Mengolah Jeruk Jadi Produk Turunan, Jaga Alam yang Berujung Cuan Halaman all

Mengolah Jeruk Jadi Produk Turunan, Jaga Alam yang Berujung Cuan Halaman all

Kebun jeruk di Desa Air Talas dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya. Halaman all

(Kompas.com) 15/09/24 15:33 15058906

MUARA ENIM, KOMPAS.com - Khairil Anam tampak sedang memetik jeruk di kebun miliknya saat ditemui Kompas.com di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Tangannya tampak cekatan memilih jeruk mana yang layak petik dan pasti rasanya manis.

"Yang manis tidak selalu yang berwarna kuning, yang agak kehijauan seperti ini pun juga manis. Karena memang keunggulan jeruk di desa kami ini adalah rasa manisnya," kata Khairil.

Benar saja, jeruk yang dia berikan ke Kompas.com rasanya manis, sekejap buah jeruk yang diberikan sudah habis dilahap.

Ada sekitar 350 kepala keluarga di Desa Air Talas, sebagian besar adalah transmigran Bali yang sudah lama menetap di sana. Pekerjaan mereka sebagian besar adalah berkebun, ada sawit, karet, dan jeruk. Jeruk kemudian menjadi primadona di desa ini, bibitnya didatangkan dari Bali dan memiliki karakteristik buah yang manis. Tidak heran semua kepala keluarga di desa ini memiliki kebun jeruk.

KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Warga Desa Air Talas, Khairil Anam memetik jeruk di kebun miliknya di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.

Kebun jeruk di desa ini dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya.

Seperti kebanyakan kebun jeruk, maka tidak semua pohon berbuah manis. Tidak sedikit juga ada pohon yang berbuah asam. Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana mengatakan dalam satu kebun pasti ada pohon jeruk berbuah asam. Biasanya buah yang asam ini dipetik dan dijual kepada pedagang untuk dijadikan minuman jeruk peras.

"Dulu jeruk yang asam itu kita jual ke Prabumulih, untuk dijadikan bahan dasar minuman jeruk peras. Sayangnya daya tamping pedagang tidak cukup besar paling sekilo dua kilo, akhirnya banyak jeruk asam yang tidak tertampung dan busuk," kata I Gede Arsana.

Mitra binaan Pertamina EP Limau Field

Permasalahan di masyarakat ini yang kemudian oleh Pertamina EP (PEP) Limau Field coba dicari jalan keluarnya. PEP Limau Field kemudian menggandeng warga Desa Air Talas untuk membentuk kelompok guna memanfaatkan dan membuat produk turunan dari buah jeruk asam.

KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok wanita tani Desa Air Talas, menata produk berbahan dasar jeruk, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.

Pada 2022 melalui program Gema Dewata (Gerakan Ekonomi Masyarakat Desa Wujudkan Air Talas Mandiri) terbentuklah kelompok Bude Arta. Kelompok ini dilatih untuk mengelola jeruk menjadi produk turunan seperti pie susu, sirup jeruk, dan selai jeruk.

Pembinaan yang dilakukan PEP Limau Field ini secara tidak langsung menambah kompentensi warga desa yang awalnya hanya berkebun jeruk, kini memiliki kemampuan baru dalam mengolah dan membuat produk turunan dari jeruk. Penjualan pun semakin meningkat.

Menurut data yang dibagikan oleh PEP Limau Field, penjualan Bude Arta meningkat sebanyak 59 persen, dari sebelumnya Rp 411.111 per bulan, menjadi Rp 1.000.000 per bulan.

KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Junior Officer Communication Relations Regional1Pertamina, Fajar Adha Zulmawan (kiri) menengok rumah produksi milik kelompok wanita tani Desa Air Talas, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.

Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field, A Rachman Para Buana, menyatakan keberhasilan PT Pertamina Limau Field dalam merealisasikan program-program yang ada di Desa Air Talas ini tidak lepas dari kemampuan perusahaan dalam membaca potensi desa yang sejalan dengan inti bisnis (core business) perusahaan. “Dengan pendekatan ini, perusahaan bisa tumbuh bersama masyarakat, dan saling dukung,” tandasnya.

