4 bulan terakhir merupakan fenomena yang positif bagi masyarakat.

Sebagai informasi, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan, komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau terus mengalami deflasi secara bulanan (month to month/month) sejak April hingga Juli 2024.

Teranyar, pada Juli 2024, deflasi pangan mencapai 0,97 persen secara mtm, lebih dalam dari Juni 2024 yang mencapai 0,49 persen secara mtm.

SHUTTERSTOCK/HADAYEVA SVIATLANA Ilustrasi deflasi.

"Kalau inflasi pangannya turun, kan tambah sejahtera rakyatnya. Kan pangan itu sebagian besar untuk rakyat," kata Perry, dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), di Equity Tower, Jakarta, Jumat (2/8/2024).

Lebih lanjut Perry bilang, tren deflasi pangan yang terjadi selama beberapa bulan terakhir merupakan hasil dari upaya pengendalian inflasi yang telah dilakukan pemerintah bersama bank sentral.

Tren deflasi pun sebenarnya terjadi setelah komoditas pangan terus mengalami inflasi sejak September 2023 hingga Maret 2024.

"Dan Alhamdulillah ini dalam beberapa bulan, bahkan kemarin terjadi deflasi," ujarnya.

Terkait dengan indeks harga konsumen (IHK) yang secara keseluruhan mengalami deflasi selama 3 bulan berturut-turut, hingga mencapai 0,18 persen secara mtm pada Juli 2024, Perry enggan menyatakan hal itu disebabkan oleh pelemahan daya beli masyarakat.

Pasalnya komponen inflasi inti terus tercatat naik, di mana pada Juli 2024 mencapai 0,18 persen secara mtm.

SHUTTERSTOCK/LEONID SOROKIN Ilustrasi inflasi.

Perry menjelaskan, komponen inti menunjukan sisi permintaan masyarakat, sehingga inflasi yang masih terjadi menunjukan permintaan yang terjaga.

"Inflasi inti ada gerakan naik, berarti permintaan naik," kata dia.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, deflasi yang terjadi selama 3 bulan berturut-turut menjadi "alarm" tersendiri bagi perekonomian Indonesia.

Pasalnya, momen musiman deflasi seharusnya hanya terjadi pada periode pasca Lebaran setiap tahunnya.

"Deflasi justru tunjukkan ada yang tidak beres dari geliat ekonomi khususnya paska Lebaran," ujar dia, kepada Kompas.com, Kamis (1/8/2024).

Menurutnya, deflasi yang terjadi sejak Mei lalu menandakan adanya pelemahan daya beli masyarakat. Ia bilang, pelemahan daya beli utamanya dirasakan oleh kelompok menengah.

"Indikator pelemahan daya beli kelas menengah bisa terlihat dari penurunan penjualan kendaraan bermotor, NPL (non performing loan atau rasio kredit bermasalah) KPR (kredit pemilikan rumah) naik, dan tabungan perorangan yang tumbuhnya melambat," tutur Bhima.

Bukan hanya pelemahan daya beli masyarakat, Bhima menyebutkan, deflasi juga berpotensi berdampak buruk terhadap pelaku usaha.

Pasalnya, deflasi juga mengindikasikan, pelaku usaha menahan kenaikan harga di level konsumen.

"Khawatir harga ritel naik banyak konsumen yang tidak sanggup dan menurunkan omzet penjualan," kata Bhima.

#deflasi #daya-beli-masyarakat #pelemahan-daya-beli #pengendalian-inflasi #inflasi

http://money.kompas.com/read/2024/08/02/154422626/deflasi-pangan-berlanjut-gubernur-bi-kan-tambah-sejahtera-rakyatnya