#30 tag 24jam
Prosedur Bedah UKA Jadi Solusi Atasi Kerusakan Sendi Lutut
Dalam upaya untuk mengatasi masalah nyeri dan keterbatasan gerak pada sendi lutut, Unicompartmental Knee Arthroplasty (UKA) telah muncul sebagai salah satu solusi dalam dunia bedah ortopedi. - Halaman [1,296] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #franky-hartono #spesialis-ortopedi #rs-siloam-kebon-jeruk #bedah-uka #sendi-lutut #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 20/10/24 19:11
v/16752174/
JAKARTA, investor.id - Dalam upaya untuk mengatasi masalah nyeri dan keterbatasan gerak pada sendi lutut, Unicompartmental Knee Arthroplasty (UKA) telah muncul sebagai salah satu solusi dalam dunia bedah ortopedi.
Berbeda dengan prosedur penggantian lutut total, UKA fokus pada penggantian hanya bagian sendi lutut yang mengalami kerusakan, sehingga meminimalkan dampak pada jaringan sekitarnya yang masih sehat.
Pendekatan ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi lutut, tetapi juga meminimalisir waktu pemulihan sehingga pasien bisa mulai berjalan satu hari setelah operasi dan cepat kembali beraktivitas seperti sedia kala.
Menurut Dr. dr. Franky Hartono, Sp.OT (K), dokter spesialis ortopedi RS Siloam Kebon Jeruk, Unicompartmental Knee Arthroplasty (UKA) atau Partial Knee Arthrosplasty adalah prosedur bedah yang dirancang untuk menggantikan hanya satu kompartemen sendi lutut yang mengalami kerusakan, tanpa membuang kompartemen dan ligamen lutut yang sehat.
Prosedur ini biasanya diterapkan pada pasien yang mengalami kerusakan sendi lutut yang terbatas pada kompartemen bagian dalam lutut saja, seperti pada Anteromedial Osteoarthritis (AMOA) yang ditemukan pada hampir 50% kasus pengapuran (osteoartritis) lutut, maupun pada kasus nekrosis (kematian jaringan) sebagian tulang lutut yang disebut dengan Spontaneous Osteonecrosis of the Knee (SONK).
“Prosedur ini berbeda dengan Total Knee Arthroplasty (TKA) yang mengganti tiga atau seluruh kompartemen sendi lutut,” kata Franky Hartono dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (20/10/2024).
Gejala yang Menandakan Kebutuhan UKA
Gejala yang biasanya menandakan seseorang memerlukan UKA meliputi nyeri lutut terus-menerus yang tidak kunjung membaik dengan pengobatan klasik seperti obat anti-inflamasi dan fisioterapi. Nyeri ini sering dirasakan saat beraktivitas, seperti berjalan atau berdiri dalam waktu lama, dan dapat disertai dengan kekakuan dan pembengkakan.
Selain nyeri, pasien juga mungkin mengalami penurunan kemampuan untuk bergerak atau melakukan aktivitas sehari-hari dengan nyaman. Jika gejala-gejala tersebut disertai dengan adanya kerusakan pada kompartemen lutut bagian dalam, UKA bisa menjadi pilihan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut.
Faktor-faktor yang Bisa Menyebabkan Kerusakan Sendi Lutut
Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kerusakan sendi lutut meliputi usia lanjut, obesitas, dan riwayat cedera lutut. Osteoartitis yang merupakan kondisi peradangan sendi, juga merupakan faktor risiko utama. Faktor genetik dan gaya hidup, seperti aktivitas fisik yang berat atau pekerjaan yang membebani lutut secara berulang, juga dapat mempercepat kerusakan sendi.
“Mengidentifikasi dan mengelola faktor risiko ini dapat membantu dalam pencegahan kerusakan sendi yang lebih parah dan mengurangi kebutuhan untuk prosedur bedah mengganti sendi lutut seperti UKA dan TKA,” katanya.
Deteksi Dini Kelainan Sendi Lutut
Mendeteksi tanda dan gejala awal seperti nyeri lutut yang tidak kunjung hilang, kekakuan, atau penurunan fungsi dapat membantu dalam merencanakan perawatan yang tepat dan mencegah kerusakan lebih lanjut.
Langkah-langkah untuk mendeteksi secara dini kelainan pada sendi lutut termasuk pemeriksaan rutin dan pamantauan gejala.
Tes pencitraan seperti rontgen atau MRI dapat membantu mengidentifikasi perubahan struktural pada sendi sebelum gejala menjadi parah. Konsultasi dengan spesialis ortopedi secara berkala juga penting untuk mendeteksi masalah sejak dini dan merencanakan intervensi yang sesuai.
Sebelum menjalani UKA, beberapa jenis pemeriksaan biasanya dilakukan untuk memastikan pasien adalah kandidat yang tepat. Evaluasi klinis penting dilakukan untuk menilai apakah kerusakan lutut sesuai indikasi untuk tindakan UKA dan juga menilai kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan termasuk rontgen lutut untuk menilai sejauh mana terjadi kerusakan pada kompartemen sendi lutut. MRI kadang diperlukan untuk memberikan gambaran yang lebih detail tentang struktur dan jaringan di sekitar sendi.
"Uji laboratorium, EKG (Elektrokardiografi), dan pemeriksaan penunjang lainnya juga akan membantu menentukan apakah pasien aman dan sanggup menjalani prosedur operasi," ujarnya.
Prosedur UKA
Selama operasi UKA, dokter bedah akan membuat sayatan sepanjang sekitar 7 hingga 10 sentimeter di kompartemen lutut bagian dalam untuk mengakses kompartemen yang rusak.
Setelah sayatan dibuat, bagian yang rusak dari tulang dan kartilago akan dikupas secara tipis dan implan UKA yang terbuat dari logam titanium dengan bantalan plastik steril akan dipasang untuk menggantikan bagian lutut yang telah dikupas, dengan tetap mempertahankan struktur ligamen asli lutut.
Proses ini dirancang untuk meminimalkan kerusakan pada jaringan sekitarnya, yang berdampak pada cepatnya pemulihan dibandingkan dengan prosedur yang lebih invasif seperti TKA.
Perbedaan antara UKA dan TKA
UKA dan TKA memiliki perbedaan utama dalam cakupan dan dampak pada sendi lutut. UKA hanya menggantikan satu kompartemen dari sendi lutut, dan mempertahankan fungsi dan struktur dari kompartemen lain yang masih sehat.
Sebaliknya, TKA mengganti ketiga kompartemen atau seluruh permukaan sendi lutut. Struktur ligamen pada UKA utuh secara keseluruhan, sedangkan pada TKA ligamen interkondiler dibuang. Dampaknya pada UKA, sensasi gerakan lutut lebih menyerupai sendi alami.
Perbedaan ini memengaruhi berbagai aspek perawatan dan hasil. UKA umumnya merupakan prosedur yang lebih minim invasif karena lebih sedikitnya jaringan yang dibuang sehingga dapat menawarkan pemulihan yang lebih cepat dan lebih tidak nyeri dibandingkan dengan TKA.
Namun UKA hanya cocok untuk pasien dengan kerusakan sendi yang terbatas pada satu kompartemen, sementara TKA mungkin diperlukan apabila terdapat kerusakan yang lebih luas atau menyeluruh.
Manfaat Utama dari UKA
UKA menawarkan beberapa manfaat utama dibandingkan dengan TKA, terutama dalam hal pemulihan dan hasil jangka panjang. Salah satu manfaat utama adalah pemulihan yang lebih cepat. Karena UKA melibatkan penggantian hanya sebagian dari sendi lutut, banyak pasien melaporkan bahwa mengalami nyeri yang lebih sedikit dan pemulihan yang lebih cepat dibandingkan dengan TKA.
Dari segi hasil jangka panjang, UKA sering kali memberikan hasil yang lebih baik dalam hal fungsi sendi dan perasaan alami. Pasien yang menjalani UKA biasanya mempertahankan lebih banyak fungsi alami dari sendi, sehingga dapat membantu lebih cepat untuk kembali beraktivitas normal. Namun, penting untuk dicatat bahwa UKA hanya cocok untuk pasien dengan kerusakan sendi yang terbatas pada satu kompartemen.
Proses Pemulihan Setelah UKA
Proses pemulihan setelah UKA melibatkan rehabilitasi fisik untuk memperkuat otot dan memulihkan rentang gerak lutut. Pasien biasanya sudah dapat berjalan dengan bantuan walker keesokan hari setelah operasi. Waktu pemulihan umumnya lebih cepat dibandingkan dengan TKA, dengan banyak pasien melaporkan pengurangan nyeri dan peningkatan fungsi yang cepat dalam minggu-minggu berikutnya.
