#30 tag 24jam
Mengolah Jeruk Jadi Produk Turunan, Jaga Alam yang Berujung Cuan Halaman all
Kebun jeruk di Desa Air Talas dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya. Halaman all?page=all [824] url asal
#csr #pertamina-hulu-energi #muara-enim #pertamina #jeruk #csr-pertamina
(Kompas.com) 15/09/24 15:33
v/15067053/
MUARA ENIM, KOMPAS.com - Khairil Anam tampak sedang memetik jeruk di kebun miliknya saat ditemui Kompas.com di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Tangannya tampak cekatan memilih jeruk mana yang layak petik dan pasti rasanya manis.
"Yang manis tidak selalu yang berwarna kuning, yang agak kehijauan seperti ini pun juga manis. Karena memang keunggulan jeruk di desa kami ini adalah rasa manisnya," kata Khairil.
Benar saja, jeruk yang dia berikan ke Kompas.com rasanya manis, sekejap buah jeruk yang diberikan sudah habis dilahap.
Ada sekitar 350 kepala keluarga di Desa Air Talas, sebagian besar adalah transmigran Bali yang sudah lama menetap di sana. Pekerjaan mereka sebagian besar adalah berkebun, ada sawit, karet, dan jeruk. Jeruk kemudian menjadi primadona di desa ini, bibitnya didatangkan dari Bali dan memiliki karakteristik buah yang manis. Tidak heran semua kepala keluarga di desa ini memiliki kebun jeruk.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Warga Desa Air Talas, Khairil Anam memetik jeruk di kebun miliknya di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Kebun jeruk di desa ini dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya.
Seperti kebanyakan kebun jeruk, maka tidak semua pohon berbuah manis. Tidak sedikit juga ada pohon yang berbuah asam. Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana mengatakan dalam satu kebun pasti ada pohon jeruk berbuah asam. Biasanya buah yang asam ini dipetik dan dijual kepada pedagang untuk dijadikan minuman jeruk peras.
"Dulu jeruk yang asam itu kita jual ke Prabumulih, untuk dijadikan bahan dasar minuman jeruk peras. Sayangnya daya tampung pedagang tidak cukup besar paling sekilo dua kilo, akhirnya banyak jeruk asam yang tidak tertampung dan busuk," kata I Gede Arsana.
Mitra binaan Pertamina EP Limau Field
Permasalahan di masyarakat ini yang kemudian oleh Pertamina EP (PEP) Limau Field coba dicari jalan keluarnya. PEP Limau Field kemudian menggandeng warga Desa Air Talas untuk membentuk kelompok guna memanfaatkan dan membuat produk turunan dari buah jeruk asam.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok wanita tani Desa Air Talas, menata produk berbahan dasar jeruk, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Pada 2022 melalui program Gema Dewata (Gerakan Ekonomi Masyarakat Desa Wujudkan Air Talas Mandiri) terbentuklah kelompok Bude Arta. Kelompok ini dilatih untuk mengelola jeruk menjadi produk turunan seperti pie susu, sirup jeruk, dan selai jeruk.
Pembinaan yang dilakukan PEP Limau Field ini secara tidak langsung menambah kompentensi warga desa yang awalnya hanya berkebun jeruk, kini memiliki kemampuan baru dalam mengolah dan membuat produk turunan dari jeruk. Penjualan pun semakin meningkat.
Menurut data yang dibagikan oleh PEP Limau Field, penjualan Bude Arta meningkat sebanyak 59 persen, dari sebelumnya Rp 411.111 per bulan, menjadi Rp 1.000.000 per bulan.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Junior Officer Communication Relations Regional1Pertamina, Fajar Adha Zulmawan (kiri) menengok rumah produksi milik kelompok wanita tani Desa Air Talas, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field, A Rachman Para Buana, menyatakan keberhasilan PT Pertamina Limau Field dalam merealisasikan program-program yang ada di Desa Air Talas ini tidak lepas dari kemampuan perusahaan dalam membaca potensi desa yang sejalan dengan inti bisnis (core business) perusahaan. “Dengan pendekatan ini, perusahaan bisa tumbuh bersama masyarakat, dan saling dukung,” tandasnya.
Mengembangkan produk lain
Keberhasilan kelompok Bude Arta memproduksi produk turunan dari jeruk, membuat warga Desa Air Talas terpacu untuk membuat inovasi lainnya dengan membuat kelompok baru.
Mengolah Jeruk Jadi Produk Turunan, Jaga Alam yang Berujung Cuan
Kebun jeruk di Desa Air Talas dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya. Halaman all [1,403] url asal
#csr #pertamina-hulu-energi #muara-enim #pertamina #jeruk #csr-pertamina
(Kompas.com - Money) 15/09/24 15:33
v/15064400/
MUARA ENIM, KOMPAS.com - Khairil Anam tampak sedang memetik jeruk di kebun miliknya saat ditemui Kompas.com di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Tangannya tampak cekatan memilih jeruk mana yang layak petik dan pasti rasanya manis.
"Yang manis tidak selalu yang berwarna kuning, yang agak kehijauan seperti ini pun juga manis. Karena memang keunggulan jeruk di desa kami ini adalah rasa manisnya," kata Khairil.
