Pertanian Tahan Iklim di PALI, Tingkatkan Produksi dengan Teknologi
Teknologi itu dinamakan Automatic Drip Irrigation System for Climate Resilient Agriculture yang berbasis android. Halaman all
(Kompas.com) 16/09/24 16:17 15095118
KAB. PALI, KOMPAS.com - Indah Yani tampak sibuk mengutak-atik hape androidnya di depan sebuah instalasi bertenaga surya yang dipasang di tengah sawah miliknya, di Desa Pengabuan, Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024).
"Oke Google nyalakan mesin air," perintah Indah.
Tidak lama mesin air menyala dan menyiram lahan sawah.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Petani binaan Pertamina EP Adera Field, Indah Yani, melihat kerja alat Automatic Drip Irrigation, di Desa Pengabuan, Kecamatan Adab, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Mesin ini menjadi inovasi yang diberikan PT Pertamina EP Adera Field agar masyarakat dapat mengatur debit dan waktu pengairan sesuai kebutuhan melalui aplikasi di sistem android.Indah adalah salah satu anggota Kelompok Tani Serut Satu. Kelompok ini merupakan salah satu kelompok binaan PT Pertamina EP Adera Field.
Indah bercerita, lahan sawah yang merupakan gambut ini, membuat hasil pertanian masyarakat tidak maksimal. Karena ketika musim kemarau akan kering sekali, dan ketika musim hujan akan banjir.
Pada tahun 2021, PT Pertamina EP Adera Field mengusung inovasi teknologi sebagai media penyiraman tanaman yang terintegrasi dengan pupuk organik cair buatan masyarakat binaan.
Teknologi itu dinamakan Automatic Drip Irrigation System for Climate Resilient Agriculture yang berbasis android. Melalui teknologi ini, masyarakat dapat mengatur debit dan waktu pengairan sesuai kebutuhan melalui aplikasi di sistem android.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Proses kerja alat Automatic Drip Irrigation, di Desa Pengabuan, Kecamatan Adab, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Mesin ini menjadi inovasi yang diberikan PT Pertamina EP Adera Field agar masyarakat dapat mengatur debit dan waktu pengairan sesuai kebutuhan melalui aplikasi di sistem android.Alat itulah yang diaktifkan Indah Yani tadi.
Manager Adera Field, Adam S. Nasution, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat desa, khususnya kelompok perempuan dan petani, sekaligus mengembangkan varietas padi unggul tahan iklim jilid dua serta mengintegrasikan teknologi pertanian modern dengan sistem yang berkelanjutan.
"Kami bekerja sama dengan multistakeholder dan praktisi pertanian untuk memastikan bahwa metode yang diterapkan dalam program Permata efektif dan mudah diadaptasi oleh masyarakat," ujar Adam saat ditemui Kompas.com.
Adam juga menambahkan, program ini dirancang sedemikian rupa untuk mendorong masyarakat lebih mandiri dalam memproduksi pangan, mengelola limbah pertanian, dan mengelola sumber daya lokal secara optimal sehingga terwujud tujuan kami yaitu pertanian yang mandiri, modern, dan zero waste.
Produksi meningkat
Hasilnya tidak kaleng-kaleng, monitoring program menunjukkan bahwa penerapan hasil pengembangan varietas unggul padi mentik susu dan ngaos jilid dua di Desa Pengabuan mampu meningkatkan produksi padi hingga 86 persen. Biaya produksi pun lebih rendah sekitar 69 persen dibandingkan bibit lokal yang biasa dipakai oleh anggota kelompok tani serut satu.
Indah Yani mengatakan, selain berkontribusi pada kelestarian lingkungan, menggunakan jenis bibit ini juga mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim. Sebelumnya hasil panen hanya 500 kg kini mencapai 1,2 ton dalam sekali panen.
"Dulu kami hanya bisa satu kali panen dalam setahun. Dengan teknologi pengairan modern dan bibit padi tahan iklim ini, kami jadi bisa panen dua kali dalam setahun," tambah Indah Yani.
Produksi yang meningkat juga membuat produksi jerami semakin banyak. Limbah jerami ini kemudian pada akhir 2023, oleh PT Pertamina EP Adera Field diperkenalkan sebagai inovasi terbaru dalam memanfaatkan limbah jerami sebagai briket sumber energi alternatif dry house.
Dry house ini dapat mempercepat proses pengeringan padi dan juga tanaman obat keluarga dengan efisiensi waktu tiga kali dari pengeringan biasanya yang menggunakan panas matahari.
Untuk tanaman obat sendiri dibudidaya oleh Kelompok Selaras Alam. Kelompok ini fokus pada tanaman-tanaman obat dan membuat produk turunan dari tanaman tersebut.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota Kelompok Selaras Alam menunjukkan produk turunan dari hasil pertanian di Desa Pengabuan, Kecamatan Adab, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Kelompok binaan dari PT Pertamina EP Adera Field ini, berhasil memanfaatkan produk turunan dari hasil pertanian mereka, seperti VCO, aneka seduhan dari bawang dayak, bunga rosella, hingga daun kelor."Pendapatan keluarga meningkat dari yang hanya Rp 401.512/bulan kini menjadi Rp 3.456.874/bulannya melalui program ini, sekaligus memberikan akses yang lebih luas terhadap produk pangan sehat dan pasar," ujar Herawati, Ketua Kelompok Selaras Alam Desa Pengabuan.
PT Pertamina EP Adera Field berharap bahwa melalui inisiatif dan inovasi ini dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui praktik pengembangan pertanian berkelanjutan melalui pengembangan varietas padi tahan iklim yang didukung dengan sentuhan teknologi menggantikan energi listrik menjadi sumber energi alternatif yang diolah dari limbah jerami padi untuk Dry House serta mendukung terciptanya kemandirian pangan di wilayah Kabupaten PALI.
#android #csr #teknologi #pertanian #sawah #padi #pertamina-ep #pertamina #subur #csr-pertamina #sumatera-selatan