Selama beberapa bulan pertama pasca-operasi, pasien diharapkan mengalami penurunan nyeri dan pembengkakan, serta peningkatan kemampuan fungsional lutut dibandingkan dengan sebelum operasi. Terapi fisik yang teratur dan mengikuti petunjuk rehabilitasi akan membantu mencapai pemulihan yang optimal.
PerbedaanFixed BearingdanMobile Bearing
Terdapat dua jenis desain pada implan UKA, yaitu yang menggunakan desain fixed bearing dan mobile bearing.Fixed Bearing: Ini merupakan desain konvensional yang pertama kali digunakan pada operasi UKA.
Pada desain fixed bearing, bagian komponen implan yang merupakan bantalan (bearing) antara sendi buatan terkunci di tempatnya, sehingga saat sendi bergerak terjadi gesekan antara implan yang berbahan titanium dengan bantalan yang berbahan plastik. Hal ini dapat menimbulkan terbentuknya partikel debris plastik yang berdampak kurang baik terhadap keawetan implan jangka panjang.
Sedangkan desain mobile bearing merupakan desain UKA yang lebih baru dan inovatif. Pada desain tersebut, bagian implan bergerak secara relatif terhadap komponen lainnya ketika sendi digerakkan, sehingga mengurangi gesekan dan tingkat keausan bantalan yang berbahan plastik.
Desain mobile bearing UKA dirancang untuk mengikuti gerakan alami sendi lutut dengan lebih baik dan memberi rentang gerak yang lebih besar, serta mengurangi stres pada tulang dan kartilago di sekitarnya.
Penggunaan Oxford UKA
Di RS Siloam Kebon Jeruk, UKA menggunakan desain implan yang berasal dari Oxford, Inggris yang memiliki survival rate sebesar 91% dalam 20 tahun. Implan Oxford UKA dikenal karena desainnya yang inovatif dan kemampuannya untuk meniru gerakan alami lutut dengan sangat baik.
Desain ini termasuk komponen mobile bearing yang memungkinkan gerakan yang lebih alami dan mengurangi stres pada struktur tulang dan kartilago di sekitar sendi. Namun pemilihan indikasi yang tepat dan teknik operasi yang sempurna adalah penentu hasil jangka panjang yang didambakan.
RS Siloam Kebon Jeruk merupakan salah satu pioneer UKA di Indonesia. Sejak tahun 2015, Dr. dr. Franky Hartono, Sp.OT (K) beserta dengan timnya telah menangani lebih dari 250 kasus UKA. Adanya tim ortopedi dengan pengalaman dan jam terbang yang tinggi, RS Siloam Kebon Jeruk adalah pilihan yang tepat untuk menjalani tindakan operasi UKA.
Editor: Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Gudang Plastik di Kebon Jeruk Terbakar, Pemadam Berjibaku Padamkan Api
Tim pemadam kebakaran masih berjuang memadamkan api yang disebabkan oleh banyaknya bahan plastik yang mudah terbakar di lokasi. Halaman all [342] url asal
#kebon-jeruk #kebakaran #kebon-jeruk-jakarta-barat
(Kompas.com) 16/10/24 14:23
v/16553921/
JAKARTA, KOMPAS.com - Kebakaran melanda sebuah gudang plastik di Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada Rabu (16/10/2024).
Tim pemadam kebakaran masih berjuang memadamkan api yang disebabkan oleh banyaknya bahan plastik yang mudah terbakar di lokasi.
Berdasarkan pantauan di lapangan sekitar pukul 12.46 WIB, petugas pemadam masih berusaha menjinakkan api. Asap hitam tebal terus membubung dari bangunan yang terbakar, sementara tim pemadam menyebar ke berbagai arah untuk menetralkan api.
Angin kencang di lokasi juga memperumit proses pemadaman, namun sekitar pukul 13.00 WIB, api berhasil dikuasai. Meski begitu, petugas masih melakukan penyisiran untuk memadamkan bara yang tersisa.
Siti (52), seorang warga setempat, menceritakan bahwa ia sempat mendengar suara kayu terbakar sebelum api membesar.
"Enggak lama setelah itu, saya nengok ke belakang ada api besar dan mengeluarkan asap hitam," ujar Siti di lokasi kejadian.
Ia sempat menyelamatkan orangtuanya, sementara adiknya berusaha menyelamatkan surat-surat berharga dari dalam rumah. Adiknya sempat terjebak di dalam rumah, namun berhasil diselamatkan oleh petugas pemadam kebakaran.
"Karena pemadam cepat menolong, adik saya langsung berlindung. Alhamdulillah, keadaannya baik-baik saja," tutur Siti.
Kasiops Sudin Gulkarmat Jakarta Barat, Syarifuddin, menyatakan bahwa banyaknya bahan dasar plastik di gudang tersebut menyebabkan kesulitan dalam memadamkan api.
"Banyak bungkus plastik di sana, sehingga sangat menyulitkan. Asapnya tebal sekali," jelas Syarifuddin.
Hingga pukul 13.30 WIB, api sudah berhasil dijinakkan dan situasi kebakaran dinyatakan dalam status pendinginan.
Harga Jus Jeruk Melonjak akibat Badai Milton di AS
Harga jus jeruk di bursa komoditas meningkat akibat ancaman Badai Milton di wilayah penghasil utama jeruk, Florida, AS. [270] url asal
#jeruk #jus-jeruk #harga-jeruk #harga-jus-jeruk #bursa-jeruk #bursa-jus-jeruk #komoditas #komoditas-jeruk #komoditas-jus-jeruk #bursa-komoditas #harga-komoditas #badai-milton #dampak-badai-milton #efek
(Bisnis.Com - Market) 08/10/24 07:32
v/16139846/
Bisnis.com, JAKARTA — Harga jus jeruk di bursa perdagangan naik saat Badai Milton mendekati daratan Florida, Amerika Serikat (AS). Para petani jeruk di sana dievakuasi karena badai menguat dengan cepat dalam 24 jam.
Dilansir dari Bloomberg, harga berjangka jus jeruk di pasar komoditas New York naik hingga 3% saat badai terjadi. Penyebabnya, kebun jeruk di wilayah penghasil utama berada di jalur potensial badai.
Pohon-pohon jeruk di sana ada dalam kondisi yang bahaya, padahal baru pulih dari dampak Badai Ian pada 2022 silam.
Ahli meteorologi Best Weather Inc., Jim Roemer mengatakan bahwa jalur badai yang melintasi wilayah selatan Tampa, AS dapat merusak hingga 20% kebun.
Adapun, Commodity Weather Group mengatakan potensi kerusakan akibat angin dari badai tersebut dapat mengancam dua pertiga produksi jeruk di Florida Utara.
Direktur Eksekutif Highlands County Citrus Growers Association, Ray Royce menjelaskan bhawa para petani sedang bersiap menghadapi ancaman angin kencang pada Rabu—Kamis (9—10 Oktober 2024).
Badai dapat merontokkan buah yang sedang tumbuh di pohon, sedangkan hujan dapat memengaruhi sistem akar dan membuat pohon yang sudah tertekan oleh penyakit menjadi rentan tercabut.
"Tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk melindungi pohon atau melindungi buah. Terlalu dini untuk memanen buah terlebih dahulu," ujar Royce, dilansir dari Bloomberg pada Selasa (8/10/2024).
Salah seorang petani di Highlands County, Trevor Murphy mengatakan bahwa dia sedang mempersiapkan diri dengan mengisi tangki bahan bakar dan memastikan bahwa infrastruktur seperti sistem drainase berfungsi dengan baik.
Dia memperkirakan kemungkinan kerusakan pada pohon-pohonnya, beberapa di antaranya akan dipanen dalam waktu kurang dari 60 hari. Namun, tingkat kerusakan akan bergantung pada kecepatan angin.
"[Badai] adalah permainan menunggu hingga lintasannya mengeras," ujarnya.
Olahan Kulit Jeruk untuk Galakkan Zero Waste
Program berjalan mulai tahun 2022 hingga saat ini banyak muncul inovasi dalam program dan muncullah Inovasi di tahun 2024 - Halaman all [767] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #pertamina #csr #petani-jeruk #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 28/09/24 11:51
v/15667946/
JAKARTA, investor.id - Desa Air Talas adalah salah satu desa transmigran masyarakat Bali. Mayoritas penduduk Desa Air Talas berprofesi sebagai petani, terutama petani buah, yang menjadikan desa ini terkenal sebagai penghasil buah-buahan, dengan buah jeruk sebagai salah satu komoditas unggulannya.
