Sri Mulyani Ungkap Dampak

Sri Mulyani Ungkap Dampak "Suntik Mati" PLTU Cirebon

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah masih mempertimbangkan biaya dan konsekuensi pensiun dini PLTU Cirebon. Halaman all

(Kompas.com) 07/09/24 09:40 14917848

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah tengah berupaya menyuntik mati atau pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon-1 di Jawa Barat. Namun dalam prosesnya terdapat tantangan yang harus dihadapi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah masih mempertimbangkan biaya dan konsekuensi yang akan terjadi jika rencana tersebut dilaksanakan.

Sebab memensiunkan sebuah PLTU akan membutuhkan biaya yang besar dan berdampak pada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, keuangan negara, maupun pihak swasta.

"Challenge-nya (tantangannya) kita lihat dari biaya yang muncul akibat dari keputusan itu, konsekuensinya terhadap PLN, terhadap APBN, dan private sector," ujarnya saat ditemui di Jakarta Convention Center, Jumat (6/9/2024).

Selain itu, pihaknya juga perlu memastikan upaya pensiun dini PLTU ini secara hukum tidak dianggap sebagai program yang merugikan negara.

Sekalipun, tujuan dari penyuntikmatian PLTU merupakan hal yang positif, yaitu untuk memulai transisi energi yang lebih ramah lingkungan agar emisi gas rumah kaca dapat berkurang.

"Bagaimana ini being seeing (akan terlihat) sebagai transaksi yang baik dan akuntabel untuk dari sisi hukum sehingga tidak dianggap sesuatu yang merugikan negara," imbuhnya.

Kendati demikian, dia memastikan pensiun dini PLTU Cirebon-1 akan tetap berjalan meski terdapat sejumlah tantangan tersebut. Namun dia belum dapat memastikan kapan rencana ini dapat terlaksana.

"Kita usahakan terus ya," tuturnya.

Sebagai informasi, PLTU Cirebon-1 diresmikan oleh mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik pada 18 Oktober 2012.

PLTU yang terletak 10 kilometer sebelah timur Kota Cirebon, Jawa Barat ini berkapasitas 1 x 660 MW dan memproduksi pasokan listrik hingga 5.500 GWh per tahunnya.

Dengan nilai investasi mencapai 877 juta dollar AS, PLTU Cirebon ini dibangun dengan skema Independent Power Producer (IPP) oleh konsorsium Indika Energy Tbk, Marubeni Corporation, Korea Midland Power Company, dan Santan Co. Ltd.

Tak Hanya PLTU Cirebon-1

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyebut, Indonesia memiliki 400 proyek transisi energi untuk mencapai target nol emisi (net zero emission/NZE) pada 2060 atau lebih cepat.

Dia menjelaskan, pemerintah Indonesia telah membentuk gugus tugas (task force) untuk menggenjot transisi ke energi yang lebih ramah lingkungan.

“Kami mencoba mewujudkannya (target NZE) lebih awal dari tahun 2060. Kami sudah memiliki 400 proyek saat ini," ujar Luhut dalam gelaran Indonesia International Sustainability Forum 2024 yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Kamis (5/9/2024).

Dia menuturkan, salah satu proyek transisi energi yang dikerjakan adalah suntik mati atau pensiun dini PLTU.

Setidaknya ada dua pembangkit berbasis energi fosil yang akan disuntik mati yakni PLTU Suralaya di Cilegon, Banten dan PLTU Cirebon-1 di Jawa Barat.

"Contoh saja, seperti rencana PLTU Suralaya, kami akan menutupnya, dan kami juga punya (PLTU) Cirebon (yang akan ditutup). Jadi kita berbicara tentang proyek konkrit yang sedang kami kerjakan," ungkapnya.

#sri-mulyani #pensiun-dini-pltu #pltu-cirebon #suntik-mati-pltu-cirebon

https://money.kompas.com/read/2024/09/07/094053126/sri-mulyani-ungkap-dampak-suntik-mati-pltu-cirebon