Racikan ADHI, WIKA, WSKT, dan PTPP dalam Mengatasi Utang
Racikan berbeda PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), & PT PP Tbk (PTPP) dalam mengatasi utang. - Halaman all
(InvestorID) 11/09/24 14:13 14971963
JAKARTA, investor.id – PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), dan PT PP Tbk (PTPP) memiliki racikan berbeda dalam mengatasi persoalan utang.
Dalam hal utang, ADHI bisa dibilang lebih beruntung karena mengoleksi utang sebesar Rp 26 triliun, lebih kecil ketimbang WIKA sebesar Rp 51 triliun, WSKT sebesar Rp 82 triliun, dan PTPP sebesar Rp 42 triliun.
Struktur utang yang relatif kecil membuat ADHI memiliki ruang lebar untuk menambah kembali utang. Benar saja, langkah itulah yang kemudian ADHI ambil dengan berencana menerbitkan kembali Obligasi.
Rilis Obligasi tersebut bertujuan untuk merestrukturisasi utang agar komposisi nilai utang jangka pendek ADHI, menjadi lebih kecil daripada utang jangka panjang perseroan.
Berkaca pada Laporan Keuangan ADHI per 30 Juni 2024, emiten konstruksi pelat merah tersebut tercatat mengoleksi liabilitas jangka pendek sebesar Rp 22 triliun. Angka ini jauh lebih besar ketimbang liabilitas jangka panjang perseroan sebesar Rp 4,44 triliun.
Menurut Direktur Utama Adhi Entus Asnawi Mukhson, menurunnya utang jangka panjang ADHI menjadi Rp 4,44 triliun tidak lepas dari pembayaran yang diterima perseroan dari proyek LRT Jabodebek pada awal tahun ini.
Sedangkan, menurunnya utang jangka pendek ADHI dari semula Rp 31,27 triliun menjadi Rp 26,94 triliun pada semester I-2024 lantaran perseroan telah melunasi obligasi jatuh tempo pada Mei dan Agustus 2024 yang masing-masing senilai Rp 473 miliar.
“Jadi, saat ini utang jangka panjang ADHI agak kecil. “Ke depan, (rilis obligasi) itu yang akan kami lakukan,” ucap Entus baru-baru ini.
Pada paruh kedua tahun ini, ADHI mengincar laba tumbuh sebesar 11% dibandingkan semester I-2024. Target tersebut akan didukung oleh sisa orderbook yang dimiliki ADHI sebesar Rp 45 triliun.
“Jadi, masih ada yang bisa kami lakukan percepatan untuk produksinya. Tinggal bagaimana menyiapkan sumber-sumber daya termasuk keuangan untuk modal kerja kami meningkatkan produksi. Insyaallah, masih on the track sampai saat ini untuk rencana akhir tahun,” tutur Entus.
WIKA
Racikan berbeda diperlihatkan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Emiten berkode saham WIKA tersebut berterus terang tidak berencana untuk melakukan restrukturisasi atas pokok Obligasi seperti yang dilakukan WSKT.
Begitupun perihal bunga Obligasi dan Sukuk, Manajemen WIKA menegaskan secara konsisten bakal memenuhi kewajibannya secara tepat waktu kepada seluruh pemegang Obligasi dan Sukuk.
Terbukti, dalam aksi terbarunya, WIKA berhasil membayar pokok Obligasi dan Sukuk jatuh tempo total Rp 896 miliar yang terdiri dari Obligasi Berkelanjutan II Tahap I Tahun 2021 Seri A sebesar Rp 571 miliar dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Tahap I Tahun 2021 Seri A sebesar Rp 325 miliar. Termasuk, WIKA berhasil membayar bunga Obligasi dan Sukuk PUB II Tahap I sebesar Rp 55,06 Miliar.
Menurut Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, komitmen WIKA dalam memenuhi kewajibannya kepada para stakeholders merupakan buah dari transformasi perseroan melalui tiga pilar utama.
Pertama, fokus terhadap kas; kedua, keunggulan eksekusi proyek; dan ketiga, penyeimbangan portofolio bisnis untuk mempercepat pemulihan dan memperkuat fundamental WIKA dalam menjalankan bisnis berkelanjutan.