Saat ini, sekitar 350 kepala keluarga di Desa Air Talas menanam jeruk, yang berasal dari wilayah Bali dan memiliki karakteristik buah yang manis. Kebun jeruk di desa ini dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dengan total produksi mencapai 300 ton per tahun.
Terdapat sebuah program inovasi bio plastik yang bernama PAKLEK MANIS atau pengolahan limbah kulit jeruk siam air talas, program ini bergerak pada bidang pertanian organik.
Sehubungan dengan program tersebut ada beberapa kelompok yang dimana masing-masing kelompok memiliki kegiatan selaras dengan program yang ada tetapi berbeda output.
Program PAKLEK MANIS ini adalah program yang bergerak dibidang pertanian jeruk siam organic. Program berjalan mulai tahun 2022 hingga saat ini banyak muncul inovasi dalam program dan muncullah Inovasi di tahun 2024 yaitu bio plastik, dimana inovasi ini menggunakan limbah kulit jeruk yang tidak termanfaatkan dijadikan sebagai kantong kresek yang dapat terurai. Selain itu juga munculnya ini menambah 1 kelompok baru yaitu kelompok Amerta. Dalam kelompok Amerta selain menciptakan dan mengolah limbah kulit dijadikan bio plastik juga dibuat produk non makanan yaitu sabun kulit jeruk.
Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field dan bersama Tim CSR menyatakan Bioplastik kulit jeruk merupakan salah satu upaya dalam menerapkan sustainable living dan penerapan filosofi Tri Hita Karana di Desa Air Talas. Hal ini berangkat dari permasalahan yang ditemukan, yaitu berkaitan dengan penyakit DBD dan limbah plastik non-B3 yang dihasilkan oleh Rumah Sakit di Kota Prabumulih yang cenderung menggunakan plastik non-degradable. Selain itu, adanya penumpukan kulit limbah jeruk yang selama ini dihasilkan oleh KWT Subur Makmur dan kegaitan wisata jeruk di Desa Air talas menghasilkan emisi dan berkontribusi terhadap GWP. Berdasarkan masalah tersebut PT Pertamina EP Limau Field menghadirkan “OraPlast: Dari Limbah Menjadi Rupiah.
Kepala desa air talas mengungkapkan terimakasih bahwa selama ini program PT Pertamina EP Limau Fielddi desa kami sangat memberikan manfaat yang banyak terhadap warga desa air talas”tandasnya.
Dari segi Pemanfaatan Limbah Kulit Jeruk sebanyak 10,4 ton/bulan, Pengurangan penggunaan plastik sebanyak 26% di Rumah Sakit Kota Prabumulih atau setara dengan 37,88 ton/tahunSebanyak 521,79 ton CO2eq tereduksi melalui penggunaan OraPlast. Mengaktifkan sosial masyrakat yang mana terbentuk 3 unit kelompok: Kelompok Tani Tunas Hijau, Kelompok Wanita Tani Subur Makmur, Kelompok Amerta, Adanya Kemitraan: Enviplast, Ilusyx Creative, Tani Sani, INAgri, BPP Tebat Agung, Dinas Koperasi.
Untuk diketahui, Desa Air Talas termasuk dalam Ring 1 Pemberdayaan Masyarakat PT Pertamina EP Limau Field, yang terletak di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan.
Keberhasilan PT Pertamina Limau Field dalam merealisasikan program-program yang ada di Desa Air Talas ini tidak lepas dari kemampuan perusahaan dalam membaca potensi desa yang sejalan dengan inti bisnis (core business) perusahaan. “Dengan pendekatan ini, perusahaan bisa tumbuh bersama masyarakat, dan saling support,” kata Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field, A Rachman Para Buana,
Sebelumnya, tahun 2022 terbentuk kelompok BUDE ARTA yang mengelola buah jeruk menjadi produk makanan seperti pie susu, sirup jeruk, dan selai jeruk. Dalam kelompok ini memuat banyak kegiatan yang salah satunya adalah pelatihan Peningkatan Kapasitas SDM kelompok seperti pelatihan dasar administrasi, pelatihan pembuatan produk makanan pie susu, sirup, dan selai.
Kemudian di Tahun 2023 terbentuk kelompok Tunas Hijau yang dimana kelompok ini bergerak dibidang pertanian. Kelompok ini dimandatori oleh bapak-bapak petani jeruk yang kemudian di dalam kelompok ini menciptakan produk yaitu produk tricoderma (pupuk organic yang zero waste). Kemudian juga Kelompok Tunas Hijau ini memiliki kegiatan yang sangat bermanfaat seperti pelatihan pembuatan tricoderma, pengenalan agen unsur hayati, dan lain sebagainya. Kelompok ini juga membuat Satgas dan pusat studi, yang dimana bekerja memantau hama yang menyerang pohon jeruk, sedangkan pusat studi digunakan untuk pembelajaran dan rumah produksi agen hayati tersebut (tricoderma).
Lebih lanjut untuk Peningkatan penjualan BUDE ARTA MAJU sebanyak 59% dari sebelumnya hanya Rp 411.111/bulan menjadi Rp 1.000.000/bulan, Peningkatan pendapatan petani jeruk melalui kegiatanBudidaya Jeruk 20% dari sebelumnya hanya Rp 2.555.556/bulan menjadi Rp 2.055.556/bulan, Peningkatan pendapatan 12 orang melalui pengolahan kulit jeruk sebesar Rp 4.185.000/bulan. Dan manfasat lainnya adalah 19 orang penerima BLT atau 45,2% dientaskan berdasarkan Garis Kemiskinan Kabupaten Muara Enim, 41 orang kelompok Tani Tunas Hijau, 12 orang kelompok Wanita Tani Subur Makmur, 12 orang kelompok Amerta, dan beberapa orang penerima manfaat tidak langsung
Editor: Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Mengolah Jeruk Jadi Produk Turunan, Jaga Alam yang Berujung Cuan Halaman all
Kebun jeruk di Desa Air Talas dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya. Halaman all?page=all [824] url asal
#csr #pertamina-hulu-energi #muara-enim #pertamina #jeruk #csr-pertamina
(Kompas.com) 15/09/24 15:33
v/15067053/
MUARA ENIM, KOMPAS.com - Khairil Anam tampak sedang memetik jeruk di kebun miliknya saat ditemui Kompas.com di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Tangannya tampak cekatan memilih jeruk mana yang layak petik dan pasti rasanya manis.
"Yang manis tidak selalu yang berwarna kuning, yang agak kehijauan seperti ini pun juga manis. Karena memang keunggulan jeruk di desa kami ini adalah rasa manisnya," kata Khairil.
Benar saja, jeruk yang dia berikan ke Kompas.com rasanya manis, sekejap buah jeruk yang diberikan sudah habis dilahap.
Ada sekitar 350 kepala keluarga di Desa Air Talas, sebagian besar adalah transmigran Bali yang sudah lama menetap di sana. Pekerjaan mereka sebagian besar adalah berkebun, ada sawit, karet, dan jeruk. Jeruk kemudian menjadi primadona di desa ini, bibitnya didatangkan dari Bali dan memiliki karakteristik buah yang manis. Tidak heran semua kepala keluarga di desa ini memiliki kebun jeruk.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Warga Desa Air Talas, Khairil Anam memetik jeruk di kebun miliknya di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Kebun jeruk di desa ini dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya.
Seperti kebanyakan kebun jeruk, maka tidak semua pohon berbuah manis. Tidak sedikit juga ada pohon yang berbuah asam. Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana mengatakan dalam satu kebun pasti ada pohon jeruk berbuah asam. Biasanya buah yang asam ini dipetik dan dijual kepada pedagang untuk dijadikan minuman jeruk peras.
"Dulu jeruk yang asam itu kita jual ke Prabumulih, untuk dijadikan bahan dasar minuman jeruk peras. Sayangnya daya tampung pedagang tidak cukup besar paling sekilo dua kilo, akhirnya banyak jeruk asam yang tidak tertampung dan busuk," kata I Gede Arsana.