Benar saja, jeruk yang dia berikan ke Kompas.com rasanya manis, sekejap buah jeruk yang diberikan sudah habis dilahap.
Ada sekitar 350 kepala keluarga di Desa Air Talas, sebagian besar adalah transmigran Bali yang sudah lama menetap di sana. Pekerjaan mereka sebagian besar adalah berkebun, ada sawit, karet, dan jeruk. Jeruk kemudian menjadi primadona di desa ini, bibitnya didatangkan dari Bali dan memiliki karakteristik buah yang manis. Tidak heran semua kepala keluarga di desa ini memiliki kebun jeruk.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Warga Desa Air Talas, Khairil Anam memetik jeruk di kebun miliknya di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Kebun jeruk di desa ini dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya.
Seperti kebanyakan kebun jeruk, maka tidak semua pohon berbuah manis. Tidak sedikit juga ada pohon yang berbuah asam. Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana mengatakan dalam satu kebun pasti ada pohon jeruk berbuah asam. Biasanya buah yang asam ini dipetik dan dijual kepada pedagang untuk dijadikan minuman jeruk peras.
"Dulu jeruk yang asam itu kita jual ke Prabumulih, untuk dijadikan bahan dasar minuman jeruk peras. Sayangnya daya tampung pedagang tidak cukup besar paling sekilo dua kilo, akhirnya banyak jeruk asam yang tidak tertampung dan busuk," kata I Gede Arsana.
Mitra binaan Pertamina EP Limau Field
Permasalahan di masyarakat ini yang kemudian oleh Pertamina EP (PEP) Limau Field coba dicari jalan keluarnya. PEP Limau Field kemudian menggandeng warga Desa Air Talas untuk membentuk kelompok guna memanfaatkan dan membuat produk turunan dari buah jeruk asam.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok wanita tani Desa Air Talas, menata produk berbahan dasar jeruk, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Pada 2022 melalui program Gema Dewata (Gerakan Ekonomi Masyarakat Desa Wujudkan Air Talas Mandiri) terbentuklah kelompok Bude Arta. Kelompok ini dilatih untuk mengelola jeruk menjadi produk turunan seperti pie susu, sirup jeruk, dan selai jeruk.
Pembinaan yang dilakukan PEP Limau Field ini secara tidak langsung menambah kompentensi warga desa yang awalnya hanya berkebun jeruk, kini memiliki kemampuan baru dalam mengolah dan membuat produk turunan dari jeruk. Penjualan pun semakin meningkat.
Menurut data yang dibagikan oleh PEP Limau Field, penjualan Bude Arta meningkat sebanyak 59 persen, dari sebelumnya Rp 411.111 per bulan, menjadi Rp 1.000.000 per bulan.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Junior Officer Communication Relations Regional1Pertamina, Fajar Adha Zulmawan (kiri) menengok rumah produksi milik kelompok wanita tani Desa Air Talas, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field, A Rachman Para Buana, menyatakan keberhasilan PT Pertamina Limau Field dalam merealisasikan program-program yang ada di Desa Air Talas ini tidak lepas dari kemampuan perusahaan dalam membaca potensi desa yang sejalan dengan inti bisnis (core business) perusahaan. “Dengan pendekatan ini, perusahaan bisa tumbuh bersama masyarakat, dan saling dukung,” tandasnya.
Mengembangkan produk lain
Keberhasilan kelompok Bude Arta memproduksi produk turunan dari jeruk, membuat warga Desa Air Talas terpacu untuk membuat inovasi lainnya dengan membuat kelompok baru.
Pada 2023 terbentuk kelompok Tunas Hijau yang beranggotakan para bapak petani jeruk. kelompok ini menciptakan produk yaitu produk tricoderma (pupuk organic yang zero waste). Selain itu juga aktif dalam pelatihan pembuatan tricoderma, pengenalan agen unsur hayati, hingga membentuk satgas untuk memantau hama yang menyerang pohon jeruk.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok Amerta menunjukkan produk sabun kulit jeruk yang terbuat dari limbah kulit jeruk di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Kemudian pada 2024 terbentuk lagi kelompok Amerta. Kelompok ini berfokus dengan memanfaatkan limbah kulit jeruk untuk kemudian diolah menjadi sabun kulit jeruk, dan bio plastic.
Yunita salah satu anggota kelompok Amerta mengatakan bahwa kelompok ini muncul setelah pada tahun sebelumnya sempat ada panen besar, dan sampah kulit jeruk menjadi limbah yang belum bisa dimanfaatkan.
"Berkat pembinaan dari PEP Limau Field, kami kemudian diajarkan untuk mengolah limbah kulit jeruk tersebut menjadi sabun dan bio plastik," kata Yunita.
Kelompok Amerta memiliki 12 orang anggota yang setiap sore selalu berkumpul di Pendopo Gema Dewata untuk mengolah kulit jeruk kering.
