Wajah Baru Sektor E-Commerce, Fokus pada Strategi Jangka Panjang untuk Tumbuh Berkelanjutan

Wajah Baru Sektor E-Commerce, Fokus pada Strategi Jangka Panjang untuk Tumbuh Berkelanjutan

Para pelaku e-commerce mulai menerapkan strategi-strategi tepat agar bisa tumbuh berkelanjutan, dengan sedikit demi sedikit meninggalkan pola lama.

(Kompas.com) 15/08/24 16:41 14463342

KOMPAS.com – Sektor e-commerce di Asia Tenggara, tak terkecuali di Indonesia, masih berpeluang tumbuh di tengah gejolak perekonomian global akibat gangguan supply chain yang disebabkan konflik geopolitik.

Laporan e-Conomy SEA 2023 mencatat bahwa sektor e-commerce di Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh dengan total gross merchandise value (GMV) senilai 186 miliar dollar AS pada 2025. Angka ini naik 139 miliar dollar AS atau 33,8 persen jika dibandingkan 2023.

Proyeksi serupa juga terjadi di Indonesia dengan kenaikan GMV sebesar 15 persen, yakni dari 62 miliar dollar AS pada 2023 menjadi 82 miliar dollar AS pada 2025.

Pada 2030, e-commerce pun diprediksi akan tetap berkinerja positif dengan GMV lebih kurang 160 miliar dollar AS. Adapun GMV ekonomi digital Indonesia secara keseluruhan diproyeksikan tumbuh jadi 210 miliar dollar AS hingga 360 miliar dollar AS.

Optimisme di sektor e-commerce cukup beralasan. Selepas 2021, laporan McKinsey menyebutkan bahwa Indonesia menduduki peringkat kesembilan sebagai negara dengan nilai e-commerce terbesar di dunia. Tahun-tahun itu disebut McKinsey sebagai “booming Indonesia’s e-commerce market”.

Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga mengonfirmasi hal tersebut. E-commerce Indonesia menyumbang 40 persen atau 77 miliar dollar AS pada pangsa pasar di Asia Tenggara pada 2023. Tak heran, Indonesia pun berada pada peringkat kedua sebagai negara tujuan investasi digital terbesar di Asia Tenggara.

Selain itu, tingkat penetrasi pengguna e-commerce di Indonesia juga terus tumbuh seiring peningkatan akses internet dan literasi digital. Dilansir dari laporan ECDB, Selasa (30/7/2024), tingkat penetrasi pengguna e-commerce pada 2019 hanya sebesar 23 persen. Empat tahun berselang, tumbuh jadi 32 persen dan diperkirakan mencapai 46 persen pada 2028.

Wajah baru industri e-commerce Asia Tenggara

Ceruk pasar ekonomi digital yang terus bertumbuh menjadi peluang dan sekaligus tantangan bagi pelaku industri, termasuk e-commerce. Karena itu, pelaku e-commerce berlomba menciptakan inovasi untuk bisa meraih keuntungan di tengah pertumbuhan pasar ekonomi digital.

artisteer Ilustrasi

Pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) lembaga riset terkemuka, Momentum Works, Jianggan Li, mengemukakan bahwa persaingan platform e-commerce di Asia Tenggara tetap dinamis dan terus berubah.

“Adopsi Generatif AI (GenAI) dan evolusi live shopping telah membentuk ulang industri e-commerce di kawasan ini. Kami senang melihat tren ini karena mendorong pertumbuhan dan menciptakan peluang bagi sektor e-commerce di Asia Tenggara,” jelasnya seperti dikutip dari laman momentum.asia, Selasa (16/7/2024).

Dalam Laporan Momentum Works bertajuk “Ecommerce in Southeast Asia 2024” yang dirilis pada Juli 2024, setidaknya ada empat tren utama di industri e-commerce Asia Tenggara.

Pertama, pertumbuhan live commerce dari key opinion leader (KOL) yang dapat menciptakan omzet hingga jutaan dollar AS dalam sekali sesi.

Kedua, platform di Asia Tenggara mulai mengadopsi GenAI untuk menambah pengalaman pengguna dan efisiensi operasional.

Ketiga, banyak enabler e-commerce mulai memperluas model bisnis mereka. Keempat, pihak ketiga logistik pengiriman mengalami tekanan dari pengiriman paket yang diselenggarakan platform e-commerce.

Selain keempat tren tersebut, laporan e-Conomy SEA 2023 juga menemukan fakta menarik seputar tren belanja konsumen.

#e-commerce #belanja-online #chatbot #jejak-karbon #artificial-intelegence #praktik-bisnis-berkelanjutan #ramah-lingkungan

https://money.kompas.com/read/2024/08/15/164114126/wajah-baru-sektor-e-commerce-fokus-pada-strategi-jangka-panjang-untuk-tumbuh?page=1