Mitra binaan Pertamina EP Limau Field
Permasalahan di masyarakat ini yang kemudian oleh Pertamina EP (PEP) Limau Field coba dicari jalan keluarnya. PEP Limau Field kemudian menggandeng warga Desa Air Talas untuk membentuk kelompok guna memanfaatkan dan membuat produk turunan dari buah jeruk asam.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok wanita tani Desa Air Talas, menata produk berbahan dasar jeruk, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Pada 2022 melalui program Gema Dewata (Gerakan Ekonomi Masyarakat Desa Wujudkan Air Talas Mandiri) terbentuklah kelompok Bude Arta. Kelompok ini dilatih untuk mengelola jeruk menjadi produk turunan seperti pie susu, sirup jeruk, dan selai jeruk.
Pembinaan yang dilakukan PEP Limau Field ini secara tidak langsung menambah kompentensi warga desa yang awalnya hanya berkebun jeruk, kini memiliki kemampuan baru dalam mengolah dan membuat produk turunan dari jeruk. Penjualan pun semakin meningkat.
Menurut data yang dibagikan oleh PEP Limau Field, penjualan Bude Arta meningkat sebanyak 59 persen, dari sebelumnya Rp 411.111 per bulan, menjadi Rp 1.000.000 per bulan.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Junior Officer Communication Relations Regional1Pertamina, Fajar Adha Zulmawan (kiri) menengok rumah produksi milik kelompok wanita tani Desa Air Talas, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field, A Rachman Para Buana, menyatakan keberhasilan PT Pertamina Limau Field dalam merealisasikan program-program yang ada di Desa Air Talas ini tidak lepas dari kemampuan perusahaan dalam membaca potensi desa yang sejalan dengan inti bisnis (core business) perusahaan. “Dengan pendekatan ini, perusahaan bisa tumbuh bersama masyarakat, dan saling dukung,” tandasnya.
Mengembangkan produk lain
Keberhasilan kelompok Bude Arta memproduksi produk turunan dari jeruk, membuat warga Desa Air Talas terpacu untuk membuat inovasi lainnya dengan membuat kelompok baru.
Mengolah Jeruk Jadi Produk Turunan, Jaga Alam yang Berujung Cuan
Kebun jeruk di Desa Air Talas dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya. Halaman all [1,403] url asal
#csr #pertamina-hulu-energi #muara-enim #pertamina #jeruk #csr-pertamina
(Kompas.com - Money) 15/09/24 15:33
v/15064400/
MUARA ENIM, KOMPAS.com - Khairil Anam tampak sedang memetik jeruk di kebun miliknya saat ditemui Kompas.com di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Tangannya tampak cekatan memilih jeruk mana yang layak petik dan pasti rasanya manis.
"Yang manis tidak selalu yang berwarna kuning, yang agak kehijauan seperti ini pun juga manis. Karena memang keunggulan jeruk di desa kami ini adalah rasa manisnya," kata Khairil.
Benar saja, jeruk yang dia berikan ke Kompas.com rasanya manis, sekejap buah jeruk yang diberikan sudah habis dilahap.
Ada sekitar 350 kepala keluarga di Desa Air Talas, sebagian besar adalah transmigran Bali yang sudah lama menetap di sana. Pekerjaan mereka sebagian besar adalah berkebun, ada sawit, karet, dan jeruk. Jeruk kemudian menjadi primadona di desa ini, bibitnya didatangkan dari Bali dan memiliki karakteristik buah yang manis. Tidak heran semua kepala keluarga di desa ini memiliki kebun jeruk.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Warga Desa Air Talas, Khairil Anam memetik jeruk di kebun miliknya di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Kebun jeruk di desa ini dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya.
Seperti kebanyakan kebun jeruk, maka tidak semua pohon berbuah manis. Tidak sedikit juga ada pohon yang berbuah asam. Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana mengatakan dalam satu kebun pasti ada pohon jeruk berbuah asam. Biasanya buah yang asam ini dipetik dan dijual kepada pedagang untuk dijadikan minuman jeruk peras.
"Dulu jeruk yang asam itu kita jual ke Prabumulih, untuk dijadikan bahan dasar minuman jeruk peras. Sayangnya daya tampung pedagang tidak cukup besar paling sekilo dua kilo, akhirnya banyak jeruk asam yang tidak tertampung dan busuk," kata I Gede Arsana.
Mitra binaan Pertamina EP Limau Field
Permasalahan di masyarakat ini yang kemudian oleh Pertamina EP (PEP) Limau Field coba dicari jalan keluarnya. PEP Limau Field kemudian menggandeng warga Desa Air Talas untuk membentuk kelompok guna memanfaatkan dan membuat produk turunan dari buah jeruk asam.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok wanita tani Desa Air Talas, menata produk berbahan dasar jeruk, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Pada 2022 melalui program Gema Dewata (Gerakan Ekonomi Masyarakat Desa Wujudkan Air Talas Mandiri) terbentuklah kelompok Bude Arta. Kelompok ini dilatih untuk mengelola jeruk menjadi produk turunan seperti pie susu, sirup jeruk, dan selai jeruk.
Pembinaan yang dilakukan PEP Limau Field ini secara tidak langsung menambah kompentensi warga desa yang awalnya hanya berkebun jeruk, kini memiliki kemampuan baru dalam mengolah dan membuat produk turunan dari jeruk. Penjualan pun semakin meningkat.
Menurut data yang dibagikan oleh PEP Limau Field, penjualan Bude Arta meningkat sebanyak 59 persen, dari sebelumnya Rp 411.111 per bulan, menjadi Rp 1.000.000 per bulan.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Junior Officer Communication Relations Regional1Pertamina, Fajar Adha Zulmawan (kiri) menengok rumah produksi milik kelompok wanita tani Desa Air Talas, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field, A Rachman Para Buana, menyatakan keberhasilan PT Pertamina Limau Field dalam merealisasikan program-program yang ada di Desa Air Talas ini tidak lepas dari kemampuan perusahaan dalam membaca potensi desa yang sejalan dengan inti bisnis (core business) perusahaan. “Dengan pendekatan ini, perusahaan bisa tumbuh bersama masyarakat, dan saling dukung,” tandasnya.
Mengembangkan produk lain
Keberhasilan kelompok Bude Arta memproduksi produk turunan dari jeruk, membuat warga Desa Air Talas terpacu untuk membuat inovasi lainnya dengan membuat kelompok baru.
Pada 2023 terbentuk kelompok Tunas Hijau yang beranggotakan para bapak petani jeruk. kelompok ini menciptakan produk yaitu produk tricoderma (pupuk organic yang zero waste). Selain itu juga aktif dalam pelatihan pembuatan tricoderma, pengenalan agen unsur hayati, hingga membentuk satgas untuk memantau hama yang menyerang pohon jeruk.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok Amerta menunjukkan produk sabun kulit jeruk yang terbuat dari limbah kulit jeruk di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Kemudian pada 2024 terbentuk lagi kelompok Amerta. Kelompok ini berfokus dengan memanfaatkan limbah kulit jeruk untuk kemudian diolah menjadi sabun kulit jeruk, dan bio plastic.
Yunita salah satu anggota kelompok Amerta mengatakan bahwa kelompok ini muncul setelah pada tahun sebelumnya sempat ada panen besar, dan sampah kulit jeruk menjadi limbah yang belum bisa dimanfaatkan.
"Berkat pembinaan dari PEP Limau Field, kami kemudian diajarkan untuk mengolah limbah kulit jeruk tersebut menjadi sabun dan bio plastik," kata Yunita.
Kelompok Amerta memiliki 12 orang anggota yang setiap sore selalu berkumpul di Pendopo Gema Dewata untuk mengolah kulit jeruk kering.
"Jadi kulit jeruk dikumpulkan kemudian dikeringkan dengan cara dijemur. Setelah itu kulit jeruk kering diblender menjadi bubuk kulit jeruk. Bubuk kulit jeruk ini yang jadi bahan membuat sabun kulit jeruk dan bio plastik," jelas Yunita.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok Amerta menunjukkan proses membuat bubuk kulit jeruk yang terbuat dari limbah kulit jeruk di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Menurut Yunita, hasil penjualan sabun kulit jeruk dan bio plastik bisa masuk ke kas kelompok. "Sebulan bisa sekitar Rp 500.000," kata Yunita.
Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field dan bersama Tim CSR menyatakan Bioplastik kulit jeruk merupakan salah satu upaya dalam menerapkan sustainable living dan penerapan filosofi Tri Hita Karana di Desa Air Talas.