"Jadi kulit jeruk dikumpulkan kemudian dikeringkan dengan cara dijemur. Setelah itu kulit jeruk kering diblender menjadi bubuk kulit jeruk. Bubuk kulit jeruk ini yang jadi bahan membuat sabun kulit jeruk dan bio plastik," jelas Yunita.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok Amerta menunjukkan proses membuat bubuk kulit jeruk yang terbuat dari limbah kulit jeruk di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Menurut Yunita, hasil penjualan sabun kulit jeruk dan bio plastik bisa masuk ke kas kelompok. "Sebulan bisa sekitar Rp 500.000," kata Yunita.
Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field dan bersama Tim CSR menyatakan Bioplastik kulit jeruk merupakan salah satu upaya dalam menerapkan sustainable living dan penerapan filosofi Tri Hita Karana di Desa Air Talas.
Hal ini berangkat dari permasalahan yang ditemukan, yaitu berkaitan dengan penyakit DBD dan limbah plastik non-B3 yang dihasilkan oleh Rumah Sakit di Kota Prabumulih yang cenderung menggunakan plastik non-degradable. Selain itu, adanya penumpukan kulit limbah jeruk yang selama ini dihasilkan oleh kelompok Wanita tani dan kegiatan wisata jeruk di Desa Air talas menghasilkan emisi dan berkontribusi terhadap pemanasan global.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana berfoto bersama anggota kelompok wanita tani Desa Air Talas, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.I Gede Arsana bersyukur dengan adanya program pembinaan oleh PEP Limau Field, yang selain memberikan jalan keluar terkait pemanfaatan jeruk asam dan limbah kulit jeruk, juga memiliki dampak ekonomi kepada warga Desa Air Talas.
"Kalo dulu jeruk asam tidak ada yang nampung, sekarang kami warga desa kerap kekurangan jeruk asam untuk diolah. Kemudian kami juga difasilitasi dengan pendampingan, alat, dan tempat untuk membuat produk unggulan," kata I Gede Arsana.
Mengolah Jeruk Jadi Produk Turunan, Jaga Alam yang Berujung Cuan Halaman all
Kebun jeruk di Desa Air Talas dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya. Halaman all [1,403] url asal
#csr #pertamina-hulu-energi #muara-enim #pertamina #jeruk #csr-pertamina
(Kompas.com) 15/09/24 15:33
v/15058906/
MUARA ENIM, KOMPAS.com - Khairil Anam tampak sedang memetik jeruk di kebun miliknya saat ditemui Kompas.com di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Tangannya tampak cekatan memilih jeruk mana yang layak petik dan pasti rasanya manis.
"Yang manis tidak selalu yang berwarna kuning, yang agak kehijauan seperti ini pun juga manis. Karena memang keunggulan jeruk di desa kami ini adalah rasa manisnya," kata Khairil.
Benar saja, jeruk yang dia berikan ke Kompas.com rasanya manis, sekejap buah jeruk yang diberikan sudah habis dilahap.
Ada sekitar 350 kepala keluarga di Desa Air Talas, sebagian besar adalah transmigran Bali yang sudah lama menetap di sana. Pekerjaan mereka sebagian besar adalah berkebun, ada sawit, karet, dan jeruk. Jeruk kemudian menjadi primadona di desa ini, bibitnya didatangkan dari Bali dan memiliki karakteristik buah yang manis. Tidak heran semua kepala keluarga di desa ini memiliki kebun jeruk.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Warga Desa Air Talas, Khairil Anam memetik jeruk di kebun miliknya di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Kebun jeruk di desa ini dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya.
Seperti kebanyakan kebun jeruk, maka tidak semua pohon berbuah manis. Tidak sedikit juga ada pohon yang berbuah asam. Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana mengatakan dalam satu kebun pasti ada pohon jeruk berbuah asam. Biasanya buah yang asam ini dipetik dan dijual kepada pedagang untuk dijadikan minuman jeruk peras.
"Dulu jeruk yang asam itu kita jual ke Prabumulih, untuk dijadikan bahan dasar minuman jeruk peras. Sayangnya daya tamping pedagang tidak cukup besar paling sekilo dua kilo, akhirnya banyak jeruk asam yang tidak tertampung dan busuk," kata I Gede Arsana.
Mitra binaan Pertamina EP Limau Field
Permasalahan di masyarakat ini yang kemudian oleh Pertamina EP (PEP) Limau Field coba dicari jalan keluarnya. PEP Limau Field kemudian menggandeng warga Desa Air Talas untuk membentuk kelompok guna memanfaatkan dan membuat produk turunan dari buah jeruk asam.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok wanita tani Desa Air Talas, menata produk berbahan dasar jeruk, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Pada 2022 melalui program Gema Dewata (Gerakan Ekonomi Masyarakat Desa Wujudkan Air Talas Mandiri) terbentuklah kelompok Bude Arta. Kelompok ini dilatih untuk mengelola jeruk menjadi produk turunan seperti pie susu, sirup jeruk, dan selai jeruk.
Pembinaan yang dilakukan PEP Limau Field ini secara tidak langsung menambah kompentensi warga desa yang awalnya hanya berkebun jeruk, kini memiliki kemampuan baru dalam mengolah dan membuat produk turunan dari jeruk. Penjualan pun semakin meningkat.