Mengembangkan produk lain

Keberhasilan kelompok Bude Arta memproduksi produk turunan dari jeruk, membuat warga Desa Air Talas terpacu untuk membuat inovasi lainnya dengan membuat kelompok baru.

Pada 2023 terbentuk kelompok Tunas Hijau yang beranggotakan para bapak petani jeruk. kelompok ini menciptakan produk yaitu produk tricoderma (pupuk organic yang zero waste). Selain itu juga aktif dalam pelatihan pembuatan tricoderma, pengenalan agen unsur hayati, hingga membentuk satgas untuk memantau hama yang menyerang pohon jeruk.

KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok Amerta menunjukkan produk sabun kulit jeruk yang terbuat dari limbah kulit jeruk di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.

Kemudian pada 2024 terbentuk lagi kelompok Amerta. Kelompok ini berfokus dengan memanfaatkan limbah kulit jeruk untuk kemudian diolah menjadi sabun kulit jeruk, dan bio plastic.

Yunita salah satu anggota kelompok Amerta mengatakan bahwa kelompok ini muncul setelah pada tahun sebelumnya sempat ada panen besar, dan sampah kulit jeruk menjadi limbah yang belum bisa dimanfaatkan.

"Berkat pembinaan dari PEP Limau Field, kami kemudian diajarkan untuk mengolah limbah kulit jeruk tersebut menjadi sabun dan bio plastik," kata Yunita.

Kelompok Amerta memiliki 12 orang anggota yang setiap sore selalu berkumpul di Pendopo Gema Dewata untuk mengolah kulit jeruk kering.

"Jadi kulit jeruk dikumpulkan kemudian dikeringkan dengan cara dijemur. Setelah itu kulit jeruk kering diblender menjadi bubuk kulit jeruk. Bubuk kulit jeruk ini yang jadi bahan membuat sabun kulit jeruk dan bio plastik," jelas Yunita.

KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok Amerta menunjukkan proses membuat bubuk kulit jeruk yang terbuat dari limbah kulit jeruk di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.

Menurut Yunita, hasil penjualan sabun kulit jeruk dan bio plastik bisa masuk ke kas kelompok. "Sebulan bisa sekitar Rp 500.000," kata Yunita.

Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field dan bersama Tim CSR menyatakan Bioplastik kulit jeruk merupakan salah satu upaya dalam menerapkan sustainable living dan penerapan filosofi Tri Hita Karana di Desa Air Talas.

Hal ini berangkat dari permasalahan yang ditemukan, yaitu berkaitan dengan penyakit DBD dan limbah plastik non-B3 yang dihasilkan oleh Rumah Sakit di Kota Prabumulih yang cenderung menggunakan plastik non-degradable. Selain itu, adanya penumpukan kulit limbah jeruk yang selama ini dihasilkan oleh kelompok Wanita tani dan kegiatan wisata jeruk di Desa Air talas menghasilkan emisi dan berkontribusi terhadap pemanasan global.

KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana berfoto bersama anggota kelompok wanita tani Desa Air Talas, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.

I Gede Arsana bersyukur dengan adanya program pembinaan oleh PEP Limau Field, yang selain memberikan jalan keluar terkait pemanfaatan jeruk asam dan limbah kulit jeruk, juga memiliki dampak ekonomi kepada warga Desa Air Talas.

"Kalo dulu jeruk asam tidak ada yang nampung, sekarang kami warga desa kerap kekurangan jeruk asam untuk diolah. Kemudian kami juga difasilitasi dengan pendampingan, alat, dan tempat untuk membuat produk unggulan," kata I Gede Arsana.

#csr #pertamina-hulu-energi #muara-enim #pertamina #jeruk #csr-pertamina

https://money.kompas.com/read/2024/09/15/153344226/mengolah-jeruk-jadi-produk-turunan-jaga-alam-yang-berujung-cuan?page=all&utm_source=Google&utm_medium=Newstand&utm_campaign=partner