Hal ini berangkat dari permasalahan yang ditemukan, yaitu berkaitan dengan penyakit DBD dan limbah plastik non-B3 yang dihasilkan oleh Rumah Sakit di Kota Prabumulih yang cenderung menggunakan plastik non-degradable. Selain itu, adanya penumpukan kulit limbah jeruk yang selama ini dihasilkan oleh kelompok Wanita tani dan kegiatan wisata jeruk di Desa Air talas menghasilkan emisi dan berkontribusi terhadap pemanasan global.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana berfoto bersama anggota kelompok wanita tani Desa Air Talas, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.I Gede Arsana bersyukur dengan adanya program pembinaan oleh PEP Limau Field, yang selain memberikan jalan keluar terkait pemanfaatan jeruk asam dan limbah kulit jeruk, juga memiliki dampak ekonomi kepada warga Desa Air Talas.
"Kalo dulu jeruk asam tidak ada yang nampung, sekarang kami warga desa kerap kekurangan jeruk asam untuk diolah. Kemudian kami juga difasilitasi dengan pendampingan, alat, dan tempat untuk membuat produk unggulan," kata I Gede Arsana.
Mengolah Jeruk Jadi Produk Turunan, Jaga Alam yang Berujung Cuan Halaman all
Kebun jeruk di Desa Air Talas dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya. Halaman all [1,403] url asal
#csr #pertamina-hulu-energi #muara-enim #pertamina #jeruk #csr-pertamina
(Kompas.com) 15/09/24 15:33
v/15058906/
MUARA ENIM, KOMPAS.com - Khairil Anam tampak sedang memetik jeruk di kebun miliknya saat ditemui Kompas.com di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Tangannya tampak cekatan memilih jeruk mana yang layak petik dan pasti rasanya manis.
"Yang manis tidak selalu yang berwarna kuning, yang agak kehijauan seperti ini pun juga manis. Karena memang keunggulan jeruk di desa kami ini adalah rasa manisnya," kata Khairil.
Benar saja, jeruk yang dia berikan ke Kompas.com rasanya manis, sekejap buah jeruk yang diberikan sudah habis dilahap.
Ada sekitar 350 kepala keluarga di Desa Air Talas, sebagian besar adalah transmigran Bali yang sudah lama menetap di sana. Pekerjaan mereka sebagian besar adalah berkebun, ada sawit, karet, dan jeruk. Jeruk kemudian menjadi primadona di desa ini, bibitnya didatangkan dari Bali dan memiliki karakteristik buah yang manis. Tidak heran semua kepala keluarga di desa ini memiliki kebun jeruk.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Warga Desa Air Talas, Khairil Anam memetik jeruk di kebun miliknya di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Kebun jeruk di desa ini dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya.
Seperti kebanyakan kebun jeruk, maka tidak semua pohon berbuah manis. Tidak sedikit juga ada pohon yang berbuah asam. Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana mengatakan dalam satu kebun pasti ada pohon jeruk berbuah asam. Biasanya buah yang asam ini dipetik dan dijual kepada pedagang untuk dijadikan minuman jeruk peras.
"Dulu jeruk yang asam itu kita jual ke Prabumulih, untuk dijadikan bahan dasar minuman jeruk peras. Sayangnya daya tamping pedagang tidak cukup besar paling sekilo dua kilo, akhirnya banyak jeruk asam yang tidak tertampung dan busuk," kata I Gede Arsana.
Mitra binaan Pertamina EP Limau Field
Permasalahan di masyarakat ini yang kemudian oleh Pertamina EP (PEP) Limau Field coba dicari jalan keluarnya. PEP Limau Field kemudian menggandeng warga Desa Air Talas untuk membentuk kelompok guna memanfaatkan dan membuat produk turunan dari buah jeruk asam.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok wanita tani Desa Air Talas, menata produk berbahan dasar jeruk, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Pada 2022 melalui program Gema Dewata (Gerakan Ekonomi Masyarakat Desa Wujudkan Air Talas Mandiri) terbentuklah kelompok Bude Arta. Kelompok ini dilatih untuk mengelola jeruk menjadi produk turunan seperti pie susu, sirup jeruk, dan selai jeruk.
Pembinaan yang dilakukan PEP Limau Field ini secara tidak langsung menambah kompentensi warga desa yang awalnya hanya berkebun jeruk, kini memiliki kemampuan baru dalam mengolah dan membuat produk turunan dari jeruk. Penjualan pun semakin meningkat.
Menurut data yang dibagikan oleh PEP Limau Field, penjualan Bude Arta meningkat sebanyak 59 persen, dari sebelumnya Rp 411.111 per bulan, menjadi Rp 1.000.000 per bulan.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Junior Officer Communication Relations Regional1Pertamina, Fajar Adha Zulmawan (kiri) menengok rumah produksi milik kelompok wanita tani Desa Air Talas, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field, A Rachman Para Buana, menyatakan keberhasilan PT Pertamina Limau Field dalam merealisasikan program-program yang ada di Desa Air Talas ini tidak lepas dari kemampuan perusahaan dalam membaca potensi desa yang sejalan dengan inti bisnis (core business) perusahaan. “Dengan pendekatan ini, perusahaan bisa tumbuh bersama masyarakat, dan saling dukung,” tandasnya.
Mengembangkan produk lain
Keberhasilan kelompok Bude Arta memproduksi produk turunan dari jeruk, membuat warga Desa Air Talas terpacu untuk membuat inovasi lainnya dengan membuat kelompok baru.
Pada 2023 terbentuk kelompok Tunas Hijau yang beranggotakan para bapak petani jeruk. kelompok ini menciptakan produk yaitu produk tricoderma (pupuk organic yang zero waste). Selain itu juga aktif dalam pelatihan pembuatan tricoderma, pengenalan agen unsur hayati, hingga membentuk satgas untuk memantau hama yang menyerang pohon jeruk.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok Amerta menunjukkan produk sabun kulit jeruk yang terbuat dari limbah kulit jeruk di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Kemudian pada 2024 terbentuk lagi kelompok Amerta. Kelompok ini berfokus dengan memanfaatkan limbah kulit jeruk untuk kemudian diolah menjadi sabun kulit jeruk, dan bio plastic.
Yunita salah satu anggota kelompok Amerta mengatakan bahwa kelompok ini muncul setelah pada tahun sebelumnya sempat ada panen besar, dan sampah kulit jeruk menjadi limbah yang belum bisa dimanfaatkan.
"Berkat pembinaan dari PEP Limau Field, kami kemudian diajarkan untuk mengolah limbah kulit jeruk tersebut menjadi sabun dan bio plastik," kata Yunita.
Kelompok Amerta memiliki 12 orang anggota yang setiap sore selalu berkumpul di Pendopo Gema Dewata untuk mengolah kulit jeruk kering.
"Jadi kulit jeruk dikumpulkan kemudian dikeringkan dengan cara dijemur. Setelah itu kulit jeruk kering diblender menjadi bubuk kulit jeruk. Bubuk kulit jeruk ini yang jadi bahan membuat sabun kulit jeruk dan bio plastik," jelas Yunita.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok Amerta menunjukkan proses membuat bubuk kulit jeruk yang terbuat dari limbah kulit jeruk di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Menurut Yunita, hasil penjualan sabun kulit jeruk dan bio plastik bisa masuk ke kas kelompok. "Sebulan bisa sekitar Rp 500.000," kata Yunita.
Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field dan bersama Tim CSR menyatakan Bioplastik kulit jeruk merupakan salah satu upaya dalam menerapkan sustainable living dan penerapan filosofi Tri Hita Karana di Desa Air Talas.
Hal ini berangkat dari permasalahan yang ditemukan, yaitu berkaitan dengan penyakit DBD dan limbah plastik non-B3 yang dihasilkan oleh Rumah Sakit di Kota Prabumulih yang cenderung menggunakan plastik non-degradable. Selain itu, adanya penumpukan kulit limbah jeruk yang selama ini dihasilkan oleh kelompok Wanita tani dan kegiatan wisata jeruk di Desa Air talas menghasilkan emisi dan berkontribusi terhadap pemanasan global.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana berfoto bersama anggota kelompok wanita tani Desa Air Talas, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.I Gede Arsana bersyukur dengan adanya program pembinaan oleh PEP Limau Field, yang selain memberikan jalan keluar terkait pemanfaatan jeruk asam dan limbah kulit jeruk, juga memiliki dampak ekonomi kepada warga Desa Air Talas.
"Kalo dulu jeruk asam tidak ada yang nampung, sekarang kami warga desa kerap kekurangan jeruk asam untuk diolah. Kemudian kami juga difasilitasi dengan pendampingan, alat, dan tempat untuk membuat produk unggulan," kata I Gede Arsana.