Menurut data yang dibagikan oleh PEP Limau Field, penjualan Bude Arta meningkat sebanyak 59 persen, dari sebelumnya Rp 411.111 per bulan, menjadi Rp 1.000.000 per bulan.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Junior Officer Communication Relations Regional1Pertamina, Fajar Adha Zulmawan (kiri) menengok rumah produksi milik kelompok wanita tani Desa Air Talas, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field, A Rachman Para Buana, menyatakan keberhasilan PT Pertamina Limau Field dalam merealisasikan program-program yang ada di Desa Air Talas ini tidak lepas dari kemampuan perusahaan dalam membaca potensi desa yang sejalan dengan inti bisnis (core business) perusahaan. “Dengan pendekatan ini, perusahaan bisa tumbuh bersama masyarakat, dan saling dukung,” tandasnya.
Mengembangkan produk lain
Keberhasilan kelompok Bude Arta memproduksi produk turunan dari jeruk, membuat warga Desa Air Talas terpacu untuk membuat inovasi lainnya dengan membuat kelompok baru.
Pada 2023 terbentuk kelompok Tunas Hijau yang beranggotakan para bapak petani jeruk. kelompok ini menciptakan produk yaitu produk tricoderma (pupuk organic yang zero waste). Selain itu juga aktif dalam pelatihan pembuatan tricoderma, pengenalan agen unsur hayati, hingga membentuk satgas untuk memantau hama yang menyerang pohon jeruk.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok Amerta menunjukkan produk sabun kulit jeruk yang terbuat dari limbah kulit jeruk di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Kemudian pada 2024 terbentuk lagi kelompok Amerta. Kelompok ini berfokus dengan memanfaatkan limbah kulit jeruk untuk kemudian diolah menjadi sabun kulit jeruk, dan bio plastic.
Yunita salah satu anggota kelompok Amerta mengatakan bahwa kelompok ini muncul setelah pada tahun sebelumnya sempat ada panen besar, dan sampah kulit jeruk menjadi limbah yang belum bisa dimanfaatkan.
"Berkat pembinaan dari PEP Limau Field, kami kemudian diajarkan untuk mengolah limbah kulit jeruk tersebut menjadi sabun dan bio plastik," kata Yunita.
Kelompok Amerta memiliki 12 orang anggota yang setiap sore selalu berkumpul di Pendopo Gema Dewata untuk mengolah kulit jeruk kering.
"Jadi kulit jeruk dikumpulkan kemudian dikeringkan dengan cara dijemur. Setelah itu kulit jeruk kering diblender menjadi bubuk kulit jeruk. Bubuk kulit jeruk ini yang jadi bahan membuat sabun kulit jeruk dan bio plastik," jelas Yunita.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok Amerta menunjukkan proses membuat bubuk kulit jeruk yang terbuat dari limbah kulit jeruk di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Menurut Yunita, hasil penjualan sabun kulit jeruk dan bio plastik bisa masuk ke kas kelompok. "Sebulan bisa sekitar Rp 500.000," kata Yunita.
Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field dan bersama Tim CSR menyatakan Bioplastik kulit jeruk merupakan salah satu upaya dalam menerapkan sustainable living dan penerapan filosofi Tri Hita Karana di Desa Air Talas.
Hal ini berangkat dari permasalahan yang ditemukan, yaitu berkaitan dengan penyakit DBD dan limbah plastik non-B3 yang dihasilkan oleh Rumah Sakit di Kota Prabumulih yang cenderung menggunakan plastik non-degradable. Selain itu, adanya penumpukan kulit limbah jeruk yang selama ini dihasilkan oleh kelompok Wanita tani dan kegiatan wisata jeruk di Desa Air talas menghasilkan emisi dan berkontribusi terhadap pemanasan global.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana berfoto bersama anggota kelompok wanita tani Desa Air Talas, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.I Gede Arsana bersyukur dengan adanya program pembinaan oleh PEP Limau Field, yang selain memberikan jalan keluar terkait pemanfaatan jeruk asam dan limbah kulit jeruk, juga memiliki dampak ekonomi kepada warga Desa Air Talas.
"Kalo dulu jeruk asam tidak ada yang nampung, sekarang kami warga desa kerap kekurangan jeruk asam untuk diolah. Kemudian kami juga difasilitasi dengan pendampingan, alat, dan tempat untuk membuat produk unggulan," kata I Gede Arsana.
Mengolah Jeruk Jadi Produk Turunan, Jaga Alam yang Berujung Cuan
Kebun jeruk di Desa Air Talas dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya. Halaman all [1,403] url asal
#csr #pertamina-hulu-energi #muara-enim #pertamina #jeruk #csr-pertamina
(Kompas.com) 15/09/24 15:33
v/15058902/
MUARA ENIM, KOMPAS.com - Khairil Anam tampak sedang memetik jeruk di kebun miliknya saat ditemui Kompas.com di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Tangannya tampak cekatan memilih jeruk mana yang layak petik dan pasti rasanya manis.
"Yang manis tidak selalu yang berwarna kuning, yang agak kehijauan seperti ini pun juga manis. Karena memang keunggulan jeruk di desa kami ini adalah rasa manisnya," kata Khairil.
Benar saja, jeruk yang dia berikan ke Kompas.com rasanya manis, sekejap buah jeruk yang diberikan sudah habis dilahap.
