Fenomena Calon Tunggal Pilkada 2024, Bawaslu Diminta Pastikan Tak Ada Praktik Jual Beli Pencalonan
Pengamat politik Ray Rangkuti minta Bawaslu turun selidiki potensi jual beli pencalonan di daerah yang muncul hanya calon tunggal pada Pilkada 2024 Halaman all
(Kompas.com) 09/08/24 17:51 13938975
JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Indonesia, Ray Rangkuti mengusulkan kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) agar meneliti perihal fenomena meningkatnya pasangan calon (paslon) tunggal pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024.
Pasalnya, Ray Rangkuti mengatakan, potensi peningkatan calon tunggal pada Pilkada 2024 terjadi karena rekayasa atau bukan alami.
Dia pun mencontohkan bahwa ada sosok potensial dengan elektabilitas tinggi tetapi tidak diusung oleh partai politik (Parpol) sebagai bakal calon kepala daerah. Tetapi, parpol malah berkumpul mengusung sosok yang elektabilitasnya tidak sampai 10 persen.
“Ada calon yang 10 persen kok bisa parpol ramai-ramai ke situ (mendukung). Sedangkan yang paling tinggi ada sampai 40 persen (elektabilitas). Ada apa, apa yang dijanjikan kok partai berkumpul di situ,” ujar Ray dalam diskusi dengan tema “Kotak Kosog Merajalela, Kaum Oligarki Pestapora”, dikutip dari kanal YouTube Vinus Forum, Jumat (9/8/2024).
Menurut dia, Bawaslu seharusnya bisa menyelidiki guna memastikan tidak ada praktik jual beli kursi dalam proses pencalonan kepala daerah tersebut.
“Saya mengusulkan (ke bawaslu) calon tunggal di daerah yang kelihatan by rekayasa itu perlu diseldiki kenapa. Bawaslu punya tugas untuk memastikan tidak ada praktik jual beli kursi di dalam pencalonan,” kata Ray.
Meskipun, Ray mengatakan bahwa kemungkinan Bawaslu akan sulit masuk apabila tidak terkait dengan politik uang. Pasalnya, dugaan munculnya calon tunggal lebih karena rekayasa politik.
Lebih lanjut, Ray mengatakan, fenomena peningkatan paslon tunggal melawan kotak kosong pada Pilkada 2024 merupakan konsekuensi dari strategi pemenangan partai politik.
“Tren Pilkada 2024, kotak kosong versus calon tunggal disebabkan faktor rekayasa bukan alami. Bagian strategi pemenangan, memborong parpol mendukung satu kandidat sehingga kandidat ini dipastikan menang,” ujarnya.
Dia pun mengatakan, strategi memenangkan pilkada dengan paslon tunggal melawan kotak kosong memang paling ampuh. Sebab, sejarah mencatat bahwa paslon tunggal tersebut pasti menang.
“Setelah diteliti, 98 persen calon tunggal lawan kotak kosong pasti menang. Kejadian yang meleset cuma satu di Makassar (pemilihan wali kota di Makassar tahun 2018). Jadi, hampir dipastikan calon tunggal lawan kotak kosong pasti menang dan kemenangannya di atas 60 persen. Makanya menggiurkan,” kata Ray.
Sebelumnya, Visi Nusantara Maju (Vinus) Indonesia mencatat fenomena peningkatan paslon tunggal pada Pilkada sejak 2015 hingga kemungkinan 2024.
Berdasarkan pemaparan Vinus Indonesia, pada Pilkada 2015, ada tiga pasangan calon (paslon) tunggal. Lalu, pada 2017, ada sembilan paslon tunggal.
Kemudian, pada Pilkada 2018, ada 13 paslon tunggal. Hingga pada Pilkada 2024, diperkirakan bakal ada 25 paslon tunggal.
#calon-tunggal #pilkada #pilkada-2024 #bawaslu #calon-tunggal-pilkada #kotak-kosong-pilkada