Hadapi Persaingan Produk Impor, Asosiasi Minta Bahan Baku Plastik Dalam Negeri Tidak Diproteksi Halaman all
Maraknya produk plastik impor membanjiri pasar dalam negeri saat ini merupakan tantangan yang dihadapi industri hilir. Halaman all
(Kompas.com) 05/08/24 08:03 13344738
JAKARTA, KOMPAS.com - Maraknya produk plastik impor membanjiri pasar dalam negeri saat ini merupakan tantangan yang dihadapi industri hilir.
Juru bicara Forum Lintas Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia (FLAIPHI) Henry Chevalier menilai, industri hilir perlu mempersiapkan diri menghadapi tantangan tersebut.
“Untuk bersaing dengan produk jadi plastik impor, industri hilir harus juga mampu memproduksi dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan harga produks jadi impor. Kalau tidak, impor produks jadi, baik secara legal maupun ilegal tetap akan membanjiri pasar dalam negeri,” kata Henry dalam keterangan resmi, Senin (5/8/2024).
SHUTTERSTOCK/NUAMFOLIO Ilustrasi impor.Dia mengatakan, kunci untuk bisa memproduksi produk jadi dengan daya saing tinggi adalah bahan baku plastik di dalam negeri yang harus lebih murah dibandingkan dengan harga BBP di negara pesaing.
Henry menilai, pemerintah tidak perlu lagi memberikan proteksi karena proteksi ini hanya akan berdampak pada mahalnya bahan baku plastik di dalam negeri.
Dia juga mengingatkan, industri hulu sampai saat ini masih mendapatkan perlindungan dari pemerintah sejak tahun 2009 yaitu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 19 Tahun 2009 yang di dalamnya mengatur Bea Masuk terhadap Bahan Baku Plastik yang diimpor dari negara non-FTA dengan tarif bea masuk antara 10 sampai 15 persen.
Menurut Henry, terbitnya Permendag Nomor 36/2023 khusus untuk 12 HS Code ini, sudah direvisi sebanyak 3 kali yaitu menjadi Permendag Nomor 3 Tahun 2024, Permendag Nomor 7 Tahun 2024 dan Permendag Nomor 8 Tahun 2024 sudah cukup baik.
“Karena, tujuan utamanya adalah memberi perlindungan kepada industri barang jadi plastik dalam negeri, sesuai dengan semangat pemerintah yaitu hilirisasi,” ungkapnya.
“Jika pemerintah ingin melakukan hilirisasi, syarat utamanya adalah ketersediaan bahan baku yang akan diolah diproses oleh Industri hilir dengan harga yang murah atau setidaknya sama dengan harga dari negara pesaing,” tambahnya.
Shutterstock/Danza Ilustrasi kursi plastik putih.Henry bilang, kalau utilisasi industri plastik hilir meningkat, maka akan meningkatkan kebutuhan bahan baku plastik, yang seharusnya menjadi berita baik untuk industri hulu.
Ketua Umum Gabungan Industri Aneka Tenun Plastik Indonesia (GIATPI) Totok Wibowo mengatakan, untuk bersaing dengan produk jadi plastik impor, industri hilir harus mampu memproduksi dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan harga produksi jadi impor.
“Kalau tidak, impor produksi jadi, baik secara legal maupun ilegal tetap akan membanjiri pasar dalam negeri. Tinggal industri hulunya apakah mampu memanfaatkan sinyal positif ini dengan memberikan harga yang bersaing dengan harga BBP impor atau tidak,” ungkap Totok.
"Kalau ternyata harga yang ditawarkan lebih mahal dibanding dengan harga BBP impor, jangan disalahkan kalau industri hilir plastik akan menggunakan BBP impor," tambah dia.
Totok menambahkan, saat ini industri hilir mempekerjakan 700.000 karyawan. Untuk bisa bersaing dengan produk jadi impor industri hulu harus kuat secara modal, teknologi dan efisiensi biaya.
Jika sebaliknya, maka akan terjadi deindustrialisasi dan menimbulkan pengangguran masal.
Kedua, bila pemerintah akan memberikan insentif agar hulu juga berkembang sebaiknya berupa incentive yang non tarif. Contohnya, pengurangan pajak untuk periode tertentu tapi harus diimbangi dengan pembaruan teknologinya.
“Untuk meningkatan daya saing produk jadi, yang harus diperbaiki lebih lanjut dari peraturan pengaturan impor saat ini adalah, khusus untuk produk jadi plastik yang terdiri dari sekitar 140 HS Code adalah ditingkatkan dari sekadar LS dan Post Border menjadi LS, PI dan Border,” jelasnya.
Adapun hal yang tidak kalah pentingnya lainnya adalah pengawasan secara ketat terhadap pemberian izin impornya dan ketepatan kode HS yang digunakan. Karena, banyak impor suatu produk jadi plastik yang tidak sesuai dengan kode HS.
#produk-plastik #hilirisasi #bahan-baku-plastik #plastik-impor