Ada sekitar 350 kepala keluarga di Desa Air Talas, sebagian besar adalah transmigran Bali yang sudah lama menetap di sana. Pekerjaan mereka sebagian besar adalah berkebun, ada sawit, karet, dan jeruk. Jeruk kemudian menjadi primadona di desa ini, bibitnya didatangkan dari Bali dan memiliki karakteristik buah yang manis. Tidak heran semua kepala keluarga di desa ini memiliki kebun jeruk.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Warga Desa Air Talas, Khairil Anam memetik jeruk di kebun miliknya di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Kebun jeruk di desa ini dapat dipanen tiga kali dalam setahun, dan total produksi bisa mencapai 300 ton per tahunnya.
Seperti kebanyakan kebun jeruk, maka tidak semua pohon berbuah manis. Tidak sedikit juga ada pohon yang berbuah asam. Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana mengatakan dalam satu kebun pasti ada pohon jeruk berbuah asam. Biasanya buah yang asam ini dipetik dan dijual kepada pedagang untuk dijadikan minuman jeruk peras.
"Dulu jeruk yang asam itu kita jual ke Prabumulih, untuk dijadikan bahan dasar minuman jeruk peras. Sayangnya daya tamping pedagang tidak cukup besar paling sekilo dua kilo, akhirnya banyak jeruk asam yang tidak tertampung dan busuk," kata I Gede Arsana.
Mitra binaan Pertamina EP Limau Field
Permasalahan di masyarakat ini yang kemudian oleh Pertamina EP (PEP) Limau Field coba dicari jalan keluarnya. PEP Limau Field kemudian menggandeng warga Desa Air Talas untuk membentuk kelompok guna memanfaatkan dan membuat produk turunan dari buah jeruk asam.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok wanita tani Desa Air Talas, menata produk berbahan dasar jeruk, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Pada 2022 melalui program Gema Dewata (Gerakan Ekonomi Masyarakat Desa Wujudkan Air Talas Mandiri) terbentuklah kelompok Bude Arta. Kelompok ini dilatih untuk mengelola jeruk menjadi produk turunan seperti pie susu, sirup jeruk, dan selai jeruk.
Pembinaan yang dilakukan PEP Limau Field ini secara tidak langsung menambah kompentensi warga desa yang awalnya hanya berkebun jeruk, kini memiliki kemampuan baru dalam mengolah dan membuat produk turunan dari jeruk. Penjualan pun semakin meningkat.
Menurut data yang dibagikan oleh PEP Limau Field, penjualan Bude Arta meningkat sebanyak 59 persen, dari sebelumnya Rp 411.111 per bulan, menjadi Rp 1.000.000 per bulan.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Junior Officer Communication Relations Regional1Pertamina, Fajar Adha Zulmawan (kiri) menengok rumah produksi milik kelompok wanita tani Desa Air Talas, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field, A Rachman Para Buana, menyatakan keberhasilan PT Pertamina Limau Field dalam merealisasikan program-program yang ada di Desa Air Talas ini tidak lepas dari kemampuan perusahaan dalam membaca potensi desa yang sejalan dengan inti bisnis (core business) perusahaan. “Dengan pendekatan ini, perusahaan bisa tumbuh bersama masyarakat, dan saling dukung,” tandasnya.
Mengembangkan produk lain
Keberhasilan kelompok Bude Arta memproduksi produk turunan dari jeruk, membuat warga Desa Air Talas terpacu untuk membuat inovasi lainnya dengan membuat kelompok baru.
Pada 2023 terbentuk kelompok Tunas Hijau yang beranggotakan para bapak petani jeruk. kelompok ini menciptakan produk yaitu produk tricoderma (pupuk organic yang zero waste). Selain itu juga aktif dalam pelatihan pembuatan tricoderma, pengenalan agen unsur hayati, hingga membentuk satgas untuk memantau hama yang menyerang pohon jeruk.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok Amerta menunjukkan produk sabun kulit jeruk yang terbuat dari limbah kulit jeruk di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Kemudian pada 2024 terbentuk lagi kelompok Amerta. Kelompok ini berfokus dengan memanfaatkan limbah kulit jeruk untuk kemudian diolah menjadi sabun kulit jeruk, dan bio plastic.
Yunita salah satu anggota kelompok Amerta mengatakan bahwa kelompok ini muncul setelah pada tahun sebelumnya sempat ada panen besar, dan sampah kulit jeruk menjadi limbah yang belum bisa dimanfaatkan.
"Berkat pembinaan dari PEP Limau Field, kami kemudian diajarkan untuk mengolah limbah kulit jeruk tersebut menjadi sabun dan bio plastik," kata Yunita.
Kelompok Amerta memiliki 12 orang anggota yang setiap sore selalu berkumpul di Pendopo Gema Dewata untuk mengolah kulit jeruk kering.
"Jadi kulit jeruk dikumpulkan kemudian dikeringkan dengan cara dijemur. Setelah itu kulit jeruk kering diblender menjadi bubuk kulit jeruk. Bubuk kulit jeruk ini yang jadi bahan membuat sabun kulit jeruk dan bio plastik," jelas Yunita.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota kelompok Amerta menunjukkan proses membuat bubuk kulit jeruk yang terbuat dari limbah kulit jeruk di Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.Menurut Yunita, hasil penjualan sabun kulit jeruk dan bio plastik bisa masuk ke kas kelompok. "Sebulan bisa sekitar Rp 500.000," kata Yunita.
