Kapasitas Pembangkit Naik, tapi Bauran EBT Masih Lambat
Pemerintah mengatakan perkembangan bauran EBT masih lambat. Halaman all
(Kompas.com) 05/08/24 14:15 13377995
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan kapasitas terpasang pembangkit listrik energi baru dan terbarukan (EBT) bertambah 217,73 mega watt (MW) hingga semester I-2024.
Realisasi penambahan itu sekitar 66,6 persen dari target tahunan yang sebesar 326,91 MW.
"Peningkatan kapasitas ini didominasi oleh pembangkit listrik tenaga hidro dan pembangkit listrik tenaga surya," ujar Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam keterangan tertulis, Senin (5/8/2024).
PLT hidro berhasil mencapai 66,4 persen dari target, sementara PLT surya melampaui target dengan capaian 147,02 persen. Sementara PLT panas bumi belum mencapai target, namun sektor EBT lainnya seperti bioenergi menunjukkan perkembangan dengan mencapai 43,2 persen dari target.
Arifin menambahkan, meski ada penambahan, namun bauran EBT masih relatif lambat, diperkirakan hanya sekitar 13-14 persen pada 2025, dari target mencapai 23 persen.
"Penyebabnya karena infrastruktur kita, dan juga masih ada bottleneck," kata dia.
Maka dari itu keterbatasan infrastruktur dan regulasi yang belum sepenuhnya mendukung pengembangan EBT, menjadi tantangan utama yang harus diatasi.
"Program-program untuk mendorong demand harus kita lakukan. Contohnya Electric Vehicle (EV) terus dikebut dan kemudian PLTS untuk industri dan perumahan harus bisa di dorong," jelasnya.
Di tengah tantangan tersebut, Seiring dengan peningkatan kapasitas terpasang, investasi di sektor EBT juga meningkat.
Hingga akhir Juni 2024, realisasi investasi mencapai 565 juta dollar AS atau sekitar 45,9 persen dari target tahunan sebesar 1,232 miliar dollar AS. Sektor panas bumi dan aneka EBT menjadi penyumbang terbesar dalam investasi ini.
Tercatat, panas bumi telah menyumbangkan ke kas negara sebesar 64 juta dollar AS. Di susul aneka EBT 512 juta dollar AS, bioenergi 64 juta dollar AS, dan konservasi energi 16 juta dollar AS.
Menurut Arifin, peningkatan investasi ini didorong berbagai faktor, antara lain kebijakan pemerintah yang mendukung pengembangan EBT, potensi pasar yang besar, serta kesadaran masyarakat akan pentingnya energi bersih.
Di sisi lain, pengembangan pembangkit EBT juga berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 123,22 juta CO2. Dengan semakin banyaknya energi yang dihasilkan dari EBT, maka emisi CO2 dari sektor energi dapat ditekan secara signifikan.