Mengolah Jeruk Jadi Produk Turunan, Jaga Alam yang Berujung Cuan
Kebun jeruk di Desa Air Talas dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya. Halaman all [1,403] url asal
#csr #pertamina-hulu-energi #muara-enim #pertamina #jeruk #csr-pertamina
(Kompas.com) 15/09/24 15:33
v/15058902/
MUARA ENIM, KOMPAS.com - Khairil Anam tampak sedang memetik jeruk di kebun miliknya saat ditemui Kompas.com di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Tangannya tampak cekatan memilih jeruk mana yang layak petik dan pasti rasanya manis.
"Yang manis tidak selalu yang berwarna kuning, yang agak kehijauan seperti ini pun juga manis. Karena memang keunggulan jeruk di desa kami ini adalah rasa manisnya," kata Khairil.
Benar saja, jeruk yang dia berikan ke Kompas.com rasanya manis, sekejap buah jeruk yang diberikan sudah habis dilahap.
Ada sekitar 350 kepala keluarga di Desa Air Talas, sebagian besar adalah transmigran Bali yang sudah lama menetap di sana. Pekerjaan mereka sebagian besar adalah berkebun, ada sawit, karet, dan jeruk. Jeruk kemudian menjadi primadona di desa ini, bibitnya didatangkan dari Bali dan memiliki karakteristik buah yang manis. Tidak heran semua kepala keluarga di desa ini memiliki kebun jeruk.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Warga Desa Air Talas, Khairil Anam memetik jeruk di kebun miliknya di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Kebun jeruk di desa ini dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya.
Seperti kebanyakan kebun jeruk, maka tidak semua pohon berbuah manis. Tidak sedikit juga ada pohon yang berbuah asam. Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana mengatakan dalam satu kebun pasti ada pohon jeruk berbuah asam. Biasanya buah yang asam ini dipetik dan dijual kepada pedagang untuk dijadikan minuman jeruk peras.
"Dulu jeruk yang asam itu kita jual ke Prabumulih, untuk dijadikan bahan dasar minuman jeruk peras. Sayangnya daya tamping pedagang tidak cukup besar paling sekilo dua kilo, akhirnya banyak jeruk asam yang tidak tertampung dan busuk," kata I Gede Arsana.
Mitra binaan Pertamina EP Limau Field
Permasalahan di masyarakat ini yang kemudian oleh Pertamina EP (PEP) Limau Field coba dicari jalan keluarnya. PEP Limau Field kemudian menggandeng warga Desa Air Talas untuk membentuk kelompok guna memanfaatkan dan membuat produk turunan dari buah jeruk asam.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok wanita tani Desa Air Talas, menata produk berbahan dasar jeruk, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Pada 2022 melalui program Gema Dewata (Gerakan Ekonomi Masyarakat Desa Wujudkan Air Talas Mandiri) terbentuklah kelompok Bude Arta. Kelompok ini dilatih untuk mengelola jeruk menjadi produk turunan seperti pie susu, sirup jeruk, dan selai jeruk.
Pembinaan yang dilakukan PEP Limau Field ini secara tidak langsung menambah kompentensi warga desa yang awalnya hanya berkebun jeruk, kini memiliki kemampuan baru dalam mengolah dan membuat produk turunan dari jeruk. Penjualan pun semakin meningkat.
Menurut data yang dibagikan oleh PEP Limau Field, penjualan Bude Arta meningkat sebanyak 59 persen, dari sebelumnya Rp 411.111 per bulan, menjadi Rp 1.000.000 per bulan.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Junior Officer Communication Relations Regional1Pertamina, Fajar Adha Zulmawan (kiri) menengok rumah produksi milik kelompok wanita tani Desa Air Talas, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field, A Rachman Para Buana, menyatakan keberhasilan PT Pertamina Limau Field dalam merealisasikan program-program yang ada di Desa Air Talas ini tidak lepas dari kemampuan perusahaan dalam membaca potensi desa yang sejalan dengan inti bisnis (core business) perusahaan. “Dengan pendekatan ini, perusahaan bisa tumbuh bersama masyarakat, dan saling dukung,” tandasnya.
Mengembangkan produk lain
Keberhasilan kelompok Bude Arta memproduksi produk turunan dari jeruk, membuat warga Desa Air Talas terpacu untuk membuat inovasi lainnya dengan membuat kelompok baru.
Pada 2023 terbentuk kelompok Tunas Hijau yang beranggotakan para bapak petani jeruk. kelompok ini menciptakan produk yaitu produk tricoderma (pupuk organic yang zero waste). Selain itu juga aktif dalam pelatihan pembuatan tricoderma, pengenalan agen unsur hayati, hingga membentuk satgas untuk memantau hama yang menyerang pohon jeruk.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok Amerta menunjukkan produk sabun kulit jeruk yang terbuat dari limbah kulit jeruk di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Kemudian pada 2024 terbentuk lagi kelompok Amerta. Kelompok ini berfokus dengan memanfaatkan limbah kulit jeruk untuk kemudian diolah menjadi sabun kulit jeruk, dan bio plastic.
Yunita salah satu anggota kelompok Amerta mengatakan bahwa kelompok ini muncul setelah pada tahun sebelumnya sempat ada panen besar, dan sampah kulit jeruk menjadi limbah yang belum bisa dimanfaatkan.
"Berkat pembinaan dari PEP Limau Field, kami kemudian diajarkan untuk mengolah limbah kulit jeruk tersebut menjadi sabun dan bio plastik," kata Yunita.
Kelompok Amerta memiliki 12 orang anggota yang setiap sore selalu berkumpul di Pendopo Gema Dewata untuk mengolah kulit jeruk kering.
"Jadi kulit jeruk dikumpulkan kemudian dikeringkan dengan cara dijemur. Setelah itu kulit jeruk kering diblender menjadi bubuk kulit jeruk. Bubuk kulit jeruk ini yang jadi bahan membuat sabun kulit jeruk dan bio plastik," jelas Yunita.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok Amerta menunjukkan proses membuat bubuk kulit jeruk yang terbuat dari limbah kulit jeruk di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Menurut Yunita, hasil penjualan sabun kulit jeruk dan bio plastik bisa masuk ke kas kelompok. "Sebulan bisa sekitar Rp 500.000," kata Yunita.
Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field dan bersama Tim CSR menyatakan Bioplastik kulit jeruk merupakan salah satu upaya dalam menerapkan sustainable living dan penerapan filosofi Tri Hita Karana di Desa Air Talas.
Hal ini berangkat dari permasalahan yang ditemukan, yaitu berkaitan dengan penyakit DBD dan limbah plastik non-B3 yang dihasilkan oleh Rumah Sakit di Kota Prabumulih yang cenderung menggunakan plastik non-degradable. Selain itu, adanya penumpukan kulit limbah jeruk yang selama ini dihasilkan oleh kelompok Wanita tani dan kegiatan wisata jeruk di Desa Air talas menghasilkan emisi dan berkontribusi terhadap pemanasan global.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana berfoto bersama anggota kelompok wanita tani Desa Air Talas, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.I Gede Arsana bersyukur dengan adanya program pembinaan oleh PEP Limau Field, yang selain memberikan jalan keluar terkait pemanfaatan jeruk asam dan limbah kulit jeruk, juga memiliki dampak ekonomi kepada warga Desa Air Talas.
"Kalo dulu jeruk asam tidak ada yang nampung, sekarang kami warga desa kerap kekurangan jeruk asam untuk diolah. Kemudian kami juga difasilitasi dengan pendampingan, alat, dan tempat untuk membuat produk unggulan," kata I Gede Arsana.
Cuan! Ibu-ibu Ini Sulap Jeruk Jadi Selai hingga Sabun Bernilai Jual Tinggi
Kehadiran PT Pertamina EP Limau Field berhasil membaca potensi desa sejalan dengan inti bisnis (core business) perusahaan. [511] url asal
#pt-pertamina-ep-limau-field #pemberdayaan-masyarakat #limbah-kulit-jeruk #kelompok-usaha #desa-air-talas
(detikFinance - SolusiUKM) 12/09/24 14:00
v/14971193/
Jakarta - Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim merupakan desa transmigran masyarakat Bali yang termasuk dalam Ring 1 Pemberdayaan Masyarakat PT Pertamina EP Limau Field. Mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani buah jeruk.
Kehadiran PT Pertamina EP Limau Field berhasil membaca potensi desa sejalan dengan inti bisnis (core business) perusahaan. Akhirnya tahun 2022 terbentuklah kelompok BUDE ARTA yang mengelola buah jeruk menjadi produk makanan seperti pie susu, sirup jeruk dan selai jeruk.