Senior Manager PT Pertamina EP Limau Field dan bersama Tim CSR menyatakan Bioplastik kulit jeruk merupakan salah satu upaya dalam menerapkan sustainable living dan penerapan filosofi Tri Hita Karana di Desa Air Talas.
Hal ini berangkat dari permasalahan yang ditemukan, yaitu berkaitan dengan penyakit DBD dan limbah plastik non-B3 yang dihasilkan oleh Rumah Sakit di Kota Prabumulih yang cenderung menggunakan plastik non-degradable. Selain itu, adanya penumpukan kulit limbah jeruk yang selama ini dihasilkan oleh kelompok Wanita tani dan kegiatan wisata jeruk di Desa Air talas menghasilkan emisi dan berkontribusi terhadap pemanasan global.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Kepala Desa Air Talas I Gede Arsana berfoto bersama anggota kelompok wanita tani Desa Air Talas, di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Di tempat inilah kelompok wanita tani mengolah komoditas berbahan dasar jeruk, seperti sirup, selai jeruk, hingga pie susu. Desa Air Talas merupakan salah satu desa yang masuk dalam pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Limau Field. Saat ini ada 350 kepala keluarga yang menanam jeruk, dengan total produksi 300 ton per tahun.I Gede Arsana bersyukur dengan adanya program pembinaan oleh PEP Limau Field, yang selain memberikan jalan keluar terkait pemanfaatan jeruk asam dan limbah kulit jeruk, juga memiliki dampak ekonomi kepada warga Desa Air Talas.
"Kalo dulu jeruk asam tidak ada yang nampung, sekarang kami warga desa kerap kekurangan jeruk asam untuk diolah. Kemudian kami juga difasilitasi dengan pendampingan, alat, dan tempat untuk membuat produk unggulan," kata I Gede Arsana.
Sosok Edwin Mauladi, Cucu Pendiri HMI yang Kini Maju di Pilkada Muara Enim - kumparan.com
Calon Bupati Muara Enim, Edwin Mauladi, ternyata merupakan cucu dari salah seorang pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Dahlan Husein. #publisherstory #urbanid [442] url asal
#muara-enim #bupati #hmi #pilkada #sumsel
(Kumparan.com - News) 16/07/24 20:35
v/10991478/
Calon Bupati Muara Enim, Edwin Mauladi, ternyata merupakan cucu dari salah seorang pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Dahlan Husein. Hal ini dibenarkan oleh Sudirman Dahlan, salah satu anak dari Dahlan Husein yang berasal dari daerah Tanjung Atap, Ogan Ilir.
Sudirman menyebut bahwa sejak kecil, Edwin cukup dekat dengan Dahlan Husein, yang kerap memberikan wejangan kepada anak cucunya. Sehingga menurutnya wajar jika ketika dewasa, darah pergerakan dan jiwa pemimpin muncul pada Edwin.
"Kami dari keluarga memberikan dukungan maksimal kepada Edwin. Sekaligus berharap dia menjadikan ini sebagai jalan pengabdian kepada agama, bangsa dan negara," kata Sudirman.
Sebagai salah satu tokoh yang digadang maju di Pilkada Kabupaten Muara Enim ke depan, Sudirman juga berharap Edwin bisa terus rendah hati, sebagaimana kakeknya. Jauh dari sorotan, namun pengabdiannya terlihat dan dirasakan oleh masyarakat.
Bercerita ke belakang, Sudirman menyebut jika Dahlan Husein ikut merintis pendirian HMI semasa menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) sekarang menjadi Universitas Islam Indonesia UII, Yogyakarta. Dahlan bersama istrinya Siti Zainah dan 13 orang lainnya, mendirikan HMI tepat pada 5 Februari 1947.
Saat didirikan, Lafran Pane didapuk sebagai pimpinan, sementara Dahlan Husein menjabat sebagai sekretaris. Meskipun jarang disorot, namun Dahlan diakui sebagai tokoh Sumsel yang punya peran besar bagi perkembangan pergerakan mahasiswa Indonesia di masa itu.
Perjuangannya pasangan Dahlan-Siti Zainah ini begitu membekas, sehingga menjadi agenda rutin bagi pengurus HMI untuk menziarahi makam keduanya yang berlokasi di Desa Tanjung Atap, Kecamatan Tanjung Batu, Ogan Ilir, setiap tahunnya.
Edwin Mauladi, merupakan sosok teknokrat yang kini maju di Pilkada Muara Enim. Edwin membawa jargon Muara Enim Bersih, yang merupakan akronim dari Beragama, Sejahtera, Indah dan Hebat. Jargon ini ini mencerminkan visi dan misi Edwin dalam membawa perubahan positif bagi Muara Enim.
