SMRC Nilai KIM Plus Tak Akan Berani Melawan Kotak Kosong Pada Pilkada Jakarta 2024

SMRC Nilai KIM Plus Tak Akan Berani Melawan Kotak Kosong Pada Pilkada Jakarta 2024

Saiful Mujani menilai Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus yang mengusung Ridwan Kamil pada Pilkada Jakarta tak berani melawan kotak kosong. Halaman all

(Kompas.com) 10/08/24 08:09 14011930

JAKARTA, KOMPAS.com - Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Prof. Saiful Mujani, menilai bahwa Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus yang mengusung Ridwan Kamil pada Pilkada Jakarta 2024 tidak akan berani melawan kotak kosong.

Hal itu ia sampaikan berkaca dari pemilihan Walikota (Pilwalkot) Makassar pada 2018 lalu. Saat itu, hanya ada satu pasangan calon (paslon) dalam Pilwalkot Makassar 2018, yakni Munafri Arifuddin dan Andi Rahmatika Dewi.

Paslon tunggal itu pun melawan kotak kosong, tetapi kalah karena hanya mengantongi suara sebanyak 264.245 atau 46,77 persen, sedangkan kotak kosong memperoleh suara sebesar 300.795 atau 53,23 persen.

"(Kenapa KIM Plus tidak berani melawan kotak kosong?) Satu adalah ada fakta di (Pilwalkot) Makassar, jangan sampai itu terulang. Akhirnya itu harus diulang lagi pilkadanya ketika kalah melawan kotak kosong," jelas Saiful dalam program Rosi di Kompas TV, Kamis (8/8/2024).

Menurut Saiful, warga di Makassar dengan warga di Jakarta memiliki kemiripan demografi.

Secara sosial, ekonomi, dan pendidikan, warga di Makassar dan Jakarta relatif lebih baik dari rata-rata warga Indonesia sehingga mereka cenderung kritis pada proses pilkada.

"Ini sebuah penghinaan (apabila warga Jakarta hanya diberi satu pilihan pada pilkada) dalam tanda kutip. Massa pemilih di Jakarta akan merasa ini sebuah penghinaan terhadap kita, terhadap kelas menengah, kelas atas, diberikan pilihan kotak kosong dan satu calon," jelas Saiful.

"Sehingga pemilih di Jakarta tidak punya kesempatan untuk memilih, at least dua calon manusia (pasangan calon pada Pilkada Jakarta) gitu ya," sambungnya.

Lebih lanjut, Saiful mengingatkan bahwa demokrasi atau pemilu itu pada dasarnya adalah persaingan antara manusia, bukan persaingan antara sebuah kotak kosong dengan manusia yang lain.

Karena itu, pemilih di Jakarta bisa protes apabila Pilkada Jakarta 2024 mendatang hanya diikuti calon tunggal yang melawan kotak kosong.

"Ini yang dikhawatirkan (pemilih di Jakarta memilih kotak kosong dan memenangkan kotak kosong). Ini dimungkinkan untuk dilakukan (pemilih di Jakarta memilih kotak kosong) dan sudah ada contohnya untuk dibuat seperti itu (seperti pada Pilwalkot Makassar 2018)," tutur Saipul.

Diberitakan sebelumnya, Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus yang kini telah sepakat mengusung Ridwan Kamil diprediksi bakal melawan kotak kosong pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Daerah Khusus Jakarta 2024.

KIM Plus merupakan koalisi partai politik yang beranggotakan anggota KIM ditambah partai politik di luar anggota KIM.

Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menyebut hal itu mungkin saja terjadi apabila Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bergabung dengan KIM Plus.

"Saya kira publik menganggap tiga partai di luar KIM dan PDI-P sangat mungkin berkoalisi dengan kubu KIM. Jika itu terjadi maka bisa dipastikan Pilkada Jakarta akan melawan kotak kosong," kata Adi dalam Obrolan Newsroom di Youtube Kompas.com, Selasa (6/8/2024).

Adi menilai sikap ketiga partai politik tersebut belakangan ini mulai berubah, terutama terkait dengan arah dukungan terhadap Anies Baswedan.

Nasdem, misalnya. Pernyataan Bendahara Umum Partai Nasdem Ahmad Sahroni yang mengatakan bahwa partainya belum tentu memberikan rekomendasi kepada Anies menjadi indikasi terjadinya perubahan sikap politik.

Perubahan yang sama juga terjadi di tubuh PKB yang sejak awal telah pasang badan mendukung Anies.

Namun, sikap tersebut belakangan ini berubah setelah PKS mengajukan sosok Sohibul Iman untuk menjadi calon pendamping Anies.

"PKB sekali pun paling awal menyatakan dukungan ke Anies, itu kan belakangan tidak terlalu ngotot, bahkan tidak happy ketika ada proposal politik dari PKS tentang duet Anies dan Sohibul Iman," ujar Adi.

Adi menambahkan, perubahan sikap juga terjadi pada PKS yang baru-baru ini memberikan batas waktu kepada Anies untuk bisa menjaring partai politik.

Menurutnya, adanya permintaan batas waktu tersebut menunjukkan perubahan dari sikap PKS terhadap Anies.

#ridwan-kamil #kotak-kosong #saiful-mujani #pilkada-jakarta-2024 #kim-plus #kotak-kosong-pilkada-jakarta

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/08/10/08094221/smrc-nilai-kim-plus-tak-akan-berani-melawan-kotak-kosong-pada-pilkada