"Selama ini program PT Pertamina EP Limau Field di desa kami sangat memberikan manfaat yang banyak terhadap warga Desa Air Talas," kata Kepala Desa Air Talas, I Gede Arsana di Desa Air Talas, Muara Enim, Kamis (12/9/2024).
Saat ini sekitar 350 kepala keluarga di Desa Air Talas menanam jeruk yang berasal dari wilayah Bali dan memiliki karakteristik buah yang manis. Kebun jeruk di desa ini dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dengan total produksi mencapai 300 ton per tahun.
Sebelum ada Pertamina, jeruk-jeruk yang asam tidak bisa terjual atau memiliki nilai jual yang rendah. Adanya kelompok BUDE ARTA memuat banyak kegiatan yang salah satunya adalah pelatihan peningkatan kapasitas SDM seperti pelatihan dasar administrasi, pelatihan pembuatan produk makanan pie susu, stik, sirup dan selai dari jeruk.
Selain itu, di 2024 juga ada program inovasi bio plastic yang bernama PAKLEK MANIS (pengolahan limbah kulit jeruk siam air talas). Program ini bergerak pada bidang pertanian organik, di mana limbah kulit jeruk yang tidak termanfaatkan dijadikan sebagai kantong kresek yang dapat terurai.
Cuan! Ibu-ibu Ini Sulap Jeruk Jadi Selai hingga Sabun Bernilai Jual Tinggi Foto: detikcom/Anisa Indraini |
Munculnya itu menambah 1 kelompok baru yaitu kelompok Amerta. Dalam kelompok Amerta, selain menciptakan dan mengolah limbah kulit dijadikan bio plastic, juga dibuat produk non makanan yaitu sabun dari kulit jeruk.
Hal itu berangkat dari permasalahan yang ditemukan, yaitu berkaitan dengan penyakit DBD dan limbah plastik non-B3 yang dihasilkan oleh Rumah Sakit di Kota Prabumulih yang cenderung menggunakan plastik non-degradable. Selain itu, adanya penumpukan kulit limbah jeruk yang selama ini dihasilkan oleh KWT Subur Makmur dan kegiatan wisata jeruk di Desa Air Talas menghasilkan emisi dan berkontribusi terhadap GWP.
"Berdasarkan masalah tersebut, PT Pertamina EP Limau Field menghadirkan 'OraPlast: Dari Limbah Menjadi Rupiah', ucapnya.
Dari segi pemanfaatan limbah kulit jeruk sebanyak 10,4 ton/bulan, pengurangan penggunaan plastik sebanyak 26% di Rumah Sakit Kota Prabumulih atau setara dengan 37,88 ton/tahun, lalu sebanyak 521,79 ton CO2eq tereduksi melalui penggunaan OraPlast.
Terdapat peningkatan penjualan BUDE ARTA MAJU sebanyak 59% dari sebelumnya hanya Rp 411.111/bulan menjadi Rp 1.000.000/bulan, kemudian peningkatan pendapatan petani jeruk melalui kegiatan budidaya jeruk sebanyak 20% dari sebelumnya hanya Rp 2.555.556/bulan menjadi Rp 2.055.556/bulan.
Selain itu, terdapat peningkatan pendapatan 12 orang melalui pengolahan kulit jeruk sebesar Rp 4.185.000/bulan. Manfaat lainnya adalah 19 orang penerima BLT atau 45,2% dientaskan berdasarkan Garis Kemiskinan Kab. Muara Enim, 41 orang kelompok Tani Tunas Hijau, 12 orang kelompok Wanita Tani Subur Makmur, 12 orang kelompok Amerta, dan beberapa orang penerima manfaat tidak langsung.
(aid/kil)
Usaha Klaster Jeruk Ini Makin Berkembang Berkat Pemberdayaan BRI
BRI melakukan pemberdayaan terhadap sektor pertanian salah satunya Klaster Jeruk Sungai Penuh di Jambi [478] url asal
#bri #bbri #umkm #klaster-jeruk #pemberdayaan-umkm
(Bisnis.Com - Finansial) 24/08/24 18:26
v/14643751/
Bisnis.com, SUNGAI PENUH - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memiliki komitmen yang kuat untuk terus mendorong pemberdayaan pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Dalam praktiknya, BRI melakukan pemberdayaan terhadap sektor pertanian salah satunya Klaster Jeruk Sungai Penuh di Jambi.
Wartini, sebagai Ketua Klaster Jeruk Sungai Penuh mengungkapkan bahwa Kelompok Jeruk Desa Sungai Penuh merupakan sebuah kelompok tani yang berfokus pada budidaya dan pengolahan buah jeruk.
“Kelompok ini terdiri dari sejumlah petani lokal di daerah yang memiliki misi meningkatkan produktivitas, dan penjualan buah jeruk agar semakin meningkat. Tentu saja dengan kualitas jeruk yang baik,” ujarnya.
Ia melanjutkan, jeruk yang dihasilkan oleh Kelompok Jeruk Desa Sungai Penuh dikenal memiliki rasa yang manis dan segar, serta kualitas yang unggul. Hal ini tidak terlepas dari penggunaan teknik budidaya modern dan pemeliharaan yang intensif oleh para anggota kelompok.
Wartini bercerita, daerah Sungai Penuh memiliki banyak ladang jeruk, serta pembelinya pun mayoritas dari luar kota yang mengambil stok buah jeruk di daerah tersebut.
Keberhasilan klaster tersebut melakukan penjualan salah satunya dibuktikan saat mereka berpartisipasi dalam bazaar klaster yang diselenggarakan pada acara BRILiaN Independence Week 2024, 16 Agustus 2024.
Dukungan BRI juga diberikan kepada kelompok Klaster Jeruk Sungai Penuh melalui pelatihan dan diskusi untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman usaha tanaman hortikultura salah satunya dalam bertani jeruk.
“Bersyukur kenal BRI pada 2018 dan saat itu mendapat dukungan tambahan permodalan. Alhamdulillah dari awalnya belum punya modal, sekarang bisa berjalan hingga sekarang,” tambahnya. Ia pun berharap, kerja sama dan dukungan tetap terus berlanjut ke depannya. “Supaya petaninya pun makmur, jadi sama-sama senang, dan BRI bisa membantu usaha masyarakat secara luas,” ungkapnya.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan bahwa pemberdayaan Klaster Usaha merupakan pemberdayaan kepada kelompok usaha yang terbentuk berdasarkan kesamaan usaha, dalam satu wilayah sehingga tercipta keakraban dan kebersamaan dalam peningkatan maupun pengembangan usaha para anggotanya.
Hingga akhir Juli 2024 tercatat BRI telah memiliki 31.488 klaster usaha yang tergabung dalam program Klasterku Hidupku. BRI juga telah menyelenggarakan 2.184 pelatihan dalam program Klasterku Hidupku tersebut.
Supari menambahkan bahwa program Klasterku menjadi salah satu bentuk strategi yang mengutamakan pada pemberdayaan. "Secara umum, strategi bisnis mikro BRI di 2024 akan fokus pada pemberdayaan berada di depan pembiayaan. BRI sebagai bank yang berkomitmen kepada pelaku UMKM telah memiliki kerangka pemberdayaan yang dimulai dari fase dasar, integrasi, hingga interkoneksi,” kata Supari.
Sebagai informasi, hingga akhir Juni 2024 BRI tercatat berhasil menyalurkan kredit kepada segmen UMKM senilai Rp1.095,64 triliun atau setara 81,69% dari total penyaluran kredit BRI.
Salah satu bentuk komitmen BRI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yakni dengan tetap mendorong penciptaan lapangan pekerjaan khususnya pada segmen UMKM melalui penyaluran kredit yang berkualitas.
Apabila dirinci, penyaluran kredit BRI kepada segmen UMKM mencapai senilai Rp1.095,64 triliun terdiri dari segmen mikro sebesar Rp623 triliun, segmen kecil Rp232,3 triliun, segmen konsumer Rp198,8 triliun dan segmen menengah senilai Rp41,5 triliun.