Edwin Mauladi berkomitmen untuk membangun pemerintahan Muara Enim yang transparan dan bersih dari korupsi. Hal ini akan dilakukannya dengan mengedepankan nilai-nilai agama sebagai landasan moral, meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Di tempat terpisah, dukungan terhadap Edwin Mauladi juga datang dari Salman Dianda Anwar, mantan Pengurus Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Figur Edwin Mauladi seolah menjadi jawaban tepat untuk membawa dan mengelola Muara Enim dengan lebih baik, sekaligus memberi kesejahteraan kepada masyarakatnya.
"Sebagai cucu dari pasangan yang ikut mendirikan HMI, organisasi pengkaderan sipil terkemuka dan salah satu terbesar di republik ini, merupakan modal bagi adinda kami Edwin Mauladi untuk mengemban amanah jika rakyat memberi kepercayaan kepadanya," kata Salman yang juga Chairman Jakarta Tourism Forum (JTF).
Sebab ia tahu betul rekam jejak Edwin Mauladi yang punya banyak pengalaman, jaringan luas baik nasional maupun internasional, namun tetap mengedepankan etika dan integritas dalam setiap langkahnya. "Di dalam darahnya mengalir gen pejuang pergerakan. Sehingga sudah selayaknya menjadi pemimpin," kata Salman.
Edwin Mauladi Dapat Dukungan Nurul Aman Maju Jadi Calon Bupati Muara Enim - kumparan.com
Calon Bupati Muara Enim, Edwin Mauladi, mendapat dukungan dari Anggota DPRD Sumsel, Nurul Aman, untuk maju di Pilkada 2024. #publisherstory #urbanid [363] url asal
#muara-enim #pilkada #bupati #sumsel
(Kumparan.com) 15/07/24 13:08
v/10844454/
2 putra daerah terbaik Muara Enim, Nurul Aman dan Edwin Mauladi bertemu dalam sebuah kesempatan, Sabtu malam, 13 Juli 2024.
Keduanya bersepakat untuk mendorong putra daerah terbaik dari Bumi Serasan Sekundang maju di Pilkada mendatang, untuk mewujudkan Muara Enim yang lebih baik ke depan.
Edwin Mauladi, teknokrat yang mengusung visi dan misi Muara Enim Bersih (Beragama, Sejahtera, Indah dan Hebat) mendapat apresiasi dari Nurul Aman yang kini menjabat sebagai anggota DPRD Sumsel.
"Pertemuan ini merupakan pertemuan antara adik dan kakak. Bagaimana kami meminta izin, restu dan tentunya dukungan untuk membawa Muara Enim lebih baik ke depan," kata Edwin.
Dijelaskan, antara ia dan Nurul Aman, punya banyak kesamaan. Sehingga pertemuan itupun berlangsung akrab, sebagaimana keduanya telah lama saling mengenal.
Edwin memantapkan hati dan pikirannya setelah bertemu dengan Nurul Aman yang memberikannya banyak masukkan dan wejangan untuk membawa kesejahteraan bagi masyarakat.
"Tidak ada janji, kita akan realisasikan program yang memang bisa diterapkan dan langsung dirasakan oleh masyarakat. Dengan restu dari kakanda kami Nurul Aman, Insya Allah kita akan berjuang maksimal," katanya.
Klaim dukungan setelah bertemu dengan Nurul Aman ini dianggap Edwin sebagai motivasi yang juga tidak terlepas dari hasil survei yang muncul beberapa waktu lalu.
Dikatakan, lebih dari 70 persen anak muda Muara Enim ingin dipimpin oleh putra daerah yang punya visi dan misi yang jelas.
Termasuk juga pimpinan yang tidak tersandera oleh kasus hukum yang menjerat alias bersih, sehingga kepemimpinan Muara Enim ke depan tidak lagi bermasalah.
Dalam simulasi yang dimunculkan oleh hasil survei indoprakarsa network itu, Edwin muncul urutan pertama apabila dipasangkan dengan Ustad Syuryadi. Kombinasi keduanya dianggap layak untuk memimpin Muara Enim.
Di sisi lain, Nurul Aman yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Muara Enim mengapresiasi langkah Edwin Mauladi yang berkomitmen untuk memajukan kesejahteraan masyarakat.
Sebab, hal inilah yang menjadi permasalahan Muara Enim, setelah masa kepemimpinannya, sehingga perlu untuk menjadi perhatian serius pemimpin ke depan.
Nurul Aman sendiri nyatanya juga digadang maju untuk Pilkada Muara Enim ke depan. Namun sebagai sesama putra daerah, apa yang menjadi aspirasi dan harapan dari masyarakat merupakan hal yang utama.
"Sampai saat ini, semua masih punya kesempatan yang sama. Namun, sebagai sesama putra daerah, tentunya kita bertukar pikiran dan saling memberi masukkan untuk yang terbaik," ujarnya.
Edwin Mauladi Dianggap Sebagai Solusi Nyata oleh Generasi Muda Muara Enim
Hasil survei Lembaga Indoprakarsa Network, bakal calon Bupati Muara Enim, Edwin Mauladi, 79,4 persen anak muda mengenal anak muda. #publisherstory #urbanid [604] url asal
#muara-enim #bupati #pilkada #sumsel
(Kumparan.com - News) 09/07/24 13:07
v/10189220/
Edwin Mauladi, bakal calon Bupati Muara Enim, semakin populer di kalangan anak muda. Hal itu berdasarkan hasil survei terbaru Lembaga Indoprakarsa Network.
