Tiga Kelemahan yang Bisa Buat Anies Gagal Maju di Pilgub Jakarta 2024 Menurut Pengamat

Tiga Kelemahan yang Bisa Buat Anies Gagal Maju di Pilgub Jakarta 2024 Menurut Pengamat

Anies berpotensi tak diusung parpol manapun untuk maju di Pilgub Jakarta 2024.

(Republika) 13/08/24 09:09 14347029

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Bayu Adji P

Bakal calon gubernur (cagub) DKI Jakarta Anies Baswedan berpotensi gagal maju di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024. Pasalnya, partai-partai yang semula ingin mengusungnya kini mulai menunjukkan sikap menjauh.

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Ujang Komarudin menilai, ada tiga kelemahan mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Salah satunya adalah karena Anies bukan merupakan kader partai politik, yang notabene menjadi salah satu kendaraan untuk menjadi seorang kepala daerah.

"Karena dia bukan kader, mudah saja ditinggalkan. Karena tidak pernah berjuang di partai, tidak pernah membesarkan partai, tidak pernah berdarah-darah di partai juga, maka partai bisa kapanpun meninggalkan Anies," kata Ujang kepada Republika, Ahad (11/8/2024).

Selain itu, alasan kedua partai politik meninggalkan Anies adalah karena mantan calon presiden itu tak bisa mencari dukungan tambahan. Dalam kasus PKS, Anies dinilai tak dapat menggenapi syarat dukungan 22 kursi DPRD Provinsi DKI Jakarta untuk mengusung pasangan calon.

"PKS punya 18 kursi, Anies diminta untuk melengkapi empat kursi lagi agar bisa mengusung Anies-Sohibul, tapi karena tidak memenuhi sampai tenggat waktu, maka PKS meninggalkannya," ujar Ujang.

Alasan terakhir adalah karena Anies memiliki elektabilitas yang tinggi di Pilgub DKI Jakarta. Elektabilitas itu dinilai memiliki dua sisi mata uang. Di satu sisi, elektabilitas merupakan kelebihan, tapi di sisi lain juga menjadi kekurangan.

"Karena, orang banyak yang ingin menggagalkannya," kata Ujang.

Sebelumnya, Direktur Riset dan Komunikasi Lembaga Survei KedaiKOPI Ibnu Dwi Cahyo menilai posisi Anies Baswedan dalam Pilkada Jakarta semakin terdesak dengan kehadiran Koalisi Indonesia Maju (KIM) plus. Beberapa partai yang sebelumnya mendukung Anies, diperkiarakan akan bergabung ke KIM plus.

"Kondisi ini tentu tidak menguntungkan Anies dan bila terjadi, Ridwan Kamil (cagub yang dicalonkan KIM plus) melawan kotak kosong di Jakarta," kata Ibnu Dwi Cahyo dalam siaran pers yang diterima Antara, Rabu pekan lalu.

Ibnu melanjutkan, untuk memperkuat mesin politik Anies dalam pilkada Jakarta, PKS mempunyai peluang untuk berkoalisi dengan partai pemenang pemilu 2024 yakni PDIP. Koalisi inilah yang dianggap dapat menyelamatkan Anies ketika ingin melawan Ridwan Kamil yang didukung koalisi besar pemerintah.

"Tapi keduanya memang berbeda dari sisi ideologi. Namun jika PKS berkoalisi dengan PDIP untuk mengusung Anies, akan menjadi pembelajaran yang sangat baik bagi demokrasi kita saat ini," kata Ibnu.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) hingga kini masih belum menentukan sikap di Pilgub DKI Jakarta. Namun, partai berlogo kepala banteng itu berupaya agar tidak hanya ada satu pasangan calon yang diusung partai di Jakarta.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, ajang pilgub merupakan waktu untuk rakyat menentukan pemimpinnya. Namun, ada pihak yang khawatir dengan calon lainnya memiliki popularitas dan elektabilitas tinggi, terutama di Pilgub DKI Jakarta.

"Jadi ada yang tidak mau masuk ranah kontestasi yang sehat. Itu terjadi dan bisa dipandang dengan jelas oleh rakyat," kata Hasto, Ahad (11/8/2024).

Menurut dia, upaya untuk melakukan penjegalan kepada seorang calon sebelum bertanding akan mendapatkan perlawanan dari rakyat. Apalagi, suara rakyat sangat menentukan dalam sistem demokrasi.

"Setebal apapun bendungan kekuasaan itu dibangun, ketika kemerdekaan itu dipenjarakan, maka akan muncul daya gerak untuk melakukan koreksi. Itu yang diyakini dari seluruh pengalaman historis PDI Perjuangan," kata Hasto.

Ia menambahkan, PDIP juga melakukan pembahasan untuk menentukan calon yang akan diusung di Pilgub DKI Jakarta. Bahkan, PDIP juga menjalin komunikasi dengan Anies Baswedan.

"Ya dikomunikasikan. Kemarin Pak Anies misalnya datang ke pondok pesantren yang dipimpin oleh abah KH Syarif Hidayatullah. Ya beliau juga mengkomunikasikan," kata dia.

Sebelumnya, Hasto mengatakan, bahwa Anies sudah memiliki darah merah seperti warna kebesaran PDIP. Hal itu disampaikan Hasto saat ditanya soal peluang PDIP memerahkan Anies untuk Pilkada DKI Jakarta 2024.

"Ya darahnya sudah merah," kata Hasto di Bogor, Jawa Barat, Jumat pekan lalu.

Meski begitu, Hasto juga menyanjung nama Ridwan Kamil. Menurutnya, mantan gubernur Jawa Barat itu merupakan sosok yang mempunyai wawasan dan sangat historikal.

"Ya kalau Pak RK ini kan juga punya wawasan dan kesadaran historis yang bagus. Di Jawa Barat kan mencatat bagaimana dia juga menggelorakan Bung Karno ini sebagai bapak bangsa ini dengan monumen-monumen Bung Karno yang beliau buat," ujarnya.

Saat ditanya apakah PDIP berpeluang juga dukung RK di Jakarta, Hasto mengaku masih akan melihat dinamika.

"Ya kalau kita lihat suara arus bawah. Pak RK sendiri baru menyatakan akan ke Jakarta kan juga belum lama. Sehingga dinamika ini harus direspons dulu oleh rakyat, dan itulah yang akan ditangkap oleh PDI Perjuangan," jelas Hasto.

Di lain sisi, Hasto menilai yang terpenting dari itu semua adalah kontestasi pilkada bisa berjalan sehat.

"Sehingga yang penting adalah semua itu melalui proses kontestasi yang sehat. Itu yang diinginkan oleh PDI Perjuangan," tutupnya.

#anies-baswedan #pks-tinggalkan-anies #pks-batal-usung-anies #anies #pilgub-jakarta-2024 #pilkada-dki-jakarta #pdip #hasto-kristiyanto

https://news.republika.co.id/berita/si4wn6409/tiga-kelemahan-yang-bisa-buat-anies-gagal-maju-di-pilgub-jakarta-2024-menurut-pengamat