Usaha Klaster Jeruk Ini Makin Berkembang Berkat Pemberdayaan BRI
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI ?melakukan pemberdayaan terhadap sektor pertanian, salah satunya Klaster Jeruk Sungai Penuh di Jambi. [496] url asal
#bri #bbri #umkm #klaster-jeruk #pemberdayaan-umkm
(MedCom - Ekonomi) 24/08/24 14:48
v/14635642/
Sungai Penuh: PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memiliki komitmen yang kuat untuk terus mendorong pemberdayaan pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Dalam praktiknya, BRI melakukan pemberdayaan terhadap sektor pertanian, salah satunya Klaster Jeruk Sungai Penuh di Jambi.Wartini, sebagai Ketua Klaster Jeruk Sungai Penuh mengungkapkan bahwa Kelompok Jeruk Desa Sungai Penuh merupakan sebuah kelompok tani yang berfokus pada budidaya dan pengolahan buah jeruk.
"Kelompok ini terdiri dari sejumlah petani lokal di daerah yang memiliki misi meningkatkan produktivitas dan penjualan buah jeruk agar semakin meningkat. Tentu saja dengan kualitas jeruk yang baik," ujarnya.
Ia melanjutkan, jeruk yang dihasilkan oleh Kelompok Jeruk Desa Sungai Penuh dikenal memiliki rasa yang manis dan segar, serta kualitas yang unggul. Hal ini tidak terlepas dari penggunaan teknik budidaya modern dan pemeliharaan yang intensif oleh para anggota kelompok.
Wartini bercerita, daerah Sungai Penuh memiliki banyak ladang jeruk, serta pembelinya pun mayoritas dari luar kota yang mengambil stok buah jeruk di daerah tersebut. Keberhasilan klaster tersebut melakukan penjualan, salah satunya dibuktikan saat mereka berpartisipasi dalam bazar klaster yang diselenggarakan pada acara BRILiaN Independence Week 2024, 16 Agustus 2024.
Dukungan BRI juga diberikan kepada kelompok Klaster Jeruk Sungai Penuh melalui pelatihan dan diskusi untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman usaha tanaman hortikultura, salah satunya dalam bertani jeruk.
"Bersyukur kenal BRI pada 2018 dan saat itu mendapat dukungan tambahan permodalan. Alhamdulillah, dari awalnya belum punya modal, sekarang bisa berjalan hingga sekarang," tambahnya.
Ia pun berharap, kerja sama dan dukungan tetap terus berlanjut ke depannya.
"Supaya petaninya pun makmur, jadi sama-sama senang, dan BRI bisa membantu usaha masyarakat secara luas," ungkapnya.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan bahwa pemberdayaan Klaster Usaha merupakan pemberdayaan kepada kelompok usaha yang terbentuk berdasarkan kesamaan usaha dalam satu wilayah sehingga tercipta keakraban dan kebersamaan dalam peningkatan maupun pengembangan usaha para anggotanya.
Hingga akhir Juli 2024, BRI telah memiliki 31.488 klaster usaha yang tergabung dalam program Klasterku Hidupku. BRI juga telah menyelenggarakan 2.184 pelatihan dalam program Klasterku Hidupku tersebut.

Klaster Jeruk Sungai Penuh di Jambi menjadi salah satu UMKM yang mendapat dukungan dari program pemberdayaan BRI. (Foto: Dok. BRI)
Supari menambahkan bahwa program Klasterku menjadi salah satu bentuk strategi yang mengutamakan pada pemberdayaan.
"Secara umum, strategi bisnis mikro BRI pada 2024 akan fokus pada pemberdayaan berada di depan pembiayaan. BRI sebagai bank yang berkomitmen kepada pelaku UMKM telah memiliki kerangka pemberdayaan yang dimulai dari fase dasar, integrasi, hingga interkoneksi," kata Supari.
Sebagai informasi, hingga akhir Juni 2024, BRI berhasil menyalurkan kredit kepada segmen UMKM senilai Rp1.095,64 triliun atau setara 81,69 persen dari total penyaluran kredit BRI. Salah satu bentuk komitmen BRI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, yakni dengan tetap mendorong penciptaan lapangan pekerjaan khususnya pada segmen UMKM melalui penyaluran kredit yang berkualitas. Apabila dirinci, penyaluran kredit BRI kepada segmen UMKM mencapai senilai Rp1.095,64 triliun terdiri dari segmen mikro sebesar Rp623 triliun, segmen kecil Rp232,3 triliun, segmen konsumer Rp198,8 triliun, dan segmen menengah senilai Rp41,5 triliun.
(ROS)
Usaha Klaster Jeruk Ini Makin Berkembang Berkat Pemberdayaan BRI
Kelompok Jeruk Desa Sungai Penuh merupakan sebuah kelompok tani yang berfokus pada budidaya dan pengolahan buah jeruk. [639] url asal
(detikFinance - Ekonomi dan Bisnis) 24/08/24 12:40
v/14628467/
Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus berupaya untuk mendorong pemberdayaan pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Adapun realisasinya dengan melakukan pemberdayaan terhadap sektor pertanian, salah satunya Klaster Jeruk Sungai Penuh di Jambi.
Ketua Klaster Jeruk Sungai Penuh Wartini mengungkapkan bahwa Kelompok Jeruk Desa Sungai Penuh merupakan sebuah kelompok tani yang berfokus pada budi daya dan pengolahan buah jeruk.
"Kelompok ini terdiri dari sejumlah petani lokal di daerah yang memiliki misi meningkatkan produktivitas, dan penjualan buah jeruk agar semakin meningkat. Tentu saja dengan kualitas jeruk yang baik," kata Wartini dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/8/2024).
Dia mengatakan jeruk yang dihasilkan oleh Kelompok Jeruk Desa Sungai Penuh dikenal memiliki rasa yang manis dan segar, serta kualitas yang unggul. Hal ini tidak terlepas dari penggunaan teknik budidaya modern dan pemeliharaan yang intensif oleh para anggota kelompok.
"Daerah Sungai Penuh memiliki banyak ladang jeruk, serta pembelinya pun mayoritas dari luar kota yang mengambil stok buah jeruk di daerah tersebut. Keberhasilan klaster tersebut melakukan penjualan salah satunya dibuktikan saat mereka berpartisipasi dalam bazar klaster yang diselenggarakan pada acara BRILiaN Independence Week 2024, 16 Agustus 2024," ungkapnya.
Dia menjelaskan dukungan yang diberikan oleh BRI kepada kelompok tani juga melalui sejumlah pelatihan dan diskusi. Diskusi tersebut dilakukan bertujuan untuk berbagi pengalaman usaha tanaman hortikultura.
"Bersyukur kenal BRI pada 2018 dan saat itu mendapat dukungan tambahan permodalan. Alhamdulillah dari awalnya belum punya modal, sekarang bisa berjalan hingga sekarang," jelasnya.
Dia pun berharap kerja sama dan dukungan tetap terus berlanjut ke depannya. Sehingga para petani bisa hidup lebih sejahtera.
"Supaya petaninya pun makmur, jadi sama-sama senang, dan BRI bisa membantu usaha masyarakat secara luas," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan bahwa pemberdayaan Klaster Usaha merupakan pemberdayaan kepada kelompok usaha yang terbentuk berdasarkan kesamaan usaha, dalam satu wilayah sehingga tercipta keakraban dan kebersamaan dalam peningkatan maupun pengembangan usaha para anggotanya.
Hingga akhir Juli 2024 tercatat BRI telah memiliki 31.488 klaster usaha yang tergabung dalam program Klasterku Hidupku. BRI juga telah menyelenggarakan 2.184 pelatihan dalam program Klasterku Hidupku tersebut.
Supari menambahkan bahwa program Klasterku menjadi salah satu bentuk strategi yang mengutamakan pada pemberdayaan.
"Secara umum, strategi bisnis mikro BRI di 2024 akan fokus pada pemberdayaan berada di depan pembiayaan. BRI sebagai bank yang berkomitmen kepada pelaku UMKM telah memiliki kerangka pemberdayaan yang dimulai dari fase dasar, integrasi, hingga interkoneksi," kata Supari.
Sebagai informasi, hingga akhir Juni 2024 BRI tercatat berhasil menyalurkan kredit kepada segmen UMKM senilai Rp 1.095,64 triliun atau setara 81,69% dari total penyaluran kredit BRI. Salah satu bentuk komitmen BRI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yakni dengan tetap mendorong penciptaan lapangan pekerjaan khususnya pada segmen UMKM melalui penyaluran kredit yang berkualitas.
Apabila dirinci, penyaluran kredit BRI kepada segmen UMKM mencapai senilai Rp 1.095,64 triliun terdiri dari segmen mikro sebesar Rp 623 triliun, segmen kecil Rp 232,3 triliun, segmen konsumer Rp 198,8 triliun dan segmen menengah senilai Rp 41,5 triliun.
(ncm/ega)