Berdasarkan hasil survei, 79,4 persen anak muda mengenal Edwin Mauladi, menjadikannya salah satu calon yang paling diminati di kalangan Generasi Z.
Kedekatan emosional dan komitmen Edwin untuk membangun daerah menjadi alasan utama mengapa banyak yang berharap ia memimpin Bumi Serasan Sekundang selama lima tahun mendatang.
Edwin yang digadang berpasangan dengan Ustad Syuryadi, juga mendapatkan dukungan besar, dengan lebih dari 35 persen anak muda memilih pasangan ini jika mereka maju pada Pilbup Muara Enim.
Tokoh Masyarakat Muara Enim, Amin Satra, mengatakan hasil survei tersebut sebagai indikasi anak muda di Muara Enim menginginkan perubahan yang signifikan dari situasi yang mereka rasakan saat ini.
"Kepemimpinan yang jujur dan bersih dari korupsi seperti yang diusung oleh Edwin Mauladi dan Ustad Syuryadi sangat diharapkan. Mereka dinilai mampu memahami dan menyelesaikan permasalahan lokal," katanya, Senin, 8 Juli 2024.
Dia mengatakan, dari sisi historis, Kabupaten Muara Enim telah dipimpin lebih dari enam orang yang berbeda selama lima tahun terakhir akibat permasalahan korupsi yang menimpa bupati terpilih.
Kondisi itu membuat ketidakstabilan politik yang berujung kepada ketidakpastian kebijakan.
"Tiap orang beda kebijakan. Pembangunan yang direncanakan pada Bupati A, tidak dilaksanakan ketika berganti oleh B. Nah, hal inilah yang membuat masyarakat khususnya mahasiswa dan kaum muda jengah dengan kondisi tersebut. Sehingga memunculkan sosok baru yang bersih dari berbagai kasus hukum," katanya.
Sejumlah nama Bakal Calon Bupati (Bacabup) Muara Enim yang mencuat saat ini juga dinilai belum membawa 'barang dagangan' berupa visi misi yang jelas untuk dijajakan kepada masyarakat. Dia belum melihat sesuatu yang berbeda khususnya untuk visi dan misi Muara Enim ke depannya.
"Menurut saya belum ada visi dan misi yang menonjol dari para calon ini," katanya.
Berbeda dengan Edwin Mauladi. Menurutnya, bacabup ini masih muda, berwawasan, serta visi dan misinya juga cukup baik. Karena itu, tak heran jika dari hasil survei, 79,4 persen anak muda mengenal Edwin Mauladi ini dan menjadikannya salah satu calon yang paling diminati di kalangan generasi Z.
"Program dan visi yang akan diusungnya ketika memimpin nanti sudah disiapkan dan diperkenalkan. Beda dengan kandidat lain yang belum menawarkan apapun kepada masyarakat," ucapnya.
Menurutnya, visi Muara Enim Bersih yang diusung Edwin cukup mengenai dengan situasi yang dialami masyarakat Bumi Serasan Sekundang saat ini. Sebagian besar masyarakat Muara Enim saat ini sudah merasakan kondisi perubahan iklim maupun dampak dari maraknya industri pertambangan maupun perkebunan .
"Banjir besar serta tanah longsor beberapa waktu lalu membuat masyarakat Muara Enim menderita. Solusinya butuh kebijakan yang berorientasi terhadap kelestarian lingkungan untuk mencegah bencana lebih besar melanda. dan sosok Edwin cukup mengerti akan hal itu dilihat dari latar belakangnya," terangnya.
Sementara itu, salah seorang mahasiswa asal Muara Enim Adi Riansyah, mengatakan tagline 'Muara Enim BERSIH' yang diperkenalkan Edwin sangat menginspirasi, karena mengedepankan nilai-nilai agama dan komitmen untuk pembangunan yang berkelanjutan.
"Muara Enim saat ini butuh itu. Bersih dari berbagai pratik korupsi, bersih dari dampak buruk kerusakan lingkungan sehingga menjadikan wilayah serta masyarakatnya sejahtera," ungkapnya mahasiswa Jurusan MPI, UIN Sunan Gunung Jati Bandung.
Pria kelahiran Desa Datar Lebar Kecamatan Semendo Darat Ulu (SDU) ini menyebut, sebagai seorang mahasiswa, pemerintahan saat ini perlu dilakukan perbaikan dan pembaharuan. Sehingga, arah pembangunan yang dilakukan menjadi lebih jelas sesuai dengan tujuan.
Namun, perbaikan dan pembaharuan ini tidak bisa terlaksana apabila orang yang memimpin Muara Enim ke depannya masih orang-orang lama dengan pola pikir serta metode kepemimpinan yang konvensional.
"Terlebih lagi calon pemimpin yang tersandera kasus hukum. Bagaimana ke depannya dia bisa fokus memimpin jika masih dibayangi kasus hukum tersebut. Untuk itu, kita butuh pemimpin yang transparan dan memiliki visi yang jelas untuk kesejahteraan masyarakat," katanya.