Keberlangsungan usaha WIKA, sambung Budi, juga berjalan beriringan dengan pemberdayaan mitra kerja di sekitar wilayah operasi. Makanya, berkaca pada laporan arus kas operasi pada kuartal II-2024, WIKA telah membayar kepada pemasok senilai Rp 9,43 triliun.
“Di tengah langkah penyehatan yang dilakukan WIKA, ini merupakan angin segar dalam menjaga kepercayaan seluruh stakeholders. Kami percaya dalam membangun bisnis yang berkelanjutan, diperlukan dukungan dan rangkaian kerjasama sinergis di antara seluruh pihak yang terlibat,” ujar Agung BW.
WSKT
Sementara PT Waskita Karya Tbk (WSKT) sampai sekarang masih berupaya untuk memperoleh kesepakatan restrukturisasi dari satu seri pemegang Obligasi, setelah perseroan resmi mengantongi restu dari tiga seri pemegang Obligasi.
Direktur Utama Waskita Muhammad Hanugroho mengungkapkan, Waskita sudah meraih persetujuan restrukturisasi untuk tiga seri Obligasi senilai Rp 3 triliun dari total empat seri Obligasi yang perlu direstrukturisasi. "Tersisa, satu seri senilai Rp 1,3 triliun yang masih dalam proses,” ujarnya.
Di luar Obligasi, emiten bersandi saham WSKT tersebut juga berhasil mendapatkan persetujuan restrukturisasi dari 21 kreditur perbankan dengan nilai outstanding mencapai Rp 26,3 triliun pada Jumat (6/9/2024).
Bukan hanya itu, Waskita juga meraih persetujuan terkait pokok perubahan perjanjian fasilitas kredit modal kerja penjaminan (KMKP) dari lima kreditur perbankan senilai Rp 5,2 triliun, sehingga total utang WSKT yang direstrukturisasi dalam penandatanganan MRA pada Jumat mencapai Rp 31,5 triliun.
Adapun perihal utang kepada sub-kontraktor atau vendor, pria yang akrab disapa Oho tersebut bilang, dengan tercapainya restrukturisasi, WSKT tentu akan tetap menyelesaikan kewajiban kepada para vendor, begitupun kewajiban pajak.
“Jadi, tetap kami akan selesaikan. Tentunya, gak bisa one shot langsung kami selesaikan semuanya. Ada staging yang harus kami lakukan karena harus menyesuaikan dengan modal kerja perusahaan,” ungkap Oho.
PTPP
Pada kesempatan yang lain, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTPP Agus Purbianto menyatakan, PTPP akan terus menjaga dan berupaya menurunkan Debt-to-Ebitda. Pada kuartal II-2024, PTPP terbukti telah memperbaiki Debt-to-Ebitda menjadi 6.9x dari sebelumnya 8.7x.
Bukti lain, PTPP juga sukses memperbaiki Debt-to-Equity dari 2.86x pada 2023, menjadi 2.79x kuartal II-2024. Interest bearing Debt-to-Equity juga menurun dari 1.49x pada kuartal II-2023 menjadi 1.4x pada kuartal II-2024.
Hanya saja, PTPP masih menghadapi tantangan untuk cakupan bunga (interest coverage ratio/ICR) dan akan terus diperbaiki pada paruh kedua tahun ini.
Tantangan PTPP juga datang dari current ratio yang mengalami penurunan. Namun, Agus memastikan, hal tersebut masih dalam ambang batas karena covenant di perjanjian-perjanjian dengan lender perseroan masih di 1x.
Karena itu, pada semester II-2024, PTPP fokus melakukan divestasi aset untuk menekan jumlah aset dan liabilitas perseroan sekaligus mendekonsolidasi ekuitas.
“Jadi, kami mengubah dari metode konsolidasi menjadi metode ekuitas. Itu salah satu dari beberapa hal yang membuat aset dan liabilitas kami menurun. Jadi, dari tadinya liabilitas terkonsolidasi, sekarang dengan adanya penurunan share akibat divestasi, liabilitasnya juga turun,” tutup Agus.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #adhi #wskt #wika #ptpp #utang-bumn-karya #bumn-karya #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/market/373127/racikan-adhi-wika-wskt-dan-ptpp-dalam-mengatasi-utang