Konsumsi Protein RI Paling Rendah se-Asia Tenggara, KKP Sebut Makan Bergizi Gratis Bisa Jadi Solusi

Konsumsi Protein RI Paling Rendah se-Asia Tenggara, KKP Sebut Makan Bergizi Gratis Bisa Jadi Solusi

Jumlah tersebut berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2023 untuk konsumsi protein nabati dan hewani. Halaman all

(Kompas.com) 04/10/24 16:15 15966442

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Budi Sulistyo mengatakan, konsumsi protein masyarakat Indonesia masih di angka 62,3 gram per kapita per hari.

Jumlah tersebut berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2023 untuk konsumsi protein nabati dan hewani.

Catatan konsumsi protein masyarakat Indonesia itu, kata Budi, masih di bawah Kamboja dan Thailand.

KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY Hidrolisat protein ikan (HPI) yang diproduksi pada pabrik PT Berikan Bahari Indonesia yang berlokasi di Indramayu, Jawa Barat.

"Jadi asupan protein menurut BPS itu adalah 62,3 gram per kapita per hari. Per gram per kapita per hari. Baik itu asupan protein nabati dan hewani. Dan kita masih di bawah Kamboja, di bawah Thailand," ujar Budi saat menyampaikan paparan di acara perjanjian kerja sama dengan sejumlah mitra KKP di Kantor KKP, Jakarta Pusat, Jumat (4/10/2024).

Adapun berdasarkan data yang dipaparkan Budi, yang disarikan dari laporan BPS, laporan lembaga pangan dan pertanian dunia (FAO) dan laporan lembaga pangan sejumlah negara sejak 2021-2023, konsumsi protein warga Indonesia menjadi terendah di Asia Tenggara.

Sebagai perbandingan, angka konsumsi protein warga Kamboja sebesar Kamboja 63,6 gram per kapita per hari, lalu Thailand 66,5 gram per kapita perhari, Filipina 73,1 gram per kapita per hari, Myanmar 78,3 gram per kapita per hari, Malaysia 89,1 gram per kapita per hari serta Vietnam sebesar 94,4 gram per kapita per hari.

Sementara itu, angka konsumsi ikan warga di sejumlah negara Asia lainnya lebih tinggi.

Yakni Korea Selatan sebesar 78,5 gram per kapita per hari, warga Jepang sebesar 82,9 per kapita per hari dan China sebesar 121,7 gram per kapita per hari.

Lalu untuk negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Norwegia angka konsumsi ikan per harinya sudah di atas 100 gram per kapita per hari.

Produk ikan fillet yang dijual di pasaran memiliki kandungan gizi yang sama dengan ikan besar, asalkan disimpan dengan benar
Yakni masing-masing 109,6 per kapita per hari dan 101,2 per kapita per hari.

Oleh karenanya, menurut Budi, program makan gratis alias makan bergizi gratis yang akan dijalankan pemerintahan mendatang bisa jadi kesempatan meningkatkan konsumsi protein masyarakat.

Khususnya bagi anak-anak Indonesia yang menjadi sasaran program tersebut.

"Maka program makan (bergizi) gratis menjadi kesempatan, untuk mendorong generasi anak kita, cucu kita menjadikan generasi emas semuanya," ungkap Budi.

Ia lantas menyebut, negara-negara maju yang konsumsi proteinnya di atas 100 gram per kapita per hari memiliki capaian inovasi yang bagus. Begitu pula dengan capaian bidang akademis dan olahraga.

"Yang di atas 100 itu nilai angka inovasinya berapa, jumlah publikasi ilmiahnya berapa dan semuanya sudah terlihat. Pemenang olimpiade medali emas berapa dari 3 negara tersebut? (China, AS, Norwegia). Banyak," tutur Budi.

"Artinya generasi-generasi yang tangguh harus ada indikasinya. Ini adalah satu gambaran kita. Kita masih di belakang Kamboja. Maka kita harus berani menyatakan merdeka protein 100 gram (per kapita per hari)," tegas Budi.

#konsumsi-ikan #protein #konsumsi-protein #asupan-protein #makan-siang-gratis #makan-bergizi-gratis

https://money.kompas.com/read/2024/10/04/161500726/konsumsi-protein-ri-paling-rendah-se-asia-tenggara-kkp-sebut-makan-bergizi